Ngobrolin Video Singkat bareng @dannydwic
Ringkasan Episode
Bantu KoreksiEpisode Ngobrolin WEB ini berbincang dengan Dhani Dwijaya Putra, seorang software engineer di Hijra sekaligus konten kreator programming di TikTok dan LinkedIn. Percakapan membahas perjalanan karir Dhani yang unik—beralih dari latar belakang pendidikan olahraga menjadi software engineer melalui belajar autodidak selama 2 tahun dengan bimbingan mentor. Topik utama episode adalah proses pembuatan konten video pendek untuk edukasi programming, termasuk strategi scripting, teknik recording, editing, dan cara meningkatkan engagement audiens. Dhani berbagi formula pembuatan konten edukatif yang engaging melalui showing emotions, storytelling, dan struktur konten yang jelas. Episode ini juga menyentuh aspek time management untuk menyeimbangkan pekerjaan full-time sebagai software engineer dengan hobi membuat konten, serta rencana karir ke depan termasuk target bekerja di luar negeri.
Poin-poin Utama
- •Dhani Dwijaya Putra berlatar belakang pendidikan olahraga, kemudian beralih menjadi software engineer melalui belajar autodidak selama 2 tahun dengan mentor teman satu desa yang kuliah di informatika
- •Motivasi awal membuat konten berasal dari patah hati—perlu mengisi kegiatan agar tidak terpikirkan mantan pacar, kemudian berkembang menjadi keinginan menyediakan konten edukatif di tengah dominasi konten hiburan di social media
- •Proses pembuatan konten Dhani meliputi: ideation dari hasil belajar, riset dan POC, scripting yang terstruktur (hooks, background, konten), recording dalam batch di weekend, dan editing menggunakan CapCut
- •Formula konten engaging: menampilkan emosi secara ekspresif (lebay), storytelling dengan struktur problem-glorifikasi-solusi, serta teknik seperti kontradiksi atau konfirmasi opini untuk memicu engagement
- •Strategi time management: scripting pada weekday saat sebelum/sesudah office, recording dalam batch sehari penuh di weekend, dan editing bisa dilakukan secara asinkron di tengah jam kerja
- •Dhani membagi kontennya menjadi dua kategori: konten teknikal untuk share hasil belajar (Feynman technique) dan konten entertainment yang jarang dibuat karena lebih time-consuming
- •Rencana 2025: fokus membuat konten berbahasa Inggris untuk meningkatkan speaking skill dan mendapat opportunity kerja di luar negeri, serta deep dive ke topik-topik teknikal yang lebih advance
[drington]
Halo, halo, selamat malam.
Selamat malam.
Selamat berjumpa lagi bersama kita berdua malam ini.
Ada Eka dan ada Rizad.
Ivan lagi...
lagi liburan.
Gak naik.
Gak naik bis ya.
Tapi naik kapal, naik kapal.
Naik kapal.
Naik kapal, jadi...
Kapal ada telewetnya juga.
Berhubung Ivan lagi liburan,
slotnya kita tambahin satu
untuk Narasumber dan...
seru banget.
Ini kita ketemu sama Narasumber ini
di...
kemarin di acaranya DevFest Surabaya.
Surabaya.
Ya.
Sebenarnya beberapa waktu yang lalu udah tahu.
Maksudnya udah tahu ada konten kreator.
Sempat lihat di sosial media ada yang nyaranin,
"Ni ada nih yang ramai di TikTok konten kreator programming."
Harus disupport gitu kan, karena jarang kan,
ada yang bikin format video pendek,
tapi programming.
Jarang ya, biasanya programming kan...
Lihat transkrip lengkap (1579 segmen lagi)
Sudah ya di luar banyak, tapi...
Di luar banyak.
Bahasa Indonesia betul lebih sedikit ya?
Yang bahasa Indonesia, ya masih sedikit.
Biasanya itu dari konten yang panjang,
biasanya kan kalau kayak apa ya,
kayak video itu bisa 8 jam,
belajar JavaScript gitu kan.
Lama gitu kan.
Terus biasanya dipotong-potong,
akhirnya di-re-upload ke Reels kah,
ke YouTube Short kah, atau ke TikTok gitu.
Tapi yang konten yang Indonesia yang short video itu
masih jarang sekali gitu.
Dan begitu ada yang rame,
itu langsung heboh dan begitu liat,
"Wah seru juga."
"Eh, gak taunya ketemu di Surabaya."
Ya udah, saya sempat nanya-nanya juga tipsnya
gimana cara bikin video pendek.
Karena salah satu kesulitan terbesar
dalam bikin video adalah
ngedit ya, capek banget.
Kudu telaten ya, kalau ngedit video itu.
Jadi malam hari ini,
ternyata Nara Sumbernya mau diundang,
dan kita akan ngulik-ngulik ya,
ngulik-ngulik gimana proses pembuatan konten,
atau lebih spesifiknya video formatnya pendek.
Karena bikin video pendek itu tidak gampang loh.
Harus presisi gitu, 3 menit,
atau bahkan kalau di YouTube Short itu 1 menit,
harus jelas ngomongin apa, gak bertele-tele,
dan ngeditnya juga smooth gitu,
gak kepotong-potong, gak katak-katak gitu.
Terus kayak harus pakai caption atau semacamnya ya?
Iya bener, caption, ada label-nya.
Capsion sih apa itu, punya caption di videonya kan?
Iya, harus ada petunjuk gitu ya,
petunjuk ke visual cue gitu ya.
Jadi langsung aja kita undang, Mas Dhani,
untuk ke atas stage.
Sumber dong, sumber, tepuk tangan.
Sumbernya apa, tepuk tangan. Maaf.
Mas Dhani sama temennya Muter juga.
Mas Dhani nya Muter.
Nah, ini dia.
Halo Mas Dhani, gimana kabarnya?
Alhamdulillah, baik.
Mas Riza, Mba Eka gimana?
Kayaknya awal tahun malah sibuk ya.
Kerjaannya malah banyak gitu ya.
Ya lumayan. Alhamdulillah masih sibuk,
masih diberikan kesibukan gitu ya.
Jadi masih banyak, masih ada kerjaan.
Masih ada kerjaan.
Di bersyukur lah ya, masih bersyukur.
Oke, nah buat teman-teman yang nonton,
mungkin ada yang belum familiar ya dengan Mas Dhani.
Mungkin boleh kenal singkat dong.
Oke, thank you banget for having me.
Halo teman-teman semua, kenalin aku Dhani Dwijah Yono.
I'm a software engineer.
Saat ini lagi di company Hijra.
Hijra itu sendiri adalah digital banking dan juga peer-to-peer landing.
Mungkin teman-teman taunya dulu alami gitu ya.
Terus selain itu, selain kerjaan full-time,
aku juga juga biasanya aktif konten di LinkedIn, di TikTok dan lain sebagainya seperti itu.
Dan kadang juga ngisi-ngisi event gitu sih, sharing dan segala macemnya.
Itu sih overall.
Oh ya, fun fact satu lagi,
I'm coming from pendidikan olahraga, background,
jadi bukan dari komputer science, teknik informatika.
Aku senang akhirnya ada temannya.
Kalau selama ini sejauh ketemu developer lain di Indonesia,
mau di acara-acara programming apapun, mau sesama.
Kayaknya belum pernah sejauh ini ketemu yang kuliahnya bukan IT.
Akhirnya ada temannya.
Bukan olahraga, sastra.
Sastra kan belajar bahasa juga.
- Oh sastra. - Iya, itu beda bahasa aja.
Tapi beda bahasa, bahasa manusia, bukan bahasa musim.
Sama-sama mikirin kata "dis" merujuk ke apa.
Jadi ada miripnya sastra yang krisap.
Apalagi kalau mengarah ke AI, natural language processing, itu bahasa.
Sekarang punya kelebihan bisa prompting dengan baik.
Kalau olahraga, hubungannya apa ya?
Tanyaan saya adalah tadi itu.
Kenapa bisa banding setir jadi software engineer?
Jadi front-end? Gimana itu ceritanya?
Itu panjang banget sih sebenarnya.
Cuman long story short, waktu itu lagi pandemi konteksnya.
Dan kuliah olahraga online, ya biasa lah ya.
Mentok kasih tugas doang, tugas video gitu.
Dan aku rasanya itu boring banget gitu.
Nah, that's why akhirnya pengen coba hal baru gitu.
Awalnya aku pengen belajar desain tuh.
Udah download tutorial, di YouTube, segala macem gitu.
Cuman singkat cerita aku ketemu temanku, teman satu desa.
Dan dia kebetulan juga kuliahnya informatika.
Nah, ketemu ngobrol-ngobrol.
Nah, dari situlah titik awal aku belajar coding gitu.
Namanya Emnindra Zaka, akak temanku.
Yang sampai saat ini jadi mentorku.
Nah, dari titik bekulah, aku secara konsisten.
Selama 2 tahun belajar sama dia gitu.
Jadi awalnya di rumah, kemudian ikutan dia ke malang.
Literally nempelin dia agar aku supaya tiap hari itu bisa belajar gitu.
Seke dia, kayak gitu sih.
Oke, oke.
Wah, seru ya.
Untung ada mentor itu sangat berperan penting ya.
Bukan hanya buat yang auto didakt.
Tapi buat kita juga yang punya basic, yang punya background juga tetap butuh ya.
Ya, itu ngebantu banget sih.
Ngebantu banget.
Sampai akhirnya dapat kerjaan. Kerjaan pertama apa?
Kerjaan pertama, itu kan aku belajar coding awal-awal agustus 2020.
Dapat kerjaan pertama 2021 bulan September, kalau nggak salah.
Itu intern sih, masih di software house malang.
Terus setelah intern, 2021 Januari itu aku dapetin kerja full-time pertama aku di ruang buku waktu itu.
Oh, wow.
Habis dari intern.
Akhirnya nggak berusaha cari kerjaan sesuai pendidikan sama sekali nggak berarti begitu.
Misalnya pas penetni selesai, lulusin kuliah, udah langsung kerja jadi web.
Benar, soalnya aku juga pas masuk di ruang guru itu juga masih kuliah juga semester akhir gitu.
Jadi kalau lulus, pas lulus pun nggak tahu ya belum ada ketertarikan gitu sih buat ngajar sebenarnya.
Jadi sampai sekarang aku belum pernah ngajar ke sekolah jadi guru.
Minimal pernah kerja di ruang guru. Ada guru-gurunya, sambungin aja.
Oh iya.
Nggak, sekarang malah ngajarnya programming.
Ya kan?
Nah, iya kan ada guru-gurunya juga. Iya sih.
Malah jadi bikin konten ya.
Ya mungkin karena itu kali juga ya, somehow kebawa gitu.
Masih ada jiwa pengen ngajarnya gitu ya, jiwa sharingnya gede kali ya.
Harus tersalurkan.
Iya sih, itu sampai sekarang masih ada.
Nah ini mas Abdul Malik, pertama tau dan ngikutin mas Jadani dari video-video podcast Gatherloop. Gatherloop itu apa ya?
Gatherloop itu apa sih?
Oh itu salah satu. Jadi Gatherloop itu komunitas kita di ProBolingo mas.
Yang ngebuat itu mentorku yang ngajarin aku moding.
Jadi sekarang kalau di teman-teman Gatherloop itu rutin kita tiap minggu itu ada sharing session, workshop gitu.
Sampai sekarang berjalan. Dan khususnya buat teman-teman kampus, jadi di ProBolingo itu ada kampus namanya Unuflitas Nurul Jadid.
Di one and only yang ada jurusan teknik informatikanya.
Nah, sekarang teman-teman di Gatherloop sih fokusnya itu sih, bikin workshop, bootcamp untuk ngajarin mereka gitu.
Oh menarik, menarik. Nah dari awal join kan dari software house nih, yang intern gitu kan.
Terus abis itu bisa masuk ke uang dulu, di tes codingnya kesulitan nggak sih? Merasa kesulitan nggak sih?
Di tes codingnya, kalau kesulitan ya pasti ya.
Itu memang, apa ya, schedule banget gitu. Karena waktu itu juga, apa namanya, Competitive Programming ya, tes masuknya.
Oh, tesnya Competitive Programming?
Read code gitu.
Read code gitu?
Iya, semacam kayak gitu lah.
Semacam itu, oh oke oke.
Tapi sebelumnya udah pernah, udah pernah menggunakan itu atau gimana?
Enggak sih, tapi waktu itu persiapan grinding read code aja sih. Sama itu juga.
Ya selama proses belajar, aku juga selain belajar ke mentorku itu sering banget subscribe dan selalu sih.
Sampai sekarang subscribe online course, kalau front-end, subscribe front-end master gitu.
Kalau algoritm, aku belajar di algo expert.
Oke, jadi ada persiapan nggak kaget tiba-tiba dikasih Competitive Programming, soal Competitive Programming kan kaget ya.
Kalau udah biasa read code, harusnya setidaknya nggak kaget gitu ya.
Ya udah siap-siap, udah siap-siap.
Yang ngahire, tim interviewernya kaget nggak tuh dapet satu plamar, satu apliken yang backgroundnya nggak ada hubungannya sama sekali?
Nggak ditanya, ditanya nggak?
Nggak sih, kayaknya mereka bahkan nggak tahu kalau pendidikanku tuh ini, olahraga, kenapa nggak ke highlight aja gitu.
Jadi mereka tidak melihat background pendidikan sebagai sesuatu halangan gitu ya.
Yang penting berkarya hasil kodingnya atau dari portfolio atau dari project terdahulu kali ya.
Ya, kayaknya gitu sih, harusnya.
Karena nggak pernah disentuh sekalipun, even pas stage HR gitu ya, itu juga aku nggak ditanyain sih.
Nggak dimintain jasa gitu.
Di CV masukin nggak emang nggak nyantumin itu atau sebetulnya nulis tapi mereka nggak nyebut?
Aku udah nulis dan waktu itu kan lagi ongoing masih, belum lulus gitu.
Cuman aku tulis tuh kalau misalnya aku jurusannya itu, pendidikan olahraga.
Berarti aware kali ya, cuman nggak masalah.
Cuman nggak masalah, asalnya hasil interview dan hasil tesnya bagus.
Iya, nah setelah bekerja sekian lama sampai 2024-2025 lah ya,
2025 kurang lebih 3 tahun ya, hampir 3 tahun.
Terus di tengah perjalanan professional programming tiba-tiba konten.
Nah itu boleh tau nggak alasan awalnya tuh kontennya tuh apa sih yang mau ditujukan, apa yang mau dicapai?
Oke, jadi aku menemukan alasan-alasan yang penting itu sebenarnya di tengah jalan sih mas.
Kalau ditanya awalnya itu karena apa, triggernya jujur agak aneh sih.
Jadi waktu itu aku lagi patah hati, baru putus sama pacaran gue gitu.
Oke oke, harus mengisi kegiatan gitu ya, biar jangan kepikiran terus gitu ya.
Nah itu dia, jadi aku mulai konten itu ketika baru putus dan aku juga mulai habit yang lainnya kayak lari gitu, running.
Even sampai sekarang ke bawah, itu awalnya dari situ gitu. Nah dari situ sih awalnya dan videoku pertama kedua tuh ternyata lumayan impressionnya gitu.
Nah dari situ akhirnya aku memumuskan untuk lebih lanjut mendetailkan sebenarnya kenapa aku alasan konten dan itu sebenarnya banyak banget sih gitu.
Kalau ditanya apa ya, kalau alasan pikirannya sebenarnya ada dua. Aku ngerasa social media itu, apaya kebanyakan ya seperti namanya,
sebenarnya kan social media, tiktok, instagram dan lain sebagainya itu, aku ngerasa banyak gak pentingnya gitu, konten-konten receh segala macem gitu.
Bahkan sampai sekarang kan ada fenomena kalau gak salah penelitian terbaru tuh namanya brain rot gitu,
di mana otak manusia tuh udah mengalami kayak, karena kebanyakan dopamin akhirnya gak bisa mikir, jadi daya pikirnya tuh melalang.
Pertama, attention span-nya pendek.
Ah itu juga, nah kayak gitu-gitu kan. Belum lagi dikuatkan dengan pas aku di tiktok tuh ada orang mandi lumpur lah,
kemudian apalah banyak banget yang meresahkan banget di aku gitu kayak, apa ya, kayak make sense nih gitu.
Jadi aku, idealisme aku pengen setidaknya ketika orang scroll dalam 10 video, at least satu video nyelip nih,
yang aku ngerasa itu bisa bermanfaatkan di mereka.
Nah itu alasan satu. Alasan kedua sebenarnya, ini sih mas, karena aku ngerasa kalau misal aku gak belajar,
bahan bakar aku untuk bikin konten tuh gak ada, jadi mostly apa yang aku share itu sebenarnya apa yang aku dapetin dari frontman master,
dapetin dari algo expert, apa yang aku dapetin dari youtube tutorial orang lain, di share lagi.
Itu kan salah satu teknik belajar juga, feeling and technique.
Itu cara yang terbaik untuk belajar kan, jadi kayak kita gak pasti cuma apa, nonton video,
tapi kita udah tutup, kita tinggalin, kita sampein dengan cara kita sendiri.
Iya, betul, itu juga. Makanya, ya itu juga semua kontenku rata-rata bahan bakarnya ya dari apa yang aku pelajari dan apa aku ulik sendiri gitu sih.
Hmm, oke. Nah ini pada GG ini gara-gara tau ya, motivasi awalnya ternyata dari patahati.
Mantannya pasti ngesel banget itu setiap scrolling.
Ini, ini video pertama yang mana nih, yang patahati, ini yang lagi patahati yang mana nih, yang ini ya?
Udah gak ada, udah satu yang dibawahnya lah, udah lah makanya.
Udah paling bawah ini, paling muka.
Ini paling bawah, ya itu berarti kanan bawah ya?
Ini.
Iya oke.
Wah menarik juga, tapi sangat ini ya, apa tujuannya akhirnya, dapat tujuannya ketika sudah mulai
menjalani ya, bukan dari awal ya?
Iya, betul.
Nah, terus?
Terus, terus, lanjut, lanjut.
Ya kalau faktor yang lainnya, kayak misal yang sekarang di tengah jalan didapetin gitu, kayak networking opportunity.
Atau kemarin aku coba ngonten di LinkedIn ternyata juga beberapa ada yang reach out ke aku gitu.
Atau kayak diundang sebagai pembicara itu sebenarnya kan side-effect dari aku ngonten gitu.
Nah itu sebenarnya hal-hal yang tidak pernah aku pikirkan sih.
Atau dapat endorsement buat kerja sama, nge-promo-in VPS, nge-promo-in sebuah bootcamp gitu, itu biasanya aku juga dapetin sih.
Oh dapet ya, berarti udah dapet, udah menetes ya dari, selain dari ads, udah menetes juga ya berarti ya, kayak endorsement gitu ya?
Iya, endorsement, betul.
Menarik, menarik.
Selain juga networking pastinya.
Nah, terus begitu udah tau nih alasannya yang keresahan di sosial media, kurang konten edukasi gitu kan.
Terus abis itu, memuntukkan sebuah topik layak dijadikan video itu gimana, prosesnya?
Oke, sebuah, sebenarnya random banget sih kalau menentukan topik itu.
Aku selalu kalau pas bikin konten tuh usahakan mungkin, it's coming from internal gitu, bukan external factor.
Jadi aku lagi belajar apa, lagi ngulik apa, dan lagi tertarik apa, oh kayaknya nih oke nih dibuat jadi konten gitu.
Jadi dari, sebenarnya ide-ide yang dateng tuh random dan juga again dateng dari aku belajar something kayak gitu sih.
Dan akhirnya, awalnya kan aku cuma asal konten segala macem gitu ya mas ya.
Akhirnya aku belajar sih sebenarnya, aku still wondering kayak, oke, behind every viral video gitu.
There must be formula, pasti ada formulanya, ada something gitu.
Gak mungkin cuma tiba-tiba, kalau pun tiba-tiba doang kayak katakan lah, itu biasanya entah riding the wave atau ada momentum tertentu aja.
Tapi ketika momentum itu hilang, atau fomo itu lagi hilang, udah gak bisa long lasting tuh videonya gitu.
Nah itu akurnya aku, ya kebetulan ikutan bootcampnya Agung Hapsah, itu salah satu youtuber.
Aku ikutan bootcampnya itu, di situ aku dapetin banyak formula kayak gimana sih sebenarnya bikin video yang baik dan benar gitu.
End to end processnya itu aku belajar semuanya dari situ, atau mindset-mindset yang seharusnya aku pertimbangkan ketika bikin konten itu juga aku dapetin di situ akhirnya.
Jadi itu emang ada ilmunya sendiri ya, kayak bukan cuma adu kalau yang sisi brain road-nya kan cuma adu bikin sensasi yang aneh-aneh.
Tapi kan umurnya pendek ya, ya itu tadi gak long lasting, ada orang lain yang lebih nekat dan lebih aneh, ya udah ditinggal kan.
Tapi maksudnya kalau yang cara yang sehatnya, berarti itu sebetulnya ada approach-nya.
Gua ngefreeze, Eka yang ngefreeze.
Jadi intinya sebenarnya dari apa yang ingin kita share bukan sesuatu yang lagi "wah ini lagi nge-hype nih, mungkin bisa dibikinin kontennya" gitu, gak gitu ya, berarti harus dari diri sendiri ya.
Karena gini sih, prinsip dari Raditya Dika, ketika tidak ada, eh masih ngefreeze kan Mas?
- Nggak, lanjut, lanjut, udah oke, udah oke.
- Jadi ketika tidak ada yang nonton pun, at least diriku sendiri yang nonton itu dan aku suka sama video itu.
Nah makanya, ya karena gitu, untuk memulai itu lagi-lagi ya, kita gak ada yang bayar gitu juga.
Terus kayak, it seems there is no benefit at all in the first place gitu.
Jadi harus datang dari sendiri.
- Oke, oke.
Itu porsi dapet ide kontennya itu banyakan dari tadi yang kayak belajar nonton Front End Masterkah atau video YouTube yang lain, atau dari kerjaan juga ada porsi berapa persen gitu?
Pastilah ya?
- Ya ada juga sih kalau dari kerjaan, cuman ya gak sebanyak itu, karena kadang ada hal yang apa ya, "credential" dan "gak boleh di-share" gitu.
Atau juga dari external project dengan teman-teman ngulik bareng kayak gitu.
Itu biasanya aku jadiin konten gitu.
- Iya, iya, iya.
Tapi mostly sebagian besar kebanyakan dari itu ya, dari belajar ya, proses belajar ya?
- Betul. Ya aku would stay sebagian besar dari proses belajar sih mas.
Makanya ketika aku berhenti belajar itu di situ aku stuck tuh, oke aku bingung bikin ide konten apa gitu.
Karena ya mostly kontenku bahasa teknikal semua gitu dan bukan yang kayak entertainment.
Oh, ada sih beberapa konten yang aku cuman lucu-lucuan gitu kalau, ya mungkin nanti Mas Riza boleh lihat gitu.
Kayak misal programmer ketika lagi lebaran itu aku parodiin, atau yang salah satu viral kemarin itu sampe 500 lebih video itu,
aku pin di tiktok profile tuh ada, itu ketika orangtuaku lebih nyuruh aku untuk jadi PNS daripada jadi aku programmer.
Nah itu nomor 2, 500.
- Karena banyak yang relate pasti ya.
- Nah betul. - Wah ada suaranya. Suaranya gede sekali. Seperti biasa dimute dulu, lupa tadi, oke.
Lanjut, lanjut, lanjut. Oh gitu ya.
- Kalau konten-konten yang kayak gitu cuman jarang banget sih, gitu aku datang inspirasi ide nya,
random aja gitu tiba-tiba di kamar mandi, eh kayaknya seru nih bikin konten ini gitu atau kayak gimana.
- Tapi kalau yang teknikal, bahas teknikal itu mostly dari hasil belajar sih.
- Ini proses pembuatannya berapa lama kalau bikin video kayak gini?
- Iya ya, ada kostumnya lah, udah kayak bikin film kan.
- Sorry, eh putus gak sih mba Eka? - Nggak, nggak.
- Udah nyembung lagi, udah nyembung lagi. - Oke.
- Lumayan panjang sih mas, maksudnya tapi overall dari semua videoku step nya sama aja sih.
- Oh iya, boleh dijelasin dong? Ah mati.
Ya kita tunggu dulu sebentar teman-teman, lagi ada iklan.
- Iya.
- Kayaknya agak lebih triki ya dibandingkan misalkan kita lihat ya kontennya ya.
Yang tadi kan bener-bener kayak ada ini kan.
- Kalau tutorial masih agak mungkin... - Kalau ini kan screencast kan,
dia tunjakan model screencast kan. Kayaknya buat kita lebih familiar lah bikin apa,
kebayang lah gimana cara bikinnya. - Kalau ini kayak harus nge-shoot,
ya kayak nge-shoot film ya. - Iya, kalau ini kan kayak kita ikutan,
apa kita jadi pembicara pakai Zoom Meeting juga kayak gini kan modelnya kan,
ya walaupun posisinya berubah-ubah kan. Tapi kalau yang tadi itu kan ya
udah harus ada dua rol gitu kan, terus angle kameranya juga berbeda gitu kan.
Ini harus ditanyain gimana prosesnya. Dan ya buat orang yang biasa di depan layar sih
kalau disuruh acting harus ada jiwa ininya ya. - Tapi mungkin itu kan jarang ya.
Maksudnya lihat ya, prosentasinya kayak mungkin misalnya setiap 10-20 technical konten,
satu entertainment konten. Jadi kayak walaupun itu lebih berat, pasti lebih time consuming kan,
lebih makan waktu lah. Harus ganti baju belakang, harus bikin film lah. Cuma kan jarang.
Justru kalau ngeliat ini di awal justru Mas Dan ini banyak yang model kayak gitu.
Tapi begitu udah nyampe ini kayak ini. - Malah mencapai kan sulit maintain-nya
sama ya kayak abis juga ideanya kali. - Iya, nah udah nyambung lagi.
Oke, oke, oke. - Halo, nah ini malah lebih lancar.
- Oke, ini aku share ini kali ya. - Boleh, share screen.
Semacam overview-nya gitu ya, boleh. - Wah mantap, kita ikut dapet ilmu.
Nanti di sini kita ngetiktok semua. Pada kebayang nggak, Mas Riza, aku ngetiktokkan.
- Nggak, nggak bakal bisa bikin video kayak tadi. - Iya nggak, yang technical aja,
nggak usah yang lucu-lucu. - Udah kelihatan belum?
- Oh ini udah, udah, udah. Oke. - Oke, nah jadi di sini aku biasanya
nge-manage pakai notion ya dari semua videoku. Jadi hampir semua video
yang ku bikin itu sebenarnya udah well-written script-nya gitu.
Jarang banget yang aku impromptu cuma di depan layar gitu.
Kayak misal, kalau misal kita lihat yang kemarin ya, infinite scroll itu
basically sebenarnya udah aku tulis semua, apa namanya. - Yang mau disampaikan gitu.
- Betul. Nah biasanya aku nge-structure, nge-structurize itu dari ini aja sih
hooks-nya gitu. Karena aku ngerasa 10 detik pertama dari seorang, dari sebuah
konten itu sangat penting untuk apa ya, keeping the audience mau nonton
konten kita sampai akhir gitu. Jadi aku biasanya hooks ini lumayan apa ya,
takes time mikirnya gimana caranya aku bisa dapetin perhatiannya gitu.
Tapi karena tadi, balik lagi, attention span-nya itu kecil banget gitu
kalau di social media gitu. - Jadi copy-rating-nya pakai AI.
Eh sorry, lanjutin. - Aku pernah nyobain pakai AI.
Cuman aku ngerasa aneh dan apa ya, kayak ngerasa itu bukan aku gitu.
Nah that's why, ini semua pure dari aku sendiri sih caranya gitu.
- Nah ini script-nya ini dibaca kata-perkata atau bulet poin-bulet poin aja?
- Enggak, jadi biasanya aku tergantung sih pak, biasanya katakan lah,
nah ini satu kali take video nih mas, how do we implement scroll from scratch?
- Dah cut gitu. - Habis itu cut? - Ya atau kalau udah gitu yaudah record,
nyampein satu ini, kemudian delay, ok aku sekarang bagian yang kedua gitu.
Oke terus yang ketiga dan seterusnya gitu. Jadi tergantung sih,
kadang ya tiga ini bisa sekaligus gitu, tapi it depends biasanya gitu.
Tapi overall kalau misal itu sebenarnya yang terjadi gitu,
jadi ini aku show sedikit singkat dari cap cut-ku kayak gimana ya.
- Ini anak rekes juga Re. - Ini nih yang ditunggu-tunggu.
- Oh iya iya. - Ini agar yang belajar edit video.
- Sebenarnya aku bisa bilang edit video ku ini sih mas, apa namanya,
gak terlalu yang aneh-aneh atau gimana, kalau misal Mas Riza atau Mbak Eka lihat,
itu kan sebenarnya gak ada transition yang kayak gimana-gimana,
sound effect yang seperti apa dan lain sebagainya, kayak gitu kan.
- Tapi video yang bareng tadi itu beda. - Oh iya kalau itu memang beda sih.
- Special edition. - Gak bisa sering-sering.
- Gak bisa sering-sering karena itu record-nya gak main-main.
- Oke kita pasen kayak gini aja, model gini ya.
- Nah ini kan ada banyak video, ini sesimple aku jadikan satu aja sih.
Jadi yang aku lakukan, aku kombin semua videonya kayak gini gitu ya.
Ini optional sebenarnya aku kasih back sound gitu ya.
Terus, nah caption ini sebenarnya juga aku gak nulis.
- Digenerate. - Iya ada dicapka fiturnya itu gitu.
Jadi ini kalau Mas Riza dan Mbak Eka lihat, gak ada yang aneh-aneh kan,
sesimple gak nulis aja gitu.
- Oh berarti prosesnya direkam dulu pakai software kayak...
- Ya aku pakai OBS. - Screen recorder lah ya atau OBS ya, OBS direkam.
Udah gitu disusun, oh apa, videonya di bawah, terus di atasnya itu screen recorder-nya,
apa screen-nya, terus habis itu di take sambil baca script, baca apa di hapal?
- Gak, jadi bukan dibaca sih, jadi aku... - Dilihat, terus...
- Dilihat baru dibaca. - Dibaca se-nerdernya.
- Oh gak pakai teleprompter gitu-gitu gak pakai ya? Belum ya?
- Gak, karena aku udah pernah nyobain gitu, somehow kayak gak natural aja gitu.
- Gak natural ya? - Iya, betul, agak aneh aku ngerasanya.
- Oke, oh jadi dibaca 1-2 kalimat, terus habis itu ngadep ke kamera, terus ngomong.
Habis itu delay berapa detik, baca lagi, ngomong lagi gitu.
- Emang dipotong-potong kan take-nya per konsep kan? - Per konsep, per 2-5 kalimat tadi kan?
- Banyak sekali. - Banyak banget ya?
Ini kebetulan durasinya agak panjang, aku kemarin berbahas soal browser reflow process gitu.
Dan sebenarnya ya udahlah gitu, karena aku ngerasa kalau dibikin singkat juga,
esensi dari videonya gak dapat gitu, jadi memang tergantung dari konten yang aku sampaikan sih.
Aku pernah waktu itu juga bahas kayak di tiktokku closure gitu, itu lebih dari 5 menit.
Bahas closure doang, aku ngasih visualisasi atau segala macem.
- Itu tuh gak ada limit durasinya ya videonya? - Kali Facebook udah gak ada limit ya?
As far as I know, 10 menit sih kalau tiktok itu.
Nah ini 6 menit 39 tuh, tapi turns out lumayan rame juga, sampe 18.6 gitu.
- Jadi... - Nah berarti di awal pas...
- Gimana? - Pas awal milih topik, itu udah dengan bayangan ini.
Oh closure itu kan panjang, nah terus emang di awal jalanin dulu, maksudnya bikin script ngumpulin materinya dulu.
Baru wah ternyata panjang, kalau panjang banget baru dipecah.
Atau emang dari awal kayak udah ada bayangan harus dipecah-pecah seberapa biar durasinya gak terlalu lama.
I see, jadi semua kontenku yang dalam tanda kutip aku gak kerja sama-sama orang lain atau bukan dari endorse gitu ya.
Itu sebebas ku aja gitu, kalau misal itu mau panjang pun ya gak apa-apa.
Yang penting esensi dari videonya dapat gitu, karena aku kadang merasa kesusahan kalau misal videonya itu singkat.
Gak dapat tuh konteks backgroundnya kenapa aku bahas ini gitu, kayak hal-hal kayak gitu.
Mungkin buat temen-temen yang gak dapat konteks, bikin video pendek itu susah lho.
Susah sih, apapun sih bukan video doang kayak tol, presentasi, bikin panjang.
Bikin yang panjang gampang, bikin artikel yang panjang gampang, bikin artikel yang cuma satu paragraf itu susahnya minta ampun.
Yang singkat, tapi semua poin yang ingin kita sampaikan dengan segala contoh-contohnya itu kayak dapat.
Kalau kita gini, implikasinya gini, tapi kalau kita gini, itu gak apa-apa, tapi ada gini.
Nah kalau kita begitu, tuar meledak.
Ya pokoknya kayak tiba-tiba pas lagi bikin materi pasti gitu kan contohnya, atau apa, variasi-variasinya tuh jadi banyak banget.
Nah itu yang susah emang bikin lebih singkat ya.
Bayangin aja kita di ngobrolin web kalau ngomongin HTTP ya, itu kan satu topik ya.
HTTP kan singkat ya, bisa sediam sendiri.
Namanya juga mendapatkan kurmat ngobrol ya.
Kita selalu mikir, oh ini kayak bakal gak ada materi atau gimana ya.
Nanti kalau misalnya garing gak ada yang dibahas, nanti kita bakal bahas apa-apa.
Kita udah mikirin backup plan-nya, tapi pas ngebahas itu doang dengan ya mungkin pertanyaan dari chat atau apapun lah, ternyata hampir 2 jam.
Nah kita hanya gak punya skill buat mengira-ira topik A, itu kalau dibahas dan membahasnya gimana, itu bakal sepanjang apa.
Nah itu kayaknya kalau kita di ngobrolin web nih agak.
Ya beda format lah ya, beda format.
Kalau ngobrol kan pasti ngalur-ngidul kan, panjang gitu.
Ngobrol di Instagram ya, bisa sampai tengah malam.
Iya, kalau ini kan emang dari awal memang mindset-nya udah pokoknya sesingkat.
Namanya shorts bukan long.
Lanjut-lanjut, tadi kan udah bikin script, terus di record per section lah ya, per bagian gitu ya, 1-2 kalimat.
Terus abis itu, oh berarti setiap 2 kalimat record-nya di stop, terus record lagi, baca lagi, berhenti lagi, record lagi,
sampe jadi belasan video masukin ke capta, terus di edit gitu ya.
Iya, ngeditnya kan juga sebenernya kalau tadi itu digabung-gabungin aja.
Iya, di caption atau caption, tambahin label kalau perlu.
Oke judul dan lain-lain, terus abis itu upload.
Sebenernya yang essential itu nulis script-nya sih, kayak misalnya aku bahas soal JS Copy Array Comparison gitu.
Kalau di array kan, di JS kita bisa pakai spread, pakai slice, concat, tapi mana yang paling efficient gitu.
Dan kenapa gitu, nah biasanya aku juga agak jarang nyiapin visualisasi dan bisa impromtu aja gitu.
Modelnya kayak gini nih, ini aku impromtu biasanya, makanya kalau di beberapa videoku itu ada x kali draw kan.
Nah ini aku next content ya.
Itu buat visualisasi ya?
Bener, buat visualisasi dan biasanya kalau aku ada video visualisasi kayak gini mas, ini aku bisa ngalir tanpa yang ada di script tadi.
Nah makanya ini kan ada nyelead nih satu gitu, nah ini juga.
Ceritain aja gitu ya?
Bener yang menurutku, nah dalam konteks ini aku bahas ini mas.
Kita tahu kalau misal salah satu keresahan, ini aku belum post sih kontennya, kan ya?
Wah bocoran di sini, eksklusif.
Apa yang tau prosesku gitu ya.
Jadi aku, kita tahu bahwa keresahan kita sebagai Node.js Developer ketika coba untuk deploy application kita di container, itu size-nya gede biasanya.
Dan itu biasanya karena node modules-nya itu gede banget gitu.
Nah padahal sebenarnya in the run time gitu, package dan dependency itu yang kita butuh itu nggak sebanyak itu gitu.
Nah makanya, jadi aku kemarin ya dapet dari temenku juga, kita bisa pakai package namanya Vercel NFT.
Nah ini tujuannya bayangin apa yang kita lakukan di sini sama node file trace ini.
Dia bakal nge-trace semua file dari sebuah entry point dan dia bakal menyeleksi bagian mana aja yang kepake di application runtime gitu.
Sehingga kita bisa mengeliminasi node module yang gede banget itu.
Itu kayak semacam tree-shaking gitu lah.
Jadi bayangin kita punya entry point yang ini gitu.
Dia bisa tau kayak oke module satu yang kepake tapi file yang mana nih, oh yang ini aja gitu.
Tree-shaking as a service.
Ya semacam itu, itu lumayan gitu.
Docker image size yang halnya 2GB itu bisa jadi cuma 300-400an MB gitu.
Oh jauh ya?
Nah jauh.
Nah kalau yang itu kan ini scriptnya nih.
Optimize Docker image prune node modules.
Nah ini, udah aku tulis nih kayak hooks-nya.
How to optimize node geocache Docker image dan segala macemnya.
Nah, dan aku ngejelasin ini juga sebenarnya, mostly kalau dilihat di kontenku itu ya.
Itu kan aku banyak yang screen record dan nampilin kodingan.
Pun sama, ketika aku coba ngejelasin ini.
Yang aku bahas itu Docker file-nya dan juga script untuk pakai si node file trace ini untuk nge-eliminasi file-file yang nggak kepake di node modules kayak gitu.
Sebenarnya aku bisa bilang prosesnya kan sebenarnya ya.
Kita pasti ada ideation, ideation.
Dari ide.
Ideanya datang dari mana tadi?
Kalau aku dari hasil belajar ku atau dari temen gitu ya.
Ideation, terus disini yaudah aku scripting.
Scripting yang tadi aku bikin scriptnya tuh.
Scripting berarti dalam kata-kata dulu ya, belum bayangin visualnya.
Maksudnya exactly gambarnya apa, ilustrasinya apa.
Itu belum sampai situ ya scripting dulu.
Kayak free form writing.
Apa barengan?
Enggak, enggak bener.
Atau kalau visualnya dulu?
Enggak, visualnya dulu sih.
Jadi scriptnya dulu ya, kata-katanya dulu ya?
Tuh, kata-katanya dulu.
Dari script.
Oh yang tadi ya, 10 detik pertama ya?
Ya, hooks, background, kontennya apa segala macam.
Itu termasuk di script sih mas.
Habis aku bikin script, nah disini biasanya aku...
Eh sebenarnya kalau mau ada proses disini sebenarnya ya...
Reset dulu kan lah ya, dari materinya itu.
Reset, disini biasanya.
Nah kalau kayak tadi mas...
Reset materi.
Ya, aku make sure pemahamanku terhadap konten itu benar-benar holistik secara keseluruhan gitu.
Jadi enggak bisa aku cuma paham sebagian tuh.
Kayak termasuk yang ini aku beneran nyobain gitu.
Aku bikin proyeknya dan nyobain untuk me-compare beneran gitu.
Nah itu juga lumen tekstan.
Kayak POC lah ya, POC gitu ya.
Ya, semacam kayak gitu lah.
Ya sih reset dulu, habis nemu ide nya.
Nah di reset ini sebenarnya ya, prosesku ya tadi.
Ya udah, coding nya itu.
Nyari, baca dokumentasi, lulis.
Yang bakal didemokan nanti pada saat di videonya gitu ya?
Ya, yang bakal didemokan.
Nah ini aku ada GitHub khusus.
Aku taruh sini semua.
Di KroCoding ini.
Misal yang ini, intercession observer.
Yang aku infinite scrolling ini.
Ya ini aku, ini part of my reset gitu.
Aku bikin proyeknya untuk showing.
Kita bisa loh bikin infinite scrolling tanpa pakai library gitu.
Nah itu.
Discripting, baru disini ya recording.
Ini part yang paling takes time dan effort lah kalau di konteksku sih.
Akan disini.
Betul.
Tapi kalau yang edit gambarnya, grafiknya itu sebelum recording atau sesudah recording ngomong?
Oh ya disini.
Ya sebelumnya, siapin visualisasi ya.
Sama kalau ada screencast yang kita nge-tick itu yang tadi ada video screencast.
Cscode-nya atau gambar.
Itu sebenarnya udah kepikiran pas scripting sih sebenarnya.
Sebenarnya kalau mau di detailin lagi ya mas ya.
Biasanya kalau konten-kontenku yang niat.
Nah misal aku ngepromosiin salah satu coding cam gitu lah ya.
Nah ini kan ya dibayar sama orang.
Jadi aku perlu niat nih.
Nah ini aku siapin nih.
Ada yang aku bikin selain script, aku ada shortlist.
Nah shortlist ini adalah yaudah aku satu video ini dia nampilin apa yaudah stock video.
Atau ini a-roll aja aku ngomong di depan video.
Atau yang ini b-roll.
Yaitu aku ngasih footage-footage aja.
Disini aku kasih komen juga nih.
Kayak dari yang dulunya olahraga terus jadi atlet ikutan kompetisi.
Nah ini aku oke aku pake b-roll, aku tunjukin video lagi olahraga atau pas lagi training center.
Nah kalau misal kayak gini nih mas.
Algorithm, struktur data dan lain sebagainya.
Yaudah aku screen record tipenya dia.
Excalibri draw showing list of programming concepts.
Nah kalau sebenarnya mau di detailin kayak gini.
Kita bikin shortlist nih sebenarnya.
Jadi terstruktur banget tuh.
Nah tapi kalau untuk konten-kontennya.
Kayak kaya library berarti kan.
Kayak konten library, kayak media library.
Kumpulin semua.
Nanti pas editing baru kayak diolah dan dipilih.
Ya semacam itu sih.
Tapi kalau yang konten teknikal biasanya kayak gini nih.
Ini tuh kayak udah yaudah pokoknya bagian ini.
Kayak apa ya.
Aku udah tau dengan diriku sendiri.
Oh bagian ini tuh aku sharing.
Makan ya.
Ya ini buka face quote-nya.
Oh ini nunjukin.
Nah gitu.
Itu improm tuh secara langsung ketika aku lagi masa recording.
Pas recording sekalian buka face quote dan lain-lain gitu ya berarti ya.
Betul.
Biasanya aku pake dua monitor tuh.
Yang kanan itu OBS.
Yang satu yaudah video editor-nya sambil aku record.
Nah yaudah editing.
Habis itu yaudah posting aja.
Berarti proses editing-nya nggak terlalu panjang ya?
Nah betul mas gini.
Justru recording-nya yang effort yang paling besar ya.
Betul.
Ini kalau misal aku coba kasih ini ya.
Apa movies.
Nah misal kita buka satu video nih.
Di bongkar semua rahasianya.
Misal yang kemarin bahas apa ya.
Ini nggak terlalu banyak.
Oh yang browser reflow nih.
Tuh.
Segini banyaknya emang.
Ini yang aku potong-potong.
Atau yang tergantung videonya sih.
Misal yang ini ya.
List virtualization atau windowing ya.
Ya segini doang ternyata gitu.
It depends dari videonya sih.
Tergantung pada take-nya ya.
Video yang 2-3 menit itu sebetulnya kerjanya berjam-jam ya.
20 jam ada.
Wah.
Kayaknya nggak sih kalau 20 jam sih.
Karena editing-nya kan simple juga ya.
Cuman kalau yang benar-benar niat kayak aku tentu list dan lain sebagainya.
Yang kayak tadi itu.
Itu baru takes time banget sih emang.
Atau yang tadi itu.
Yang drama-drama.
Entertaining.
Programmer.
Nah itu berapa-apa tuh?
Nah ini.
Aduh aku nggak gitu lagi.
Cuman lebih berhari-hari sih.
Biasanya kalau kayak gini sih.
Yalah karena itu kan.
Itu kan udah kayak bikin film.
Tiktoknya sering lihat FBP.
Tapi ini kalau diperhatikan.
Skripnya dan videonya juga sebagian berbahasa Inggris.
Sebagian berbahasa Indonesia.
Target audience-nya sebenarnya siapa sih?
Nah.
Jadi ini aku kayaknya udah stop share aja ya.
Karena udah kebayang semuanya kan kayaknya.
Yes.
Sebenernya target audience ya.
Orang Indo sih sebenernya ya.
Tapi aku ngerasa kayak ya.
Jadi gini sih mas.
Aku balik lagi.
Apa yang apapun yang aku lakukan.
Aku selalu tarik.
Apa tujuanku gitu.
Even ketika aku bikin konten pun juga sebenernya.
Ya lagi-lagi pilihan.
Tiap orang punya tujuan kan.
Kalau misal kita lihat.
Katakanlah Pak Sandika Gali.
Yang memang fokus di YouTube.
Atau Dea Afizal gitu.
Aku ngerasa ya mereka memang hidup dari YouTube gitu.
Pekerjaan utama mereka di situ gitu.
Tapi aku pribadi ngelihat konten ini sebagai selingan aja gitu.
Karena aku dari dulu sampai sekarang pun juga.
Masih pengen capai engineering ladder karir yang paling atas gitu.
Aku pengen jadi engineering manager.
Aku pengen jadi VP gitu.
That's why.
Sebenernya konten-kontenku yang aku bikin itu.
Teknikal itu.
Itu adalah ya hasil belajarku gitu.
Yang pengen aku share aja gitu.
Makanya konten-konten yang entertainment kayak tadi gitu.
Yang programmer lagi lebaran apa segala macem gitu.
Programmer PNS itu.
Itu sebenernya ya jarang banget gitu.
Karena aku ngerasa ada korelasinya terhadap bagaimana tujuanku.
Pengen menjadi engineering manager.
Atau karir ladder di engineering yang lebih tinggi lagi.
Korelasinya ningkatin engagement.
Cuma nggak direct ya.
Nggak direct mendukung.
Nah betul nggak direct sebenernya.
Kayak gitu.
Makanya target videonya.
Makanya aku punya goals.
Next time aku pengen coba kerja di luar negeri gitu.
Nah mulai banget tahun baru ini sebenernya mas.
2025 ini aku memutuskan untuk bikin konten bahasa Inggris.
Dan sebenernya semua kontenku yang tadi itu sebenernya full bahasa Indonesia semua.
Cuma 2 konten doang.
Dan itu pun baru.
2025 ini aku upload.
Januari ini juga kan.
Yang broserni flow sama infinite scroll gitu.
Oh iya bener bener.
Dan aku tadi agak kaget sih.
Ternyata ketika aku coba buka.
Kalau Mas Riza cobain buka yang infinite scroll di TikTok gitu.
Ternyata itu diterima baik oleh semua out.
Betul.
Ada orang Inggrisnya juga.
Orang luar.
Nah Inggris orang luar ya.
Bener.
Dan orang Indo juga.
Orang Indo ada jadi nyampur ya.
Bener.
Nah.
Tapi di situ aku udah aware sih.
Makanya kalau Mas Riza lihat.
Di situ auto captionnya ada 2 versi.
Ada yang bahasa Inggris ada yang bahasa Indonesia.
Nah aku mencoba untuk memfasilitasi itu sih.
Oh itu bisa diatur.
Oh ada.
Jadi disediakan dua-duanya.
Transit dari TikToknya kan.
Bukan dari CapCut kan.
Jadi bisa diidiakan dua versi gitu ya.
Betul.
Coba Mas Riza scroll ke video yang tengah deh.
Durasi ke tengah.
Itu kayaknya gak ada bagian yang Indo nya.
Nah itu dia tuh tuh tuh.
Oh iya.
Ada dua.
Nah coba di play terus itu sebenarnya dua itu running.
Dan itu dalam satu konteks yang sama Mas.
Oh gitu.
Nah itu jadi CapCut kan berarti emang di videonya ya.
Oh enggak ini kan di hardcode kan.
Di hardcode ditempel ke video kan.
Di CapCut nya sendiri kan.
Kalau di CapCut nya berarti kan hasil video.
Renderannya juga ada kan itu.
Ada ada.
Ya dari CapCut nya.
Di upload ke platform lain tetap ada dua.
Ya betul.
Caption.
Nempel sama videonya kan.
Nempel sama videonya iya iya.
Benar.
Nempel sama videonya.
Ya gitu.
Se gampang itu ya.
Maksudnya meraih audiens baru dengan demografi yang berbeda juga.
Ya tinggal ganti bahasa.
Maksudnya tinggal pakai bahasa Inggris.
Terus apa bisnis asisual tiba-tiba banyak orang yang komen.
Ada yang orang Indonesia ada yang orang luar gitu ya.
Luar biasa ya.
Aku sering dilingin.
Karna sebelumnya udah itu udah bagus kan.
Udah ada audiensnya.
Dari awal ganti-ganti mungkin rekomendasinya nggak bagus kan.
Kalau ini kan karena udah banyak yang follow.
Udah banyak yang udah sering direkomendasiin.
Udah sering masuk apa FVIP.
Jadi ya emang udah dapet ga pasarnya.
Udah established.
Udah established baru ganti bahasa.
I see.
Ya kayaknya gitu sih.
Jadi sebenarnya si TikTok.
Ya ini tergantung platform ya.
Jadi sebenarnya si TikTok ini nggak masalah ya.
Kita kalau bahasanya nyamper-nyampur ya.
Ya nggak masalah sih.
Gak masalah ya.
Gak masalah sih.
Aku juga nggak jarang menjumpai.
Ya aku pun sendiri mengkonsumsi konten-konten di TikTok.
Resursinya berpariasi gitu.
Nggak cuman Indo doang.
Oke.
Nah.
Atau yang ini mas.
Aku coba share yang ini ya.
Apa di... apa namanya?
LinkedIn.
Ya aku juga nggak expect.
Ini yang browser reflow nih.
Impresinya sampe 38 ribu.
Dan dari konten ini,
Ini yang bahasa Inggris nih ya.
Pangenitian gitu.
Ini banyak banget orang luar Indo yang connect ke aku gitu.
Dari LinkedIn pun juga sangat welcome.
Gak tahu, somehow ini dipus juga ke audien seluar kayak gitu sih.
Ya LinkedIn kayaknya lagi nge-push video kali ya.
Sama hashtag itu bobotnya tinggi kan.
Maksudnya nggak bukan geografis.
Jadi kalau mau kontennya bahasa apa.
Kalau misalnya hashtagnya tepat.
Ya terus mungkin nggak tahulah ada...
Itu kelihatannya emang reach-nya cenderung bagus ya.
Gak, maksudnya nggak di Indonesia doang.
Oke oke.
Oke pertanyaan berikutnya.
Wah ini semakin banyak nih pertanyaannya nih.
Semakin seru ya.
Kalau bikin konten itu,
Ada hari tertentu nggak?
Di weekend kah?
Atau after office hour kah?
Atau pagi-pagi sebelum kerja atau gimana?
Manajemen waktu ya.
Time management.
Itu juga penting banget sih.
Karena ya itu kan juga...
Aku ada kegiatan yang lainnya gitu.
Ya ada kegiatan utamakan ya.
Betul.
Aku akhirnya menemukan satu formula yang cocok di aku.
Tapi nggak yakin apakah cocok di teman-teman yang lain juga.
Kalau aku pribadi biasanya bikin script itu pas weekday.
Jadi after office atau before office.
Dan itu aku bikin script pure.
Jadi biasanya aku...
Kayak bikin text aja gitu ya?
Ya bikin script sama reset.
Nah itu.
Aku harus paham betul sama context dan keseluruhan hal tentang itu.
Nah itu weekday gitu.
Biasanya bisa tuh.
At least satu minggu satu video gitu.
Atau satu minggu satu script.
Atau bahkan kalau emang lagi...
Semangat-semangat banget.
Minggu bisa tiga script, empat kayak gitu.
It depends sih kalau lagi nggak padat gitu lah.
Nah.
Karena bagian paling...
Takes time dan menguras tenaga itu tadi recording.
Nah.
Akhirnya aku batching mas.
Jadi di weekend.
Seharian biasanya.
Kayak dari pagi sampai siang atau pagi sampai sore gitu lah.
Itu aku record semua video yang udah aku bikin scriptnya tadi gitu.
Sehingga...
Proses editing pun juga sebenarnya udah bisa aku lakukan lagi secara asinkronus.
Di tengah-tengah jam kerja gitu.
Aku ngerasa untuk recording itu harus time blocking gitu.
Oke.
Dari jam 9 sampai jam 12 itu.
Karena nggak bisa gitu.
Kalau yang lain gitu ya.
Aku bikin script itu bisa melakukan gitu.
Ya.
Pelakukan itu dimanapun kalau bikin script.
Tapi kalau recording kayak kemarin.
Nggak bisa.
Aku di tengah-tengah aku bikin nge-record.
Aduh.
Udah.
Nggak bisa.
Sampai sekarang studio-nya nge-record itu cuman ada 3 script recording video.
Kayak gitu.
Oke.
Nah.
Jadi saranku better pas recording itu di batch aja gitu.
Karena kalau misalnya udah kayak gitu.
Itu kayak kita bisa punya stock content gitu loh.
Kayak.
Dan kita bisa ya udah terserah mau upload itu kapan gitu.
Dalam konteksku yang kemarin.
Sebenernya ketika aku di titik upload konten infinite scrolling.
Itu sebenernya konten browser upload itu udah ready gitu.
Cuman nggak aku upload aja.
Di schedule kan itu publishing-nya kan berikutnya ya.
Nah.
Akhirnya bisa di schedule.
Semua as far as I know.
TikTok udah ada fitur scheduling-nya.
Instagram ada.
LinkedIn ada.
Schedule post gitu.
Jadi kita.
Ya itu sih.
Hmm.
Oke.
Upload videonya itu schedule-nya seminggu berapa video?
Atau seminggu satu?
Nah.
Karena lagi-lagi aku tidak terlalu apa ya.
Put a lot of effort di.
Menjadi seorang content creator.
Tapi lebih kepada itu sampingan aja.
Agensi itu sebenernya sesuai dengan.
Bebas aja dia suka-suka gitu.
Suka-suka gitu.
Oke.
Kayak gitu.
Kecuali bias.
Rata-rata berapa?
Hmm.
Rata-rata sih 1 minggu 1 video sih.
Biasanya.
1 minggu 1 video.
Makanya.
Kalau misalnya aku batch gitu ya.
Aku udah punya 4 video.
Ya sebenernya aku.
1 minggu 1 video udah aman gitu.
1 bulan aman.
Oke oke.
Pernah itu nggak.
Ngeditnya pakai aplikasi apa?
Oh sorry.
Ngeditnya pakai aplikasi apa?
CapCut tadi.
Kita ada demonya.
Bisa diundurin sedikit.
Oke.
Gimana Eka?
Writers block.
Mana?
Ini menarik.
Pernah nggak?
Pernah writers block.
Stack nggak ada ide.
Atau malah.
Pernah nggak kebanyakan ide.
Kayak.
Uh ini seru.
Wah itu seru.
Sampai nggak bisa fokus.
Atau mungkin malah kebanyakan.
Kebanyakan survei.
Reset.
Terus akhirnya malah.
Aduh nggak jadi deh.
Ya maksudnya yang.
Masalah-masalah.
Stack dan semacamnya.
Dalam.
Siapin script dan recording.
Pernah nggak?
Ya.
Pernah sih.
Jadi.
Ini aku sekalian coba share lagi ya.
Jadi.
Part of.
Itu sebenernya.
Kayaknya nggak terhindarkan sih.
Pasti ada ya.
Pasti kejadian lah ya.
Ntar.
Ini udah kelihatan belum ya?
Oh belum.
Oke.
Nah ini.
Oke.
Sebenernya.
Dari sekian.
Ini sebenernya aku ada 2 akun sih.
Ini yang baru ya.
Soalnya yang lama.
Aku nggak subscribe Notion Pro.
Jadi udah limit gitu.
Nah ini.
Ada beberapa video yang sebenernya ready to film.
Cuma nggak aku execute-execute.
Karena aku ngerasa.
To be honest.
Kan lagi ya.
Motivasi kok.
Gue bikin kontennya.
Oke.
Jadi.
To be honest.
Kan lagi ya.
Motivasi kok gue bikin konten itu.
Coming dari diriku sendiri gitu.
Karena aku ngerasa nggak engage lagi sama konten ini gitu.
Kayak.
Kayaknya nggak seperti itu buat di share deh gitu.
Nah makanya itu.
Atau yang ini doang.
Ini berhenti di research planning doang.
Aku nggak ada apa ya.
Lanjutannya lagi.
Nggak.
Nggak ada courage.
Untuk melanjutkan ini.
Nggak lemuh punch-nya.
Nggak lemuh hook-nya.
Nah.
Itu dia.
Kayak nggak nge-click aja gitu.
Dan.
Ya udah gitu.
Nggak.
Nggak.
Akhirnya nggak aku execute sih.
Itu.
Jadi.
Hal-hal kayak gitu.
Atau.
Kayak.
Mulai script.
Tapi kayaknya di tengah jalan.
Nggak ini deh.
Itu.
Itu.
Possible sih.
Atau.
Nanti.
Kalau kata dari Baika.
Punya banyak ide gitu.
Tapi.
Akhirnya nggak kayak execute.
Kayak execute.
Itu juga ada.
Banyak banget.
Apakah itu akan dieksekusi?
Belum tentu juga.
Itu.
Oke.
Oke.
Kadang-kadang kan kita apa ya.
Apalagi kan ini bukan pekerjaan utama gitu kan.
Pekerjaan iseng gitu sampingan lah ya.
Kita tuh wah kayaknya seru nih bahas konten ini.
Kan biasanya tuh motivasinya itu.
Adalah mulai dari yang tadi kan.
Kalau misalkan dari ideation.
Terus reset.
Terus habis itu scripting.
Recording.
Sampai publishing gitu kan.
Editing.
Publishing.
Nah kalau yang Mas Dani lakukan kan.
Batching gitu ya.
Jadi kalau misalkan kepikiran ide.
Ya udah tulis aja scriptnya dulu.
Terus tiba-tiba pas mau record.
Kayaknya nggak seru nih.
Ngomongin ini udah lewat.
Mungkin hype-nya gitu.
Atau apa gitu.
Udah nggak seru lagi untuk dibahas.
Berarti banyak kejadian kayak gitu ya.
Kekurangan dari proses batching gitu.
Mungkin itu kali ya.
Iya.
Benar sih.
Itu.
Itu beberapa kali aku alamin.
Memang seperti itu.
Apa ya.
Aku ngerasa.
Kalau aku coba refleksikan kembali dan observasi.
Dari beberapa video yang nggak aku execute.
Rata-rata kayak.
Dan ini lagi-lagi apa personal sih.
Aku ngerasa.
Nggak sepenting itu buat di-share gitu.
Karena lagi-lagi.
Aku bikin konten tadi kan.
Total dari klasik internalku aja kan.
Untuk share hasil belajar.
Dan lain sebagainya gitu.
Oke.
Wah.
Ngefreeze, ngefreeze.
Ngefreeze lagi nih.
Ngefreeze dulu.
Kayaknya ada.
Ini.
Apa namanya.
Ada masalah jaringan kayaknya.
Ini kita baca-baca komentar dulu ya.
Komentarnya banyak kan ini ya.
Tech Bro Influencer.
Terus.
Ini juga pertanyaan yang bagus nih.
Ngomongin engagement.
Engagement.
Kalau bahas teknikal kan.
Biasanya engagement-nya nggak terlalu.
Gede ya.
Ini.
Mas Dhani ini bisa.
Punya account.
Dan apalagi kalau kayak tiktok gitu kan.
Algoritma-nya juga.
Mutusin itu kan.
Mau ditunjukin ke siapa aja.
Ke berapa banyak orang.
Betul.
Betul.
Dan.
Dicapai dalam waktu singkat.
Dia kan mulainya dari kapan itu.
Kayak.
Dari.
Tahun.
Nggak.
Nggak selama.
Kayak kalau pas Sandika Gali kan udah lama kan.
Gitu kan.
Udah dalam waktu yang panjang dan.
Apa namanya konsisten.
Gitu kan.
Kalau ini kan kayaknya baru ya.
Jadi programmer aja baru.
Video pertama 2000 tahun.
3 tahun.
Jadi kurang lebih dalam waktu singkat.
Tapi mungkin itu cerminan apa ya.
Kalau.
Karena tiktok tuh kayak lebih.
Kontennya banyak banget kan.
Jauh.
Dari segi.
Quantitas ya.
Bukan kualitas.
Quantitas kan.
Jauh lebih masif.
Daripada YouTube kan.
Banyak kan.
Semua orang bikin.
Nggak tau mungkin.
Kayak.
Turn over-nya jadi.
Lebih cepat.
Nggak ngerti.
Ada hubungannya kok kan.
Iya.
Gak tau.
Itu yang harus kita panyakan.
Karena.
Iya.
Karena kan.
Konten edukasi.
Yang istilahnya.
Needs untuk.
Pihak tertentu.
Ya ini tertentu gitu kan.
Udah gitu.
Teknis.
Bahas teknikal.
Itu kan.
Kita harus bersaing sama.
Konten-konten yang banyak gimmick.
Dan lain-lain yang entertain kan.
Yang lucu-lucuan kan.
Itu.
Challengingnya disana kali ya.
Seberapa.
Orang mau engage.
Dengan video teknikal.
Dibandingkan orang mau engage dengan video.
Joget misalkan.
Yang apa.
Hiburan gitu.
Itu tadi mandi lumpuh.
Atau.
Atau cari luncannya aneh-anehnya.
Iya.
Karena kan orang bukan social media.
Buat nyari hiburan kan.
Bukan buat.
Bukan hanya buat belajar.
Tapi.
Kalau misalkan awalnya.
Pengen belajar.
Terus tiba-tiba ada channel hiburan.
Pasti yang dilihat video kucing dulu kan.
Ya tapi kan.
Untuk developer.
Cari hiburan.
Tapi.
Temu konten web dev.
Yang dianggap apa.
Bermanfaat.
Ya ringan.
Tapi bermanfaat.
Dan ngasih nilai lebih.
Ya pasti kan.
Di like.
Di subscribe.
Dan engagement lainnya.
Oke.
Kita tunggu beberapa menit ya.
Ini Mas Dani baru ngabarin katanya.
Tiba-tiba.
Telekom selenya hilang.
Tadi.
Waktu diawal.
Sempat mati pertama.
Dari wifi.
Gengguan.
Terus habis itu pindah ke tethering.
Telekom selenya hilang.
Tiba-tiba.
Kita tunggu beberapa menit.
Waduh.
Kalau.
Kalaupun gak bisa join lagi.
Setidaknya kita udah.
Dikasih.
Banyak.
Secret.
Recipe ya.
Luar biasa ya.
Banyak banget.
Sharingnya.
Cuma yang sayang.
Yang.
Pertanyaan kedua dari terakhir sih nih.
Apa.
Belum sempet.
Kejawab.
Kalau soal apa.
Pertanyaan-pertanyaan yang kita punya di list.
Juga kan.
Mostly udah.
Udah kejawab.
Secara langsung.
Atau gue langsung.
Akhir komennya jamar.
Coba tuh.
Cita-cita jadi viral.
Cita-cita jadi viral.
Jadi viral itu.
Sebenarnya.
Tidak terlalu susah.
Bisa.
Bukan dengan cara yang baik.
Bukan dengan cara yang tidak baik.
Tinggal pilih aja.
Ya.
Mau jadi apa.
Edukator.
Atau mau jadi.
Jadi kriminal.
Cepet tuh viralnya.
Tapi jangan lah ya.
Berbuat jahat tuh.
Apalah live streaming apa.
Coin Jagat.
Coin Jagat.
Sudah ada sinyalnya.
Hilang sinyalnya.
Ini balik ke wifi lagi atau gimana.
Ini balik wifi.
Tiba-tiba random banget.
Hilang.
Sinyal telekomsel.
Waa.
Padahal.
Terima kasih.
Sampai ketemu lagi.
Sampai ketemu lagi.
Tiba-tiba bisa hilang gitu ya.
Selain mati lampu sering gak sih.
Kejadian mati lampu.
Akhir-akhir ini udah jarang.
Tapi dulu sering.
Cuman sekarang udah kayak.
Kayaknya.
Kalau gak hujan deres dan itu sampai angin gitu ya.
Biasanya gak mati lampu sih.
Tapi kalau biasanya mati lampunya sekarang ketika kayak gitu.
Ya.
Tadi sambil menunggu kita bahas ini nih komentar dari Debbie.
Kalau bahas teknikal gitu engagementnya bisa rame.
Tentang apa materinya kebanyakan tentang apa dan gimana caranya.
Karena kan yang tadi ya sempet saya bilang.
Kita itu konten edukasi dan teknikal ini bersaing dengan konten gimmick.
Konten mandi lumpur, kucing dan lain-lain yang hiburan gitu.
Gimana caranya bisa mendapatkan engagement yang cukup gitu.
Ada tipsnya gak?
Oke.
Oke.
Oke.
Ini suaraku udah aman ya sebelumnya?
Suara aman.
Tapi videonya kapat-kapat.
Gak apa-apa.
Lanjut aja.
Oke.
Gak apa-apa.
Jadi nah itu memang salah satu tantangan yang aku ngerasa.
Aduh.
Halo-halo Mas.
Iya lanjut-lanjut.
Suaranya aman, suaranya aman.
Oh mungkin itu.
Oh gitu.
Oke.
Kalau gak videonya dimatiin aja.
Jadi kita audio aja.
Gak apa-apa juga sih.
Audionya cukup lanjar kok.
Oh ini lagi switch kali ya.
Lagi switch.
Lagi switch kayaknya.
Nah udah nih.
Nah udah aman.
Oke jadi itu memang salah satu.
Apa ya aku?
Lanjut-lanjut.
Aku ngerasa itu memang salah satu tantangan kita sebagai content creator yang fokus di bidang edukasi gitu ya.
Nah tapi basically aku ngerasa baru menemukan formula itu ketika aku tadi.
Again aku coba cari formulanya.
Aku ikutan bootcamp-nya si Agung Hapsa itu.
Nah itu sebenarnya apapun format videonya, entertainment segala macem.
Kunci dari mana engagement itu tinggi ketika video tersebut itu ada unsur emosinya.
Showing emotions gitu.
Kalau misalnya kita lihat konten-konten lucu, entertainment gitu.
Itu ada emosi yang kita dapetin.
Konten bayi, lucu gitu.
Atau kayak konten drama biasanya karena emosi apa gitu.
Atau biasanya ada storytelling-nya kayak gitu juga.
Nah bagiku gimana caranya aku showing emotion terhadap ketika aku ngajar tadi ya di konten-konten edukasi.
Itu aku mencoba untuk sebisa mungkin ekspresif gitu sih mas.
Karena aku ngerasa itu nular gitu.
Ini kalau misalnya kita coba lihat ini mas ya.
Aku coba share lagi ya.
Bakal beda banget sih.
Misalnya kita coba beda salah satu script gitu ya.
Misalnya yang ini deh.
Oh yang ini nih.
Tunggu ya.
Docker.
Nah ini Optimize Docker Image Workshop.
Nah kalau misalnya kayak gini ya.
Nah makanya gak jarang kenapa youtuber-youtuber itu banyak yang lebay.
Karena sebenarnya bener itu showing emotion gitu.
Kalau dalam konteks ini, ini literally ya.
Makanya orang teman-teman sekitar ku tuh ngerasa aku beda aku di konten dengan kehidupan nyata mas.
Karena bayangin dengan aku baca kayak gini ya.
Aku tuh kayak gini mas.
Gimana caranya Optimize Docker Image yang se ekspresif itu gitu.
Dan memang terkesan lebay.
Tapi aku ngerasa dari hal itulah yang bisa bikin engagement sama penonton.
Dan dia mau untuk stay di konten kita lebih lama gitu.
Ya gue coba praktekin ya.
Pasti beda banget mas.
Gimana caranya Optimize Docker Image yang semula ses nya tuh segini.
Hingga bisa jadi jauh lebih kecil segini gitu.
Kira-kira apa teknik yang bisa diimplementasikan.
Dan hal apa, nah itu semua aku pertimbangkan, tinggi nadanya, temponya.
Kemudian kapan aku harus menekankan sebuah kata.
Dan ekspresi apa yang harus aku tunjukkan dan lain sebagainya.
Itu part of gimana caranya aku menyampaikan informasi yang edukatif.
Tapi at the same time itu juga enjoy untuk, apa ya, enjoy dan engage untuk stay di videoku gitu.
Nah itu kita bisa showing emotions.
Itu salah satu formulanya.
Every viral video biasanya ada unsur emosinya.
Karena kita di dunia teknis biasanya mikir kayak kita tuh bidang yang yaudah kita gak perlu pisah sama human emotion.
Ya gak perlu menakjakan emosi gitu ya.
Itu dia.
Itu sih kayaknya yang mengisi disana.
Benar.
Iya ya, benar juga ya kalau diperhatikan jadi kayak kalau di videonya Mas Dady ini kayak lagi marah-marah gitu.
Maksudnya penekanan gitu, apa ada penekanan di kata-kata atau di kalimat tertentu gitu ya.
Tapi kan bahkan di Youtube pun yang formatnya bukan short form ya, itu berlaku banget sih.
Makanya yang kayak apa, si Theo Prime, Prima Gen.
Yang berapi-api gitu kan.
Mungkin sebetulnya mereka kalau di dunia nyata secara pribadi ya mungkin gak sebegitunya ya.
Gak tau gak kan, cuma jangan-jangan itu emang buat content.
Itu ya, Prima Gen itu kan ekspresif banget ya.
Dia teria pun teriak.
Ya ekspresif, kata-katanya ekspresif ya.
Terus gimana caranya supaya bisa begitu, ada trik tertentu gak supaya bisa ngomongnya kayak gitu?
Kursus theater, gak.
Atau minum apa kayak minum gula yang banyak biar over high gitu.
Harus minum apa?
Gimana ya, aku juga bingung sih.
Tapi menurutku yang paling penting itu adalah kemampuan kita reasoning dan juga improvisasi sih.
Dan itu aku dapetin dari baca buku.
Jadi kadang kalau dalam konteks novel gitu.
Aku tuh juga secara tidak langsung kadang mencoba untuk mengungkapkan dialog yang terjadi di sana gitu.
Atau dari baca buku juga aku ngerasa kayak aku bahas satu hal gitu.
Itu bisa ngobrol 2 menit aja itu bisa gitu tanpa aku pernah mikir gitu.
Atau bikin caption atau tadi script yang aku tulis itu sebenarnya kenapa aku bisa ngerasa kayak gitu.
Karena sumber kosa kataku yang begitu banyak dari aku yang aku dapetin dari buku-buku gitu.
Dan how I connecting the dots between konsep ini dengan yang lainnya gitu.
Nah termasuk ini juga Mas, kayak aku ngerasa jadi storytelling juga elemen penting yang menurutku tidak harus kita include di video edukasi kita sih.
Semua videoku mostly aku rata-rata itu selalu berangkat dari yaudah problem.
What's the problem?
Kemudian aku coba untuk glorifikasi.
What happen kalau misal problem ini masih exist gitu ya?
Terus solusinya apa gitu?
Biasanya dari aku di kontenku kan ada hooks, background, makanya gue kasih background dulu konten.
Nah itu sebenarnya part of storytelling gitu.
Tapi in the simple way.
Kalau misal storytelling yang lebih kompleks kan kalau di film ataupun di mana pun itu kan mayan banyak ya.
Oke ini ada karakter yang dia punya tujuan, kemudian dia punya halangan ini akhirnya gini-gini.
Gini-gini, enggak. Tapi biasanya aku selalu struktur kontenku kayak gimana caranya dia menjawab sebuah permasalahan gitu.
Kayak misal yang tadi aku bahas soal nge-prune node module sebiar gak gede amat gitu ya ketika di runtime dockernya gitu.
Aku selalu bangkat dari permasalahan. Apa permasalahannya docker image size kita gede gitu, bergiga-giga.
Padahal kita punya, bayangin kita cuma punya 10 endpoint di back-end application kita tapi size dari docker image kita bisa bergiga-giga.
It doesn't make sense gitu kan.
Nah itu dari situ aku biasanya berangkat dari problem, aku glorifikasi, kemudian iya ini loh solusinya gitu.
Oh berarti kayak ada apa ya, Mas Jani itu melakukan percakapan dengan diri sendiri gitu ya, ngobrol berdua gitu tapi dengan diri sendiri gitu. Gitu gak sih? Enggak.
Kind of kayak gitu sih. Makanya ketika, sebenarnya part of paling tadi ya dari rangkaian semua, the entire process of creating konten ini tadi.
Yang aku merasa paling menyenangkan itu ketika bikin script Mas.
Karena ketika bikin script itu aku juga sekaligus membayangkan bagaimana nanti aku melafalkannya, bagaimana nanti aku mengucapkan dan meng...
Aduh tadi itu seru banget sumpah.
Oh gitu, oh jadi nulis script itu sambil ngomongin, sambil diomongin gitu, dalam hati atau dibayangkan gitu ya?
Ya, ya itu aku ngomong dengan.
Itu dari proses nulisnya.
Itu gak ditulis di scriptnya, ini emosinya harus begini, penekanan di sini gak ada ya, gak ada cue kayak gitu ya, gak ada annotation apa gitu gak ada ya?
Gak sih.
Itu natural aja berarti?
Gak sih.
Karena nulis jadi udah bayang ya, kayak udah kerasa sendiri jadi dapet instinknya karena dalam proses, ya kayak dalam proses reflow nulis itu kan.
Ya dari nulisnya itu langsung kebayang gak kok?
Oke, oke.
Benar, benar.
Iya, iya, iya.
Nah ada satu problem yang apa ya, yang tadi ya ngomongin storytelling, ngomongin emotion.
Apa, kalau saya misalkan presentasi di depan teman-teman, kata-kata Deves Surabaya kemarin.
Itu entah engagementnya antara ngomong di depan orang dengan ngomong di depan kamera itu bisa beda jauh gitu.
Kalau saya ya, ini problem saya gitu.
Karena kalau ngomong di depan orang kita bisa lihat ekspresi orang-orang, ekspresi menonton.
Oh dia gak ngerti, oh iya kita tekan kan di bagian sini, kita ulang lagi di bagian sini kayaknya dia gak ngerti gitu kan.
Sama aja kayak ngajar atau lagi live-coding gitu.
Tapi kalau pas di depan kamera karena gak ada feedback, gak ada feedback loop, gak ada yang bisa kita lihat ini bener gak sih saya ngomongnya gini?
Saya ngomongnya belibet atau gak sih? Karena kadang-kadang kalau kita ngomong secara natural, kadang kita gak bisa mendengar apa yang kita ucapkan kan.
Yang bisa orang, orang lain kan.
Nah itu gimana menyikapinya supaya di kamera itu bisa kelihatan emosinya gitu.
I see, ya ya that's very good question ya sih.
Ah kayaknya ini sih, aku jujur gak pernah memikirkan itu ya.
Tapi kalau misal aku rasa, kalau Mas Riza notice, Mba Eka juga, di setiap videoku gak ada yang aku cuman nampilin screen record VS Code doang atau apapun itu.
Pasti nyampil satu kotak videoku gitu.
Dan itu kayaknya lumayan gede sih. Nah itu kayaknya part of aku showing bagaimana aku mengekspresikan terhadap sesuatu dan lain sebagainya kayak gitu.
Dan juga menurutku yang gak kalah pentingnya sih dari sound ya, dari audionya itu kan sebenarnya aku juga bener-bener mengekspresikan itu dengan dalam tanda kutip, lebih in a good way.
Jadi kayak temponya aku pikirkan, kata apa yang harus aku tekankan sehingga itu.
Nah itu itu sih, dan itu sama kayaknya sama persis ketika aku ngajar juga offline ataupun online gitu, aku selalu mencoba untuk itu.
Makanya kadang aku juga gampang house banget tuh, karena memang, ya kayak gitu.
-Memungumnya berapi-api gitu ya? -Iya.
Tapi itu emang dari awal kayak udah ada instinct kayak gitu, maksudnya it comes naturally, atau dulunya fail tapi maksudnya trial and error,
sekian video pertama belum kayak gitu, makin lama makin lama makin dapet feelnya, atau gimana?
Hmm, iya iya iya. Kayaknya at first aku naturally kayak gitu ya, tapi ada video-ku yang di awal-awal tuh kayak aku datar doang sih kalau kulihat ya.
Tapi setelah aku ya tadi belajar dari bootcamp Montana itu tadi, itu ya akhirnya aku memutuskan untuk every single video yang aku record,
aku harus ekspresif, aku harus lebay sehingga bisa engage sama audiencenya.
Part of showing emotions gitu. Kayak aku mengglorifikasikan problem, aku pasti nada tinggi atau kayak gimana kayak,
"Eh ini loh masalahnya" gitu, "Eh kebayang gak sih?" gitu. Kayak gitu.
Oke oke, kebayang-kebayang. Jadi ada proses latihan membaca script dulu atau langsung record?
Skriptenya udah dibuat, udah jadi nih, udah kebayang emosinya gimana. Terus langsung record atau rantur dulu?
Kayak diomongin dulu, "Oh ini kurang ini" atau apa gitu.
Iya, iya bener sih. Jadi aku itu sih mas bener, kata Mas Liza dulu.
Jadi aku, tapi gak selama itu juga latihannya sebenarnya, jadi apa yang aku lakukan, ketika aku udah bikin script,
terus sampe akhir, aku coba baca dari awal sampe akhir itu. Kayak kira-kira nanti bakal kayak gimana gitu.
Dan barulah ketika aku udah, karena gini, dari script yang aku tulis, itu kan aku potong-potong pasti ya.
Nah menyambungkannya itu, biar itu terkesan smooth dan juga gak terkesan kalau itu dipotong dan gak ada konteks.
Itu aku juga perlu memikirkan gimana nyambung nada antara yang dipotong disini dengan yang disini gitu, yang di video selanjutnya.
Nah makanya aku selalu simulasikan, ketika aku udah bikin script, aku coba bacakan secara keseluruhan.
Gak, oh ya ini nyambung sih. Makanya pasti biasanya di transisi antara video, aku kasih awalan gitu.
Misalnya selain itu kita juga bisa, selain itu doesn't matter, tapi dalam konteks yang sebelumnya,
jadi nyambung gitu ya. Benar, moreover lebih dari itu gitu, atau and whatever gitu.
Jadi cue-nya sebenarnya kata-kata ya, bukan cue dalam bentuk anotasi atau apa gitu ya.
Cuman bahkan kalau gak dikasih tau sekarang ini, aku tuh gak bakal tau bahwa itu kayak kepisa-pisa sih,
ya selama ini orang-orang bikin video-video dari awal sampe akhir beneran.
Tadi kan lihat ya, itu banyak banget video yang potong-potong kan.
Tapi kalau film itu kayak scene ya, kayak adegan satu, adegan dua gitu ya.
Terkesan itu cuman satu kali tik doang, padahal sebenarnya banyak banget.
Padahal effort-nya sangat eksplorasi.
Justru sebenarnya, ini tergantung orang ya, justru sebenarnya effort-nya kayaknya kalau buat kita,
buat saya terutama itu justru lebih kecil daripada harus take video yang...
Perfek dari awal sampe akhir dan natural biar bisa nyampein semuanya.
Justru lebih enak yang begini step-by-step, sedikit satu, keberapa, 10 detik berhenti, atau 2-3 detik berhenti,
2-3 detik berhenti. Cuman mungkin effort yang agak lebihnya ke arah...
Scriptwriting tadi, makanya kan apa? Kayaknya semua kreativitasnya diarahin bukan pas imprompuh pas recording-nya,
tapi diarahin pas scriptwriting sama ngebayang-bayangin apa? Ngejait-jait bagian-bagian.
Ya, bener-bener banget sih, itu sebenarnya pas proses itu.
Record itu kayak apa ya? Yaudah, cuman mengimplementasikan apa yang ada di script yang udah ditulis gitu.
Berarti proses penulisan script itu bisa lebih panjang daripada merekam itu sendiri ya, proses rekaman itu sendiri?
Ya, kayaknya kurang lebih sama sih, Mas.
Tapi definitely bikin script itu aku lumayan lama, karena aku, ya tadi ya, perlu memikirkan,
"Okay, gimana aku nge-structurize konten ini? Background-nya apa? Problem yang aku mau bawa apa? Glorifikasi problemnya gimana?"
Sehingga dia menjadi sebuah story gitu.
Dan itu open edit ya, maksudnya pas itu kan belum kebayang kan kelimat selanjutnya apa, kayak exactly step-step-nya apa,
masih open edit kemana-mana. Kalau recording kan udah ada scriptnya.
Iya, bener, recording tuh, nah cuman aku biasanya pas recording itu ya perfectionis sih gitu.
Jadi kayak ada satu hal yang kayak, kayaknya nggak sesuai dengan apa yang ada di benaku gitu.
Even if itu sebenarnya udah mengucapkan apa yang ada di script, tapi aku ngerasa ini kayaknya kurang ditekankan deh.
Tapi kayaknya kurang gitu ya. Nah, kayak gitu. Nah, akhirnya aku take ulang, Mas.
Nah, kayak gitu. Jadi recording takes time gara-gara itu, scripting ya proses, ya denger tadi, proses kreativitasnya itu di scripting tadi sih.
Hmm, maksudnya fokus utamanya di arah scripting ya?
Ya. Wow. Kayak aku nggak tahu ya, kayaknya jarang ada orang yang impromtu terus bisa langsung engage gitu sih.
Dan aku nggak tahu ya, kayak aku ngerasa ketika udah dibikin script tuh kayak pembahasannya itu kontekstual nggak kemana-mana.
Karena aku jadi bisa menyeleksi hal yang nggak berkaitan dengan konteks pembahasan ini tuh apa gitu sih.
Sehingga dikemas menjadi sebuah short video yang concise gitu, itu bisa tetap ke-deliver value dan apa ya, esensi dari topiknya gitu.
Ya, kuncinya di situ sih untuk, terutama untuk short video ya.
Kalau untuk yang video panjang, mungkin kita masih bisa ngalur ngidul sedikit gitu ya.
Agak kemana-mana, tapi abis itu balik lagi.
Tapi kalau untuk yang pendek udah nggak bisa, udah nggak ada waktu.
Yang pendek buat orang-orang yang target jenis aplikasi yang emang attention span-nya juga pendek.
Bener. Tapi aku penasaran deh, Mas Liza sama Mbak Eka juga ketika, aku ngerasa ketika nulis medium artikel ataupun apapun itu nulis gitu ya,
itu juga prosesnya kayak gitu kan, maksudnya kita perlu pikirin, maksudnya gimana mengkoneksikan korelasi antara,
oke aku Alenia pertama ke Alenia keduanya, kemudian klimaksnya nanti disolusinya seperti apa segala macam, kayak gitu juga kan harusnya ya.
Ya, tapi kan space-nya animasi deh, ya maksudnya apapun itu kan nulis kayak gitu.
Sama apa ya, kalau tertulis, itu kan orang fokusnya bukan di penyampaiannya, bukan kita nyampaiannya gimana,
yang tadi kayak suara harus meninggi dimana, kayak itu nggak penting.
Tapi biasanya orang lihat bullet point apalah misalnya daftar fitur apa, atau contoh kodonya.
Jadi kayak orang bisa bebas scroll up, scroll down, atau langsung scroll down, langsung cari contohnya.
Kalau nggak jelas, bisa find in page kan, bisa comment app, misalnya ada keyword yang pengen kita pelajarin,
ya udah kan lihat contoh kodonya, bingung, tinggal cari keyword itu kayak fokus orang itu bukan di delivery-nya,
tapi di beneran technical part-nya kan, kecenderungan.
Betul, itu juga problem yang saya alami, karena ketika saya merekam video dengan membaca script, itu jadi kaku.
Walaupun, ya karena memang biasanya yang seperti awalnya saya sempat lakukan yang seperti Mas Dhani lakukan.
Jadi bikin script dulu, apa yang mau diomongin itu ditulis semuanya kata-perkata,
terus habis itu entah itu dibaca pakai teleprompter, lihat layar, ataupun dihapal, dihapal perkalimat gitu.
Tapi jatuhnya karena pakai script, kata-perkata jadi kurang natural, jadi kayak baca berita, feedback yang saya dapat seperti itu.
Akhirnya saya memutuskan untuk pakai outline aja, pakai bullet point apa topik yang mau diomongin,
tapi kadang itu malah ngelantur kemana-mana gitu. Tiba-tiba ngeblank, gak tahu kata-kata yang mau dikeluarin apa gitu, itu sering.
Jadi ada plus minusnya juga, dan saya belum bisa mendapatkan formula yang cocok buat saya gitu aja sih.
I see, kebayang sih. Aku juga pernah kayak gitu sih.
Benar, iya. Itulah problem yang saya alami selama ini tuh. Tapi ada satu channel teknikal,
gak apa ya, saya gak tahu, mungkin dia menggunakan apa ya, dia hanya gak pakai video, gak pakai muka,
cuma pakai animasi, fire ship tau kan ya? Fire ship. Oh fire ship tau, iya. Nah dia engaging in his own way sih.
Kenapa? Gak, kalau menurutku itu dia bikin engagement, memicu emosi, pokoknya segala hal-hal tadi,
tapi kayak dia benar itu unik banget sih, itu orang, dia melakukan itu semua dengan caranya sendiri, ya walaupun tanpa muka dia.
Storytelling gitu ya, lebih ke storytelling-nya ya. Iya, storytelling. Sama ini juga.
Rekensi yang ekstrim, yang mengada-ada, maksud saya yang di luar nurul, developer pada umum.
Tetap lebay dengan caranya sendiri gitu ya, gak lebay dengan cara pengucapannya gitu ya, dengan ekspresinya,
tapi lebay dengan animasi-animasi dan visualnya dia kali ya.
Iya, itu kan gila ya, menurutku video macam fire ship tuh editing-nya pasti takes time sih,
dia harus transisinya kayak gimana, ngambil resource, stop video-nya, segala footage-nya yang harus dia lampirkan,
itu, wah gitu, itu aku ngelihat.
Terus dipekan luar perkara coding, dia up to date sama semua meme aneh-aneh dan trend-trend yang pokoknya,
dia selalu nyelingin, dia 50/50 hal teknis, kadang ngerosting ya, itu kan apa, itu juga cara nimbulin emosi kan,
ngerosting yang berlebihan, tapi terus dengan 50 persennya lagi meme atau apalah trend online yang aneh-aneh lah,
template-template online atau apa, dia itu berarti harus up to date selain teknis programming,
dia harus selalu up to date dengan trend meme ya.
Iya betul, memilih apa, kayak sound effect yang tepat dengan memes-nya gitu ya, itu susahnya luar biasa itu.
Tapi ada kelebihan kalau menggunakan format seperti fire ship yang tidak menampilkan wajah,
kayaknya lebih gampang untuk record-nya kan, jadi kalau misalkan mengulang pun,
atau bisa sambil baca skrip pakai kertas itu pun bisa nggak ngeliat ekspresi kan.
Benar.
Tapi editing grafisnya jadi lebih banyak, maksudnya lebih take-time kan?
Iya benar, editing-nya itu take-time banget tuh.
Iya, kalau itu berarti beratnya di editing.
Sama nyakin kayak contoh foto itu kan, kayak nyelingin pembahasan, misalnya kayak contoh fode sama yang beneran konten bercandaan atau gambar apa pelajar,
atau gambar borat, atau gambar apalah pokoknya, itu kan berarti harus kayak di-planning juga kan, itu dia bikin kayak skrip-skrip,
kapan masukin image, stock image-nya harus banyak, kapan ngerekam yang bagian kodenya.
Betul, betul. Tantangannya masing-masing ada tantangan sendiri-sindiri ya.
Sebenarnya banyak hal sih menurutku untuk gimana caranya kita menyelipkan emosi, atau membangun emosi dalam video kita gitu.
Selain aku mencoba untuk ekspresif, sebenarnya salah satu hal yang paling kamen, dan menurutku juga itu,
apa kayaknya bawaan kita manusiawi gitu, itu ada dua. Jadi kita bisa kontradik, mengkontradiksi atau mengkonfirmasi opini orang.
Makanya gak heran kadang konten-konten yang stitch gitu ya. Oh misalnya ada yang bilang nih, eh PHP sampah gak apa, lambat gitu ya.
Udah aku stitch nih. Sebagai orang yang PHP, eh ternyata gini-gini, nah itu somehow engagement bisa tinggi gitu.
Ternyata kita ada kontradiksi di situ. Atau gak harus kontradiksi juga. Menyutujui pendapat orang.
Ya reaksi, menyutujui pendapat orang gitu. Kayak oh, pakai, oh iya pakai, eh ini Rush, oh banter nih sepertinya.
Oh iya, benar sih, kenceng. Aku konfirmasi dengan aku elaborasi poin-poin gitu.
Itu juga secara tidak langsung kayak apa ya. Relate ke orang-orang kali ya.
Relate, dan nimbrung akhirnya orang-orang itu. Akhirnya banyak tuh yang komen gitu kan.
Nah itu juga part of kita apa ya, apa creating the emotion tadi.
Jadi bukan hanya menampilkan wajah, terus ngomongnya ekspresif, tapi ada banyak hal ya. Termasuk juga visual atau animasi itu ya.
Wah ini ada konten creator juga nih, Theo. Kenapa dia, ya aku sama Tualyn di Tiktok sama dia.
Tualyn, iya. Versi memang ini ya, jadi tempat buat up to date ya. Buat nyari teknologi-teknologi baru.
Wah kita udah hampir satu setengah jam udah lewat malah. Nah sebelum udah mungkin kalau ada temen-temen yang nonton di sini pengen mulai bikin konten.
Ada saran ga sih dari Mas Dhani gimana cara memulai? Selain patah hati.
- Selain apa? - Selain nyuruh putus, jalan nyuruh kita putus.
Saranku ini sih percayalah gitu ya, kalau misal awal-awal pasti seperti yang nonton dan segala macem gitu.
Karena itu makanya balik lagi, bikin konten itu yang at least dirimu sendiri itu senang gitu. Karena ketika tidak ada orang lain yang menonton, dirimu sendiri itu senang untuk menonton itu.
Kadang menjumpai ga tau ya, aneh kayaknya ya. Aku tuh kadang suka untuk nontonin videoku gitu. Karena memang, apa ya, menurutku konten creation itu part of berkarya, creating something.
- Kayak orang bikin musik, kayak orang bikin lukisan gitu ya. - Bikin aplikasi, bikin aplikasi, aplikasinya kita pake sendiri gitu kayaknya.
Nah, hal-hal kayak gitu itu ada kebahagiaan tersendiri sih. Makanya dari awal sebenernya aku tidak pernah memperhitungkan views, komen, dan sebagainya engagement gitu.
Karena ketika tidak ada yang nonton, at least aku senang gitu sama diriku sendiri. Dan juga motivasinya bikin konten tadi.
Iya, motivasinya bikin konten tadi, ya again, apa yang aku pelajari aku share gitu. Kayak nothing to lose gitu loh. Kayak aku kalau misal bikin konten juga ga ada yang nonton, ya udah ga apa-apa gitu.
Tapi, ya toh manfaatnya juga pertama aku bisa memvalidasi apa yang aku pelajari dan itu bisa menjadi menempel di otakku gitu.
Terus, ya hal-hal lain tuh kayak side effects sih bagiku ketika nanti apa namanya views-nya gede segala macem. Karena again, itu kan something yang sebenernya kita ga bisa kontrol gitu.
Berapa banyak yang komen, views-nya berapa banyak. - Dibawah viral gitu ya.
Nah, itu. Jadi aku sangat menyarankan kalau memang mau mulai konten, should be coming, apa ya, apa ya. Motivasinya tuh dari internal sih gitu.
Kita harus enjoy dalam proses pembuatannya, Carl. Karena kalau kita ga enjoy, cuman mengejar metrik-metrik semuanya, kayak misalkan views, like dan lain-lain ya, capek sendiri lama-lama.
Apalagi ini bukan pekerjaan utama kan, ini pekerjaan sampingan. - Iya bener. - Kita harus memikirkan gimana caranya membuat sebuah konten yang kita sendiri enjoy.
Setidaknya enjoy membuatnya. Kalau nanti misalkan hasilnya kita bagus dan bangga, ya itu nilai pes lagi.
Kalau ga enjoy, mah ngedit-ngedit capek, jadi beban malah ya. Ngedit, nulis script gitu ya. - Karena bayangin proses yang tadi tuh, Mas.
Itu kan effort ya. Mulai dari bikin video, nulis scriptnya, nge-edit, masih recording, uff takes time banget sih. - Betul, capek sekali. Kebayang sih, kebayang banget.
Bahan bakarnya tuh bakal cepet habis gitu kalau kita motivasinya external. Aku ngebayangin ketika motivasi gue external gitu, uff views-nya udah kayak gini.
Oh, aku ga famous nih. Di titik itu aku bakal berhenti sih kayaknya. - Oh, jadi langsung udah. - Karena tujuannya ya.
Gak dapet apa yang dimawin, ngapain capek-capek kalau kayak gitu ya. - Iya. Betul, betul. Apalagi kalau tujuannya misalkan biar di endorse, biar dapet duit.
Sebenernya itu tujuan yang ga salah kan. Tapi kalau misalkan kita mengejar, hanya mengejar itu di awal, ya mungkin agak bisa aja dapet.
Tapi kayaknya kita yang kita kejar bukan yang tadi itu ya, motivasi dari dalam diri sendiri. Kita mau share supaya ada yang endorse,
berarti kita harus cari konten-konten yang lagi heboh gitu kan ya. Jadi cari gimana caranya cepet, viral gitu ya.
Peralih ke mandi lumpur. - Mandi lumpur. Lebih cepet tuh. Lumpur, video kucing dan lain-lain. Wah seru-seru.
Gila, ini insight-nya luar biasa ya malam hari ini kita belajar banyak sekali ya. - Semua yang nonton, abis ini buka tiktok, channel semua.
- Nah itu damar tuh. Apin lagi coba komennya damar tadi. Yujur cita-citaku jadi viral. Komen liat, Mas.
- Ini, ini, ini jadi viral. Nah ini, ini motivasi yang keliru nih kayaknya nih kalau mau viral.
- Cuma kan abis dapet insight ini kan langsung mungkin jadi pada dapet idea semuanya. - Iya, harus berubah.
- Oke. Nah untuk Mas Denny sendiri, di 2025 ini kira-kira apa lagi sih yang mau dicapai kan bekerjaan tadi mau, mau mencicipi bekerja untuk perusahaan luar gitu ya.
- Iya. - Atau apa, karir rider-nya mau naik sampai ke engineering manager atau...
- Malah nggak roadin. - Teknik, technical lift atau yang lain gitu. Kalau untuk kontennya sendiri kira-kira di 2025 ini bakal, bakal ngulik apa sih kebanyakan pengennya?
- Iya, kalau dalam konteks 2025 aku, ya ini aku jelas, pertama yang masih nyambung sama tadi aku pengen bikin konten full English gitu ya.
Karena aku secara dari langsung nge-push diriku untuk improve bahasa Inggris ku, specifically speaking gitu. Nah sama juga biar dapat opportunity enak tuh di luarnya gitu nanti.
Karena memang next apa ya, next milestone ku aku pengen kerja cobain di luar gitu.
Makanya juga aku 2025 ini ada planning buat ke kampung Inggris para, buat ngambil course speaking biar makin mantep lagi. Nah itu sebenernya juga sejalan sih.
Tapi kalau untuk, ya ini juga ini salah satu aku waktu itu pernah one on one sama Mas Joang.
Mas, menurut Mas Joang apa sih feedback gitu kalau Mas Joang coba observe dari konten-kontenku. Dia tuh ngesugest dan aku coba, Ami nih gitu ya.
Coba bahas konten yang itu tuh apa ya, lebih, lebih deep dan lebih apa ya, bukan advance juga sih maksudnya lebih deep.
Jadi misalku kemarin bahas, misalku kemarin bahas spiritualization windowing. Aku cuman showing case-nya, kemudian aku pakai library di situ.
Oh kayak gini loh konsepnya gitu. Tapi pertanyaannya what is happening behind the scene kayak gitu tuh gimana.
Kalau di virtualize, misalnya kayak memori nya, gimana apa yang terjadi sama memori nya, terus kenapa bisa jadi lebih cepat.
Nah itu 2 menit gimana caranya itu.
Nah itu dia. Nah itu akhirnya termanifestasikan kenapa ada video yang how to implement infinite scroll from scratch itu.
Aku kan gak pakein library, akhirnya ayo udah pake intersection observer API, kita trigger, itu nge-intersect, kita bisa load more data.
Termasuk list spiritualization itu juga sebenarnya pake intersection observer API itu, buat nge-maintain windowing nya itu tadi di browser gitu.
Cuman itu lebih kompleks lagi dan memang bakal panjang, makanya aku gak bikin itu.
Tapi hal-hal yang layarnya kayak, misalnya yang kemarin itu yang tadi aku showing, browser reflow.
Kita kadang gak aware tuh kalau misalnya ada changing the dom sebenarnya proses browser reflow tuh happens ada lumayan banyak gitu.
Nah aku di itu, di situ makanya sampai 4 menit lebih tuh, karena memang dia panjang dan memang lebih banyak hal konteks yang perlu jelaskan.
Nah kayak yang ini juga yang mau aku upload tuh, optimize docker image yang tadi pakai node file tracing.
Jadi di application runtime bundle size node modules kita gak gede banget karena kita menyeleksi file-file apa aja yang dipake di runtime dari docker container kita gitu.
Nah itu juga menurutku hal-hal yang lumayan beda dari konten-kontenku yang sebelumnya gitu.
Aku pengen deep dive, aku pengen kayaknya ke depan kontenku lebih ke arah sana sih.
Oke waw, ditunggu nih konten-kontennya ya.
Nah kalau ada temen-temen yang mau berkoneksi ya, mutualan, biasanya sosial media yang paling aktif di mana nih?
- TikTok sama IG sih, atau LinkedIn juga aktif sih. - Oke ya, sama IG.
Oke, tiktok yang tadi ya, @danydwiki, silahkan di follow lah ya, di follow, silahkan.
Oke, mungkin itu aja, terima kasih banyak ya Mas Dany, ini sangat luar biasa berharga, pelajaran-pelajaran dan insight-insightnya luar biasa menarik.
Terima kasih banyak sudah mampir-mampir, mudah-mudahan kita ada kesempatan untuk ngobrol lagi, baik diundang lagi,
ataupun nanti di belakang layar atau mentoring one on one buat bikin video.
- Terima kasih banyak. - Boleh, boleh.
Atau buka kursus, buka bootcamp jadi TikToker programnya. Nanti bisa di drop kursusnya di sini.
Yang pasti video ini akan di replay lagi sama saya, di catat, karena kan kalau sekarang nggak bisa nyatak ya,
jadi harus ditonton lagi, karena tip-tipnya luar biasa banyak, udah buka rahasia dapur seberapa banyak tadi ya,
jadi sekali lagi apresiasi yang sangat besar buat Mas Dany.
Sombor dong, sopor semua banget.
Mudah-mudahan di lain kesempatan kita bisa ketemu lagi dan bisa diajak kembali lagi di mobile.
Itu aja buat teman-teman juga, terima kasih yang udah komen, yang udah kasih pendapat.
Kita ketemu lagi di lain kesempatan, ketemu lagi di selasa depan untuk mobile and web.
Sampai jumpa lagi, selamat malam, selamat istirahat, bye-bye.
Thank you semua.
Deskripsi asli dari YouTube
Yuk mari kita diskusi dan ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia web. Agar tetap up-to-date dengan teknologi web terkini. Topik, tautan dan pertanyaan menarik bisa dilayangkan ke https://ksana.in/ngobrolinweb Kunjungi https://ngobrol.in untuk catatan, tautan dan informasi topik lainnya.
Episode Terkait
5 Feb 2025
Ngobrolin Video Player
Episode ini membahas perjalanan Imbre Nagi, seorang Cloud Engineer yang berbagi pengalamannya dalam mempelajari front-en...
8 Mei 2024
Ngobrol dan Diskusi Bebas
Episode ini membahas topik-topik seputar dunia pengembangan teknologi dan karier. Diskusi dimulai dengan pembahasan meng...
4 Sep 2024
Ngobrolin Buku Halo Koding
Episode ini membahas buku "Halo Coding" karya Hilman, sebuah buku yang membahas dunia pemrograman dari sisi manusianya, ...
Suka episode ini?
Episode baru setiap Selasa malam. Dengarkan lewat YouTube, Spotify, atau feed podcast favoritmu.
Memuat komentar dari GitHub Discussions...
Jika komentar tidak muncul karena ekstensi privasi / adblocker, kamu bisa berdiskusi langsung di GitHub Discussions .