Lompat ke konten utama
EP 105

Ngobrolin Slide

Ringkasan Episode

Bantu Koreksi

Episode ini membahas tentang berbagai tools dan platform untuk membuat presentasi slide, mulai dari konvensional seperti PowerPoint dan Keynote hingga berbasis web seperti Google Slides, Canva, dan solusi berbasis kode seperti Reveal.js, MDX Deck, dan Slidev. Diskusi dimulai dengan pengalaman pribadi para host dalam menggunakan berbagai tools presentasi, kelebihan dan kekurangan masing-masing, serta fokus khusus pada Slidev - sebuah framework berbasis Markdown dan Vue yang memungkinkan developer membuat presentasi dengan cara yang lebih natural menggunakan kode. Episode juga menyinggung tentang use case khusus untuk developer seperti menampilkan kode dengan syntax highlighting, demo langsung di browser, dan kemudahan kolaborasi serta hosting.

Poin-poin Utama

  • •Perbandingan berbagai tools presentasi dari konvensional (PowerPoint, Keynote) ke berbasis web (Google Slides, Canva) dan berbasis kode (Reveal.js, MDX Deck, Slidev, Marp)
  • •Slidev sebagai framework berbasis Markdown dan Vue yang memungkinkan developer membuat slide dengan code editor kesukaan mereka, menawarkan velocity lebih cepat dan layout yang lebih fleksibel
  • •Kelebihan tools berbasis JavaScript untuk presentasi technical: kemampuan menjalankan demo langsung di browser, syntax highlighting yang baik, dan integrasi dengan component framework
  • •Fitur-fitur Slidev termasuk built-in layouts, custom components, UnoCSS untuk styling, icon integration via UnoCSS Icons, dan kemampuan export ke berbagai format
  • •Diskusi tentang use case khusus seperti demo Web API, View Transition API, dan integrasi dengan WebContainer untuk live coding langsung di slide
  • •Opsi hosting dan deployment untuk slide berbasis kode termasuk GitHub Pages, Netlify, Vercel, dan kemampuan kolaborasi via Git atau GitHub Codespaces
  • •Alternatif lain seperti Marp (Markdown Presentation Ecosystem) yang lebih pure tanpa framework JavaScript, serta tools komersial seperti AI Presenter

Hai, hai, hai. Halo, selamat malam.

Selamat malam.

Biar high, biar high.

Selamat datang.

Pakai yang itu dong, yang telolet-telolet yang punya bis itu loh.

Oh, bukan ya?

Bukan.

Kayak bis.

Belum dimasuki dulu.

Potak.

Belum dimasuki.

Belum ada.

Selamat malam.

Apa kabar nih, Mas Nizah? Apa kabar penonton, pemisah?

Ivan gimana? Sibuk?

Oh, disibuk apa?

Sibuk pulang dari Bogor.

Oh, GDG Bogor.

GVS.

Ada yang ketemu nggak sama penonton ngobrolin, wet?

Ada, tapi ada, ada satu.

Ada ya?

Mantap, mantap.

Oh, ya Eka juga dari Bogor ya.

Kok nggak pake kacamata lagi? Udah sembuh, udah sembuh.

Udah sembuh, udah merah tuh.

Eh, udah nggak merah tuh.

Udah nggak merah.

Berarti kemarin bawain topiknya itu, Papa Petir.

Iya, Papa Petir sama Pak Petir.

Lihat transkrip lengkap (1127 segmen lagi)

Papa Petir. Apa?

Eh, ini ya.

Wipe Driver by Dai ya.

Iya, betul.

Asik loh.

Ternyata setelah ngulik-ngulik Wipe Driver by Dai.

Maksudnya, ngulik-ngulik Brose Automation tuh seru-seru.

Kita belum ada topik ini kan, kecuali sama Giseline kan, maksudnya yang lebih deep dive gitu.

Masalahnya, ya kayak case-case pakai Brose Automation tuh apa aja kan selama ini kan.

Iya, buat testing, kak, buat ini.

Untuk end-to-end testing, tapi kan masih banyak hal-hal lain, kayak scraping, atau ngumpulin data.

Mungkin scraping itu maknanya jelek ya, tapi sebenarnya nggak loh.

Scraping itu artinya ngumpulin data ya.

Karena nggak menyediakan API, mau nggak mau, kita ngumpulin datanya lewat itu salah satunya ya.

Itu juga salah satu, cuma kalau yang saya contohin, saya men-scraping web vital dari situs saya sendiri.

Yang saya contohin, saya demoing.

Jadi, misalnya situs itu tidak menyediakan, tidak kita pakai web vital misalnya, web vital JS.

Terus pakai Brose Automation, saya bisa inject web vital itu.

Saat dia pertama kali load, saya inject web vital.

Nanti saya inject scriptnya bisa ditampilkan di console log, dan yang dari console log bisa saya listen.

Hasilnya saya simpen sebagai data.

Itu bisa juga. Jadi, menjalankan situs kita sendiri, menjalankan web vital, dan kita ngumpulin data kita sendiri dari,

ya anggap aja dari kumpulan koleksi URL-URL yang mau kita analisis dalam satuan waktu tertentu.

Dan dengan adanya Papetir dan Webnever by Dai, sudah bisa device simulation.

Jadi bisa disimulate device mobile juga.

Jadi banyak kegunaannya sekarang, nggak cuma jalanin klik-klik-klik aja.

Oh, jadi kita bisa ngintip web tetangga, terus kita cek performanya gimana.

Terus abis itu kita bisa improve gitu ya.

Sama aja kayak kita pakai Chrome, buka Titus Competitor, jalanin Lighthouse, sama aja kan.

Cuma itu kan satu-satu tuh jalaninnya.

Jadi ini bisa pakai script ya?

Oke, pakai script, kita tinggal jalan kayak otomasi. Ya, lumper mudah hiduplah ceritanya.

Oke, next-nya kemana lagi, next-nya?

Jakarta. Saya di itu sama si Anggi kan, ya mas, ke Jakarta gitu.

Nolak ya pasti ke Jakarta ya?

Iya dong, kan nggak boleh hotel, jadi nolak aja.

Saya udah lama nggak ke Jakarta, udah kayak beberapa kali ya.

Padahal kita akan bangsel ya, mau ke Jakarta kan ribet ya, jadi harus nginep ya.

- 2019 saya ngisi, terakhir Jakarta. - 2019? Kayaknya udah 2018.

Kayaknya nggak sih, baru 2 tahun yang lalu kalau nggak salah.

Waktunya kembali lagi deh sebentar.

Surabaya? Surabaya, Desember ya?

Kita lihat lah situasi.

Oke, kita ikut join GDG mana nih?

Temen-temen yang nonton mungkin dari daerah mana dan mungkin GDG terdekatnya dimana.

Siapa tahu kita bisa ketemu, ngobrol-ngobrol langsung gitu ya.

Mudah-mudahan nanti di Surabaya ada yang ikutan ya.

- Oke, jadi. - Bajunya bagus, dapet dari mana tuh?

Terima kasih.

Malam hari ini kita rencananya akan ngomrolin tentang slide ya, tools atau alat untuk bikin slide.

- Eka mana? - Iya, Eka-nya lagi meeting.

Nanti yang punya ide acaranya nanti akan muncul.

Kita dapet tambahan tools dari Eka ya, dia pakai yang namanya slide.dev kan nanti biar dia yang cerita.

Itu kayaknya menarik sekali ya.

Dan selama ini mungkin kalau saya sih masih sering pakai yang konvensional, yang offline.

- Maksudnya slide ini kan untuk presentasi ya, bukan slider. - Iya, bener-bener.

- Bukan slider web component. - Iya, presentasi.

Karena bingung juga kemarin momen terjemahkan slide itu bahasa Indonesia-nya kayak hampir nggak ada padanan yang familiar di kuping kita.

Jadinya akhirnya pakai kata-kata slide.

Jadi kalau kita mau bikin presentasi, kita mau presentasi kan harus ada tampilannya tuh.

- Powerpoint. - Iya, powerpoint, keynote.

- Google slide. - Iya, Google slide.

Jadi malam ini kita akan coba ngobrolin tentang tools yang bisa bantu kita untuk presentasi.

Tapi tools-nya itu basisnya web.

Kayak Google slide, itu kan bisa diakses di web ya.

Walaupun bisa kita export ke PDF, abis itu jadi offline kan.

Cuman kalau saya pribadi, untuk kebutuhan pribadi untuk penggunaan misalkan talk di Devesmana gitu ya,

atau kemarin di JavaScript Bangkok, saya masih pakai keynote yang offline.

Karena udah biasa, sudah terbiasa, udah nyaman gitu ya, udah tahu seluk beluknya lah gitu ya.

Tapi kalau misalkan di kantor, untuk kebutuhan misalkan untuk workshop, untuk materi kelas,

untuk lain-lain yang ada kebutuhan kolaborasi, itu biasanya pakai Google slide.

Nah ini kelebihan si slide creator online ini ya, tempat alat untuk bikin slide secara online ini,

adalah kelebihan salah satunya adalah itu kolaborasi sama si yang nonton bisa akses juga.

Jadi misalkan pada saat awal gitu ya, awal kita presentasi,

teman-teman bisa buka link ini atau kasih QR code, terus abis itu dibuka di handphone, bisa dilihat slide keberapa gitu.

Tapi yang saya pengen tahu sebenarnya ada nggak sih, udah ada nggak sih alat yang misalkan nih, kita udah buka di handphone.

Ketika si presenter ke slide ke 2 atau ke 3, yang di handphone kita juga ikut ke slide ke 2, slide ke 3, jadi ngikutin gitu.

Jadi streaming aja slide-nya. Jadi slide-nya masuk ke, misalnya slide-nya dimasukin ke video ke YouTube, jadi iya sih penonton.

Ribet lah. Kadang-kadang kan tujuan orang buka slide itu kan bermacam-macam ya,

pengen tahu detailnya, terus mungkin nggak begitu kelihatan misalkan di belakang, oh dia pengen baca, terus mungkin...

Mungkin lebih tepatnya kalau kita dalam kondisi yang kayak di JavaScript Bangkok, ingat nggak?

Jadi di presentasinya di satu ruangan, terus yang di ruangan lain di-broadcast, jadi isinya sama, jadi kayak gitu kali ya.

Cuma mereka pakai OBS deh. Mereka kompilasi dan disatuin dengan si Lihao-nya saat itu, terus di-broadcast ke TV-TV yang di tempat lain.

Iya. Kalau itu kan ribet ya, kalau kita pengguna, istilahnya kita sebagai presenter pribadi gitu kan nggak...

Ya kecuali kalau kita emang udah punya alat-alatnya kan, kita harus siapin alatnya supaya bisa streaming slide kita ke teman-teman yang lain gitu kan.

Tapi kalau misalkan untuk kebutuhan kayak tadi kayaknya belum ya, belum ada ya.

Ada problem nggak sih? Maksudnya ada kebutuhan kesana nggak sih? Kayaknya nggak ada ya, nggak perlu ya.

Justru itu malah distraksi ya. Jadi orang pada ngeliat handphone aja gitu ya? Iya bener-bener.

Yang dibutuhkan justru yang kayak si Henry Lim itu loh yang buat remote slide.

Oh iya remote slide. Itu remote slide untuk Google ya? Google slide ya, coba buka aja. Jadi Henry Lim ini salah satu DJI yang mudah dari Malaysia.

Iya dulu di Malaysia, sekarang dia udah pindah dari Jerman. Jadi ini salah satu tools yang saya pakai saat penyelamat,

si organizer tidak menyediakan clicker. Oh jadi bisa dari handphone? Iya jadi dia pakai Websocket kah ini, saya lupa dia mungkin pakai Websocket ya.

Jadi saya tinggal install extension di browser saya, nanti di handphone buka slide Henry Lim ini, nanti kasih kode buat bisa connect.

Kode ini sebenarnya room number ya, room numbernya di situ supaya jadi Websocket.

Nah kalau sudah connect nih, saya tinggal nextnya itu hanya dari handphone. Penyelamat saat nggak ada clicker.

Jadi pengganti handphone ya? Pengganti clicker. Oh iya, pengganti clicker pakai handphone.

Tapi sebenarnya kalau udah di ekosistem Apple dan menggunakan keynote itu sudah ada, udah built in. Di Apple itu udah ada keynote kan, keynote remote gitu.

Ada ya? Ada, jadi nggak perlu install, nggak perlu apa, udah ada. Dan menariknya juga bisa lihat notes-nya.

Kalau kita tulis notes di presentasi kita misalkan contohkan gitu ya, di handphone itu kelihatan.

Kalau ekosistem Apple ya handphone-nya harus. Keynote juga bisa kolaborasi tau nggak sih?

Bisa, bisa. Tapi semua harus keynote kan? Iya, ya masih ya sama aja di Google slide juga.

Ya sih. Ya sih ini sebenarnya harus pakai Google slide kan, nggak bisa pakai PPT.

Betul. Cuman kan kalau Google slide itu lebih approachable dalam artian semua orang punya akun Google kan?

Ya depends mas, ya di environment apa. Kalau misalnya kayak, kayak abang saya kan dosen di universitas swasta dan mereka udah kayak pakai Microsoft core akademi kan.

Ekosistem ya. Jadi semuanya sudah pakai PPTX gitu kan. Jadi kalau misalnya mau kolaborasi dengan mahasiswa, PPTX-nya itu dan submission-nya segala macam udah. Sebenarnya bisa juga.

Kolaborasi PPTX itu bisa kolaborasi juga. Iya, iya betul. Cuman kalau yang paling apa ya, yang paling umum sih Google slide ya untuk kolaborasi ya, paling umum ya.

Karena kan kita asumsi hampir, hampir sebuah orang punya akun Google, walaupun dia belum pernah buka Google drive atau Google slide sama sekali dia bisa kan.

Tinggal di klik, udah login, tinggal join. Dan itu lah istimewanya. Iya. Itu lah istimewanya browser.

Bukan, kelihatan web application. Oh browser, iya. Tapi kan kalau di Microsoft juga ada Microsoft yang web kan, 365 ya. Apa sih? Office 360.

Oh, 360. 360. Iya, 360 apa 365 ya. Itu bisa buat kolaborasi juga kan. Ya itu lah. Bisa, bisa. Bisa. Ya itu kan baru-baru. Cuma awal-awalnya kan dari si Google ya.

Kalau untuk yang Google slide itu web application ya awalnya si Google slide. Betul, betul.

Nah beda kan kalau keynote kan, walaupun pengguna Apple belum tentu dia menggunakan keynote, bahkan belum tentu download keynote kan. Kayaknya udah otomatis ya, nggak tau ya.

Pokoknya belum tentu menggunakan keynote. Udah otomatis sih, main OS, by default sudah ada keynote. Udah ada kan ya.

Udah ada. Yes. 365 tuh bener kan. Setahun 365. Jangan korupsi 5 hari. Gak pernah pakai, gak punya ini soalnya.

5 harinya cuti soalnya. 5 harinya cuti. Apakah ada alternatif lain selain Google slide? Nah ini yang mau kita overhaul nih.

Ini lah yang mau kita overhaul nih. Terima kasih ya segway-nya luar biasa MiawLiet yang recommended.

Nah mungkin saya cerita dulu ya pengalaman saya pribadi. Jadi awalnya pakai PowerPoint lah, PowerPoint. Karena dulu sering berkecimpung di Linux ya pakai yang open office, versi open office namanya apa saya nggak tau ya.

- Sekarang LibreOffice. - Iya sekarang LibreOffice. Terus abis itu berkenalan lah dengan Apple Ecosystem. Gara-gara dulu waktu lagi kuliah tugas akhir,

pas mau tugas akhir, baca buku presentasi ala Steve Jobs. Jadi termakan marketingnya Steve Jobs, karena Steve Jobs itu kan dia memang bener-bener keynote itu dibangun untuk dia.

Gaya-nya dia semua gitu. Jadi akhirnya belilah sendiri itu Macbook, Macbook yang putih zaman dulu, dan pakai keynote.

Abis itu presentasi di depan dosen pada saat sidang, dan berhasil membuat dosennya tidur. Mungkin boring gitu ya.

Dan dosen yang tidur itu yang paling banyak nanya secara ajaib ya, luar biasa. Karena mungkin dia udah baca. Jadi dia nggak peduli dengan presentasi saya,

dan dia sudah punya pertanyaan banyak. Nah dari situ akhirnya nggak lepas kalau mau bikin presentasi biasanya untuk keperluan pribadi biasanya ke keynote, sampai sekarang.

Nah ini Anara Sumbernya baru datang, selamat datang. - Halo maaf telat lagi, macul over time. Karena mau dia presentasi besok.

- Yes. - Nah pakai apa nih presentasinya?

- Ntar dulu, ntar dulu. Belum selesai. - Bukan gue sih yang presentasi untungnya.

Ya, jadi setelah sekian lama masih tetap pakai keynote. Salah satu alasannya biasanya kalau di pro-nya ya kelebihan menggunakan yang nggak mesti keynote nih.

Four point juga boleh. Pokoknya yang sifatnya offline. Salah satu kelebihannya adalah kalau di venue, di lokasi itu koneksinya kurang bagus,

atau ada koneksi putus-putus, aman, nggak ada masalah. Kalau misalkan diharuskan, atau karena satu dan lain-lain hal,

saya harus pakai yang versi online seperti google slide, biasanya saya download versi pdf-nya. Cuma kekurangannya adalah nggak ada animasi dan lain-lain.

Kalau keynote, wah luar biasa animasi, mantap. - Kalau nggak pakai laptop sendiri, dan pakai phone yang aneh-aneh, belum tentu di phone tetangga ada.

- Ya, kalau itu harus ekspor ke pdf juga. Jadi dari keynote juga bisa di ekspor ke pdf. Terus habis itu sempat nyoba beberapa tools yang pertama kali,

seingat saya yang pertama kali apa ya, pioneer atau yang memulai slide versi online itu ada yang namanya revial.js. Ada yang tahu nggak?

- Tahu, tahu, tahu. - Tahu ya, revial.js itu kayaknya awal-awal.

- Yang bikin Ken Miller bukan sih? - Yang bikin, saya kurang tahu yang bikin siapa.

- Tapi revial.js kan bisa. - Hakim L. Hatap. - Saya pernah pakai revial.js. - Dulu banget.

- Loh, yang atasnya nggak bisa di zoom. Bawah doang. Ya, jadi revial.js ini library sebenarnya. Terus kita download, kita taruh di satu folder,

terus foldernya kita jalanin pakai web server, pakai live server atau apa sekarang, itu mungkin pakai VT ya, nggak tahu lah, pokoknya itulah.

Terus file mark down-nya nanti akan dibaca sebagai presentasi. Jadi kita ada tombol gini, kita bisa next, next bisa ke bawah juga.

- Tidak bisa ke bawah, itu yang asiknya. - Terus bisa next lagi untuk topik berikutnya dan seterusnya.

Nah ini setau saya ada versi komersialnya yaitu slides.com. Kita bisa bikin, nggak perlu pakai localhost, nggak perlu develop, nggak perlu ngetik di kode,

itu ada editor-nya dan berbayar. Ada pressing-nya nih. Nah 5 dolar per bulan. Jadi kita bisa langsung desain di situ, di sini.

Kalau udah login, desain kayak Canva gitu. Dan Canva juga ada kan, sekarang slides kan untuk bikin slides ada Canva.

Saya juga pernah coba. Tapi balik lagi, kalau untuk pribadi tetap keynote, tapi kalau untuk perjalanan Google Slides.

Itu sih kalau cerita singkat penggunaan alat-alat presentasi. Kalau Ivan gimana Ivan?

- Saya selama ini hanya pakai Google Slides. - Google Slides ya? - Iya, saya cuma pakai, jangan dulu sih PPTX, PPT, PPTX, Google Slides, keynote.

- Gak pernah. - Lu, dan Reveal.js pernah pakai tapi uyang sendiri cara pakai-nya. - Iya, dia harus ada kelas name apa, kelas name apa gitu ya.

- Susah banget dan terakhir sudah lah. Habis waktu hanya untuk memperbaikinya dan kembali lagi ke Google Slides.

Susah hanya karena Google Slides ini, misalnya waktu udah kerja pun ya, dan dari company sudah ngasih template.

Jadi karena omongannya membawa bandera company, brandingnya sudah harus ikut. Jadi gak mungkin saya pakai ke Reveal.js.

Karena gak dikasih template di Reveal.js. - Iya, betul. Jadi yang umum ya Google Slides lah ya.

Tapi untuk DevFace atau I/O Extended juga kita dikasih kan sebenarnya template-nya kan ya. Nah biasanya itu saya export ke keynote.

Bosen sih pengen. Makanya kenapa topik ini lahir, saat saya bincang-bincang dengan Eka, bosen ya pakai Google Slides mulu.

Sesuatu javascript ada gak sih? Terus Eka bilang, ada tuh Slide Dev. Yaudah kita bahas di podcast.

Biasanya kalau dari template ya, kalau untuk acara-acara yang Google atau yang berhubungan dengan GDE, itu biasanya saya convert.

Di download dulu template-nya, dibuka di keynote, abis itu di edit aja dikit, tetap pakainya keynote untuk sekarang.

Kecuali kalau udah mepet banget ya, tinggal pakai ya udah.

Kalau untuk kerjaan, balik lagi Google Slides. Karena itu tadi template yang disediakan kantor ya Google Slides.

Kalau tadi ada pertanyaan alternatif selain Google Slides, salah satu yang direkomendasikan sama Eka adalah Slidev.

- Slidev ini. - Gue lagi yang dibawa. Apa, sudah ditanya lu pakai apa? Slidev. - Oh iya, Eka ya. Iya, boleh, silahkan.

- Powerpoint dulu. - Dulu.

Dan belum jadi programmer, dulu pakai ya karena bawaan ya laptop. Microsoft Office ada Powerpoint ganti Mac. Kayaknya Mac, mungkin kayaknya bajakan juga sih ada keynote.

Ya, misalnya yang bawaan ya yang enak. Abis itu, ya lama-lama Google Slides. Kalau di tempat kerja sekarang karena pakai Google Workspace, ya pakai Slides biar standar.

Jadi sampai sekarang sebetulnya ya kalau misalnya cuma presentasi simple, masih pakai Google Slides juga sih.

Cuma, nggak tahu kenapa, gue paling nggak suka, ya bisa, cuma kayak nggak nyaman aja pakai Wiswick editor yang kayak gitu.

Kayak, aduh, nggak enak, kak. Kayak geser kotak, biar kotaknya separuh. Itu tuh kayak butuh tenaga mental yang besar buat ngedrag sampai setengah itu dimana.

Terus kayak cuma buat rata tengah aja. Terus kayak kalau Google Slides itu kan otomatis suka random, ada yang apa sih, setting ukuran font size-nya tuh bisa melar-melar sendiri gitu loh.

Tergantung itunya ukurannya. Biasanya kan udah dapet template ya. Entah kita ngisi acara atau dari tempat kerja atau apapun.

Nah, giliran kita paste pakai konten kita sendiri kayak acak-acakan, terus ah, pokoknya kalau buat orang yang nggak ada OCD tuh kayaknya Wiswick yang kayak gitu nggak enak ya.

Cuma, ya kalau for practical purposes ya udahlah ya, pasain itu satu. Terus dua, pernah nyoba juga kan, Pak, biar estetik.

Karena lihat orang-orang kayaknya kalau yang presentasinya di Canva itu template. Template-nya tuh macam-macam kan, bisa sesuai branding atau ada yang kayak professional.

Wah, hilang. Eka. Halo Eka. Eka-nya Heng.

Iya, Kanva, saya pernah coba juga Kanva. Cuma serunya Kanva adalah biasanya di awal-awal tuh, karena template-nya tuh banyak banget pilihannya.

Ya, banget. Tapi jadi lama juga sih milih punya cari yang misalnya punya minimalis, Swiss design, monochrome, cari banyak.

Nah, itu lumayan. Tapi ya lagi-lagi masalahnya sama kayak yang tadi, kayak apa ya, kerja jadi lambat.

Terutama kalau misalnya kita punya yang banyak atau rumit, kayak kita masih lagi berusaha figure out juga gimana cara yang asik buat nyampein ini.

Kayak contoh kodenya gimana, highlight-nya gimana. Apalagi kalau misalnya kita matering-nya banyak atau rumit.

Itu Wiswik Editor itu sangat perlambat sih. Masuklah eksplorasi macam-macam aplikasi web atau apa?

Aplikasi JavaScript, web app atau website JavaScript yang bisa buat bikin slides.

Pertama, dulu pakenya bukan slide dev, tapi MDX deck.

- MDX deck. - Apa ya namanya?

- Iya, sama. - Jadi map-down yang ini ya?

Nanti-nanti share dulu. Share screen dulu. Yang ini.

Yang bikin itu dulu orangkongnya dulu banget pas zaman Gatsby, pas Gatsby ngetrend, itu kayaknya dia terjadi Gatsby deh.

Dan sense of, salah satu dari sedikit web dev developer yang sense of desainnya, wow.

- Bagus. Wah, udah kena HTTPS-nya belum dibeli sertifikasinya. - Enggak Pak, kita yang kasih.

- Belum dapat sertifikat. - Kapan terakhir ini?

- Enggak tahu, enggak tahu. - Tiga tahun yang lalu.

Tiga tahun lalu, tapi itu kayaknya enggak hype-nya ya sekitar 4 tahun yang lalu tuh.

Jadi ya ini pertama kali ketemu kenalan sama tools yang seperti ini.

Dan pas lihat ini tuh kayak blow away banget ya.

- Wow. - Wow, bisa pakai Vim.

- Ya pakai apapun, mau pakai IDE. - Kode editor kesukaan kita kan.

- Tapi Vim juga ada loh, presentasi ininya. - Oh ada presentasi, apa namanya?

Ada, ada. Apa ya namanya ya? Cuman enggak pernah pakai sih.

Vim presentation. Slide ya.

Oke lanjut dulu, lanjut dulu, nanti cari dulu.

Itu tadi bukan cuma markdown tapi karena MDX kalau buat yang belum tahu mungkin MDX itu sebenarnya kayak markdown

tapi bisa markdown sebetulnya JSX. Markdown in JSX atau JSX in markdown ya antara itu deh.

Pokoknya kalau untuk text-nya, syntax-nya adalah seperti markdown.

Tapi kita bisa mengimport dan menggunakan komponen.

- Jadi wow, seneng banget. - Jadi bisa moding slide ya.

Dan maksudnya kayak ngegeser, bikin kotak 2 kolom setengah-setengah itu enak banget.

Ngetikkan cepetnya, nggak usah aduh berak ke atas.

Pokoknya cuma buat biar lay off gitu, nggak perlu repot-repot pakai Wispic editor.

Tinggal diketik dengan syntax yang kita udah familiar karena itu pakai Ria.

Ya, kalau buat Eka, motong-motong oh harus box begini di atas, kiri-bawah, kanan itu lebih gampang pakai CSS.

Kalau saya yang skill issue CSS lebih gampang pakai YCWIC.

Itu kan Ria, nggak usah menggunakan CSS juga nggak apa-apa tuh.

- Ya, saya sama dengan 50%. - Iya sih.

Kenapa kita perlu pakai yang versi JS, compared to slides?

Kenapa kita perlu pakai yang versi JS, compared to slides?

Versi yang ini dibandingkan dengan Google Slides atau Canva.

Apa tadi, versi yang kayak Google Slides dan Canva versus ini?

Versus JavaScript Base.

Kalau buat gue yang lebih suka ini, pertama, velocity, lebih cepat. Terutama kalau pengen nyoba.

Kalau kita belum, mungkin kalau orang yang udah terbiasa bikin presentasi,

udah punya kayak kalimatnya tuh harus kalimat pendek, singkat, atau mungkin contohnya udah kebayang.

Kalau buat yang nggak terlalu haklia atau instinktif, itu kan udah nyoba nih.

Kalau misalnya statement-nya begini, misalnya punya bullet point 3 atau 4,

itu panjangan atau nggak, kayak buat nyoba-nyoba berbagai penyampaian konten,

pengen feedback yang cepat, jadi kayak cepat aja.

Itu pertama, kecepatan. Terus kedua, itu tadi kemudahan nge-layout.

Misalnya mau nge-chilling besar-input, ya udah, itu kan bisa pake component atau CSS dan JS.

Ganti aja 15, 14, tinggal diketik, nggak usah nge-click text yang mau diganti.

Terus harus cari tools buat drop-down font atau size atau apa.

Itu nge-layout-nya lebih cepat buat.

Yang ketiga, kopas-kopasnya lebih gampang sih, karena itu kan kopas text biasa ya.

Daripada kalau kita mau nge-select beberapa elemen, harus pake mausa,

harus me-hold down comment atau apapun itu wishlist yang lebih sulit aja, lebih ribet.

Sama keempat, portability.

Lebih gampang kan backup-nya tinggal di-push the repo private.

Misalnya amit-amit laptop kita meledak, ya udah, tinggal pake laptop orang lain, tinggal di-pull.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, Google Flight juga bisa ya.

Cuma nggak tahu, rasanya kayak lebih simple aja.

Ada salah satu alasan yang tambahan dari Eka bilang.

Oh ya, offline juga bisa kan.

Kita sebagai web dev itu keren banget, misalnya kalau misalnya mau presentasi sesuatu yang demo-in.

Ingat nggak kalau kayak ini mungkin kayak Houdini, ingat nggak waktu Chrome Dev Summit 2019?

Ini mungkin share aja kali ya.

Share, share.

Atau gimana eraknya?

Gua share apa, mas?

Share.

Share aja, share aja, share aja.

Ya, coba aja tes dulu, bisa nggak?

Share screen.

Allow for one month entire screen.

Oke, ya, ini salah satu casenya ya.

Nah, gua gedein kali ya, entah.

Ini kan, ya ini Chrome Dev Summit 2019 nih.

Jadi Dasurma ini lagi apa namanya, ngedemo-in Houdini contohnya.

Jadi kalau dia misalnya pakai Google Slides segala macam, itu nggak bisa, ya kayak harus bolak-balik,

mau kodanya didemo-in sama hasilnya didemo-in.

Nah, sedangkan kalau misalnya kalau dia pakai yang full code begini, semuanya kan di browser.

Dia tunjukin kodanya di atas, mungkin komponen yang dia demo-in langsung di bawah.

Contohnya ya seperti Houdini yang dia lagi tampilin di atas sini.

Dan ingat nggak waktu salah satu presentasinya, brosernya crash.

Bukan brosernya, laptopnya hang.

Laptopnya crash ya, laptopnya crash.

Gak bisa dia apa-apain.

Ini satu-satunya, kalian kayak gini ini bukan video loh.

Ini beneran diaksekusi di browser saat JavaScriptnya dijalankan.

Dan ini yang sesuatu yang kita nggak bisa, apa namanya, oh ini dia kayaknya ya.

Ini dia, moment lucunya ini.

Cuma berarti malah penontonnya gitu, itu real.

Tapi abis itu mereka ngedebug bareng sama si Surma sama si Jake berdua.

Tapi kalau jaman itu kan belum ada webcontainer ya jaman itu.

Nah sekarang, tapi embed susah juga kan di slide kan embed itu, bahkan embed untuk video aja

- serasa kurang bagus sebenarnya. - Kurang bagus.

YouTube nya harus bisa autoplay atau harus diklik dulu gitu kan.

Sedangkan kalau pakai yang JavaScript-based ini, dia sudah kayak seamless.

Kita mau ngalir aja gitu ya.

Dan tolnya kita itu bisa ngalir dan langsung kita tunjukin demo-demo yang kita mau tunjukin.

- Betul. - Kalau untuk yang full CSS atau full JavaScript.

Jadi demo-demonya itu bisa langsung di browser.

Ya kalau demo kode, kode nya bisa di eksekusi langsung di slide nya kalau menggunakan tools-tools seperti ini.

Karena kan dia kan komponen react kan.

Bahkan bisa embed code sandbox, bisa se-extreme itu gitu.

Kalau Google site kan nggak sembarangan, bisa embed tapi nggak bisa embed sembarangan.

Kalau video, ya videonya terbatas harus di YouTube.

Dan YouTube nya juga harus buffering dulu kalau mau koneksi internetnya kurang lancar gitu kan.

Jadi memang salah satu kelebihan nya di browser adalah kalau kita mendemokan kode

yang berhubungan dengan HTML, CSS, JavaScript yang bisa di eksekusi di browser,

itu kayaknya salah satu use case yang bagus.

Kalau untuk video sebenarnya kalau tools kayak PowerPoint atau Keynote malah lebih bagus untuk nampilin.

Karena dia offline kan. Jadi memang lebih lancar lah.

Cuman kalau untuk demo seperti ini ya memang kayaknya lebih cocok dibandingkan kalau kita menggunakan tools yang lain,

yang offline, kita harus keluar dulu dari presentasi, terus buka editor atau terminal, jalanin kode.

Bolak-balik sih sebenarnya.

Nggak asik ya. Jadi kayak kurang smooth ya experience-nya gitu.

Tapi jujur nggak sih, apa sejauh ini walaupun udah pakai MDX Deck atau Slide Dev,

belum pernah dapet kesempatan manfaatin yang sampai segitu yang beneran di-execute langsung sih.

Tapi kalau buat saya se-simple kayak langsung nunjukin ini kalau yang pakai style ini bentuknya begini,

kalau pakai style itu bentuknya begini, pernah.

Cuma kalau yang sampai ngerender, nge-execute langsung, belum pernah.

Tapi kalau video itu emang kerasa banget sih kalau pakai Google Slides itu kan yang kayak formatnya harus...

Nggak smooth kalau pakai video. Bahkan jadi kayak videonya kan lebih kayak kepotong.

Terus pakai player-nya, kayak player YouTube kan, nggak bisa auto-play.

Padahal cuma nunjukin hal simple kalau ke-slide ya.

Kalau MDX Deck atau ATML Tech video bisa.

Iya, betul.

Render ATML aja.

Makanya pengen belajar pakai yang JavaScript kayaknya bisa lebih enak.

Bahkan gua kan kepikiran pakai webcontainer nih, sudah bisa webcontainer kan.

Sebenarnya asik ya kalau mau demo-demoin web API yang langsung kita bisa langsung kasih webcontainer.

Jadi seamless aja nggak usah bolak-balik.

Matiin Google Slides, pindah lagi ke editor, execute node-nya, pindah ke tab lagi.

Kayaknya kurang enak gitu. Bukan untuk saya.

Makanya itu yang belajar SlideDev.

Iya, betul.

Tergantung web API yang apa sih, mungkin ada yang pakai SlideDev.

Kalau SlideDev atau MDX Deck itu kan karena masih...

Sebenarnya itu web app ya, kalau MDX Deck pakai React.

Kalau SlideDev pakai Vue.

Tapi kalau misalnya mau pure demo-in dan lihat proses jalannya web API gitu,

ya pakai webcontainer-based IDE kayak StackBlitz atau CodeSandbox, mungkin lebih cocok kali ya.

Iya, maksudnya webcontainer kan bisa di-embed di slide-nya kita kan, karena itu sebenarnya di-execusi.

Ya kan? Mesti sebenarnya lebih asik kalau mau dari pada pindah-pindah.

Embed StackBlitz, emang kalau Google Slides nggak bisa embed ya?

Karena belum pernah coba.

Nggak bisa embed sembarangan.

Dia cuma nonton video sama video aja.

Embed sama video aja.

Iya, paling itu.

Ada benarnya, tapi belum pernah coba kan.

Nggak tahu sesmooth apa atau lag atau gimana kan, kita nggak tahu ya.

Cuman kalau untuk, yang kepikiran adalah use case-nya adalah

kalau untuk demo kecil misalkan, kode snippet, kode snippet-nya di-play atau di-jalankan,

itu mungkin masih makes sense.

Tapi kalau satu project, full satu project, belum pernah.

Jadi nggak berani bilang kalau itu bakal lebih smooth atau lebih bagus.

Karena belum pernah misalkan kita embed benar-benar...

Terus jalanin lokal host dan lain-lain.

Apakah akan smooth, apalagi kan itu butuh koneksi internet juga dong, gitu kan.

Untuk jalanin lokal host di sana kan kita, abis itu kita harus konek ke

misalkan stacklist.app something-something gitu kan.

Nah itu kan butuh koneksi internet juga kan.

Nggak ada Docker-nya ya?

Kan webcontainer.

Iya, maksudnya nggak ada versi lokalnya, nggak nih?

Siapa sih stacklist-nya?

Stacklist-nya nggak ada, nggak ada, nggak ada.

Jadi tetap harus butuh koneksi internet yang cukup stabil supaya

ketika kita tulis perintah atau kita jalankan sesuatu, dia tetap bisa, apa namanya?

Tetap bisa responsif lah, gitu kira-kira.

Nah ini juga ada salah satu, ini kan tadi kita baru bahas tentang MDX Deck.

Ada ini dari Damar juga, saya juga baru lihat nih namanya AI presenter.

Ini juga markdown base, tapi bukan berbasis JavaScript, bukan di lokal host,

tapi dia adalah aplikasi.

Cuman dia, apa namanya, tools-nya menggunakan markdown.

Jadi mirip ya, cuman nggak pakai lokal host, benar-benar-benar menarik.

Cuman ya berbayar ya, cuman tidak gratis.

Ya karena itu buat public, buat musuhnya general public kan, audience-nya.

Kok bisa dia dulu?

Kok ini?

Nah yang kayak gini nih dia tampilannya.

Nah kan dia juga yang jual kemudahan ya, nggak harus ngeklik ya, set sana geser kiri, udah ketik aja.

Sebenarnya selling point-nya mirip kayak tadi.

Iya, jadi kita cukup nulis markdown, terus ya mungkin tambahin image atau apa gitu ya.

Udah, habis itu tinggal play, karena tools-nya ya cuman itu doang, jadi based on text ya.

Text based gitu, bukan yang drag and drop dan lain-lain gitu.

Ini juga cukup menarik ya.

Kalau sleedev sendiri juga modelnya juga kayak gitu, kayak kita bikin web lah ya, jadi jatuhnya ya.

Kayak kita bikin markdown, kalau kita nggak mau berurusan sama komponen, nggak apa-apa, udah ketik markdown.

Github pages, atau apa itu yang static site yang di github?

Static site generator ssg, semacam-macam, bebas kan.

Ada apa namanya, informator-nya, kemudian ada judulnya, isinya.

Kalau butuh image, kayak gimana pakai, oh pakai itu aja ya, image biasa ya.

Kalau mau background, image-nya sebagai background itu gimana?

Nggak, jadi apa, kalau punya syntax markdown apapun, itu diterima di situ.

Jadi kalau buat image di dalam gambar, ya bisa pakai HTML text, IMG bisa pakai markdown

square bracket sama apa, anda kurung juga bisa.

Cuma sleedev itu punya beberapa template sendiri.

Coba itu aja buka di dokumentasinya.

Atau buka dimananya ya? Oh, atau itu aja tuh, welcome to sleedev ya.

Apanya ini apakah background masukin dari front matter?

Oh, oke, bisa. Masukinnya dari front matter.

New docs, aneh ya, kok bahkan nggak inget bagian-bagian dari docs-nya.

Sebenarnya yang apa, balik ke home-nya tuh demo-nya lumayan sih, lumayan jelas.

Oh, yang menarik lagi, by default, waktu kita initiate sleedev project,

nah itu tadi front matter background tuh, background titik 2, image-nya.

Baru kelihatan, iya.

Nah, dia by default udah provided style visual yang cukup estetik,

ya itu tuh kayak gitu tuh, kayak di demo, cukup estetik tapi minimalis, nggak terlalu macem-macem.

Jadi, unless kita pengen edit, misalnya kalau konteksnya slide gue biasanya buat Devest

atau buat IO Extended, kan ada brand guide-nya sendiri ya.

Ada spawn-nya, warnanya, terus grafiknya, ya itu disesuaikan boleh.

Tapi kalau misalnya kita bergurudan atau nggak mau, ya udah, pakai itu beneran nggak usah mikir

estetika visual apapun udah provided yang cukup proper by default.

Kayak selo slide-nya beneran, dibayarnya nggak, laurang slide-nya juga.

Kalau misalkan, oke, misalkan, saya mau custom nih, ini kayaknya kurang gede,

mau sampai segini misalkan, 75%, itu gimana caranya?

Ada, pakai CSS, silahkan menulis CSS.

Eh, ada di mana?

Kalau misalnya pengen pakai themes, jadi ini kan ada theme default,

pengen pakai theme lain yang ready-made juga bisa.

Adanya di theme and add-ons yang tadi tuh.

Bisa pakai theme buatan orang, dan itu macem-macem.

Themes Gallery coba tunggu, Pak.

Meanwhile, gue sambil nyari CSS-nya mana nih.

Oke, community themes, oke, ada di NPM lagi ya.

Nah, itu, bahkan kita mau bikin theme kita sendiri, misalnya kita punya personal guide ya,

personal style guide, kayak si Mas Anfu sendiri,

dia tuh kan bikin slide-dev ini karena buat dia sendiri kan,

jadi kelihatannya dia punya template pribadi juga,

jadi tiap dia butuh bikin slide baru, ya dia pakai theme-nya dia.

Hmm, oh, Damar nih pemakaian slide-dev juga nih kayaknya.

Slide-dev CLE Global sungguh konfinien, tapi nggak tahu kenapa nggak direkomendasikan.

Maksudnya apa? Yang ini ya, yang CLI ini ya, built-in CLI ini ya?

Ada comment-comment.

Ada segala lainnya, terus kita bisa NPM run, remote.

Terus apa lagi? Oh, buat jadi server-nya gitu ya.

Iya, kan kalau kita lagi build dia jalanin server-nya.

Iya, iya, iya, iya.

Itu dibalik layar mah fit sebetulnya.

Coba ke syntax guide, syntax guide yang di guide di sebelah kiri,

mungkin ada yang kan title, terus kemudian...

Sintax highlighting-nya juga pakai punyanya dia kan, yang apa tuh?

Si Anfu.

Ada built-in, iya, server Anfu Universe.

Anfu Universe. Apa sih namanya?

Ya, itu ada punya.

Bisa pakai VS Code lagi.

Siki.

Siki, betul. Nah, itu yang salah satu keunggulan Slide Dev,

buat code, nunjukin kode itu.

Oh iya, ada runner-nya.

Segala macam mau code highlighting, mau apa sih,

mau yang munculin line-by-line gitu loh.

Misalnya kita pengen nunjukin step-by-step.

Pertama kita gini, habis itu selanjutnya ini,

itu user friendly banget, DX-nya bagus banget,

kalau buat nunjukin demo-in kode.

Tuh, macam-macam lah opsi-opsinya.

Nah, terus tadi masih lanjutan soal CSS, buka di private chat tuh, link-nya.

Oke.

Kalian, Mas Deja kan pengen belajar CSS dulu.

Atas, ya itu intinya, file, kalau buat global nih,

file CSS biasa, silahkan menulis CSS.

Oh, buat di-overwrite gitu ya?

Iya.

Nah, terus bisa import dan, tapi ini diproses,

jangan sedih diproses pakai UNO CSS atau Post CSS.

Oke, produknya dia juga, universe-nya ya.

Oh ya, Anfu universe, bisa nestling.

Itu luar biasa.

Itu kalau buat yang global,

kalau buat yang per-slide, itu bisa pakai style-tech biasa,

nanti otomatis di-scope, asik kan?

Seru ya?

Anfu itu ngapain sih dia?

Dia tiap hari cuma kayak bikin project open source 1,

project open source 2, gitu ya.

Mungkin itu hidupnya dari GitHub sponsor, Pak, nggak tahu.

Atau jangan-jangan dia punya kerjaan.

Maksudnya, dia full-time community maker atau sampingan ya?

Nggak tahu.

Nggak tahu.

Kalau kenal, boleh diundang.

Ya, kerjanya di Nux Lab, katanya.

Oh iya, waktu itu kan kita pernah bahas ya.

Dia bikin produk kan.

Nux itu kan kerjaan open source dia.

Terus dia bikin perusahaan atau bikin produk lah ya, Nux Lab ini ya.

Jadi buat monetisasi Nux JS-nya ya.

Atau Nux Lab ini adalah apa nih?

Company aja, holding company.

Bikin banyak produk-produk ini.

Iya, dia bikin tools-tools open source semua.

Oh, ada yang pro-nya juga.

Ya, kayak ini ya, kayak Telwyn Labs ya.

Itu support tool biasa tuh.

Kalau udah support, mungkin bayarnya di situ tuh.

Iya, kan dari Nux kan.

Versi komersilnya dari Nux untuk freelancers, agensi dan enterprise.

Ya, kerjaan dia ini.

Kerjaan dia open source juga, dari project open source juga.

Di monetisasi kan kayaknya ya.

Betul, kontribusinya di Ecosystem View banyak sekali.

Betul.

Kita kembali ke sini.

Oke.

Start it-nya gimana?

Oke, bikin project biasa aja ya.

Iya, ini web app biasa.

Ya, anggap aja framework lah.

Framework untuk slides.

Buat slides, iya, iya, iya.

Dan itu tuh, kalau lokal, slide dev, command-nya.

Export, bisa di-export ke macem-macem format.

Kalau di-build, biasanya nge-build.

Di-build, jadi static web page ya.

Static assets, JavaScript, CSS.

Tinggal drag and drop ke Netlify atau Vercel atau apapun.

Terus kita ke organizer, misalnya apa?

Presentasi, kirim link-nya aja.

Itu yang ke hosting itu.

Hosting itu apa sih maksudnya?

Di sebelah kiri, di menu guide hosting.

Hosting slide-nya.

Ya maksudnya,

perlu di-build distribution-nya,

tinggal taro file-nya aja ya maksudnya.

Iya, drag and drop aja.

Cuma kan command-nya di-build dulu, biar jadi static assets-nya.

Oh, udah tinggal di...

Itu, by default generated files-nya,

ditaruh di folder disk.

Nah, dist.

Bisa di-preview juga.

Kita nge-check.

Iya, kok biasanya drag and drop ke Netlify atau Vercel?

Nah, kalau sandainya kita udah build,

terus kita udah deploy ke Netlify atau Vercel atau ke mana.

Terus begitu kita lagi sampe di slide 5,

enggak, slide ke 5 gitu, mau slide ke 6, tiba-tiba internet mati.

Bisa next ya?

Udah di-download.

Udah di-download.

Kita access-nya udah di-versal.

Udah di-download.

Asset-nya slide-nya udah di-download.

Tapi kalau misalnya di isi page-nya ada videonya...

Oh, iya, enggak, enggak.

Kita nggak ngomongin video, ya.

Ngomongin slide-nya aja, sampe akhir itu berarti udah bisa di-access, ya.

Kalau kayaknya text dan segala macem sudah aman.

Paling image yang lazy-load.

Kalau image sama di sini, walaupun lokal,

maksudnya walaupun image-nya kan sebenarnya di-build di situ juga,

image-nya lazy-load.

Video, kalau pun pake file video yang lokal,

itu lazy-load juga.

Apanya gitu-gitu lazy-load, tapi slide-nya sendiri sama text-text-nya,

sama kayak next-next-nya, interaksinya gitu, aman.

Oh, oke. Berarti harus tetap jaga-jaga, ya.

Antara kita jalanin di localhost atau convert ke PDF.

Jadi kalau misalkan kejadian apa-apa, escape,

nyalain localhost atau buka PDF, ya.

Kalau gue, biasanya kalau pas lagi ngecek, buka aja semua.

Buka semua slide-nya, next-next-next-next.

Kan itu ke lazy-load, ke download.

- Ke cache, ya. - Ke cache.

Jadi kalau pun di tengah-tengah internet mati, ya nggak apa-apa.

Menarik, menarik.

Nah, ada lagi nih, lihat bagian layout di kiri.

Jadi slideshift ini udah nyediain beberapa built-in layouts

yang umum-umum aja lah, kayak cover, title, center, cover, default, blablabla.

Jadi, apa, kita tinggal pilih.

Ya. Tapi kita bisa bikin sendiri juga, pastinya ya.

Oh, ada iframe. Nah, ini yang cocok buat tadi, iframe-write.

Contoh kodenya, gitu ya.

RL-nya apa?

Ya, kita bertiga, ini harus mulai pake slide-dev atau sebinisnya.

Pusun kan pake keynote atau pake google slide?

Enggak. Enggak pusun.

Kalau gue, emang lebih sering pake slide-dev.

Enggak, enggak pusun.

Enggak, gini-gini, karena flow-nya mungkin masing-masing orang agak beda ya.

Kalau, dan masing-masing apa ya, masing-masing presentasi juga flow-nya agak beda.

Kalau kemarin yang di, mungkin cerita sedikit yang di Bangkok gitu,

topiknya udah dapet.

Outline-nya udah ada, tapi kan belum ada slide-nya.

Pas mau bikin slide, itu nggak sengaja ngeliat satu font, awalnya nyari font.

Font apa yang bagus ya, gitu kan.

Jadi pas mau bikin slide itu, nyari font-nya dulu.

Terus tiba-tiba ngeliat ada font, tapi berbayar, sayangnya berbayar.

Cuman web-nya itu bagus banget kayak gini.

Wah, bagus.

Bagus kan? Cuman yang berbayar.

Nah, akhirnya cari alternatifnya di google font atau di font yang lain, cari yang music.

Tapi themes-nya, warnanya, saya colong dari sini ngambil.

Ini slide.

Dan tema utamanya adalah kayak surat kabar gitu, kayak koran lah gitu ya, kayak gini lah modelnya kan.

Oh, ada informasi, ada apa segala macam.

Akhirnya jadilah slide yang kemarin, gitu.

Itu dari sini tuh berangkatnya.

Nah, kalau seandainya workflow seperti itu diterapkan di Slidev, gimana tuh?

Harus bikin template-nya dulu kan, nggak bisa...

Rubah template, bukan bikin template. Kan bisa template yang sudah ada di ini.

Iya, kalau nggak bisa berapa ekstrem sih obahnya.

Iya, stylingnya di rubah.

Kan kalau ngeliat apa namanya, gayanya ini kan dia ada pilihan mana tadi.

Ada yang center, ada yang left, ada yang right, terus pakai subtitle dan lain-lain.

Misalkan saya mau taro ada kayak garis gitu, di tengah-tengah gitu.

Misalkan ini nih, yang kemarin, dari yang kemarin.

Apa, yang dari inspirasi yang tadi akhirnya jadi slide saya kayak bentuknya kayak gini lah kira-kira.

Gitu.

Kan ada ornament lain kan, ada ini misalkan.

Terus ada ini.

Terus abis itu agendanya kayak gini, ya kan?

Terus abis itu nanti di slide ketiganya untuk kasih tahu bahwa judul kayak gini gitu.

Dan seterusnya, tapi tetap ngikutin apa ya?

Tetap ngikutin warna dan itu sebenarnya bisa.

Kalau mau gampang kan harus bikin layout-nya dulu, jadi tinggal dipakai aja gitu kan.

Iya, ya itu cukup simple sih, ya itu bisa bikin layout-nya.

Atau kalau cuma lebih ke warna dan font-font-nya yang kayak gitu, ya pakai CSS biasa, CSS global.

Misalnya H1, atau header, H1, H2, H3, semua header, selalu tampilannya, selalu pakai font-font-family ini.

Terus pakai font yang itu, oke.

Jadi kalau branding-nya, customization-nya cukup simple,

bahkan nggak harus mikir bikin komponen atau bikin layout task kan bisa dari global CSS.

Ya, termasuk kayak aksen-aksen, misalnya ada border atau apa.

Itu kan, itu semua kan per slide ada class name-nya, ya itu bisa ditambah, bisa ditarget.

Jadi misalnya apa, setiap slide ada border-nya kotak gitu atau apa.

Nah, cuma kalau mau yang custom banget, ya itu custom layout.

Oke, seru ya.

Terus yang di kiri itu, komponen-komponen.

Ini kalau anak front-end suka banget nih pasti pakai ginian.

Betul, makanya jadi sel-slide dev dibayar, enggak, tapi dengan fanatik ngomong-ngomong.

Ini pakai komponen yang ini berguna banget buat bikin.

Kayak misalnya kalau yang use case yang simple banget, grid kali 3 itu loh.

Tahu kan yang kalau setiap template presentasi kayak DevFest atau IO Extended,

pasti ada kayaknya yang satu, dua, tiga.

Nah, kalau misalnya di Google Slash user-user-nya belum ukurannya selain sama text-nya, malas banget.

Ini bikin sekali, ya kan ikutin aja, apalagi kurang lebih bentuknya kayak gimana.

Oh udah, tinggal masukin grid-gridnya.

Terus ya bisa interactive juga.

Misalnya apalah counter atau apa, ya bisa apapunnya bisa interactive semua ini pakai Vue.

Cuman downside-nya adalah buat yang belum bisa Vue, harus belajar Vue ya.

Kalau mau customize lebih lanjut ya untuk pakai komponennya.

Betul, di situ pentingnya generatif AI code assistant.

Enak loh dan itu, gue kan pakai cursor ya.

Cuman nyuruh apapunnya buatlah komponen bernama blah, menerima, property blah, string, property A, B, C.

Apapunnya kita deskripsiin, ya bisa kok.

Gimana kalau Slidev ini kita porting ke Astro.

Biar lebih banyak yang bisa kita bikin komponennya.

Gak bisa Astro ya.

Kenapa saya gak bisa?

Ya bukan maksudnya, ya bentuk.

Kan Astro Meta Framework ya, justru kelas sama Slidev-nya kan.

Slidev kayak cuma butuh ngeproses bahasa UI-nya kan.

UI framework-nya atau UI library-nya.

Bisa static slide juga kan, kalau Astro kan bisa static slide juga kan.

Oh ya bisa, kalau gitu bikin slide-nya di Astro aja kalau mau kayak gitu.

Ya iya maksudnya itu, maksudnya kita port Slidev-nya ada versi Astro.

Maksudnya gitu.

Jadi komponennya bisa pakai React, bisa pakai Svelte, bisa pakai Vue, atau Astro.

Lebih sulit ya, mending pakai routing-nya Astro aja.

Iya semuanya Astro, gak usah pakai Slidev-nya udah ditinggalin gitu.

Kita porting maksudnya.

Namanya gak pakai Slidev sama sekali.

Gak, gak pakai Astrodev.

Slastro.

Maksudnya, tapi gak apa-apa. Slastrodev.

Itu built-in components apa sih? Maksudnya built-in components sih, built-in components.

Yang udah ada tuh.

Oh ya ada lagi yang keren, icon-icon, icon, semuanya cari by icon.

Coba kulitnya ada basic set icon, kalau misalnya kan icon-nya banyak tuh.

Icon-nya juga keliatannya ngambil dari...

Oh ngambilnya dari mana?

Dan Unplugin Icons itu powered by Unplugin Icons itu bikinannya Mas Anfu juga.

Dia jualan produk sendiri ini kayaknya ya.

Gak habis-habis ya semua produknya dia.

Dan bikin ekosistemnya sendiri kayaknya.

Oke, lanjut, lanjut.

Ini banyak pilihan icon.

Dan bahkan kita gak browsing icon-nya tuh, browse and search for all icons available with icon-ness.

Itu tuh enak banget, membantu banget asli.

Oh bisa langsung pakai udah.

Oh wow.

Search aja butuh icon apa.

Kayak phone awesome jaman dulu nih.

Ya emang, ya prinsipnya gitu.

Cuma ini mengkolekkan phone awesome satu provider, phone icon ya.

Dia tuh mengkolek semua icon provider yang bisa dipakai.

Bukan sosial icon, icon buat aplikasi sih ini ya.

Beda ya.

Coba like, like, like atau apa gitu.

Like button ya?

Ya.

ByteDance.

Oh ByteDance.

Iya button like, byteDance.

Ini like.

Tuh, iya itu.

Oh, Damer paling suka pakai?

Fluent.

Fluent Microsoft.

Oh ada ya disini.

Icon-ness.

Bisa diklik?

Oh like-nya dihilangin dulu.

Oh ini, Microsoft-nya ya.

Nah, search aja.

Load all.

Buset, gamasli phone ya.

Load more, load more.

Gak jadi, gak jadi.

Ini bisa SVG ya?

Ini seperti ini SVG?

Ya bisa SVG, bisa PNB.

Kalo yang buat dimasukin ke slide dev, jadinya dirender sebagai SVG.

Jadi bisa di styling.

Bisa di styling sesuatu.

Bisa di warna-warnain.

Pakai CSS bisa.

Pakai quas juga bisa.

Ini kayaknya by default slide dev itu udah detail win-nya deh.

Jadi maksudnya kalo kita, kalo buat yang gak suka nulis CSS langsung,

tapi kebiasa detail win ya udah text dash blue, dash 500.

Wah seru ya.

Ini kayaknya bisa di, apa ya, bisa di explore ke arah yang tadi.

Jadi bisa demo code sekaligus ada di slide-nya.

Mungkin bisa pake kayak tutorial kit kah, atau bahkan satu project full.

Kayak StackBlitz atau sandbox ya.

Lebih tepatnya mungkin kayak tutorial kit kali ya.

Jadi kayak snippet-snippet gitu.

Tutorial kit gak snippet, itu project, satu project dia sebenernya.

I-frame dibuat.

Tapi kan pake web containers juga.

Jalanin Node.js bisa di browser.

Oke, oke.

Ada lagi yang menarik kah?

Ini seru banget.

Ada tapi, ada tapi belum, oh, si luar slide dev maksudnya.

Kalo slide dev ya, maksudnya...

Enggak, slide dev aja, slide dev aja.

Kalo dari slide dev sih ada. Bisa ngejalanin ini gak, apa yang mau kita capai tadi kayak ngejalanin.

Berarti kita kalo menjalani satu ini, satu sample lah yang penggunaan web API.

Misalnya kayak block yang bisa jalan-jalan-jalan.

Berarti kita bikin komponen sendiri ya.

Kita bikin komponen view.

Jadi apapun yang render dan dicapai di view.

Enggak mau bikin ini, transition, transition API, pake transition API.

Apa ya, mungkin si block itu bisa kita bikin di satu komponen,

nanti di apply transition API dia jalan gitu.

Bisa wait kan, jalaninnya harus di laptop kita, atau kan browser ya.

Ini kan di render browser.

Kita mau demo-in view transition API.

Berarti harus dijalani di browser yang udah support.

Jadi jawabannya bisa.

Dibikin aja di view komponen.

Tapi transition antar slide-nya juga bisa gak sih?

- Udah ada belum sih? - Udah, by default, fitur-fitur apapun yang ada di sewajarnya presentation atau slide show ada semua.

Kayak misalnya fade atau slide.

Kalau next slide-nya, animasinya gimana, udah ada semua.

Terus udah ada itu loh.

Tahu gak sih yang dalam satu slide, kita ada bullet point gitu, 1, 2, 3.

Kan mau ditampilinnya satu persatu, kita harus next, next, next gitu, itu juga udah ada.

Dan itu pakai view semua, pakai kayak attribute view.

Oh ya, itu tadi ya, harus mempelajari view kalau mau lebih lanjut ya.

Oh kalau lebih lanjut, ya cuma kalau buat yang kayak built-in animasi atau misalnya apa, next yang setiap item munculnya kalau di next,

itu udah tinggal tulis attribute v-click doang, v-click.

Maksudnya kita gak harus ngulik internalnya, jeruannya.

Bener kan? Bisa, pasti bisa sih run code.

Ini salah satu kelebihannya ya, yang untuk model-model slide yang JS, JS gini pasti bisa evaluate code-nya.

Bisa, tapi itu tadi bisa with kafeat, misalnya kita teranjur deploy di URL,

terus kita pakai laptop-nya panitia, misalnya ternyata laptop panitia gak pernah diambil.

Browser-nya versi lama, ya gak jalan.

Browser-nya masih E6 gitu ya?

E6, E6 ma, Google Slides juga gak bisa.

Nah, ini beritsi indegus ya.

Ini ada info.

Udah masukin di topik salnya.

Iya, tapi belum kita bahas kebetulan, tepat banget.

Karena belum pakai juga, cuma maksudnya udah pernah ngebook market.

Ini lebih simpel ya, kalau kata Jimmy katanya lebih simpel.

Markdown Presentation Ecosystem, oh sama kayak tadi ya AI presenter juga ya, AI.

Cuma dia berusaha bikin standarisasinya.

Suka kebalik-balik, oke.

Ini ngasih, ngasih AI.

Oh ya lupa.

Sorry, sorry. Ini ya.

Get Started-nya gimana?

Dia ada aplikasi? Oh enggak, dia pakai ini juga ya, pakai code editor masing-masing ya.

Terus jalaninnya juga pakai NGM ya.

Jadi dia bikin plugin untuk diaskop, bikin CLI-nya.

Ada framework-nya, ada core-nya, cuma justru karena terlalu rapi.

Terlalu heboh ya, terlalu rapi.

Terlalu apa ya, kayak niat bikin foundation.

Soalnya kan dia pengen bikin Ecosystem tuh, Markdown Presentation Ecosystem.

Jadi yang kayak beneran modular gitu loh, ada core-nya, ada apanya.

Cuma malah jadi nggak pernah sempet-sempet ngulik, udah nyaman pakai slidef juga.

Ya, next time ya.

Ada contohnya di sini ya?

Slidef tuh udah bisa DTS code kan?

Udah bisa DTS code slidef.

Tinggal install extension-nya.

Bisa, bisa, bisa.

Nggak perlu juga buat apa?

Ya sambil nulis langsung lihat hasilnya mas.

Oh iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya.

Next time.

Check out Markdown repository.

Oh nggak, maksudnya contoh slide-nya gitu nggak ada ya?

Website, discussion, assemblies, Markbit apps.

The skinny framework for creating slide deck for Markdown Ecosystem.

Managed by Mark Team.

Satu orang doang?

Sama dong kayak Anfu.

Tiga bulan yang lalu, oke.

Aktif kok itu.

Cuma ya nggak tahu kenapa kayak butuh mental energy yang banyak gitu kalau mau mempelajari.

Iya, untuk mempelajarinya masuk lebih dalemnya harus.

Kayaknya banyak yang di...

Ayo atas, atas, scroll atas.

Scroll atas.

Atas, atas lagi.

Atas lagi.

Atau get started.

Itu kalau diklik, masuk mana sih?

Klik get started.

Atas.

Oh gitu.

Itu.

Gue punya doang.

QSCode.

Iya.

Nggak membantu ya.

Katanya lebih simple.

Bukannya slide deck juga Markdown doang?

Markdown juga?

Nggak, kalau slide deck kan sebenarnya rumit.

Maksudnya dibalik layar kan ada view components, ada CSS, ada CSS-nya.

Oh karena ada view-nya ya.

Ada pre-processor-nya.

Kalau ini kelihatannya lebih yang puris Markdown ke slide.

Nggak pakai itu JS apa framework atau UI.

Tapi kalau ngeliat modelnya begini mirip-mirip juga.

Mirip sih, nggak jauh lagi juga.

Syntax-nya Markdown kan, slide deck juga pakai Syntax Markdown.

Tapi diberkaya sama view MDX deck juga bisa pakai Syntax Markdown.

Bikin sendiri berarti.

Kalau ini lebih kayak ritminya GitHub nggak sih?

Ya maksudnya yang pure Markdown renderer aja.

Iya, pure Markdown.

Mungkin ada beberapa customization-nya ya.

Tapi perspektifnya adalah Markdown renderer.

Yang target niche-nya itu untuk presentasi.

Bentar.

Ini nggak ada dependency.

Dia bikin sendiri gitu semuanya?

Ya, karena sebetulnya dia adalah Markdown parser.

Iya, Markdown parser-nya pun dia bikin sendiri berarti.

Itu kan dependency-nya di atas kali.

Oh, coba lihat atas.

Nggak ada.

Mana?

Depend.

Cuma itu nggak ada.

Ini website-nya.

Wait, wait, wait.

Ini website-nya.

Oh iya, nggak ada package-nya.

Coba.

Yang mana?

Marpid?

Markcore?

Iya, Markcore.

Nah, coba buka package.

Nah, ini berbanyak nih.

Nah, ini.

Marpid Highlight JS.

Oh, dia pakai Highlight JS.

Nggak pakai CK.

OCSS.

Atex.

Nggak banyak tuh.

OCSS itu untuk itu ya, yang matte apa?

Latex bukan?

Rumus-rumus gitu kan?

Kayaknya yang mirip-mirip ya.

Iya, latex.

Oke, ya kalau mau simple katanya pakai Mark,

tapi kalau mau yang bisa presentasi pakai code sample gitu ya,

code highlighter, lebih ke slidev ya.

Tapi slidev juga bisa simple kan?

Kalau misalkan kita kayak yang di depan ini,

ini juga simple kan?

Bisa.

Udah gini aja, udah.

Bisa, cuma mungkin kalau orang yang puris banget kan,

ya apa, nggak mau ada apalah dependensi macem-macem,

kayak pengen yang beneran pure,

semurni-murninya Markdown.

Oh, nggak ada sintasitas tambahan gitu ya.

Ini juga sebenarnya kan di slidev kalau nggak mau pakai,

nggak mau pakai tambahan apa-apa, kayak gitu bisa.

Tapi kan tetep-tepitnya.

Maksudnya dibalik layar ada view yang jalan.

Kayak mungkin kalau sekarang mentally nggak rela ada JavaScript-JavaScript-an,

mungkin ya bisa pakai Mark.

Slidev kayak Astro?

Enggak, Astro kan meta framework buat web, ini kan buat slide.

Nah, tadi kita baru bilang ya, mau bikin...

Iya, mau bikin versinya.

Ini bikin slide, tapi bentuknya web, bentuk akhirnya bentuknya web,

jadi bisa dibuka pakai browser.

Itu, bedanya.

Jadi kalau teman-teman yang mau present, ya bisa pakai ini ya.

Slidev.

Slidev.

Oh iya, Swap. Kenapa Swap belum ada ya?

Nggak ada yang bikin, kayaknya nggak cukup major.

Nggak ada yang sebesar universe-nya Anfu soalnya.

Mau pakai ini udah punya dia, semuanya dia.

Gila ya, luar biasa.

Oke.

Nggak perlu, sebenarnya nggak perlu cari ida.

Apa yang dibikin Anfu, bikin aja versi Svelte.

Svelte.

Anfu dimirur, Anfu universe dimirur jadi Svelte.

Anfu Svelte, gitu.

Anfu. Anfu alternatif.

Namanya Anfu Svelte, bukan Anfu.

Iya.

Mantap lah.

Dia bikin produk dari produknya dia yang lain ya.

Di buku-buku sih ya.

Disusun-susun.

Disusun-susun.

Nah, kalau Jimmy pakai Slidev juga nggak untuk presentasi?

Jimmy kan suka presentasinya yang berhubungan dengan cloud kan.

Demo-demo cloud gitu ya nggak bisa lah ya.

Tetep harus keluar dari slide.

Terus abis itu buka browser, buka tab, atau buka terminal gitu kan ya.

Atau perlu. Atau bisa.

Atau screenshot, masukin aja image-nya.

Oh, yang kemarin Jenaya Itur pakai Slidev.

Oke, oke, menarik, menarik.

Tim Slidev.

Mau belajar pakai Slidev.

Tenggal bikin view komponen kan tinggal punya view biasa segala macam interaksinya.

Soalnya kan saya nonton ya waktu Jimmy LiveCode nonton.

Udah gitu pakai nama saya juga kan kaget ya.

Kok tiba-tiba nama saya di situ ternyata demo code.

Oh itu pakai Slidev, nggak nyadar loh.

Kirain buka browser biasa.

Luar biasa. Mantap, mantap, mantap.

Bisa ditiru, bisa ditiru.

Asik kali ya.

Udah mulai kebayang kalau modem-modem web API kayaknya asik tuh pakai.

Iya, cocok-cocok.

Dari pada bolak-balik, bolak-balik masuk ke tab lalu di browsernya di-float kayaknya.

Kayak terpotong gitu nggak ini ya experience-nya untuk ngomongnya.

Kurang smooth ya experience-nya.

Dan yang paling membantu tuh di codeblog-nya, jadi kita kayak menunjukin kodenya satu bersatu tuh ngetiknya enak banget.

Dibanding kalau misalnya kayak apalagi Google Slides atau Canva atau apa.

Kan emang bukan spesial di desain untuk codeblog ya.

Jadi kita harus bikin kotak hitam atau kopas kotak hitam.

Terus apa, text kodenya harus kita ganti pakai phone yang monospace, ribet.

Kalau ini, highlight-nya, code highlight-nya step-by-step-nya enak banget.

Saya biasanya kalau mau saya masukin codeblog, saya tuh bikin ini dulu.

Ada tools-nya yang untuk ngerobah kode.

Screenshot. Oh, ngerobah.

Nggak, ada Syntax Highlighting for Slides.

Wow, jadi tetap text, cuma kayak warna-warnanya diubah sama dia gitu.

Ini nih, kalau saya pakai ini, mas Liza tolong bukain.

Boleh.

Wow, mantap, baru tahu.

Jadi saya biasanya paste dulu ke Syntax for Highlighting-nya di sini.

Oh, yang punya romanulik.

Terus saya paste ke sini, nanti hasilnya saya baru copy ke slide saya.

Jadi sudah ada Syntax Highlight-nya juga.

Kenapa nggak susah sabar itu, nggak pakai pola code.

Pola code PSGOT di draft image.

Tapi ribet juga.

Kalau ada kebutuhan-kebutuhan tertentu, misalkan workshop, terutama ya.

Untuk workshop kan, kode-nya itu bisa di-copy paste.

Jadi kan ini bentuknya text kan.

Jadi misalkan peserta ikut buka slide-nya.

Oh, daripada dia ngetik-ngetik, dia bisa copy paste.

Nah, ini salah satu solusinya ini.

Jadi sudah disiapkan, apa namanya, Syntax Highlighting-nya ada.

Tapi itu dalam bentuk kode, bukan dalam bentuk screenshot.

Saya juga beberapa kali pakai.

Jadi lebih fleksibel juga.

Kalaupun nggak untuk copy paste, bisa untuk customize.

Oh, font-nya mau diganti.

Misalkan, oh kurang gede.

Kita tinggal tambahin gedein font-nya.

Nggak perlu screenshot ulang atau apa-apa.

Ada lagi kah yang mau dibahas?

Go slide-desk, go slide-desk.

Berarti, Defe Surabaya ini pakai slide-desk semua nih?

Nggak, udah selesai. Apa ini?

Pake selesai ya.

Oh iya, kita kan kesefesinya pendek ya, banyakan ngobrolnya.

Sekalian teaser.

Sekalian teaser.

Dan gue kan browser automation, nggak bisa pakai slide-desk.

Browser automation.

Oh iya.

Justru balsumnya yang di jalan-jalan.

Terus kembalikannya.

Bikin komponen yang bisa buka browser di dalam browser.

Ada hubungannya tentang Headless.

Galaxy brain.

Powerpoint versi web, iya.

Dan Powerpoint sendiri sekarang udah ada versi web-nya yang tadi Office 365.

Jadi kalau memang masih nggak mau move on dari Powerpoint, mungkin bisa cek yang webnya.

Itu mirip-mirip kan, UI-nya juga mirip-mirip, hasilnya juga mirip-mirip.

Jadi bisa diperiksa juga.

Dan ya tadi udah sempat diomongin juga sama Ivan tadi ya, apa sama Eka juga ya.

Salah satu kelebihan yang online ini untuk kolaborasi bagus, enak gitu.

Kalau misalkan kayak keynote, ya bisa, cuman agak kurang kan, kurang seamless lah.

Biasanya kita pakai Google slide, tapi kalau misalkan yang gini tinggal push kerepo aja.

Github aja, semua bisa ngedit.

Iya, push kerepo.

Figma slide, iya Figma slide, saya pernah cobain tapi ribet sekali.

Ini satu-satu.

Sama kalau di push kerepo, contohnya kayak ke GitHub ya.

GitHub kan ada code spaces.

Bisa dibuka juga di situ.

Jalanin aja di situ.

Bisa hotfix ya, kalau ada typo langsung hotfix ya.

Sam bisa kolaborasi juga kan, code spaces dia bisa invite orang lain untuk kolaborasi.

Jadi dia nggak perlu jalanin di lokal ya.

Benar-benar.

Makanya saya mau pakai slide.

Code spaces, iya.

Code spaces, iya.

Bisa jalan di idx.dev juga kali ya.

Bisa harusnya.

Bisa aja.

Oh, jalanin gitu kan.

Bisa aja.

Termasuk juga hostingnya bisa langsung di GitHub pages.

Betul.

Oh, kata Jimmy, bisa host langsung.

Yoi.

Good, good, good.

Hemat energi, hemat biaya.

Iklannya mengepantah.

Hemat energi.

Hemat energi.

Memang Eka udah, damannya Eka ya itu ya.

Kok bisa tahu sih?

Udah nonton TV sih.

Oke, nextnya.

Ika ngecapin semua.

Deves ini kan, Deves Jakarta.

Habis itu Sarabaya.

Eka?

Kemarin Bogor kan, habis itu kemarin lagi.

Makasar, iya, kemarin Bogor.

2 minggu lagi Makasar.

Makasar kapan?

23.

Oh, Sabtu depan.

Makasar, Jogja, Surabaya.

Jadi, terakhir kita semua ketemu di Surabaya.

Masih tinggal lagi.

Mas Elisa?

Surabaya.

Doang?

Medan udah propose, tapi belum di accept.

Accept? Nggak tahu.

Belum dapat venue katanya.

Eh, Spam tau, kadang masuk Spam.

Oh, emang belum dapet venue.

Kata Mas Danang, iya, belum dapet venue.

Pengen aja ke Medan.

Tiga propose juga.

Eh, Surabaya, berarti kita bisa,

karena kita bertiga,

kemarin ngomong sama Esther,

bisa rekam atau live di sana aja kita podcast.

Iya, kita ngobrolin web live dari Surabaya.

Iya, temen-temen yang di Surabaya

boleh merapat ya.

Ada yang di Surabaya ngomongin hit chat.

Mudah-mudahan ada.

Medan tuh, Soto Medan.

Wah, Jimmy.

Jadi pengen kan?

Soto Medan tuh yang ada undangnya.

Mudah-mudahan diterima proposalnya.

Udah propose talk soalnya.

Soto Medan gimana yang enak ya di Spam?

Atau di mana tuh?

Di Jakarta.

Jakarta tanggal berapa, Ivan?

Minggu depan.

30 November.

Toma tuh ke Jakarta aja.

Makan suatu sampai kolesterol 200.

Jangan lah.

Jangan.

Nah, ini Surabaya.

Ayo kita itu lah.

Kita ngumpul-ngumpul kali ya abis acara.

Tapi abis acara mau langsung pulang.

Soalnya acaranya hari minggu.

Oh iya.

Iya.

Iya, maksudnya ngumpulnya Sabtu kan bisa.

Oh iya, benar.

Kita bikin meet and greet.

Wah, meet and greet.

Pukidarak.

Meat and grill.

Meat and grill.

Oh iya, boleh-boleh.

Meat and grill.

Daging dan panggang ya.

Oke, kalau gitu.

Terima kasih buat semuanya

yang sudah ikutan diskusi

buat tambahan-tambahan

pengetahuan juga

buat kita.

Mudah-mudahan yang kita sampaikan juga

bermanfaat buat teman-teman semua

yang mau presentasi.

Yang bingung mau pakai

slide, mau bikin slide

dari mana, ya bisa pakai slide.

Mungkin sekarang tambah bingung karena

opsinya tambah banyak.

Mungkin juga.

Ngobrolin Haskell.

Enggak.

Enggak, terima kasih.

Ngobrolin Haskell.

Jangan-jangan-jangan.

Terlalu matematis ya.

Kita, matematika kita

nggak terlalu bagus.

Oke, itu aja untuk malam ini.

Ditunggu minggu depan

dengan topik-topik yang berbeda.

Ketemu lagi minggu depan

di hari Selasa Malam.

Selamat malam, sampai jumpa

minggu depan. Bye bye.

Deskripsi asli dari YouTube

Yuk mari kita diskusi dan ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia web. Agar tetap up-to-date dengan teknologi web terkini. Topik, tautan dan pertanyaan menarik bisa dilayangkan ke https://bit.ly/ngobrolinweb Kunjungi https://ngobrol.in untuk catatan, tautan dan informasi topik lainnya.

Episode Terkait

Bagikan:

Suka episode ini?

Episode baru setiap Selasa malam. Dengarkan lewat YouTube, Spotify, atau feed podcast favoritmu.

Pilih Cara Langganan

Memuat komentar dari GitHub Discussions...

Jika komentar tidak muncul karena ekstensi privasi / adblocker, kamu bisa berdiskusi langsung di GitHub Discussions .