Lompat ke konten utama
EP 108

Ngobrolin Pengalaman Frontend @imrenagi

Ringkasan Episode

Bantu Koreksi

Episode ini membahas tentang teknologi video di web bersama Mas Yudi, engineer yang bekerja di Daily Motion. Percakapan dimulai dengan sejarah singkat video di web, dari era Flash hingga HTML5, dan tantangan format video seperti MP4, WebM, dan OGV. Mas Yudi berbagi pengalaman kerja di bagian B2B Daily Motion yang menyediakan layanan hosting video untuk klien corporate, termasuk infrastruktur video yang bisa di-white-label. Diskusi mencakup berbagai aspek teknis seperti autoplay policy browser, integrasi iklan menggunakan Google IMA SDK, tantangan smart TV dengan browser engine Chromium versi lama, hingga isu performa dan accessibility pada video player. Episode ini juga menyentuh regulasi seperti GDPR dan PDP (Perlindungan Data Pribadi) yang mempengaruhi implementasi video di website.

Poin-poin Utama

  • •Daily Motion adalah video platform B2B yang menyediakan layanan hosting dan infrastruktur video untuk klien corporate, dengan opsi white-label untuk media dan news
  • •Sejarah video di web berkembang dari Flash era menuju HTML5 dengan format video MP4 sebagai yang paling universal, disusul WebM dan OGV
  • •Autoplay policy browser menjadi tantangan utama karena aturan ketat yang berbeda antar browser, terutama Safari yang paling ketat
  • •Integrasi iklan video menggunakan Google IMA SDK (Interactive Media Ads) yang terhubung dengan Google Ads Manager
  • •Smart TV yang masih menggunakan Chromium versi lama memerlukan video.js versi lama dan menyulitkan proses testing karena ketersediaan device
  • •Video.js adalah open source video player yang paling matang dan lengkap, menjadi base untuk banyak fork dan implementasi lain
  • •Isu accessibility dan regulasi seperti GDPR serta PDP Indonesia memerlukan pendekatan khusus dalam implementasi video player

Halo semuanya, selamat malam.

Ketemu lagi di podcast

Ngobrolin Startup dan Teknologi.

Baru gue imbre.

Koan demat ya rasanya.

Aduh.

Udah lama.

Udah lama ga nyebutin

Tagline itu karena

Podcastnya udah mati berapa lama ini.

Mati suri.

Dari sebelum ke US ya?

Dari ke US ya?

Sebelum ke US.

Sebelum ke US.

Halo imbre.

Masa malam waktunya ngobrolin teknologi.

Ngobrolin teknologi web.

Bener juga sih ga salah sih.

Semoga podcastnya jalan lagi.

Banyak permintaan kayaknya ya.

Amin, amin, amin.

Ya doakan saja lah.

Semoga semuanya semakin

Om Baik ya biar ada topik lah.

Kalo dulu kan banyak lo bro.

Masak topik.

Halo.

Dunia startup lagi

dingin ya.

Lihat transkrip lengkap (2459 segmen lagi)

Lagi musim dingin ya.

Jadi kalo mau bahas

di podcast

juga agak bingung topiknya apa gitu ya.

Iya, mustahil bahas lah ya.

Oh kan sedih juga ya.

Ya bener.

Iya, iya, iya, iya.

Oke, jadi tadi pembukaannya

udah dari imbre.

Jadi malam ini kita

culik imbre untuk ngobrolin

tentang web, terutama tentang

front-end. Jadi kemaren sempet ngobrol

diundang kira-kira

ngomongin apa gitu kan.

Menarik juga kan karena terakhir

kita taunya imbre itu sempet

nyobain front-end

framework ya.

Dan juga pengen tahu

pengalamannya sebagai orang

yang bukan front-end

apakah beneran akrobat atau engga.

Jadi mungkin openingnya boleh lah.

Kenalan sedikit ya.

Mungkin ada yang belum kenal, kayaknya gak ada deh.

Kenalan aja.

Atau gini, kita bisa tanya penontonnya

yang belum kenal imbrenya, Cung.

Cungnya gimana coba?

Wah,

imbrenya nge-freeze, oke.

Kalau begitu kita

itu dulu.

Apa namanya?

Kita ngapain ya?

Halo, halo.

Suaranya tadi

kutus-kutus.

Ivan, suaranya kayaknya agak kecil.

Tunggu.

Coba ngomong semua.

Ini Ivan kayaknya belum pakai

mic yang mahal deh.

Masa sih.

Eh, suara gua udah muncul lagi belum?

Kayaknya gua bau-baunya

kena bungkam nih.

Bahaya ini.

Internet rumah gua kayak kena

kutase.

Padahal belum mulai loh kita membahas

yang lucu-lucu.

Belum ngomong apa-apa.

Ini cuma ngomong front-end, Pak.

Jaman ya,

tukang basoh ya. Kita cuma bahas

front-end disini.

Suar, Pak.

Udah di monitor.

Udah di monitor.

Oke, kan anggaplah

penonton kita tuh udah kenal semua.

Mungkin bisa

cerita sedikit

kerjaan terakhir. Lagi ngerjain apa

atau rolnya apa.

Kalau...

Oke, halo semuanya.

Nama gua Imbre.

Dan kerjaan terakhir tuh

sekarang cloud engineer.

Sebenernya software engineer

yang kebetulan bekerja

di bidang infra. Jadi kalau dibilang

sysadmin, mungkin

nggak juga. Kalau gua lebih suka

nyebutnya software engineer yang kerja di infra.

Jadi

banyak migrasi.

Biasalah migrasi setiap hari.

Terus apalagi ya ngomongin

cloud,

sharing-sharing tentang cloud, AI

juga bakangan. Dan

sekarang lagi ngulik

embedded system.

Oh.

Kembali ke jiwa elektro.

IOT?

Ya belum IOT sih, tapi lebih ke kayak

fitur-fitur prosesor,

kemudian kayak fitur-fitur

microcontroller, bikin

driver, kayak-kayak gitu.

Oh, bikin driver.

Iya, bikin driver. Mantap.

Low level ya, low level ya.

Itu podcast yang

bagus itu.

Menarjul ya ya.

Tapi kata orang

nanti nggak ada uangnya, susah.

Ah, nggak ada uangnya.

Semua harus ada uangnya.

Iya kan kadang orang-orang ada yang mikir nggak ada

uangnya mah ngapain belajar ini?

Ujung-ujungnya bikin

course, biar aduh.

Pasar bisa

diciptarkan, kata orang juga.

Benar-benar.

Nah,

kalau pengalaman front-end,

kan impren kan kayaknya...

Jalanan karier dulu, mungkin sebelum

megang infra, apakah

dulu pernah individual contributor

moding atau emang dari awal

cloud atau gimana?

Sebenarnya di awal

pekerjaan, ya ini ngomongin setelah lulus,

kalau kuliah itu dulu elektro-robotik.

Kalau

lulus itu pekerjaan pertama

adalah iOS engineer.

Karena

iOS engineer, terus abis itu

sempat ngerjain

Android juga, abis itu

S2. Nah, sebenarnya S2 itu

batu loncatan untuk

ini,

switching dari

front-end ke yang lebih back-end

atau infra. Tapi waktu itu kan

lagi hype big data, ya.

Jadi, 2017-2016

itu lagi hype big data,

jadi waktu itu pas S2 ambil

spesialisasinya itu cloud computing sama

big data. Jadi

makanya pas pulang tuh kebanyakan

ngomonginnya data

dan infra. Setelah itu,

barulah join

perusahaan yang sekarang

kebetulan di tim infra. Tapi lebih

banyak emang coding tools sih

ketimbang yang

administrasi in system. Jadi kalau misalkan

kan ada orang bilang dulu, kalau mau

release, tuh harus release engineer.

Nah, yang gue lakukan tuh agak

beda. Misalkan bikin tools

tapi supaya software engineer bisa

deploy sendiri. Jadi nggak perlu ada release engineer

lagi. Jadi

basicnya dari dulu sebenarnya software engineer,

cuman domain-nya aja yang beda-beda.

Jadi, mereka tinggal nge-push

atau apa, tinggal pencet button

sudah bisa

deploy sendiri. Pokoknya

nge-manjain software engineer lah,

nge-manjain product engineer.

Oh, oke. Berarti

rolnya itu, timnya

berarti rolnya adalah sebenarnya

bikin product tapi buat engineer.

Internal. Betul.

Seru juga ya.

Kan sebenarnya kalau tim infra itu kan

lebih ini, lebih banyak

request, oh, tolong dong

bikinin kita database,

bikinin kita ini, gitu.

Bikinin pipeline buat kita, guys.

Betul, bikinin pipeline.

Daripada kita ngerjain itu

terus-terusan, jadi kira-kira kita bikin tools

buat mereka, dan lu aja deh ngerjain

pokoknya, "nih, udah gue kasih nih."

Jangan manja. Berarti more or less

kurang lebih lu kayak nge-automate

sebagian dari kerjaan lu sendiri.

Betul, betul, betul.

Karena kan kita dapet tiket kayak gitu kan,

tiket mana yang banyak, nah itu

yang kita prioritasin.

Misalkan banyak nih orang pengen bikin database,

banyak orang pengen nge-delete database,

gimana caranya kita,

karena kan mereka nggak punya akses ke infra,

tapi gimana caranya kita bisa kasih mereka

akses ke infra, tapi supaya semuanya

standardized, makanya tengah-tengah ada

produknya.

Jadi semua orang bisa delete database?

Semua orang bisa, ya.

Semua orang yang punya

gabung dari tim itu.

Jadi misalkan lu di tim itu, lu punya

database, ya lu bisa delete, tapi kalau nggak, ya nggak.

Oh, nggak bisa.

Canggih lah, cangih. Kenapa pengen

delete database?

Gue udah pernah delete database

di production.

Oh, ya ada backup-nya.

Ya ada backup, ya untung. Ada backup-nya.

Emangnya, eh, hampir kan, hampir kena kan.

Ping satu.

Hampir aja.

Hampir aja, ya Allah.

Dah gua tahan-tahan dari tadi.

Yang benar tuh emangnya GitLab.

Gitu lho.

Oho, maksudnya itu, Pak.

Betul, Mas Gur.

GitLab.

Aman lah.

Terus teknologi yang dipakai sehari-hari apa?

Kalau sekarang

sehari-hari teknologi yang dipakai

di kantor nih maksudnya.

Kalau di kantor tuh

kebanyakan

Kafka,

kemudian Postgres, Redis.

Kebetulan gua di tim database.

Jadi gua di tim product

infra, tapi di tim database.

Jadi yang

ngurusin Postgres,

Redis, Kafka.

Terus bisa apa lagi ya? Go lah.

Kalau bahasa pemograman Go, Java.

Oh, bahasa pemogramannya Go.

Buat automasinya juga pakai Go.

Ya, Go semuanya. Java kalau terpaksa

aja.

Legacy Tools.

Contohnya terpaksa?

Jadi misalkan kayak

Kafka tuh misalkan, kan Kafka

itu emang basicnya Java kan?

Apa sih namanya natifnya Java?

Jadi kalau kita ngebikin library,

tambahin fitur library,

nah itu mau nggak mau bikinnya Java

biar bisa dipakai.

Tapi ada Go-nya juga. Cuman kan mainnya

itu Java.

Yang udah terpaksa harus Java ya udah.

Oh, event nggak bisa

pakai Kotlin atau

apa yang baru-baru gitu.

Kayaknya nggak ada yang bisa.

Oh, nggak ada yang bisa.

Ngerlas aja tuh ada yang ngide.

Kita pakai RAS ya nggak usah deh.

Lu aja yang ngerjain ya.

Nah, dulu kita pernah bahas tuh

kadang buat akal-akalan biar

pada bisa taruh di link-in, bikin ini

pakai RAS, pakai apa?

Bahasa-bahasa yang lagi ngetren.

Padahal nggak terlalu butuh

sebetulnya. Iya, betul-betul.

Nafsu lah, Nafsu.

Nafsu belakang. Justru menyusahkan

orang-orang yang lain, apalagi

habis migrasi

ke tools yang baru terus dia resign.

Nah, itu yang...

Gara-gara dia udah

upgrade link-in,

terus dia resign.

Itu curtaunya iPhone kayaknya.

Iya kayaknya deh.

Imbil dari kisah nyata.

Oke, Imbrenya lagi ngefreeze dulu.

Tadi mungkin...

Kita pakai WebRTC,

kalau Imbrenya lambat,

kita ikutan, jadi ikut lambat ya.

Ini WebRTC.

Udah normal?

Kabelnya kainjak tadi

sama tukang Baso.

Kayak mau

disabutase aja gue.

Jadi Parno gue kayak gitu.

Itu kan pengalaman

sebagai software engineer

secara umum. Kalau pengalaman front-end,

ada nggak sih?

Ini menarik sebenarnya.

Jadi kalau pengalaman front-end itu,

dulu tuh

gue pertama kali belajar

front-end itu 2013.

Tapi waktu itu masih

PHP, bahkan belum ada framework.

Jadi PHP,

terus habis itu apalagi sih?

PHP, HTML.

Gue nggak tahu.

Gue nggak tahu kayaknya.

2013 itu udah ada sih, harusnya.

Tapi kan itu sebenarnya

karena...

JQuery ya betul, JQuery.

2013.

Terus itu karena intern.

Terus habis itu

2013 intern S1.

Kebetulan waktu di CERN

waktu itu, di Swiss.

Sama aja pakai PHP ya?

Nah dulu tuh dia...

Ya dulu itu TCLTK.

Terus pengen di rewrite ke PHP.

Dikasih lah kerjaannya ke

anak intern.

Terus yang kedua itu

ngerjain web juga

pas intern lagi.

Intern lagi waktu itu

di eBay, ngebikin

kayak dashboard security gitu lah.

Tapi lebih ke data visualisasi sebenarnya.

Sama habis itu

ngerjain untuk

seleksi interview.

Jadi waktu di US

itu kan sempat nyari kerja juga kan.

Ke Tesla.

Jadi apply ke Tesla

dikasih tugasnya itu bikin web.

Terus webnya

itu

pertama kali kenalan sama

React.js.

Nah jadi dia...

2017 kayaknya.

2017.

Pertama pakai React.

Kasi lah requirement gitu kan.

Requirement, bikin ini, bikin ini.

Terus habis itu sebenarnya

kalau dari

jadi webnya sih sebenarnya standar aja sih

bentukan webnya. Cuman karena

backgroundnya back-end

jadi dia lebih

impress ke bagian implementasi

back-endnya.

Tapi dia requirementnya adalah

lu harus pakai React kayak gitu.

Karena di team dia pakai React.

Habis itu

terakhir, habis itu nggak ada lagi.

Beberapa kali attempt pengen

belajar React lagi, tapi

gagal bertubi-tubi.

Gara-gara.

Nggak tahu aja, maka kayaknya

waktu belajar React

gue nggak tahu bahwa sebenarnya

web itu tuh harusnya seperti ini.

Yang benar web itu kan

kemarin sempat ini ya, kalau kita ngomongin

React di awal-awal

yang SPA ya.

Client-side, rendering, kayak-kayak gitu kan.

Kan sebelumnya web itu

kan di-render di server

di Glepary client.

Itu kan dulu kayak gitu. Terus tiba-tiba

berubah paradigmanya.

Semua jadi di client.

Habis itu ntar lagi. Sekarang

gue mau kembali lagi ke server.

Pusing-pusing deh.

Jadi waktu

gue belajar React itu kayaknya

karena fondasi back-end gue nggak kuat

jadi gue juga nggak ngerti ini.

Kalau gue misalkan mau

API itu harus nge-call-nya di mana ya

di client atau di mana gitu.

Giting gue nggak paham

hal-hal kayak gitu.

Dan kemudian muncul lah

ada Vue.js sempat nyobain juga

apalagi yang lain-lain.

Tapi kebanyakan React sih.

Berapa kali nyoba React

nggak berhasil. Terus tiba-tiba

muncul Next.js. Next.js kan sebenarnya

masih react juga.

Tapi kan

agak beda ya. Dia ada

render di server tapi tetap aja

di client-side ada macem-macem.

Itu yang Next.js yang dulu.

Ya betul. Tapi masih nggak ngerti sebenarnya

misalkan kayak oh gue kalau mau

nambahin font, nge-include font-nya

itu di file sebelah mana ya.

Misalkan gue cuma ada beberapa

page. Gue cuma butuh

di satu page ini doang misalkan.

Tapi gue harus naruh font-nya itu di

sebelah mana. Kayak-kayak itu gue nggak tahu ya.

Sampai lah akhirnya

gue ngobrol sama temen.

Pokoknya intinya jadi sebenarnya nge-develop web

itu kayak gimana sih. Dijelasin sama dia

dijelasin ulang. Sebenarnya web itu

itu kayak lu bikin API tapi instead

lu ngeretern JSON

tapi dia cuma ngeretern HTML.

HTML nya itu yang

lu build di server. Makanya namanya server

render. Terus jadi make sense.

Terus

habis itu carilah.

Ada nggak ya tools yang bisa

gue pake. At least

nggak natif banget nggak kayak

bare metal gitu. Gue harus ngoding

JavaScript kemudian ngoding

HTML from scratch kayak-kayak gitu.

Tapi at least kerangkanya

itu harus di render

di server kemudian

minim JavaScript misalkan. Kan kayak

HTMLX itu kan kemarin sempat bilang

kalau dia itu minimum

minimal nih JS-nya kan.

JS-nya minimal karena semuanya di HTML

markup-nya gitu.

Nah akhirnya gue cari-cari jadi itu

kita baru make sense. Baru

setelah paham dari sana barulah kayak

oh ternyata web tuh kayak gini ya.

Sampai akhirnya ya

untungnya bisa akhirnya

bikin web sendiri kayak-kayak gitu.

Gitu lah kira-kira.

Panjang realisasinya.

Realisasinya sih

sebenarnya.

Gue selama ini ngira

Om Imran ini kayak

hardcore di cloud gitu loh.

Kayak GCP.

Mainannya.

Container. Terus kemudian

apa?

Terus bagaimana cara berhemat cost

antar ya dari sisi infra

kayak gitu. Gue mikirnya kayak gitu tuh.

Itu ya juga sih sebenarnya.

Super.

Tapi lebih hardcore ke arah cloud-nya.

Ternyata Om Imran ini

web developmentnya.

Yeah well-rounded. Semua

tau tentang semua.

Cuma channel lu kan

tentang pemrograman cloud kan emang?

Channel youtube lu.

Betul.

Sebenarnya tuh gue tuh salah satu makhluk

yang paling gue hormati. Bukan makhluk ya.

Engineer yang paling gue hormati itu adalah

front-end engineer. Kenapa?

Karena mereka kalau punya ide

mereka bisa langsung bikin visualnya.

Ya gak sih?

Kalau gue, misalnya gue punya

ide nih. Terus gue pengen bikin sesuatu.

Paling jadinya Jason. Kan gak

ngapain Jason, mau diapain ya.

Eksekutnya buat Eddie Moyne sulit ya?

Betul.

Masa orang harus ngambil API aja.

Sama android. Bisa dong.

Itu kan udah sekian tahun yang lalu.

Masa 2014.

Itu masih pakai objektif sih ya?

Betul. Objektif sih.

Dan apa ya kayak

kalau mau bikin

punya ide tuh bisa implement banyak.

Kayak gitu lah. Gue iri itu.

Sampai akhirnya kemarin yang gue pengen bikin

course itu.

Gue mikir kan kayak

aduh gue mau hosting dimana

gak ada yang cocok rasanya. Akhirnya

gue coba sambil belajar gitu.

Makanya akhirnya disitu sih

sebenernya. Gue rasa nih website

course gue itu adalah project

front-end pertama gue yang berhasil.

Maksudnya yang jadi.

Sambil disini.

URL nya apa?

courses.imbranagi.com

Jadi platform course lo

emang sengaja

bikin custom sendiri

hosted sendiri punya manage sendiri ya.

Gak pakai platform

course. Gak kerja sama-sama platform

course selain ini aja.

Nah itu pakai Astro.

Kalau frameworknya apa?

Woy hidup Astro.

Astro.

Sebagai Astro fan gue gak berbayar.

Gue seneng gitu.

Sebenernya ini kan kayak yang gue bilang tadi.

Sebelumnya kalau pakai react

JS ya. Itu kan

gak ngerti ya kayak di render

itu di bagian mana sih. Habis itu

interaksinya kayak gimana. Kayaknya

kalau ngebikin web kok

lebih banyak JS nya daripada HTML

nya ya kan.

Jadi disitu sebenernya.

Oh nih ada orangnya nih yang

nyaranin gue nih pakai Astro aja.

Gue masih inget tuh. Si Mustafa di komen.

Jadi dia ngasih

Astro kan bisa pakai react juga.

Jadi kan ya kalau buat

insight interactivity, kalau buat

di browser yang emang harus

banget interaktif dan pakai JS

ya gak apa-apa.

Yang suka

apa mengajarkan

filosofi ini ya.

Nah iya deh.

Emang agak lain nih orangnya nih.

Agak lain.

Tapi emangnya sih kayak

gue kan sempat

mikir juga apa gue nyobain HTMLX

gitu. Terus kayak

too much gitu sih kayaknya kalau HTMLX.

Gue harus belajar lagi berbagai macam markdown.

Tapi sebenernya gue buy in

dengan ide nya. Karena di render di server.

Habis itu bisa nge-minimalin

JS. Karena gue sebenernya gak

suka JS.

Makanya project gue tuh sebenernya JS nya itu kalau bisa

dibilang minimal banget sih kalau menurut

gue.

Oh kalau HTMLX

kan bisa pakai bahasa apa aja.

Bisa GU ya kan.

Lebih agnostik.

Kalau ini kan tetap JS Heavy ya.

Ya.

JS Heavy tapi

gak terlalu apa ya. Kalau kayak

React kan kayak nyampur-nyampur ya.

Ada HTML, ada React.

Oh dicampur semua.

Ya bikin sendiri JS.

Udah kayak gaduh-gaduh aja itu.

Oh ini

course nya ya. Ini course nya tentang

tentang

memang ide nya itu sebenernya

lebih sederhana sih. Maksudnya gue tuh pertama kali

bikin course ini kan bentuknya markdown ya.

Jadi gue taro di GitHub.

Terus gue jual-jualin.

Terus habis itu gue bikin video.

Tapi gue pengen gimana caranya

orang punya akses ini.

Akses course ini gitu.

Terus akhirnya gue coba bikin web nya.

Dan sebenernya itu

datanya markdown semua. Data-data

content course nya.

Astro semua nih.

Ini ilustrasinya keren banget nih ilustrasinya.

Itulah.

Itu bukan.

Canva, Canva.

Canva.

Yang di atas tuh ya.

Yang di atas. Yang kanan atas.

Hasil Jemina

itu kucing.

Ini udah layak

digedikan ini nih.

Ya polish banget sih.

Can see those banget. Style

course landing

mates nya. Terima kasih.

Terima kasih.

Jadi apa?

Alasan pakai Astro karena

direkomendasikan atau

terus coba cocok gitu ya. Kira-kira gitu ya.

Ya gue dikasih tau kan. Gue bilang

bahwa ada nggak framework yang

kalau bisa, gue nggak...

Sabotase lagi.

Sambil baca-baca ini ya.

Baca-baca.

Udah nyambung lagi belum?

Udah.

Jadi intinya

gue pengen tetap dia server side.

Render-renderinnya.

Minimal JS dan ya

kayak apa ya?

Kalau HTML tuh ya emang

mensi bentuk HTML. Kayak HTML gitu.

Dan gue bisa pakai

JavaScript biasa aja buat

client side interaction nya.

Bahkan gue nggak pakai jQuery, pakai DOM

yang standar gitu doang.

Jadi kayak, sebenernya tujuannya biar

gue pun juga paham, oh ternyata

kalau mau ngelakuin ini tuh

di server side, ngelakuin ini di client side

kayak gitu.

Karena kan itu nggak, sempat nggak jelas kan.

Soal gue jadi pertanyaan tuh

kalau gue mau ngelakuin autentikasi itu

dimana sih? Apakah di server side atau

di client side? Client ke server ini gimana

nge-authenticate nya? Nah hal kayak gitu

yang gue kemaren realisasinya

ketika ngerjain project ini.

Astro itu ada di tengah-tengah ya.

Yang menarik sih ya, kalau kita yang

developer web kan nggak

terlalu mikir itu, karena kita

udah kebiasa sama macem-macem

abstraksi, apa, player

abstraksi yang sebetulnya kalau

dipikir-pikir aneh-aneh lah.

Agak-agak tambah sulam juga.

Tapi karena kita sehari-hari

apa ya, berkecimping

sama itu, kayak kita ngerasa

nggak aneh. Tapi kalau misalnya

apa, dari perspektif

orang dari bidang lain

ya kan segala

abstraction layer termasuk kayak

JSX blah-blah-blah itu kan

JSX virtual doang itu kan

kayak distracting kali ya.

Jadi, apa, itu jadi

salah satu pertimbangan lo buat milih

Astro karena ya udah, apa,

kalau harus manipulate

dong, ya pakai javascript

buat API langsung

aja. Terus yang kayak tadi lo bilang

apa, kode markupnya

HTML, ya HTML aja.

Itu ternyata, apa,

jadi kayak salah satu selling point

si Astro juga ya.

Menarik. Insightnya

menarik.

Bahkan,

buat CSS pun, gue kan

ada, apa sih, tailwind, kayak-kaya gitu

kan. Gue mau coba kayak, ya

udah deh, gue nggak usah pakai tailwind, gue

pakainya pure CSS

aja gitu. CSS aja.

Jadi emang, karena kan

sebelumnya gue coba pakai tailwind, tapi gue nggak ngerti

ini kenapa kayak gini, ini kenapa kayak gini

dan ternyata belajarnya emang lebih enak

pakai pure CSS.

Terus, javascript atau

typescript?

Wah.

Ya, frozen lagi.

Iya nih.

Bayang nih, sorry ya.

Sudah-sudah-sudah.

Lanjut-lanjut.

TypeScript atau javascript?

Hello.

Gimana?

TypeScript atau javascript

pakainya?

Oh, javascript lah.

Oh, javascript ya.

Enggak-enggak-enggak.

TypeScript.

Berarti pakai

AstroComponent, bukan pakai React atau

Vue atau yang lainnya? AstroComponent.

AstroComponent.

Langsung ini ya.

Oke, jadi nggak perlu

belajar

React-nya kan sebenarnya udah tahu kan.

Vue juga udah pernah kan ya.

Tapi jadi lebih make sense sih.

Maksudnya dia tuh...

Pengurangi kompleksitas juga, karena

biar, kan

ini tujuannya biar bisa cepet bikin

page product yang straightforward

kan.

Betul sekali.

Menarik, menarik.

Itu komennya.

Pas lu bilang javascript, hampir

unfriend. Hampir ya?

Ya.

TypeScript, TypeScript. Gua baru inget ya.

Gua lagi ngeliat

kodingannya nih.

Ada pertanyaan di atas tuh tadi yang belum dibaca

kayaknya. Ilmu dari product

engineering. Oh, ini.

Ilmu dari product engineering, IOS web

Android itu banyak terpakai di role

sekarang nggak? Sebagai

IOS web Android. Sebenernya

banyak terpakai atau

nggak.

Gua jadi punya perspektif

aja sih, kayak

misalkan sederhananya,

kalau dulu sebagai IOS engineer,

kalau mau nge-ship aplikasinya

ke Play Store, App Store

gitu. Itu gimana

prosesnya? Sebagai orang

infra, jadinya tahu kalau mau bikin

automation untuk melakukan itu tuh, automation-nya

kayak gimana. Sama

kayak jadi back-end, tahu cara

nge-develop back-end, pas di

infra, tahu gimana caranya nge-deploy

back-end ini. Jadi

perspektif itu ngebantu sih kerjaan

sekarang. Terpakai,

terpakai-terpakai, tapi

ya perspektifnya aja sebenarnya

jadi tahu harus gimana gitu.

Karena kan orang kadang mau deploy nggak tahu

mau deploy front-end,

harus gimana gitu. Karena

udah kebiasaan, satu command misalkan

apa sih, Netlify run, Netlify

gitu. Nah, tapi

nggak tahu sebenarnya ternyata ada harus

ada yang dibuat, server-nya

gimana, terus klien

klien HTML-nya gimana.

Ya kayak gitu.

Jadi sebetulnya mungkin bukan

ilmu exactly

tentang tech-tech-nya, tapi

lebih ke apa ya, kayak

empati gitu ya. Perspektif itu

tadi ya, berarti cara mikir

jadi bisa

ngerti cara mikir

apa, anggota-anggota

tim lain kan ya.

Lo, frozen lagi.

Hurry, freeze lagi.

Ya, gue nangke pertanyaannya

Mba Eka. Kedenger nggak suara gue?

Kedengeran?

Jadi sebenarnya iya sih

perspektifnya kayak gimana

cara mereka ngeliat

sesuatu.

Perspektif.

Perspektif.

Wah, koneksi-nya

lagi kacau nih.

Oh, ada masain, halo.

Terus lagi ya, aduh.

Halo, halo. Gimana tadi, gimana?

Halo. Ya,

perspektif yang ngebantu,

pasti ngebantu

sih banyak.

Apalagi di perusahaan sekarang kan

ada aplikasinya juga kan

iOS sama Android juga ada kan,

beda tim kali ya.

Dan mereka tuh udah punya tim build

sendiri. Apa sih,

mekanisme build sendiri dan itu di-manage

oleh mereka sendiri sebenarnya.

Kalau tim infra, di kantor gue lebih banyak

ngurus, emang untuk API sih.

Terus

platform course ini di deploy kemana?

VM lah.

VM.

Gak di GCP.

Gak.

OVH. GAM-nya bukan di GCP.

GCP yang mahal.

Kalau gak pake kredit mahal ya.

Iya betul, walaupun ada kredit,

tapi kayak dengan

harga yang gue bayar yang sama,

kalau gue di GCP, gue dapat

speknya sepertiga atau

setengah kayak gitu.

Jadi, gue

pilih hosting di luar,

di luar GCP, hostingnya

di Singapur, terus semuanya gue taruh

di sana. Postgres, Redis,

API, website-nya

gue taruh semua di sana.

Jadi kalau mati,

mati semua.

Deploy-nya sekarang, gue pake

Ansible.

Jadi, ini

boleh gue share screen aja gak?

Boleh. Boleh banget.

Biar gak, ini dibilang,

apa namanya?

Entire screen aja lah ya.

Hati-hati diumpetin,

yang perlu diumpetin kalau entire screen.

Gue pake kursor.

Hidup kursor.

Jadi, tadi

saya punya...

Jadi...

Entenya, entenya. Hati-hati.

Ini ya.

Mana sih namanya tadi?

Ini cara deploy kan?

Gue deploy di sini.

Ini antara back-end sama front-end.

Ngefreech dulu, ngefreech dulu.

Jadi satu kayaknya deh. Monorepo

ya itu. Monorepo ya?

Jadi satu ya.

Ya.

Gue deploy-nya pake Ansible.

Jadi, standar

aja sih sebenernya. Kan ada

repo git-nya, kemudian

dibuild,

kemudian ada secret-secret,

disetup, disimpan ke server-nya,

terus dibikin nvar-nya,

.env file,

terus deploy API,

kemudian deploy

worker-nya, segala macem, itu

Ansible semua. Jadi kalau mau deploy

itu, sekarang komen-nya masih

dari VM langsung.

Ansible, Playbook, deploy gitu.

Jadi harus SSH dulu,

habis itu baru deploy gitu ya?

Ini tuh API-nya.

Kalau yang Astro-nya tuh ini

sebenernya.

Jadi,

kalau dilihat kan, sebenernya kan

yang gue suka itu emang kayak gini

doang. Kan ini HTML

semua ya. Gak ada JavaScript,

macem-macem. Terus

enaknya adalah

ini, CSS-nya

ada disitu juga sekalian.

Di Scope.

Dan kalau gue butuh JavaScript,

eh JavaScript, butuh client-side,

ini gak ada yang client-side ya.

Ini deh, GitHub login nih misalkan. Nah ini

gue taruh sumbernya disini.

Jadi kayak

jadi kelihatan gitu loh, kalau ada yang

perlu server-side, server-side-nya

di atas ini. Terus ini

UI-nya ini, CSS-nya,

terus script. Nah ini yang

paling gue suka sih. Karena ya patch

kalau yang patch itu

ini kalau gak salah.

Ini course.

Ini detail-nya ya?

Ya nah ini kan kalau pas di awal nih

kayak import

di server-side. Dia ngasih

tahu nih kalau bagian ini lo taruh nih akan dieksekut

di server-side. Jadi maksens gitu belajar ya.

Dan ini

semua codingenya, semua bagian

itu terjadi di server-side.

Ya, ke pause.

Pause dulu,

pause dulu.

Lanjut, lanjut, lanjut.

Nah misalkan ini kan tadi

ini kan ada yang orang udah daftar.

Ini kan login,

ini kan kekunci.

Nah ini render ini kan

kejadiannya di server-side. Jadi bukan di client-side nih

nunculin ini.

Jadi kalau ternyata dia belum

register, ceknya di server, ya udah.

Yang kegini untuk browser ya cuma itu kan.

Cuma si markup HTML

yang layar login.

Betul, makanya jadi maksens

kan kalau orang ngomongin, kalau lo ngerjain

server-side web.

Ting.

Pause lagi.

Ya, begitulah.

Terus putus nih.

Tapi ya itu.

Memang ini pahaya nih.

Kayaknya gue disabotase deh.

Ini nggak ada tukang basuh yang nonton.

Kita ngomongnya nggak ada yang aneh-aneh.

Kenapa disabotase?

Pakai protobuf nggak?

Oh.

Tuh.

Berarti nggak boleh ngomongin

gue, berarti nggak boleh ngomongin gue.

Macet lagi.

Macet terus.

Gini.

Kenapa ya?

Tadi pertanyaannya.

Ada VPN jalan nggak?

Nggak ada sih.

Ntar, apa VPN gue jalan nggak?

VPN gue juga mati. Kayaknya emang internetnya

jelek deh.

Kerennya kurang bagus malam ini. Unfortunately.

Tuh.

Nggak boleh ngomong itu.

Itu yang mana?

Kita cuma ngomongin Astrol.

Kita nggak boleh ngomongin Astrol gitu.

Kita cuma ngobrolin.

Iya.

Ngomong-ngomong Astrol baru ini ya.

Baru release versi 5 ya.

Sebenernya kita udah bahas nih

pas kemarin yang 5

masih beta ya. Kita udah

bahas, baca

blogpostnya sedikit kan.

Cuma yang kemarin masih beta. Sekarang

dirilis jadi

main.

Ya. Highlightnya

kalau nggak salah.

Server component. Server

server island.

Kan kita bahas juga tuh waktu itu.

Yang pertama content layer, kedua

server island. Yang tadinya kan

islandnya ada di client. Sekarang

ada di server.

Di client bisa. Di server bisa.

Ya. Dua-duanya bisa.

Terus yang nggak kalah

besarnya adalah

vt-nya di upgrade.

Oke. Imbrenya sudah muncul lagi.

Selamat datang kembali.

Sorry ya.

Tadi gue habis reset

modem mudah-mudahan aman.

Oh. Siap.

Habis nyalakan ini ya. Support ya.

Wah ini

websitenya Imbre,

favicon-nya pun masih astro ya.

Ternyata ya.

Gue masih skill issue.

Gak tau gimana cara ngerubah

icon-nya tuh gimana caranya.

Gak tau tuh. Masukin public

favicon.icon.

Gimana dia favicon-nya.

Ini ya. Ini diganti.

Ya. Cari aja favicon

spg ditimpah nanti.

Oh.

Ya itulah.

Skill issue.

Gak apa. Ini

lebih bagus dari buatan kita-kita

loh. Eh buatan gue maksudnya.

Kalau Eka maaf. Gue nggak punya gajalan

terus. Gak punya website.

Ya. Gak mesti course juga

maksudnya web gitu.

Oke. Tadi kita

sampai nanyainya.

Ada pertanyaan nih.

Pake protobuf nggak?

Oh ya. Protobuf. Tadi

udah dua kali nanyain.

Iya. Iya. Iya. Gue jawab ya.

Iya.

Pake protobuf. Iya. Betul.

Gue dari

sebenernya API-nya itu

HTTP.

Cuman pakai jrpc gateway.

Sebarangnya tuh jrpc.

Cuman ada HTTP layer-nya.

Nah. Si server side

dari si frontend-nya itu connect-nya

ke server pakai, ke API pakai

jrpc. Pake protobuf.

Oh. Memang agak suka akrobatik

aja.

Akrobatik itu maksudnya apa?

Akrobatik. Akrobatik.

Oh akrobatik.

Oh jadi server-nya dua.

Server render yang

di courses itu sama server

buat ngeserve datanya gitu.

Dua

entity yang beda.

Betul. Jadi gue tuh punya server API.

Jadi API.

Imbranagi.com

/wager. Nah. Coba aja buka.

Pasti nggak bisa.

Jadi itu tuh semuanya API

yang gue punya.

Jadi gue punya API payment di sana.

Kemudian API course itu juga di sana.

Jadi emang

dulu kan

aduh, putus ya.

Nggak, nggak, lanjut.

Lanjut, lanjut.

Jadi

dulu gue kan punya payment

waktu masih jaman-jaman

pakai Saweria itu.

Gue punya ini juga kan

akun di payment gateway.

Jadi gue cobalah bikin yang

abstraksi untuk itu dan

itu sekarang gue jadikan payment API

gue. Nah, tapi kan ada API

course juga. Jadi daripada gue taruh

di sana, jadi gue pindahin aja front area

server sendiri. Nggak call ke

API situ.

Dan authentication tuh

di API semua. Jadi Firebase

tuh ke API yang di belakang, bukan

ke course yang di depan data-datanya.

Oke.

Astro overkill.

Mari gunakan Next.js, wah. Kalau Imbranagi

udah coba Next.js tapi nggak masuk ya.

Iya nggak tahu sih. Menurut gue

lebih enak

Astro. Mungkin karena

kayaknya gue skill issue kali ya

pake Next.js. Kan sebenarnya course

gue tuh ini ya, lebih banyak markdown

ya. Dan Astro

itu udah by

bukan, native-nya udah support

markdown. Kalo

Next.js gue akrobat dulu.

Iya. Karena Astro itu

lahirnya dari content management kan.

Jadi bikin blog gitu awalnya kan.

Itu udah support.

Apa? Bukan dokumentasi sih.

Blognya Firebase kalo nggak salah.

Pake Astro kan. Betul.

Jadi ya itu.

Kemarin juga mikirin mau Next.js

nggak ya. Tapi Astro udah lebih gampang.

Terima kasih. Mungkin Next.js

lebih cocok ini

kali ya buat anak front-end yang sudah

bisa react. Iya.

Nggak masalah. Anak react banget.

Ya. Sementara Imbranagi kan

tadi ceritanya udah nyobain

react tapi nggak nyambungkan, nggak

seperti gitu. Karena ada client-side

rendering kah.

Walaupun bisa. Tapi maksudnya

bukan itu yang dicari kan.

Iya. Padahal sebenernya ilmunya

baru nyampe yang

request-response sederhana gitu kan.

Makanya dicari lah

framework yang

ya yang seperti itu.

Tuh. Silain Astro tadi

udah. Kayaknya karena ke

lanjut-lanjut-lanjut. Silain Astro

pernah pakai apa ya?

Yang mana nih jawab pertanyaan?

Tadi gue lupa.

Vue dulu tuh

ya tau-tau dikit lah. Tapi nggak pernah

Vue. Next.js.

Next.js yang masih

ya. Next.js itu

dari yang client-side sampai server-side.

Nah udah juga tuh.

Udah juga. Remix.

Remix. Pernah juga.

Pernah juga. Gue pernah nyobain Remix.

Pernah. Tapi Remix ini kan kayak

masih react banget ya?

Style-nya aja yang beda ya nggak sih?

Jadi akhirnya gue kalah.

Itu yang bikin react nya.

Berarti kurang

prefer ini ya sama

react gitu ya. Kurang cocok ya?

Bukan kurang cocok. Masih

bego aja. Masih nggak ngerti.

Nggak. Kan kalau framework itu kan

personal gitu kan.

Cocok nggak cocok. Kalo emang nggak cocok, ya nggak

cocok aja.

Iya sih sebenernya. Tapi

gue tuh akhirnya kalau nggak cocok itu kan maksudnya

lu ngerti cara memakainya.

Tapi lu merasa gue kayaknya nggak suka nih pake ini.

Iya kan? Kalo gue ngerti pun juga

belum di titik itu. Jadi gue nggak

merasa cocok gitu loh kayak

ya ngerti aja nggak gimana mau

tahu cocok atau nggak. Jadi kayak

gitu loh.

Tapi kan sebenernya cocok itu selain

personal feel, juga kan kalau misalnya

bikin produk kan mana yang

paling bisa paling cepet dan

paling efektif

bikin lo mencapai tujuan

produk itu kan. Berarti sekarang ya

bisa dianggap udah achieve kan.

Karena tujuannya adalah nge-launching

course biar orang bisa

beli course-nya.

Iya. Itu kan sebenernya bagian dari

nazar pemilu aja ini course-nya.

Apa itu? Bentar-bentar.

Apa hubungannya

dari pemilu sampai

bikin software course-nya?

Jadi kan gue tuh

cerita ini cerita lo juga

nggak tau kalau udah cerita kemaren

pasti. Jadi

gue tuh kan pengen

nge-tweet ya.

Tuh, ntar.

Dikonek nggak?

Kan nge-tweet ya waktu itu. Gue lagi habis

main ski malam-malam.

Di Indo tuh pagi. Gue masih ingat

di US tuh jam 7 malam. Gue habis

main ski. Terus gue lagi di mobil. Terus gue nge-tweet.

Kalau misalkan

Prabowo kalah, gue bikin

bootcamp software instrumentasi

gratis gue gituin kan.

Jadi walaupun gue belum tau

waktu itu Prabowo akan menang, gue udah mulai

bikin materinya. Karena gue pede waktu itu.

Pedelah.

Gue bikin

materinya. Gue bikin dari git.

Gue bikin gitnya dulu

markdown, kemudian

akhirnya

kalah kan. Akhirnya menang.

Terus gue tetap jalanin bootcampnya.

Tapi peserta bootcamp itu

ini, gue kasih

markdown doang. Jadi mereka baca dari

markdown. Terus habis itu

gue pikir gue bikin

Udemy-nya deh. Gue bikin Udemy-nya.

Gue bikin video sambil gue bikin video.

Kalau ada yang punya nonton Udemy

gue itu, itu videonya masih

markdown sebenernya. Belum yang

course web ini.

Jadi

di tengah-tengah, kepikiran

lah. Kayaknya gue pengen bikin webnya deh.

Biar yang, kalau yang baca juga enak

baca aja. Masa bacanya

markdown di GitHub lagi gitu kan.

Ya akhirnya, ya gue

bikin lah itu. Dan

sebenernya tujuannya ya biar

bisa jadi aja. Dan gue kepikiran

eh gue kalau pengen nanti bikin

course-course lagi, yang

sifatnya markdown, gimana caranya

biar nanti gue bisa pakai itu lagi.

Jadi makanya gue bikin kayak

sederhana gitu. Tapi isinya

markdown. Sekalian aja.

Kalau ada materi lagi bisa gue upload. Betul.

Oke, oke.

Nah, pas ngomongin ini justru

lancar ya audionya ya.

Malah lancar. Iya.

Habis keluar baru

nanti. Oh berarti, berarti

course-nya itu bisa dibeli

di courses.imrenagi.com

dan juga bisa di Udemy gitu ya.

Iya betul. Di Udemy

itu video sih sebenernya. Tapi kalau orang

beli video, gue kasih yang tertulisnya.

Oh, yang di courses

ini? Tertulis ya?

Bisa. Kan ada paket

hemat tuh. Paket hemat.

Paket hemat tuh cuma markdownnya doang.

Textnya doang. Tapi kalau beli video

dapet bonus. Apa maksudnya input

text.

Betul sekali.

Wah, menarik ya.

Nah, itu mah

ini aja akal-akalan. Bukan akal-akalan sih.

Kayak orang baru belajar

jualan lah. Kayak gimana ya.

Strategy pricingnya ya. Kayak gitulah.

Padahal, ya gak ngaruh. Padahal

akhirnya yang berpengaruh tuh emang kode promo juga.

Kode promo.

Tetep ya, di Indonesia

harus promo ya.

Harus pakai diskon.

Harus pakai diskon.

Iya nih.

Nah, ini pakai headless CMS

gak?

Nggak ya kayaknya.

Headless CMS nya apa sih?

Coba jelas kan.

Headless CMS.

CMS, Content Management Service

tapi hosted.

Jadi intinya sih kayak

hosted remotely.

Itu kita dikasih API

API key buat

manggil kontennya.

Intinya mah hosted database juga.

Cuma ada

UI, ada front-end buat

misalnya cerut lah.

Cerut udah gitu.

Misalnya

cuma bisa dikustom jenis

model datanya. Misalnya course.

Kita bikin course. Course itu fieldnya apa aja.

Itu tuh dikasih kayak

UI yang user-friendly.

Jadi kita gak harus

coding belakangnya.

Misalnya satu course itu fieldnya apa aja.

Pirip.

Ya, semacam gitu.

Kalau WordPress

WordPress asli kan

front-end-nya juga harus pakai WordPress kan.

Oh ya, kalau ini

cuma dikasih access

REST API atau GraphQL API aja.

Jadi misalkan

bank office-nya mau pakai WordPress, terus

front-end-nya mau pakai Astro, misalkan

dari WordPress-nya berarti connect-nya ke API.

Nah, justru gak butuh ya.

Maksudnya itu kan

Headless CMS biasanya kan

buat kalau yang

manage kontennya adalah

either orang yang gak

coding, misalnya kita punya tim yang buat manage

konten, atau yang

gak bisa bikin

nge-setup back-end-nya.

Jadi ya emang

kurang cocok.

Dan ini juga kayaknya masih cukup

sederhana karena permodul kan.

Dari modul ada bap-bap

kan, kayak buku gitu.

Ya maksudnya kayak satu chapter, satu

markdown file.

Iya, betul. Satu page, satu

markdown.

Dan sebenernya gue tuh jadi

emang kemarin tuh karena, kan awalnya

struktur course gue tuh agak beda-beda ya.

Ada sub-submodul

gitu kan.

Tapi pas ketemu di Astro ini

dia gak memungkinkan untuk melakukan

kayak gitu.

Lebih repot lah. Jadi akhirnya gue

putuskan ya gue ganti aja strukturnya

dan Astro ya.

Not bad lah. Makanya gue bisa bikin modul-modul

itu kan modul satu, modul dua, gitu.

Ya, ya, ya.

Oke.

Munculin komen dulu tuh. Bagus

penjelasannya masa CMS

tapi tanpa HTML.

Cuma ngeluarin JSON.

Bisa hosted, bisa self-hosted.

Oh iya bisa self-hosted juga sih.

Iya.

Yang satu-satunya ini, PocketBase.

PocketBase itu

untuk ini juga, headless CMS

itu juga.

PocketBase sebenernya lebih ke database

access service sih. Kayak

FireBase. Kayak SuperBase gitu ya?

Yes. Betul.

Jadi dia

lebih ke database.

Ya kan CMS juga, ujung-ujungnya

database juga kan.

Oke.

Wah.

Akhirnya di bawah-bawah juga

Nazar Pabilu.

Ya kalau ngomongin course online

yang gue bikin itu tuh emang

pasti sejarahnya dari sana.

Gimana dong?

Tapi gue berterima kasih juga sih, karena ini

gue akhirnya bisa bikin web.

Mantap. Mantap, Pak Prabowo.

Kadang, apa ya?

Maksa diri itu, jadi sesuatu yang

produktif ya. Jadi sesuatu yang

produktif, bahwa cuman

kayak koar-koar doang di

Twitter gitu ya.

Ada ini-nya ya. Ada hasilnya.

Ada rekomendasi

CMS selain sanity.

Sanity itu CMS ya?

Cuma pernah pakai

Strapi sebetulnya.

Oh Strapi.

Apa ya?

Asal use case kita nggak terlalu rumit.

Ya mau pakai sanity,

Strapi sebenernya udah cukup.

Sama dulu, apa sih tuh yang

bareng anak

bareng anak

Netlify punya CMS

nggak sih?

Coba tuh, Mas Zain.

Eh, Netlify atau apa ya?

Yang diwekas

warga-bantu warga?

Netlify ada CMS.

Direktus

yang waktu itu kita rekomendasikan, Direktus

kan ya?

Kalo nggak salah.

Strapi UI

UI-nya bisa dikustom nggak? Bisa kan?

Ini Headless kan?

Strapi bukan ya?

Iya sama ada setting. Ya

kalau sekustom misalnya

apa ya, text shield-nya dikustom banget

jadi gimana sih? Belum tahu ya. Karena

belum pernah pakai yang serumit itu. Cuma

opsinya banyak. Sampai even

color picker gitu. Itu aja ada.

Apa sih? Jamis-jamis field-nya

kita bisa milih.

Jadi ya custom bisa-bisa

aja. Cuma sekustom apa?

Bener kan, Mas Zain bilang bener.

Netlify CMS.

Ya, Netlify itu ada produk CMS-nya.

Nah, ini ada pertanyaan

tentang

monitoring front-end. Pakai apa?

Oh, pakai apa itu?

Sentry.

Sentry. Yang gratis-gratis.

Gratis-gratis.

Dan kebetulan

sebenarnya karena Astro udah ada

integrasinya sama Sentry, jadi kayak

cuma nambahin API key doang udah langsung

dikirim ke Sentry.

Ya, dan Sentry itu semua

framework atau meta framework

apapun keliatannya udah ada SDK-nya

deh. Jadi simple

banget kayak nambahin buat

ya apapun sih.

Kayak di tempat kerja gue juga pake

Sentry, Gravel lah,

HTL Polosan lah.

Oke.

Nah, terus kalau

misalkan nih, next-nya

ya jangan tunggu sampai pemilu

5 tahun lagi ya. Misalkan mau bikin

kursus baru gitu.

Kan ada pilu KD. Oh, tapi gak ada nasarnya ya?

Gak, gue pil kadang gak

terlalu ribut.

Kenapa? Gak ada nasarnya.

Mas Ivan nanya, kenapa?

Wah, mancing-mancing.

Mancing-mancing.

Kenapa?

Gak ada. Ini aja.

Kan waktu pemilu kemarin di US kan

aman. Kalau mau keluar-keluar aman.

Di sini weh, Pak. Bahaya, Pak.

Langsung jepang rumah, Pak.

Hati-hati.

Kalau misalkan mau bikin kursus lagi,

step-nya gimana tuh?

Dari baik dari

astronya, dari sisi

deployment-nya.

Kan ini gak

belum continuous

deployment kan ya?

Ini harus deploy manual ya?

Sebenernya

yang tadi

itu kan kayak ada

halaman depan yang

ada modul 1, modul 2, modul 3

itu kan. Nah, itu

sebenernya

dibikin pake

metadata JSON.

Jadi ini tuh ada metadata

JSON-nya.

Jadi, kalau

misalkan mau bikin kursus baru, tinggal define

1 kursus lagi, file JSON,

isinya kayak gini, yang buat ngel-construct

ini.

Kayak daftar isinya lah, gitu ya?

Betul. Yang kedua,

kan kalau scroll ke atas boleh gak masuk disana.

Nah, itu kan ada

title, ada description,

kemudian ada apa sih?

Gambar kucing. Nah,

itu tuh ada, udah ada, ya,

JSON-nya lah. Terus,

berikutnya, konten-konten

didalemnya tuh,

konten didalemnya itu sebenernya kan cuma markdown.

Ntar ada, apa sih kalau header

yang di atas tuh apa sih namanya? Kalo markdown

ada header. Nah,

front matter, front matter. Nah,

front matter, ya. Front matter-nya

itu tinggal nandain, ini tuh

buat user yang

kategorinya paid atau bukan,

kayak-kayak gitulah informasi itu.

Jadi, emang butuhnya cuma

markdown sama

yang metadata JSON tadi.

Oke, oke.

Sama satu lagi butuhnya

niat, satu lagi, buat nulis

untuk ngel-construct.

Kalau deployment mah,

tinggal klik aja udah selesai.

Oh, tinggal klik? Enggak perlu

SSH ke server semua gitu?

Oh iya, maksudnya tinggal SSH, terus

klik ya.

Kan, kalo

content kan bisa pakai

chat GPT sekarang.

Fun fact, ini bikinnya banyak

bukan chat GPT, apa sih?

Copilot, Copilot.

Copilot.

Dibantu sama Copilot.

Betul sekali.

Pernah punya pengalaman dengan angular?

Kayaknya enggak ya. Enggak ada.

Pernah lihat teman

waktu kuliah

S2 bikin

tugasnya pakai angular.

Udah itu doang.

Nggak tertarik, mau explore lebih jauh.

Nggak tertarik.

Jadi front-end

bisa CICD wajibkah?

Ini mah skill basic software engineer.

Harusnya semuanya bisa itu.

Semuanya ya.

CICD itu sebenernya

nge-define maksudnya step-stepnya

apa aja kan.

Bukan yang lu harus

nge-set up infrastruktur untuk CICD-nya.

Nggak. At least tau kalo mau

bikin CICD depannya

job untuk test, kemudian job untuk build,

kemudian job untuk deploy.

Itu harusnya mah. Semuanya bisa.

Bikin GitHub actions minimal bisa.

Betul.

Kalo mau bikin CICD ya jangan lupa.

Harus ada testnya dulu.

Jangan lupakan harus ada testnya dulu.

Buat apa CICD-nya buat apa.

Ya nggak guna ya, betul ya.

Ya paling buat nge-check

dependency doang.

Nge-check build doang.

Nge-check build doang pas udah di jalanin

bug semua sih.

Seberapa penting docker

buat anak front-end?

Seberapa penting docker

buat anak front-end?

Susah nih.

Gimana jawabnya ya?

Menurut Baika penting nggak dockeran Baika?

Ya penting buat

tau in general sih.

Minimal bisa

bisa baca dan bisa

edit docker file.

Bisa docker compose up

terus tau

docker itu

di deploy kemana.

Tahu cara kerjanya dan

tau cara pake yang basic. Cuma

rata-rata kalo

satu tim ada front-endnya, berarti kan ada role lain

yang kalo udah bingung,

kita ya minta pairing. Kan bisa aja

kan kalo udah rumit

harus nge-handle docker,

ya kita minta pairing dengan

rekan kerja yang lebih

accomplished. Tapi kalo kita nggak paham sama sekali

docker itu apa, gimana jalaninnya

ya agak sulit ya

buat kerja.

Itu ada poin menarik sebenernya.

Jadi kan

gue di tim infra ya. Maksudnya

banyak developer yang tiba-tiba bilang

waktu kita

bikin tools lah misalkan, kita pengen

nentuin batas

tersponsibility

software engineer tuh sampe mana.

Apakah sampe mereka nge-push

atau sampe mereka

nge-deploy atau sampe mana.

Jadi akhirnya kita bikin boundary

bahwa kalo tim product

mau nge-deploy sesuatu yang kita

terima tuh cuma docker file.

Jadi tim infra cuma tau lu mau

nge-deploy kesini docker file-nya

eh docker file, docker image-nya yang mana.

Jadi kalo kayak gitu kan

otomatis jadinya untuk

siapapun yang pengen nge-deploy apakah

front-end, back-end, mereka harus bisa

ngebikin docker file kan. Jadi makanya

dan emang menurut gue

itu penting untuk semuanya karena

masa lu coding tapi lu gak bisa nge-build

aplikasinya biar bisa

ready untuk di deploy.

Jadi ya kalo tanya penting gak penting

gue rasa penting.

Penting untuk tau lah paling gak

gimana caranya.

Ya kadang-kadang kan kita

bikinin Jenkins

workflow-nya dong.

Masa mereka yang bikin itu.

Kita bikin aja cukup kali.

Jenkins

yang berat pak. Jenkins.

Jenkins ketauan umur kalo

Jenkins.

Masih ada yang pake

lu masih pake loh Jenkins.

Masih banyak. Ada.

Travisci juga

masih pake Jenkins kan.

Masih pake Travisci.

Nah ini kadang-kadang

ada yang ada kita

terlalu dimanjakan ya sama

tools-tools seperti

Netlify, Versal

gitu ya. Tapi harus hati-hati

juga kalo kita commit

langsung ke Versal. Maksudnya commit abis itu langsung

di deploy itu bukan CI kan. Itu CD kan.

Continuous Deployment.

Tapi CI-nya belum ada.

CI-nya ya mungkin

harus dibikin di sisi

GitHub-nya kali ya.

Pake GitHub Action atau yang lain.

Kalo mau nge-deploy ke Versal

tuh pake komen kayak Versal

deploy kayak gitu ya?

Bisa di set up otomatis

malah. Apa

kita nge-push ke repo, ke branch ya

main branch atau kita bisa set up branch

apapun. Dia otomatis

jadi ya betul banget itu komennya

kalo anakron n

itu kayak dimanjain banget.

Yang balik ke topik awal tadi

jadi kayak udah bisa bikin satu

kan kalo punya ide gampang bikin produk

abis itu sekarang nge-deploynya

dimanjain banget. Tapi kan sebenernya itu

eventually bakal

bakal ngejebak

juga kalo

ternyata produknya harus scaling. Atau

kalo gak ngulik lagi dibalik semua

kemudahan itu ada apa.

Tapi kalo cuma buat prototyping emang gampang

banget sih. Push, get push.

Udah get push kan. Oh my CSH

itunya GP, enter.

Udah langsung ke build gitu.

Bisa connect ke github

bisa langsung juga kan dengan deployment

kan. Kalo connect ke github apa yang

kita push atau

pull request yang dimers itu akan

otomatis ke

build kan di versalnya.

Versalnya yang nge-build ya?

Iya.

Pantesan orang pada

gak tau cara nge-build front-end

gimana ya gara-gara versal.

Gara-gara versal.

Coba build front-end

kamu. Gak tau gimana.

Kamu nge-build ya? Komennya apa ya?

Iya.

Oh itu bisa jadi pertanyaan interview yang

bagus.

Build ke VM.

VM itu si Dain SSH.

Mati lu.

Ayo.

Iya. Kita

dimanjakan sekali memang si front-end.

Dan apalagi gratis kan.

Kayak Netlify, Versal

kan gratis. Ini udah gampang banget

gitu. Gak tau aja.

Ternyata Versal jualan.

Begitu free tiernya

begitu lewat dari free tier

jadi mahal banget kan. Nah,

terus begitu pada kena mahal,

begitu pada ke seringpet lah, begitu

kena, pada marah-marah

di tweet.

Terus merasa dijebak.

Padahal kan namanya orang jualan

bukan badan amal.

Tujur badan amal.

Iya juga sih. Padahal

padahal jebakannya itu dari, sudah

dari awal, sudah dari pakai framework

Ness itu udah terjebak

sebenernya.

Itu kan gue ngerosting Versal juga pas

talk gue di IDSW kemarin.

Wah gue gak nonton

yang hari kedua. Hari kedua.

Sore lagi terakhir.

Sengaja biar orang gak pulang.

Iya, tapi gue deg-degan.

Tapi masih rame ya sih.

Masih rame.

Gue roasting tuh Versal tuh

berapa kali ya.

Gue pakai Netlify sih sebenernya.

Website imbrenagi.com itu

blog imbrenagi.com apa imbrenagi.com

gue lupa. Itu deploynya

pakai Netlify.

No brainer lah.

Banyak pertanyaan.

Banyak pertanyaan, banyak komentar ya.

Kayaknya.

Apa lagi mau kita bahas?

Astro lagi naik daun?

Iya, Astro lagi naik daun.

Sebetulnya Astro kan

udah 2-3 tahun tuh. Cuma keliatannya

ya emang boomingnya

baru sekarang karena

apa ya? Mereka occupy satu

space yang kayak bisa dibilang

unik wah. Kayak gak ada kompetitornya

yang head-to-head.

Canggih tuh.

Astro.

Astro.

Abstraksinya untuk jadi

microservice. Apakah microservice

adalah jawaban?

Microphone end.

Kita kan pernah bahas

Microphone end kemarin.

Iya.

TLDR-nya adalah

kalo tim-timnya belum berantem

belum perlu.

Kalo udah berantem baru perlu.

Silahkan nonton

episode berapa ya?

Satu berapa sih tuh?

episode 105.

Menarik.

Kenal Evan Yu? Kenal. Tapi Evan Yu

gak kenal kita.

Kita ngerasa

kenal ya.

Evan Yu ini yang ngelis framework bukan sih?

Iya yang bikin view ya.

View change.

Dan ecosystemnya.

Dan ecosystemnya.

Kenal.

Kenal Evan Yu.

Back-end

pemula udah bisa API

apa lebih cukup?

API apa dulu?

Cukup buat apa dulu?

Cukup buat apa dulu nih?

Cukup.

Iya juga.

Definisi cukup orang

kan beda-beda.

Oh jadi mungkin dia

lagi belajar nih, belajar back-end.

Sampai udah bisa bikin REST API.

Apakah udah cukup terus mau belajar yang lain

lagi gitu?

Ya sebenernya kalo

kayak gitu sih cukup-cukup aja.

Apa ya maksudnya

gue kemarin belajar front-end

ini.

Misalkan tau

udah bisa connect firebase, udah bisa

bikin system authentication pake firebase

udah cukup. Tapi gue gak perlu jari

sampai dalam firebase tuh gimana

cara kerjanya segala macem.

Ya gue bisa lanjut ke yang lain.

Tergantung makanya definisi cukupnya.

Kalo mau belajar front-end

mendingan belajar langsung dari server aja

yang server render, bener.

Jadi belajar HTML, CSS

di render dari back-end

jadi biar gak terlalu jauh juga kan.

Kalo terlalu jauh ke front-end

nanti takutnya itu.

Akrobat, banyak akrobat.

Framework CSS

pake vanilla.

Berarti gak nonton tadi?

Berarti nonton yang pas tadi.

Oh bukan pure CSS ya?

Vanilla CSS ya?

Ya Vanilla.

Ketauan bukan orang web.

Ah teman-teman.

Saya pure blood.

Pure blood.

It depends.

Ya semua.

Kemarin kita di Surabaya juga jawabannya it depends.

It depends.

Paling gampang.

Itu udah pertanyaan template sih ya kayaknya ya.

Maksudnya kalo udah belajar RCPI

belajar apa lagi. Tadi autentikasi

autentikasi perlu.

Itu coba buka roadmap.sh

buat kalo ide belajar

pengen belajar apa.

Apa kan gak harus semua

diikutin persis plug juga

tapi ya bisa lah buat inspirasi.

Coba buka deh.

Kalo mau cari ini

bahwa belajar apa lagi itu

misalkan pas ngertiin sesuatu

nemu masalah apa, pertanya

terus pertanyaan itu dijawab dengan

mempelajari sesuatu

untuk menjawab pertanyaan itu lagi.

Misalkan pas ngerjain autentikasi

kok autentikasi ini ada JWT?

JWT apa sih? Belajarnya JWT.

Terus kalo penasaran kenapa JWT ini

ada 3 segmen.

Kita baca lah. Apa sih RFC ya?

RFC sekian sekian.

Jadi ya.

Bikin compiler.

Ini beda sendiri ini.

Bikin RCPI bikin compiler.

Emang makhluk yang satu ini

emang agak lain nih.

Bahaya ini.

Bikin browser engine lah.

Seru itu.

Dalam sebuah produk, biasanya nge-shape

API service itu anak backend atau frontend?

Atau dua-duanya?

Timelit.

Dua-dua aja ga sih?

Produknya?

Ya harusnya.

Produk kan bisnis.

Kalo yang ngantuin. Gua gatau ya.

Gua tuh kan heavynya

API. Dan API itu emang dibahas

sama ada meeting

meeting reviewnya lah.

RFC reviewnya. Jadi sebenernya

ya bisa dateng

dari siapa aja dan bisa dapet feedback

dari siapa aja. Jadi ga

ini atau ini siapapun boleh sih.

Kalo di tempat gue karena

sangking kecilnya timnya total

yang oding cuma 3 orang

yaudah meeting 3 orang sama

product lead.

Nah product leadnya kita

cacar, maksudnya apa?

Product leadnya akan

ngejelasin data yang dibutuhin

apa, kayak coret-coretan.

Ini ekspektifnya user-nya

mau ngapain. Ya maksudnya biar kita

ada gambaran. Nah biasanya sih

anak backendnya

bikin kayak kira-kira

bentuk datanya gini gimana.

Oh yaudah.

Tapi itu karena timnya kecil ya.

Kalo timnya besar, masa kalo

10 orang, 10 orang

ngobrol semua, kan mungkin ga ya?

Perwakilan kali ya berarti.

Oh berantem.

Pagi kalo semuanya pengen ngobong tuh waduh.

Wah

harus ada yang ngelit.

Leadnya curhat.

Tergantung leadnya berarti.

Leadnya berasal dari backend

atau berasal dari frontend. Kan ada tuh

beberapa company yang

yang apa

basenya itu dari desain.

Yang ngedrive product itu dari

desain. Nah itu mungkin dari frontend.

Jadi data-datanya itu didapat dari mockup

mungkin ya. Dari mockup.

Tapi ada juga sebaliknya. Jadi ya

tergantung. It depends lagi.

It depends.

Ini banyak yang bertanya

tentang PHP. Apakah masih relevant?

Cern aja masih pake PHP.

Eh ga tau sekarang ya.

Tapi masih lah.

Masih lah ya.

PHP baru aja rilis. PHP 84.

Masih lah.

Kenapa?

Ada isu apa dengan PHP? Kenapa

pada pengen PHP

nerelevan? Kenapa orang kalo

mau nanya sesuatu tuh, nanyanya

ini masih relevan ga ya sekarang?

Kenapa ya?

Ga tau. Sia aja C++

list pia aja yang tahun berapa tuh?

Masih relevan kok.

Iya.

Yang jadul-jadul juga masih relevan.

Atau mungkin isu

pertanyaan. Maksudnya marketnya kali ya.

Marketnya masih ada ga gitu ya?

Masih bisa cari kerja pake teknologi

itu atau engga? Mungkin kalo yang lebih

praktikal terjemahannya itu ya?

Iya betul.

Ada. Insyaallah. Perjeki ma di

tangan Tuhan. Bukan di tangan masa pemograman.

AC.

Siapa yang bilang?

Untuk

apa namanya?

Entry levelnya tuh PHP itu

masih yang paling murah menurut saya loh sebenernya.

Iya ga sih? Karena share hosting tuh

murah banget. Untuk bisa

bikin aplikasi upload ke

share hosting.

Ya meskipun katanya

bisa versel gratis sih ya.

Atau

Netlify. Tapi hosting PHP

gratis juga banyak dong.

Ada ga ada?

Ada, ada sih cuman.

Kalo di Versel bisa deploy PHP ga?

Ini serius pertanyaan

pertanyaan.

Gak bisa ya?

Ya kalo

Google App Engine aja bisa PHP.

AWS apa?

Lambda juga bisa PHP.

Semuanya mah bisa PHP.

Mungkin

akan lebih ini

jangan mikirin bahasanya

kalo mau relevan lama, jangan

belajar bahasanya, belajar pemogramannya.

Bahasa mah cuman tools kan.

Mau ganti-ganti

bahasa juga bisa gitu.

Jangan sampe terpaku kepada satu bahasa.

Bahasa bisa datang dan pergi kan.

Sama aja ga dipake lagi.

Atau sebaliknya sih kalo mau pragmatik,

pragmatik banget,

misalnya kita pengen nyari kerja

di industri apa, jenis-jenis

perusahaannya apa, atau organisasinya

apa, ya browsing aja

loongan kerja

terakhir atau misalnya apalah

blog tentang teknologinya,

terus

dia pake apa, yaudah

misalnya kita pengen kerja di

e-commerce startup,

yaudah tinggal cari aja kan mereka

pake apa, kita kejar pelajarin itu,

langsung dipake apply kalo mau yang

apa, kalo itu tadi kan yang

apa,

pendekatan yang idealis,

bahasa datang dan pergi, kita

skill pemprogramannya, yang penting kita

kuat, itu bisa. Yang pragmatis

banget sebaliknya yaudah langsung aja kejar

mereka pake apa, kita ikutin itu.

Bisa juga kan.

Kok jangan salah, developer

Cobol sekarang di gajinya gede banget.

Karena ga ada yang lain.

Ga ada yang bisa.

Itu di mana sih industrinya?

Industrinya di mana sih perbankan?

Banking.

Dan yang kayak gitu kan ga bisa ganti-ganti

tech-tech, seenak dulu ya

kalo dia penanggarannya.

Lo pikir perbankan sekarang pada pake rush?

Asli drama lagi nih.

Poor bankingnya minimal.

Masih Java sih minimal,

ga mungkin pake yang lain.

Nah senggol nih orangnya.

Senggol.

Di kamera gue yang masalah sekarang.

Tena sensor juga ini.

Tena sensor ini gara-gara ngomongin Rush.

1.000 juta kali lebih cepat.

500 kali improvement.

500 kali improvement.

Laravel. Oh iya bener.

Sekarang udah jarang yang pake

PHP. Banyakan

PHP deh jarang.

Banyakan Laravel dev.

Kalo Laravel sama Code

Igniter itu 2 framework yang berbeda

atau itu salah satu library?

Code Igniter itu apa?

Gue belum pernah denger.

Itu framework yang

lahir sebelum Laravel.

Tapi itu PHP juga kan ya?

PHP juga.

Gue tuh pernah ditanya

sama orang, "Mas bagaimana

pendapat mas tentang CI?"

Terus gue bingung, "CI?"

Maksudnya Continuous Integration.

Terus gue pasin itu,

CI maksudnya Continuous Integration.

Bukan, ini Code Igniter.

Maaf pak saya ga tau, saya bukan orang web.

Oh itu siapa yang nanya?

Di Bogor kayaknya waktu itu.

IOX Bogor.

Oh waktu itu ya?

Waktu talk abis talk gitu ya?

Apa ke Pak Dika ya pertanyaannya?

Kayaknya Pak Dika deh.

Tapi lucu-lucu juga.

Atau iya gue yang nanya ke Pak Dika.

CI itu Continuous Integration.

Bukan Code Igniter, kata Pak Dika.

Gue tanyain di atas.

Di depan.

Di rilis tahun 2006.

Kalo iya.

Masih dia, "Betko ini kita apanya?"

Iya sempet ganti-ganti

tangan kan.

Biar pindah tangan.

Yang develop awalnya itu Expression Engine.

Terus kemudian

mereka bikin

versi berbayarnya.

Mereka lepas yang open-source-nya.

Nyari Adopter.

Terus dapet Barclay.

Barclay apa gitu? Barclay University.

Terus...

Eh Columbia, Columbia.

Terus mereka lepas lagi. Sekarang

sudah di handle sama komunitas kayaknya.

CI 4.

Ini dong, Search Code Igniter.

Ada tutorialnya Pak Dika

Web Programming Unpass Tutorial

Code Igniter 4 untuk pemula

dari tahun 2020.

Iya. Ada videonya itu.

Ini Code Igniter itu

starts-nya digrab Rp19.000.

Laravel Rp79.000.

Jauh-jauh.

Kalo situs-situs berita tuh kayak...

Apa namanya?

Viva News,

OKZone, Compass itu

masih pake CI semua.

If doesn't break,

fix it.

Don't change it.

Kenapa pemerintah

Amerika ingin developer

berhenti menggunakan CID and C++?

Ini informasi dari mana?

Ada tuh emang tuh kemarin.

Ada ininya. Ada keributannya.

Kalo gak salah karena ini deh,

security

keamanan.

Karena kan C katanya unsafe kan.

Karena ada rust gitu.

Jadi yang safe itu rust gitu ya?

Katanya C gitu.

Kalo gak salah itu deh.

Karena alasan memory safety.

Nah ini ada

ini nih, ada apa namanya?

Prediksi.

Jadi kedepannya bahasa yang punya type system strong.

Kayak rust

yang bisa unggul karena compiler bisa

kasih feedback lebih strong.

Kalo bisa diplugin LLM bisa jadi

jadi bisa compiler reinforced

LLM.

Berat nih bahasanya ya.

Tapi kalo Go itu

strong type system juga kan ya?

Iya betul.

Go, Java kan masuk kan?

Iya Java.

Kalo di ini

kerjaan Mas Imre,

untuk devops segala macem

untuk automation

pake apa?

Go.

Gak unsieble gitu.

Oh iya kalo VM unsieble.

Tapi kalo

kan macem-macem automationnya ya?

Safe and puppet.

Dulu kita pake safe

tapi sekarang udah

unsieble.

Yang masih pake safe tuh Go Jack.

Go Jack masih pake safe.

Kalo di

kita tuh pakenya

unsieble.

Unsieble itu formatnya apa?

YAML ya bukan?

YAML, ya YAML betul.

YAML ya.

Prescript termasuk strong type

termasuk TypeScript juga strong type kan ya?

Enggak, TypeScript kan

di runtime dia gak bisa

TypeScript

TypeScript kan dia gak bisa

ngecek pas runtime kan?

Iya pas compile-nya

aja kan gak. Paling gak lulus

kompilasi aja.

Kita yang nge-setting

biar gak bisa

kalo di compile ke

TypeScript.

TypeScript tuh bahasa cosplay ya

bahasa web cosplay.

Nanti begitu udah

hasil kompilasinya

udah gak ada time lagi.

Belajar C++ masih worth it gak?

Nah tuh ada pertanyaan gitu.

Tadi baru lo bilang.

Tadi baru dibahas.

Masih worth it, worth it.

Insya Allah.

Belajar apa aja kayaknya worth it deh.

Asal belajar yang gak baik aja.

Belajar yang positif.

Tidak ada belajar yang

wasting time juga.

Tidak ada belajar yang sia-sia.

Mungkin gak sekarang ya.

Manfaatnya mungkin gak sekarang, tapi mungkin nanti.

Ada, sia-sia

katanya kalo ikutan bootcamp, ikutan

kurs-kurs itu

sia-sia katanya. Itu diitit.

Pernah denger, pernah liat.

Gak tahu.

Gak mau.

Yang wasting time itu maksudnya?

Iya.

Kan sia-sia kan wasting time

kan maksudnya kan? Sama kan artinya kan?

Beda-beda. Nanti kita mulai ini.

Gua udah hana-hana nih baris.

Mas Risa mancing-mancing.

Anjir.

Mancing-mancing pelan-pelan.

Siapa tanggung terpancing.

Bahasa.

Ini kayaknya makin-makin kesini orang padang gak bahas web ya.

Ada yang mulai nanya, "Kalau migrasi

dari nuker Swap ke Kubernetes?"

Emang bebas.

Terus ada yang nanya Web3.

Web3 kita gak tahu.

Kita gak tahu.

Gak ngerti.

Kita belum ada yang

main-main ke arah sana.

Oh tadi Mas Zain

kan suka Bitcoin. Bitcoin itu

masuk Web3 gak sih? Saya juga gak tahu.

Apakah coinnya doang?

Beda deh.

Web3 itu ada protokolnya. Cuma

gak tahu.

Belajar apa yang relevan?

Nah ini juga open edit

Tergantung lagi. Ketariknya

dimana?

Ketarikannya aja. Apakah

di backend, di font, di mobile gitu ya?

Kayaknya belajar semua hal dulu.

Kalau misalnya di bidang web ya, belajar dari

hulu sampai hilir. Sedikit-sedikit-sedikit.

Nah mana yang paling nyaman

dalam indis kita?

Kombinasi nyaman. Sama

ada prospeknya yang mau bikin

produk sendiri kayak mau ngamar kerja.

Punya yang

bisa dipakai buat

cari makan.

Ya betul, betul. Gue setuju itu.

Kayaknya orang kalau mikir, kalau mau

belajar paling aman itu dulu kayak

belajari sesuatu yang udah

bisa dapat uang. Kalau udah dapat

uangnya baru lah cari belajar

hal-hal yang diluar itu.

Pragmatis dulu baru idealis ya.

Tapi kalau kita segitu gak sukanya

dan terus kita gak jago juga, ya gak bisa

buat cari uang juga kan. Jadi tetap harus

ada faktor X.

Faktor jojok-jocokan juga sih.

Oke, sebelum

semakin ngelantur, mungkin

udah handu ya. Ini komennya kocok-kocok sini.

Kita mau baca

lucu sekali. Saya mau ini

sampaikan ke penonton, mohon maaf

hati ini agak diem.

Karena produksi

saya lagi kebakaran.

Kenapa gak ngomong dari tadi?

Gak, ijin di chat.

Udah ngomong di chat, di private.

Oh, gak baca. Sorry, sorry, sorry.

Sambil kerja.

Risiko ya.

Baru join, ya

telat. Kita mulai dari jam 8 tadi

udah ngobrol banyak.

Seru lagi.

Sekarang. Mudah-mudahan nanti kita bisa

udang-udang lagi ya.

Masuk daftar wishlist episode selanjutnya.

Topik prediksi.

Oh iya.

Bulan depan, tahun depan.

Protocol ini baru ya?

Yang dipake Blue Sky.

Cuma, diluar Blue Sky

dia sebetulnya ada protocol sendiri.

AT Protocol. Jadi, maksudnya

kita mau bikin product, kita mau

bikin service lain yang diluar

Blue Sky, mau pake AT Protocol

bisa.

Oh, namanya AT Protocol.

Sial.

Sama kayak apa? Mastodon juga bikin kan?

Fading Force ya, gitu.

Tapi udah ini belum? Sudah standard

belum? Apa mereka cuma kayak nyaplok

"Gua mau pake protocol ini buat

gua", gitu.

Jadi kayak ada bagian yang W3C

standard, tapi maksudnya

nah, itu rumit sih. Belum ngebaca

sejauh itu.

Jadi kayak ada bagian yang

W3C standard, tapi nggak semua.

Belum semua.

By the way, sebelum kita tutup, pengen

nanya nih ke Om Imre.

Kisi-kisi resolusi

2025.

Apa rencana 2025-nya?

Nggak tahu. Sebenernya, bingung sih.

Terus sekarang nggak pernah punya resolusi

Tahunan sih. Gua mengalir aja.

Tapi udah pake 4K, kan?

Di rumah.

Kapan 4K? Resolusi.

Resolusi.

Nah, soundboard jokes.

Ada sound effect, ya.

Kita bikin soundboard khusus untuk

joke-nya Ivan.

Anjir.

Ini baru bilang 2025 ganti kantor.

Bikin compiler sendiri.

Gak, gue sebenernya 2025...

Ada yang suruh resign, coba.

Ada yang suruh resign bikin

startup. Nggak lah. Terus lah.

Silahkan, silahkan.

Apa ya? Nggak ada sih sebenernya.

Kalau ditanya pengen...

Kemarin gue habis bikin tweet

2025 pengen belajar apa.

Iya, pengen belajar apa?

Iya, orang banyak bilang DevOps, DevOps.

Tapi gue sebenernya udah cukup muak

ya karena setiap hari gue berkuta dengan itu.

Bukan belajar itu lagi.

Maksudnya, bukannya

yang ikutin dikit-dikit aja lah.

Tapi 2025 gue pengen

belajar low level.

Kayak belajar network.

Embedit tadi ya.

Embedit programing ko.

Embedit AI ya.

Sama, ya dikit-dikit AI lah.

Biar masih bisa jalan-jalan.

Gini.

Amat.

Tuntutan ini ya, tuntutan.

Biar di-approve ya.

Itu 3 itu sih.

Network, embedded, sama satu lagi AI.

Pengen cobain deploy model sendiri.

Ya, paling model.

Ya, open model lah.

Tapi pengen cobain.

Berarti nanti di apa?

Di channelnya.

Ya, mau lagi di-punching lagi.

Udah popular, masih di-punching.

Di channel yang harus gue coba nih.

Mas Riza atau Mas Riza?

Mas Riza, Mas Riza.

Kalau di channel YouTube,

gue terus terang belum tahu.

Kemarin niatnya pengen bikin video-video pendek.

Ngebahas kayak,

kan terakhir gue ngebahas tentang

connection ya, kayak

performance tuning database connection

itu kayak gimana, kayak gitu.

Paling pengen bikin video-video kayak gitu, tapi

belum nemu waktunya.

Materinya udah banyak.

Listnya, tapi belum ke-execusi.

Ya, mudah-mudahan bisa

konsisten lagi lah.

At least satu video, satu bulan, misalnya.

Mudah-mudahan.

Ada rencana mau

ke arana politik gak?

Oh, belum.

Anjir, komen-komen yang senada

banyak gitu.

Soalnya kalau gue

streaming jam segini tuh, orang udah

ngacau-ngacau komennya.

"Tentang ini lah, pindah kesini

semua nih orang-orang kayaknya."

Masa kemarin di Bali ya?

Se-liar ini lho.

Di Bali kan gue dateng kan

mau ke ruang workshop, terus abis itu

ada tiba-tiba, "Mas,

gak bahas pemerintah, nanti mas katanya."

"Ini gitu ya?"

Berarti

branding lo udah kuat

di situ.

Kayaknya gue harus maju nih nanti.

Tapi,

lawan Jan Etes ya nanti ya.

Wai!

Aduh, aduh, aduh.

Tolong-tolong cukup kan ya.

Kenapa channelnya Emre?

Emre Emre, mampir-mampir.

Mudah-mudahan gak kapok

diundang lagi kapan-kapan.

Anjir, komennya ngacau semua.

Maju merah lah, gimana?

Cukup, cukup, cukup.

Salah pakai baju.

Kita ketemu lagi

kalau sama Emre, ketemu lagi

di lain waktu.

Selamat malam, mungkin minggu depan.

Selamat malam.

Sampai jumpa lagi.

Bye-bye.

Deskripsi asli dari YouTube

Yuk mari kita diskusi dan ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia web. Agar tetap up-to-date dengan teknologi web terkini. Topik, tautan dan pertanyaan menarik bisa dilayangkan ke https://ksana.in/ngobrolinweb 📖 Rangkuman: - 0:00 Mulai - 3:44 Pengalaman dengan Berbagai Peran. Punya latar belakang beragam mulai dari iOS Engineer, Android Engineer, hingga Cloud Engineer. Memberikan perspektif yang luas dan membantu memahami cara berpikir anggota tim dari bidang lain. Ini menunjukkan pentingnya p Kunjungi https://ngobrol.in untuk catatan, tautan dan informasi topik lainnya.

Episode Terkait

Bagikan:

Suka episode ini?

Episode baru setiap Selasa malam. Dengarkan lewat YouTube, Spotify, atau feed podcast favoritmu.

Pilih Cara Langganan

Memuat komentar dari GitHub Discussions...

Jika komentar tidak muncul karena ekstensi privasi / adblocker, kamu bisa berdiskusi langsung di GitHub Discussions .