Ngobrolin React+Komunitas
Ringkasan Episode
Bantu KoreksiEpisode ini kedatangan beberapa penggerak Komunitas React Indonesia, dan dibuka dengan perdebatan klasik: React itu pustaka atau framework? Kesepakatannya pustaka — yang disediakannya adalah cara merender antarmuka lewat virtual DOM, sementara ke mana hasilnya digambar bisa bermacam-macam: React DOM untuk web, React Native untuk ponsel, custom renderer untuk UI game seperti Battlefield 1 milik EA, bahkan Ink untuk aplikasi terminal. Framework justru berdiri di atasnya — Next.js di atas React. Bagian yang paling menarik adalah cerita di balik pilihan desainnya. React memakai class di masa awal karena saat itu gaya berorientasi objek sedang jadi arus utama à la Backbone, dan tujuannya membuat pendatang merasa familiar sebelum akhirnya diarahkan ke gaya fungsional. Ada pula sisi strategisnya: React muncul tepat ketika pengguna Angular 1 melihat Angular 2 yang berubah total — dari MVVM menjadi full class, dependency injection, dan taruhan pertama pada TypeScript — sementara satu-satunya saran migrasi yang ditawarkan adalah menulis ulang seluruh aplikasi. Banyak yang akhirnya melirik ke tempat lain. Perkembangan terbarunya juga dibahas: Next.js sempat gagal pivot ke static, lalu bermain di serverless, dan akhirnya mengambil banyak ide progressive enhancement yang dipelopori Remix, yang dituangkan jadi App Router di Next.js 13.4 berkat React Server Components. Setengah episodenya justru tentang komunitas, dan ceritanya jujur. Komunitas React Indonesia tidak punya pendiri tunggal maupun ketua — ia tumbuh dari beberapa gerakan akar rumput yang berjalan sendiri-sendiri di Telegram, Discord, dan kanal masing-masing. Upaya menyatukan semuanya ke satu tempat pernah dicoba dan gagal, karena komunitas bukan perusahaan yang bisa diperintah pindah; orang tetap hidup di tempat yang sudah nyaman bagi mereka. Yang aktif sekarang menyebut diri sekadar penerus, bukan pemilik, dan terbuka bagi siapa pun yang mau ikut menghidupkan. Ditutup dengan pengakuan bahwa meetup pun tidak harus formal — berkumpul dan mengobrol spontan sudah cukup.
Poin-poin Utama
- •React disepakati sebagai pustaka, bukan framework: yang disediakannya cara merender antarmuka lewat virtual DOM, sementara Next.js justru framework yang berdiri di atasnya
- •Karena itu React dipakai jauh melampaui web — React Native untuk ponsel, custom renderer untuk UI game seperti Battlefield 1 milik EA, bahkan Ink untuk aplikasi terminal
- •React memakai class di masa awal karena gaya berorientasi objek à la Backbone sedang jadi arus utama, jadi pendatang merasa familiar sebelum akhirnya diarahkan ke gaya fungsional
- •React tumbuh tepat ketika pengguna Angular 1 melihat Angular 2 yang berubah total — dari MVVM ke full class, dependency injection, dan TypeScript — dengan satu-satunya saran migrasi berupa menulis ulang seluruh aplikasi
- •Next.js sempat gagal pivot ke static lalu bermain di serverless, dan akhirnya mengambil ide progressive enhancement yang dipelopori Remix menjadi App Router di 13.4 berkat React Server Components
- •Komunitas React Indonesia tidak punya pendiri tunggal maupun ketua — ia tumbuh dari beberapa gerakan akar rumput yang berjalan sendiri-sendiri di Telegram, Discord, dan kanalnya masing-masing
- •Upaya menyatukan semua kanal ke satu tempat pernah dicoba dan gagal, karena komunitas bukan perusahaan yang bisa diperintah pindah — dan meetup tidak harus formal, berkumpul dan mengobrol spontan sudah cukup
[Pinggiran]
Halo, halo, halo.
Halo.
Halo.
Selamat datang.
Oh bukan satu orang.
Aduh gagal.
Gagal.
Gagal.
Yang saya temukan dulu dulu.
Gak apa-apa.
Oke.
Penampakan.
Oke selamat malam semuanya.
Selamat hari Selasa.
Seperti biasa.
Ketemu lagi sama kita bertiga di Selasa Malam.
Karena Selasa Malam adalah waktunya ngobrolin web.
Ngobrolin web.
Malam ini kita tidak hanya ada saya Riza.
Ada Eka dan juga ada Ivan.
Kita bakal kedatangan bintang tamu banyak malam hari ini ya.
Rame.
Penuh ini layar ya.
Jadi kita.
Lebihkan udah deficit isinya ya.
Kita bakal kedatangan.
Udah kelihatan tadi ya.
Kita dapat kehormatan ada yang berkenan singgah nih.
Di acara ngobrolin web malam hari ini.
Lihat transkrip lengkap (3116 segmen lagi)
Yaitu Komunitas React Indonesia.
Kita langsung kenalan aja.
Yang duluan masuk tadi nih ada yang Zain.
Halo Mas Zain.
Halo.
Halo.
Warnanya sudah tidur?
Sudah tidur.
Oke mantap.
Oke.
Mungkin kenalan singkat lah.
Kenalan singkat siapa Mas Zain.
Udah tahu lah.
Udah sering juga muncul kesini kan.
Kenalan sedikit aja lah.
Ya penonton lebih kenal Mas Zain daripada.
Kayaknya.
Enggak juga.
Ramean sini kayaknya yang nonton.
Ya jadi.
Ini masih ada background nya belum saya ganti.
Saya anak React.
Dan suka ngobrol.
Suka ngobrol.
Terus bikin onar.
Jadi bikin sesuatu namanya obrolan anak React.
Di singkat onar.
Singkatannya onar.
Onar.
Para pembuat onar.
Para pembuat onar.
Oke nanti kita ngobrol-ngobrol lebih panjang lagi ya.
Berikutnya.
Nah ini satu-satunya bintang tamu yang kelihatan mukanya yang lain gak mau.
Ada Haidar.
Halo Haidar.
Halo.
Ini logo saya.
Nanti ada yang logo semua.
Nanti habisin.
Nanti ada logo semua.
Halo.
Nah ini ada mukanya.
Ini nama Nizain lah.
Ini ada mukanya.
Berkenalan saya Haidar.
Ya biasanya memang pakai React buat kerjaan ya.
Udah berapa tahun lah ya.
Terus ke bulan ya ini lah.
Sering juga bareng Zain ngerjain project juga.
Beberapa waktu.
Ya.
Next.
Ada Rezy.
Ini segen juga di onar ini.
Iya segen nih.
Next nya ada Rezy.
Halo.
Saya satu lagi wajah misterius yang cuma logo.
Kalau aku nyalain cam ini emang benar-benar gak nyala.
Itu cuma-cuma orangnya doang.
Biasanya green screen ini orange screen ya.
Benar-benar gak ada.
Totalitas web camnya emang mati.
Makin misteriusnya gak ada webcam.
Jadi aku Rezy.
Salah satu leader juga di komunitas React Indonesia.
Saya juga live streamer kalau malem-malem.
Sama juga salah satu initiator project penerjemahan.
Dokumentasi React ke bahasa Indonesia.
Ya mantap.
Dan terakhir yang ditunggu-tunggu.
Ada.
Ada logo juga.
Bacanya apa nih?
Rin.
Hallo Rin.
Halo mas.
Halo semuanya.
Perkenalkan nama aku Rin.
Dia udah aktif juga di komunitas Ria.
Bantu-bantulah.
Aku tukang bantu-bantu di belakang ya layar aja.
Yang apa namanya?
Kalau kata mas Fahmi gak cari muka ya.
Cuma ngurusin antar muka aja.
Antar muka.
Oke.
Kita mulai diskusi kita dengan pertanyaan pertama.
React itu library apa framework?
Enggak.
Kalau saya bilang sih ya.
Kalau saya bilang sih library ya.
Library karena sebenernya yang disediakan React itu cuma virtual domnya.
Jadi virtual dom.
Jadi kayak React itu udah library untuk bermain dengan yang namanya virtual dom.
Virtual dom itu semacam dom.
Cuma kita bisa lebih melakukan hal-hal yang lebih interaktifnya itu.
Jadi React itu sebagai library bisa juga kita render ke web dengan library namanya React dom.
Dan juga ke native dengan React native.
Dan juga banyak hal-hal yang lain yang bisa dilakukan dengan React.
Contohnya salah satunya ada aku pernah baca bahkan UI game itu pun ada beberapa yang dipakai di React.
Kalau nggak salah aku inget Battlefield 1.
Buat tanya EA itu kalau nggak salah UI-nya dia pakai React.
Cuma dia bikin custom render supaya bisa masuk ke game engine-nya.
Ada juga yang itu kan buat apa?
Buat aplikasi terminal juga ada kan.
Oh iya bener-bener.
Banyak ya?
Warp? Eh bukan.
Gimana-gimana?
Warp? Bukan.
Oh bukan.
Kalau nggak salah Ink.
Ink.
Ink.
Ink CLI.
Nah cuma ini kayaknya bukan library atau framework tuh opini native ya.
Kayak Swept coba.
Swept sering disebut framework kan.
Padahal kalau mau pedantik banget mau spesifik, tadi kompiler.
Iya makanya.
Bukan Swept tapi Swept.
Swept-nya kan cuma bikin JavaScript buat ngerender dong.
Kalau Svel kan mereka punya framework yang berjalan di atas Svel, contohnya Svelkit.
Kalau di React sama, di React itu ada framework yang berdiri di atas React.
Contohnya Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js, Next.js.
Itu disebutin di dokumentasi React juga, ada di itu.
Nah masuk di dokumentasi React nih.
Jadi kita udah sepakat ya, React itu library dari meta, kalau mau cari meta framework, carinya apa?
Merender DOM, intinya buat bikin DOM, bikin UI ya.
Ya.
Oke, kita lihatin ya, dokumentasinya ya.
Gimana, gimana?
Lebih hardcore-nya lagi ya, React adalah data.
Wih, ini udah lagi.
Kalau sama Om Brin, React adalah fungsi.
Oh ya, kalau itu kan betul.
Funksional guys, keras.
Nah ini pertanyaan, sebenernya pertanyaan saya nih, mungkin langsung aja berhubung udah dicolek ya Rin.
Pertanyaan ke Rin, kenapa dulu React itu pake kelas, enggak langsung ke channel aja.
Rial, dari apa ya? Bikin susah tau enggak inibigrasinya.
Saya mau sedekas komponen puluhan.
Ini apa namanya, kalau dari kelas itu kan proses transisi ya.
Buat ngakusi si user Javascript yang udah ada gitu ya.
Jadi untuk memperkenalkan React itu ada loh kayak gini.
Dan di jamannya itu kan orang-orang masih hype-nya banget soal kelas.
OP gitu ya?
Ya, belum banyak hal internal React yang dipecah seperti sekarang.
Yang kayaknya ada hoax dan lain-lain udah kepecah-pecah kan.
Dulu masih satu kesatuan lah, makanya disatuin dalam bentuk yang namanya kelas.
Dan dulu juga pas-pas IS-6 juga udah mulai muncul semacam kelas, itu langsung mereka bikin abstraksinya buat yang kelas kan.
Karena lagi hype-nya salah satu pertimbangannya.
Tapi kalau mundur lagi sebelum kelas, ya itu capek sih kita nulisnya.
Karena mirip kayak klojur, banyak buka kurung, tutup kurung, ada list-nya, buka kurung, tutup kurung lagi.
Selamat datang kelojur jadinya.
Bener nggak sih asumsi saya kalau React awal-awal dulu masih pakai kelas itu kayak mau ngambil market yang kelas pakai kelas itu kayak backbone.
Kita langsung jujur aja.
Kita langsung jujur aja ngular.
Kalau kita ikuti dokumen langsungnya React kan, dia pertama kali diintroduce, kita itu timnya pakai ngular nih.
Sekarang kita bikin liberasi sendiri, itu kan kata Jordan dan siapa tuh IM-nya? Tom Muccino.
Ya kan awalnya juga mereka bikin buat ini kan kayak yang buat merayu orang-orang yang awalnya dari Angular 1, mereka ngeliat Angular 2 yang perubahannya sangat banyak.
Extreme perubah semua.
Karena kan dari Angular 1 ke Angular 2 itu kan dia perubahannya ekstrim banget.
Dari yang awalnya bener-bener ya yang cuman MVVM doang, langsung kayak bener-bener full class, full dependency injection.
Langsung yang pertama kali betting on TypeScript juga kan.
Jadi awalnya orang nggak itu kayak agak terlalu, wah ini perubahannya terlalu banyak nih.
Dan sayangnya yang cuman bisa disediakan Angular buat yang pas kalau orang nanya strategi migrasi kayak gimana, mereka cuman bilang ya fully rewrite the app.
Jadi ya orang bilang nggak mau ya udahlah. Mereka ngeliat tempat yang lain dan mereka ngeliat React.
Kebetulan React juga di sedang di market.
React manfaatin buat akwisisi developer maksudnya, market developer.
Ya akwisisi marketnya yang ex-angular ini.
Ex-angular.
Dan lumayan berhasil sih. Kebanyakan perusahaan kan migrasinya dari Angular 1 ke React sekalian, bukan ke Angular 2.
Angular 1 sama Vue masih ada kedekatan sejarah ya.
Dan Angular itu kan perlu waktu yang lama untuk jadi kayak benar-benar orang nganggep itu serius kan. Kayak Aya ini kan kayak fitur-fitur baru Angular kan kayak udah mulai kayak mulai kayak orang ngeliat kayak udah mulai baru menarik kan kayak wadah signals dan semacamnya.
Tapi itu butuh waktu lama dari Angular 2 ke Angular, sekarang Angular berapa sih yang baru?
Udah banyak banget. Udah belas-belasan.
Dan yang bikin Angular awalnya sekarang udah bikin framework baru lagi namanya Quick.
Yang perspektifnya beda banget malah.
Lebih mendekat ke React dan JSX ya sebenarnya.
Dulu itu setiap muncul framework baru kita ada komentar baru. Tek.js Indonesia, Vue.js Indonesia, Angular Indonesia gitu kan. Lama-lama kita capek bikin terus kan.
Orangnya samas.
Itu aja dulu itu nggak berkenyakit kan dulu. Teknologi baru, organisasi baru.
Benar-benar.
Masih nggak kayak Polymer.
Polymer Indonesia ada apa?
Ada, ada.
Ada.
Ada Polymer ID 27 member.
Oke, oke. Sekarang kita ngobrolin soal ini nih komunitas kan temen-temen semua yang kita undang di sini kan.
Ada Rezy, ada Aydar, ada Mazzain, ada Rin.
Itu inilah ya yang menggerakkan komunitas React Indonesia kan.
Mungkin bisa diceritakan sejarahnya gimana dan kegiatannya apa saat ini gitu dan pengalaman-pengalaman menarik seputar komunitas.
Kalau sejarah sebenarnya yang paling tahu sebenarnya yang awalnya Mas Riza harusnya.
Sebelum saya belajar React waktu nonton streaming talk-nya Mas Riza.
Jadi ada di Indonesia di Jakarta terus di streaming kalau saat itu.
Terus saya nonton dari Bandung.
Waktu itu saya masih belajar front-end malah karena masih jadi anak backend waktu itu.
Terus jadi sebenarnya kita ini jauh lah dari pendiri atau penemu atau apa ya.
Kita cuman berani ngasih label diri kita mungkin co-organizer gitu.
Karena kan ya kebetulan aja sekarang yang aktif menjalankan.
Tapi sebenarnya yang bikin itu bukan kita-kita karena waktu dibikin pun saya sendiri masih belajar gak tahu yang lain gimana.
Tapi intinya waktu awal itu yang saya tahu kan ada Mas Riza, ada Sony.
Yang bikin itu sebenarnya Sony, Sony Lazuardi sebenarnya.
Sampai bikin select-nya juga kalau gak salah dulu itu.
Dulu masih select ya.
Belum bener discord.
Terus kayaknya dulu lumayan bisa dibilang gerakan akur rumputnya banyak juga.
Jadi kan Sony bikin select dan meet-up-nya ya.
Terus ada yang bikin telegram grup itu Mas Jun.
Aprian Junior.
Ada yang bikin Facebook group juga ya.
Group itu Mas Azam.
Jadi sebenarnya kalau dibilang gak ada ketuanya atau gimana sih.
Yang penting yang jelas gerakan akur rumput aja masing-masing punya tempatnya sendiri untuk berdiskusi gitu kan.
Cuman memang kalau bicara meet-up-nya sendiri yang awal itu dari meetup.com itu kan yang dibikin Mas Riza, Sony dan kawan-kawan.
Kalau sempet vakum sesaat kayaknya 1-2 tahun mungkin ya Mas ya?
Iya.
Itu meet-up pertama tahun berapa itu?
Pas Sony ngajakin bikin, terus kita bikin meet-up pertama.
Saya jadi pembicara ngomongin GraphQL waktu itu.
Habis itu dia cabut ke Singapura.
Terus saya tinggal sendiri.
Berapa tahun berapa?
Berarti korban-korban ya juga ya.
2016, 2016.
Terus kan belum jadi fungsional ya, masih kelas itu. Belum ada buk.
Jadi akhirnya saya cari teman, ngajak teman-teman dari CodeFox.
Salah satunya ada Simon Sturman.
Ada Juang juga sempet misi beberapa kali abis itu vakum.
Baru abis itu diambil alis sama Mas Zain dan teman-teman.
Dewa Alipun sebenarnya sifatnya lebih ke momentnya waktu itu JSConf Asia 2019.
Waktu saya kebetulan dapet kesempatan buat ngisi di sana.
Reisi juga datang.
Saya sebenarnya sudah tau Reisi dari lama.
Itu cuma untuk ikonnya aja.
Dulu ikonnya bukan ini dulu.
Ikonnya versi yang sebelumnya lagi ada.
Akhirnya versi sebelumnya ada, ada versi sebelumnya lah.
Ini versi apa nih?
Ini versi kedua.
Oh versi kedua.
Ini cuma untuk ikonnya doang.
Terus liat ada orang di depan saya kok namanya Reisi Gun.
Jadi setelah saya daftar itu saya langsung cari yang mana orangnya.
Cuman nggak pakai kawas atau badge apapun yang ada lagunya itu ya?
Nggak.
Cuman saya sering lihat ada anak yang reisi lagunya ini.
Tapi saya nggak tau aja yang mana.
Pas ketemu di live event bingung.
Tapi akhirnya saya cari langsung.
Karena pas banget kan registrenya sebelahan setelah saya.
Langsung saya cari, ketemu.
Oh ketemu di sana ya?
Iya ngobrol-ngobrol di sana.
Kewakilan dari Indonesia ada siapa aja Mas?
Apa?
Oh di B.Com si yang dari Indonesia, ada siapa aja?
Ada aku, terus ada satu temen lagi lupa siapa namanya.
Yang membicara Anzali juga.
Mas Anz ya?
Anz ya.
Kayaknya saya ingat-ingat siapa aja dia yang ketemu di Subway abis conf.
Setelah konferensi itu kita bikin Subway conf.
Karena Reisi pengen Subway.
Oh Reisi pengen Subway ya.
Waktu itu udah ada di Subway ya.
Ya udah ada di Subway.
Baru sekarang ada ya.
Ya udah dari situ kita ngobrol-ngobrol.
Dan kebetulan ternyata masing-masing di situ pada sukari ya.
Akhirnya kita bikin.
Itu kan bulan, itu kayaknya ukurannya lebaran lah.
Lebaran tahun itu.
Terus bulan Juli nya, kebetulan saya pas ke Indonesia juga ada tugas kantor kan.
Di pasnya aja tanggalnya pas saya ke Indonesia sekalian aja kita selengarain.
Dan dari situ kita mulai nih kelompok organizer yang ini.
Ya saya sih bukan kayak take over.
Cuman kayak diteruskan ke generasi selanjutnya gitu kan.
Yang generasi-generasi sebelumnya.
Yang generasi.
Ya yang bang Riza itu kan udah kayak lama nggak nyentuh kan.
Jadi ya yang berminat kayak generasi gitu lah.
Kalau dibilang memiliki sebenernya mungkin yang literally kita miliki adalah kepemilikan terhadap GitHubnya mungkin ya.
Jadi yang jadi admin GitHubnya itu sekarang kita.
Tapi kalau yang jadi admin di Facebooknya tetap Mas Azam.
Yang jadi owner di grup telegramnya tetap Mas Jun.
Itu masih aktif semua di semua channel itu masih ada aktivitas.
Atau sekarang udah kayak udah biar nggak pusing.
Misalnya dipusatin di telegram atau di discord atau di mana gitu.
Ya jawabnya yang serius guys.
Sorry ya jawabnya serius nih kadang ini belum ada faedah.
Faedahnya pendahwin silaturahmi.
Ya faedahnya ya nggak ada faedahnya karena emang biasanya kita bikin onak kan.
Ya kan kita juga.
Begitulah beranak-anak bikin onak.
Ada yang tanya Q&A tuh apa semua yang punya pertanyaan lah langsung aja tanya.
Langsung aja langsung aja.
Ditu di tumpahkan aja gitu ya.
Kita suka random soalnya jawabnya.
Anak-anak bikin onar.
Masih felebaran.
Betul-betul kita lagi silaturahmi.
Ayo lanjut lanjut tadi.
Apa tadi lanjut komunitas.
Ada upaya untuk memusatkan semua aktivitas tadi sebenarnya.
Jadi kita sempat tuh kita kontak-kontakkan semua tadi ya.
Semua ketua komunitas masing-masing ya.
Yang VGS dan sebagainya.
Kita jadi satu untuk namanya Front End Indonesia.
FAID.dev.
Masih ada sih websitenya.
Nah itu kita ring ke discord.
Karena menurut kami itu discord fiturnya lebih banyak.
Tapi kan namanya komunitas ya nggak bisa dipaksain.
Kan ini bukan perusahaan kan.
Jadi nggak bisa itu kita cut semua harus berhenti.
Komunikasi di sini terus benda kesana semua.
Ternyata pada akhirnya tetap mereka hidup di tempat-tempat masing-masing.
Yang facebook juga masih rame dengan orang-orangnya yang di sana.
Telegram juga masih aktif dengan orang di sana.
Dan yang discord malah cenderung mati sebenarnya.
Bisa dibilang sekarang mati.
Oh ya discord-discord agak mati.
Setelah aku juga agak lagi lo bisa bungkusin yang lain kan ya.
Ya Rizy jadi panitia tournamentnya ke mana ya.
Jadi intinya sih sekarang nggak bisa bilang oh ini lah komunitas sirek itu.
Nggak juga ya tapi lebih ke.
Ya kebetulan aja kita orang-orang yang aktif.
Ya karena memang decentralized juga kerjanya.
Jadi sebenarnya kalau ada yang mau mengambil alih atau apa.
Kalau mau gabung.
Misalnya ada yang di komen nih yang lagi nonton.
Kayak malu atau bingung.
Mau kemana itu disarankan kemana tuh.
Bisa kontak aja sebenarnya kita available di telegram yang jelas.
Karena bisa dibilang itu sentra apa ya.
Yang paling rame lah.
Yang paling rame kali ya. Yang paling aktif kali ya.
Yang paling rame di telegram.
Apa tuh telegramnya?
Triad.js.
Ya saat itu sempat kita tutupkan lagi stasiak.
Sempat kita tutup invite linknya karena kena spot.
Triad.ini/riad.
Skor IDN bukan?
Benar ya?
Ya itu.
Kita taruh di chat ya.
Jadi kalau ingin aktif, punya IDK kita tertentu silahkan.
Kita dengan senang hati memfasilitasi.
Jadi kalau ada kita dia mungkin.
Kita nggak bilang mau ambil alih lah.
Karena ini bukan milik siapapun.
Ini milik bersama aja.
Yang mau aktifkan hidupannya, silahkan.
Kalau ada yang mau bikin owner lagi selain kami, silahkan juga.
Kita bisa fasilitasi.
Oh nggak, kita juga punya website resume kita di react.js.id.
react.js.id.
Kalau yang info lebih lengkapnya kita ada disitu.
Dapat domain ya berarti?
Dikasih domain react.js.
Kalau domainnya saya yang beli sih aktif terus.
Ya udah sekarang masih bayar aja.
Oke oke.
Tadi yang saya bilang kalau yang mau mulai.
Yang pertama, meetup pertama apa gimana?
Kalau kan yang meetup sendiri kan tadi.
Meetup sendiri, yang telegram ada lagi.
Yang GitHub dan bikin website yang resmi yang beneran kayak gini itu.
Kita ini.
Kenapa sekarang ini dibawah GitHub yang kita kelola.
Jadi intinya kalau ada kontributor mau bikin GitHub apa pun silahkan.
Oke, nah.
Terus sekarang kegiatannya selain ya komunitas-komunitasnya itu ngapain aja?
Apakah ada meetup, mulai ada meetup lagi atau online aja atau gimana?
Kegiatan online, kegiatan offline.
Ada apa aja tuh kan.
Ada live stream juga, ada apa transaction, apa aja tuh.
Ya jadi kalau yang offline sih agak kesulitan juga kita.
Makanya kalau ada yang bersedia menyelenggarkan silahkan.
Karena saya di Singapura, Residen Om Rin kayaknya bukan tipe yang bisa ngasihin offline sendirian.
Bukan orang-orang offline kayaknya.
Kita ekstrim, kalau sebetulnya kita itu extremely online.
Oh iya dulu Rin sempat dulu duetnya dulu buat meetup offline.
Cuman ya kalau cuma 2 orang ngasihin kan.
Adib dulu namanya Adib.
Oh Adib, sekarang dia di Jerman ya?
Oh enggak, masih di Jakarta.
Oh bukan, oh beda Adib.
Oh itu Adibnya di JS itu.
Oh iya Adibnya di Jakarta JS ya yang di Jerman.
Ide nya untuk offline enggak harus seminan, enggak harus bawa materi.
Kemarin sama Om Rin di Bandung ketemu langsung, terus sama kayak apa yang lain spontan aja gitu.
Jadi enggak perlu ada siapa spikernya, emang kan gitu sih ngopi gitu.
Kita juga saya selalu sempat pernah meetup spontan waktu itu di Bintaro gitu.
Kalau teman-teman yang nonton pengen liat meetup spontan nya itu di announced di Twitter, di Telegram.
Kita cuma, kita cuma.
Harus kenal kalian.
Cuman kita emang karena emang kita lagi bosan, kita mau meetup-meetup.
Dan kebetulan lagi ada di Jakarta, jadi ya udah.
Ya udah kita ini aja.
Irvan, kalau untuk yang meetup yang resmi yang benar-benar di announced, belum tahu sih.
Soalnya aku juga lagi belum ada tenaga untuk ngurusin yang offline-offline.
Ini kata Mas Irvan yang menguasai yang beli domain.
Yang menguasai yang beli domain.
Ya sebenernya kalau kalian yang mau kunci, gantiin bayarin sih silahkan aja sih sebenernya.
Waktu yang offline itu sebelum pandemi ya, itu gampang banget bikin offline.
Karena banyak kayak company yang bisa diajak kerjasama.
Ada beberapa sih banyak company yang pernah kita ajak kerjasama.
Dan ngajakin juga sih, ternyata diajakin ya.
Terus di impoin di grup, kita mau meetup nih.
Sepat itu di Shopee, terus di Clue dulu waktu.
-Paling ramanya di Clue. -Oh iya di Clue.
-Iya paling ramanya di Clue. -Oh adibnya Clue ya?
Ya betul adibnya Clue.
-Yang sampai Sony, Mas Zain datang. -Sampai Sony datang ya, Mas Zain datang.
Wah seru itu.
Cuman ya ini sih ngalamin juga sih di Jakarta Jaya juga sama.
Mager udah kelamaran online, mau bikin tuh males.
Ya kemarin bikin gara-gara ada Mas Arya aja datang.
-Dia terpaksa bikin. -Online juga agak susah kan.
Soalnya kayaknya orang udah agak jenuh kan buat meetup secara online gitu.
Jadi ya kayaknya ya lama-kelaman emang harus offline juga.
Cuman ya waktu itu kan emang karena lagi pandemi jadi kondisi nggak memungkinkan kan.
Itu pun di awal pandemi itu sempat kita ketemu meeting sama beberapa lagi company buat ngadain di situ.
Tapi setelah itu pandemi kan minggu depannya.
-Udah minggu depannya jadi. -Iya.
-Forkwing Space juga mulai itu kan mulai bertumbangan kan.
-Jadinya susah juga cari tempat ya. -Iya bener.
Katanya Mas Irvan bener di chat lagi winter soalnya jadi nggak ada yang mau beli meetup.
Nggak ada yang hiring ya.
Nggak ada yang urgently hiring gitu ya.
-If it's really hiring. -Kepal kebalikannya.
Ya setelah kita tahun kemarin tuh kita lagi habiskan waktu dilempar-lempar dari satu company ke company yang lain.
Sama ini juga sih pandemi kemarin kan sebenarnya sebagian dari kita juga aktif di tempat lain.
-Kal-Covid gitu kan. -Iya project-project.
-Misrokpinya disana. -Misrokpinya disana.
Nah coba mungkin bisa diceritain tuh pengalamannya bikin yang project-based kan.
Kalau tadi tuh lebih bahas ke meetupnya ya.
Nah terus padahal kan aktifitasnya banyak kan sering bikin kayak apalah yang kawal covid.
Orga bantu warga. Terus apa? Translation react docs.
Itu alur kerjanya biasanya gimana tuh.
-Creative. -Untuk yang kawal covid kayaknya bisa masain ini deh.
Iya. Soalnya kan lagi-lagi jaringan.
Ya jaringan pertemanan aja kan. Jadi karena tadi yang ngumpulnya sebelum pandemi anak-anak ini kan gitu.
Terus kalau ada kebutuhan bikin website ya keingatannya anak-anak ini lagi gitu kan.
Nah hari ini anak-anak lagi-lagi mention Rezy lah, Rin gitu kan.
Terus ya waktu kawal covid akhirnya bikin website pakai Next.js karena waktu itu yang rame Next.js.
Terus kalau warga bantu warga sama juga sebenernya.
Jadi intinya sih orangnya itu-itu lagi karena kenalnya itu-itu lagi gitu kan.
Tapi sebenernya kita tetap berusaha untuk intinya di semua project itu kita tetap berusaha
channel komunikasi utamanya di github gitu.
Jadi itulah kenapa kayak Mas Irfan ini sebenernya meskipun jarang ngumpul langsung kayak kita ya.
Bahkan dia di chat ada tapi di grup chat ada tapi jarang ngumpul tapi kalau di github aktif gitu.
Jadi orang-orang yang Mas Irfan yang lebih suka aktif di githubnya gitu kan.
Itu tetap bisa berkontribusi gitu.
Jadi asalkan pantengin terus gitu githubnya Rezy.js harusnya sih bisa ikutin ke aktivitas kita gitu.
Nah itu bermanfaat tuh buat temen-temen yang unsourced mungkin malas sosmedan atau apalah lagi pengen hilang.
Tapi tetap ingin berkontribusi pantengin githubnya aja berarti ya.
Kita twitter gak pernah trending gitu Rezy.js tapi di github kita pernah trending.
Cepet ya progressnya ya.
Pernah trending repository jarang-jarang gitu.
Jumlah followers github lebih baik daripada twitter kan.
Ada memnya kan.
Salah follower di github lebih berharga daripada seribu follower twitter.
Oh iya betul udah bisa donasi kan sekarang apalagi kan.
Udah banyak yang tanya kayaknya selain itu.
Nah satu lagi deh satu lagi ini dokumentasi gimana progressnya.
Nah ini sekarang Rezy silahkan kasih.
Nah oke jadi progress untuk dokumentasi entar sambil ta.
Oh sejarah dulu dulu sekalian sejarah.
Jadi awalnya aku juga lupas sih.
Awalnya saya juga harusnya ini.
Awalnya saya lagi.
Nggak ada masipan juga.
Kayaknya aku coba buka di translation.
Random Trivia itu tuh translation dari ID.
Paling pertama kali aku nge-pull request ke public github repo.
Sebelumnya belum pernah sama sekali.
Terus salah push.
Terus salah nge-hapus log file.
Udah kelar terjemahnya nggak dimers-mers dulu yang bantuin nge-benerin greco.
Mana ya?
Nah ini aku coba buka dulu di ini.
Aku udah share screen ya.
Oh iya boleh.
Soal jadi waktu itu emang lupa siapa yang bikin inisiatifnya.
Cuman ya waktu itu aku sempat diajak.
Mau nggak untuk ngebantuin translation project, create jazz ke Indonesia.
Cuman waktu itu kayaknya bukan ini deh.
Waktu itu yang masih lama itu yang.
Masih yang sebelumnya?
Yang versi sebelumnya kan ya?
Ya waktu itu kayaknya Mas Riza juga yang ngebantuin.
Oh iya nih namanya juga.
Namanya juga namanya itu.
Itu aja.
Mas Rian.
Mas Griko.
Mas Riza.
Terus ada Mas Griko.
Gitu-gitu.
Kalau Mas Riza emang nge-benerin doang.
Tapi emang bener-bener waktu itu awalnya nge-genjot gitu ya.
Ya berapa orang ini.
Meskipun waktu itu emang.
Wah asik.
Daftar submitter kanan bawah kedua dari bawah.
Masih ada avatar aku.
Suri.
Nah jadi waktu itu emang progressnya udah hampir selesai.
Cuman waktu itu kayaknya kenapa gitu.
Kayaknya sempat stop gitu.
Kan udah hampir selesai kan.
Pokoknya akhirnya emang selesai ya?
Oh kirain.
Kayaknya emang selesai.
Cuman kayaknya ada beberapa yang belum di-translate.
Kayaknya tinggal UI-nya doang.
Yang kecil-kecil lagi.
Ya UI.
Ya.
Soalnya waktu itu juga aku.
Aku juga sempat.
Ya waktu itu aku juga sempat ajak.
Ada temen aku.
Temen aku tuh jaman masih di kata.
"Nih yuk kontibut ya."
Terus dia juga langsung kontibut.
Kayaknya dapet ini lah.
Gitu.
Terus kayaknya udah sempat jadi.
Terus ya udah.
Karena udah jadi.
Jadi ya.
Kita tinggal kan.
Jadi kayaknya nggak pernah di-update lagi.
Terus.
Waktu itu.
Ada.
Sempat.
Tahun kemarin kayaknya deh.
Sempat ada wacana buat mau bikin.
Website React yang baru.
Nah jadi ya.
Jadi waktu itu emang.
Kayak sambil di.
Sambil di ini kan.
Sambil incubator.
Jadi waktu itu.
Di domain terpisah.
Terus dan akhirnya.
Beta ya.
Dulu beta doks.
Ya beta.react.org.
Ya kemasalah.
Terus.
Pas udah selesai.
Baru diganti ke.
React.dev.
Terus waktu itu.
Karena emang belum ada.
Translation nya.
Jadi.
Mulai dari awal.
Karena emang.
Dokumentasi itu bener-bener.
Di.
Di.
Di awal.
Di awal.
Semuanya itu.
Bener-bener.
Dari awal.
Jadi bener-bener.
Dulu kan.
Jamannya.
React.js yang lama itu.
Masih.
Berbasis.
Klas.
Komponen.
Dan semacamnya.
Jadi.
Ini udah mulai.
Berbasis hooks.
Itu kan.
Jadi ya bener-bener.
Berbasis hooks.
Dan kayaknya pendekatannya.
Si dokumentasi ini.
Kalau yang dulu kan.
Kayak dokumentasi.
Yang standar.
Kayak manual.
Yang teknis banget.
Kalau ini tuh kayak.
Ada.
Mix sama tutorial.
Jadi tutorialnya.
Kayak nggak bisa.
Tapi.
Nah.
Ada live.
Kayak ada live editor.
Ini salah satu fitur.
Yang paling.
Bagus banget sih.
Jadi ada.
Ada.
Disini.
Terus kayak.
Tutorial.
Terus mulai langsung.
Kayak.
Penjabarannya.
Kayak pendalaman.
Lebih lanjut.
Gitu kan.
Kayak bener-bener.
Menjelasin.
Gimana cara.
Kejar react.
Kenapa.
Kenapa react itu.
Cara-cara kayak gini.
Terus juga sambil di.
Ini kan.
Sambil dilihat.
Kayak.
Ini.
Ada.
Example kode-nya.
Interaktif.
Soalnya.
Kayak bikin.
Projek dari.
Projek beneran ya.
Ya.
Ini kalau kalian.
Iya.
Jadi kalau kalian buka.
Di tutorial itu.
Sambil kalian bisa.
Sambil kalian ikutin tutorial.
Sambil langsung.
Bisa.
Dicoba.
Disini.
Bukan.
Tanda ya.
Jadi nggak perlu install.
Macam-macam.
Gitu ya.
Iya.
Nggak perlu.
So.
Bahkan.
Bahkan.
Kalau.
Mau mulai.
Gitu pun.
Langsung.
Dia.
Startin.
Di project.
Dia.
Langsung.
Bener-bener.
Eh.
Bentar.
Langsung.
Coba di.
Di awalnya itu.
Dia langsung.
Langsung dibuat.
Ya udah.
Langsung pakai.
Langsung di arahkan ke next.
Ya.
Langsung ke framework.
Iya.
Dia arahkan ke framework.
Oh.
Kira-kira.
Kalau mau mas.
Iya.
Tapi kalau masih mau pakai yang mirip-mirip.
Kayak create-create app.
Iya.
Kalau nggak salah.
Feed.
Yang builder.
Compiler.
Yang buatannya.
Komunitas view itu.
Feed ada.
Iya.
Kalau mau mirip-mirip.
Kayak gitulah.
Oke.
Agian.
Karena sekarang udah ada.
IDE-nya.
Npedis kan.
Kalau pengen coba.
Tinggal.
Ya.
Ya.
Kalau dulu kan yang create-create app.
Eh belum ada itu.
IDE yang embedded kayak gitu.
Iya.
Jadi.
Eh.
Ada yang member.
Upgrade juga ya.
Ada yang member.
We.
White light dulu.
Terima kasih.
Terima kasih.
Terima kasih.
Terima kasih.
Terima kasih.
Oke.
Jadi sekarang.
Progresnya 50%.
Dan kita masih butuh banyak.
Progresnya 50%.
Progresnya lagi ya.
Buat teman-teman yang.
Mungkin yang apa?
Yang masih malu-malu.
Terus kita bisa membalik.
Spanyol.
Spanyol udah bener-bener full.
82.
Berat sih.
Berat.
Spanyol.
Spanyol tuh emang-emang.
Paling kuat.
Ya kan.
Stickernya lebih banyak juga.
Cuma ya.
Apa?
Ini menariknya.
Gentrification lah.
Iya.
Saya kan.
Bahasa Spanyol kan juga banyak dipakai.
Banyak digunakan di.
Kayak Latin America.
Enggak sesuai juga.
Latin America.
Gitu kan.
Gini.
Emang.
Salah satu.
Spanyol tuh.
Semacam kayak.
Bahasa kedua di dunia gitu.
Yang pertama Inggris.
Yang kedua Spanyol.
Ketiga paling Perancis.
Karena Perancis juga.
Ya teritori-teritori Perancis di luar Eropa.
Kan ada banyak.
Nonton Dora The Explorer.
Yang versi bahasa Indonesia kan.
Basa sebenernya bahasa Inggris ya.
Kalau versi Dora aslinya.
Itu bahasa Spanyol ini.
Bahasa Spanyol.
Yang sempat disalip ya.
Portugis, Brazil, Korea.
Sama Simply Chinese.
Kita masih nol itu di awal tuh.
Oh iya nol.
Mulai, bener-bener mulai tuh tanggal segini.
25.
25.
25.
25.
25 abil.
25 abil.
25 abil.
Cepet banget.
Iya baru semingguan ya.
Sebulan.
Belum genap.
2 minggu lah.
2 minggu.
2 minggu tuh udah setengah.
Dan sekarang battle neck-nya di reviewer sebenernya.
Iya battle neck di reviewer.
Karena reviewnya cuma kita berempat.
Jadi ya.
Mas Irfan juga.
Mas Irfan juga.
Yang versi sebelumnya saya nge-review.
Merasakan susah capeknya.
Nge-review juga.
Lebih capek nge-review dan nge-slate.
Iya.
Nah jadi ini udah 50%.
Jadi udah setengah ya.
Jadi nanti kita bakalan mulai.
Ngebuka yang.
Jadi kalau kita liatkan.
Di yang isu kita sekarang.
Ya pada yang atas.
Oh iya udah banyak kan.
Jadi kita waktu itu.
Workflow-nya ambil yang.
Awalnya kita mulai ikut yang lama kan.
Jadi awalnya mulai nge-claim di komen dan semacamnya.
Dan semacamnya.
Cuman karena.
Karena banyak entusiasmenya.
Jadi kadang-kadang.
Ada yang kelewat gitu.
Jadi mohon maaf buat yang awal-awal.
Awalnya cuma aku yang nge-balas.
Bener-bener aku yang nge-maintain.
Jadi agak kelewatan.
Dan juga waktu itu masih sibuk ngurusin yang lain.
Jadi agaknya ada kelewatan.
Terus waktu itu mulai dibantuin sama si.
Mas Aidar, Mas Zain.
Mas Rin.
Mungkin ini faktornya juga ada faktor ini ya.
Animu Contributor-nya lebih banyak mungkin ya.
Daripada yang sebelumnya.
Jadi kewalahan juga kalau pakai sistem yang lama assignment.
Jadi awalnya waktu itu kita sempet.
Sempet diskus di.
Waktu itu grup Telegram internal.
Buat adminnya React ID.
Kita mau gimana nih?
Kita mau ganti workflow-nya.
Atau kayak gimana?
Terus kita setuju buat ganti workflow-nya.
Oh itu kan awalnya nge-claim dulu.
Jadi kita yang langsung.
Ini kan langsung apa namanya?
Yang kita nge-track satu-satu.
Cuman kayaknya.
Nggak kayak terlalu capek.
Jadi ya udah kita.
Kita break down.
Kan kalau di GitHub kan sekarang udah bisa.
Jadi kayak isu kan.
Isu jadi bisa dibikin sub-task.
Jadi isu.
Kita bikinnya kayak gini.
Kita bikin jadi kayak gini.
Oh jadi kayak ada board-nya ya.
Sekarang GitHub kan kayak ada jira board-nya.
Benar benar.
Sebenernya ini kita nggak bisa bikin board sih.
Karena ini kan diorganisasinya React.
Walaupun nggak ada board-nya.
Paling nggak ada isu sini.
Lumayan lah. Ini pelajaran.
Dari pengalaman.
Waktu ngerjain warga-bantu warga.
Pita nggak ya?
Oh bisa deh.
Jangan di-check sekarang deh.
Bahaya ya.
Nanti saja.
Hampir semua isu itu sudah ada pull request.
Di sebelah kanan itu udah kelihatan kan.
Ada pull request terkait.
Hampir semua isu sudah dicoba diterjemahkan.
Tapi.
Tidak semua pull request itu bisa kita review.
Sekarang udah 3.
Kalau ada pull request yang mandek.
Kita minta update.
Bisa update kan.
Waktu itu kan kita pengen bikin
lead time-nya 3 hari.
3 hari dari di-claim sampai selesai.
Kalau dari 3 hari kita tanya dulu.
Masih ada progressnya atau nggak.
Kalau nggak ada jawaban ya.
Kita buka lagi ke yang lain.
Oke.
Oh.
Kalau ada yang ghosting ya?
Ya kalau ada yang ghosting gitu.
Pertama server alam-alam salah kelakuan.
Udah hype di awal nggak kelar.
Iya betul.
Ya hype di awal nggak kelar itu kayaknya.
Ya hype di awal nggak kelar itu kan.
Ya project-project yang biasanya kayak gitu kan.
Jadi kalau ini kan benar-benar.
Benar-benar continuous dan langsung kan.
Jadi bisa kita lacak juga.
Progressnya kayak gimana.
Jadi ya dengan kayak gitu ya.
Ya dengan kayak itu ya.
Akhirnya kita dapat 50%.
Dan rencananya.
Kita mau bukakan ini yang high priority.
Itu kan yang benar-benar content di dalamnya kan.
Content di dalamnya.
Itu yang kita pengen bikin high priority.
Terus yang medium priority.
Ini yang kayak secondary content.
Yang kayak legacy api.
Legacy api itu kayak yang.
Ya yang.
Kelas komponen.
Kelas komponen, ya clone element.
Blablabla dan semacamnya gitu kan.
Kayak gini lah.
Ini yang kelas nih.
Kelas banyak gitu.
Terus untuk glossary ada nggak.
Supaya sama tata bayangan.
Itu juga tantangan.
Nah itu jadi waktu itu kita sempat bikin di yang lama.
Di yang lama.
Jadi kita punya wiki.
Di projectnya.
Oke.
Ada panduan-panduan jemahan dikit.
Di sini gitu kan.
Tapi panduan-panduan jemahan dikit.
Jadi udah dijelasin gimana.
Mau caranya kontibusi.
Terus kayak.
Lalu draft request.
Dan semacamnya gitu.
Terus kayak ada donk-donk gitu ya.
Kita ini.
Kita ini agak nyontek workflownya.
Warga bantu warga waktu itu.
Karena waktu itu.
Aku sama mas Zarin juga.
Workflownya sama kayak gini.
Jadi yaudah kita coba ikutin aja.
Workflow itu bekerja banget.
Apalagi dengan project yang perbasis komunitas.
Yang asing-konos.
Jadi.
Lagi-lagi gak ada membership resmi di sini.
Yang penting ada pull request.
Itu yang dianggap gitu aja.
Paling-paling cuma aku yang kayak.
Semacam kayak.
Yang awalnya udah di set sebagai "maintainer".
Di org react.js nya.
Tapi aku bisa nge-app remove maintainer juga.
Iya.
Selain itu, di luar itu semua kontributor ya.
Sudah kontributor aja.
Dan gak perlu nunggu design.
Pokoknya pull request yang berbicara gitu aja.
Demokratis kali ya.
Demokratis.
Iya.
Ini juga kayak isu.
Isu yang kayak isu.
Udah ada drop nya tapi no progress.
Ya teman-teman bisa ini aja.
Open mungkin yang lebih berprogress ya.
Kayak kejadian beberapa kali juga.
Kayak gitu.
Ada task yang diambil sama si A.
Kemudian ada si B yang udah bikin kelar.
Kita pilih yang berprogress.
Yang udah siap di review lah.
Enaknya pake draft.
Misalnya ada yang setengah kelar.
Ada yang ngerjain baru setengah jadi.
Nah itu yang ngelanjutin bisa dari situ.
Jadi gak harus dari no lagi.
Jadi bukan cuma assignment.
Gak cuma di lokal kerjaannya.
Tapi udah di push.
Nanti bikin PR baru.
Yang lebih maju aja progress.
Komitnya.
Pull request standing ya bener.
Untuk shot supaya...
Merequest perjuangan.
Jangan jangan jangan.
2024 sudah dekat jangan.
Aku takutnya nanti ada logo disini di ujung kanan.
Logo endorse maksudnya mas.
Oh iya iya siap siap.
Sponsor ya.
Katanya bisa selfie sama Adan Abramo.
Itu Anjaros yang bisa menjawab.
Dan Adan?
Paling bisa slide into Dan Abramo's DM.
Buat minta update.
Soal waktu itu kan sempet kita ada blocking.
Karena synchronizationnya gak jalan gitu.
Workflow test sessionnya gak jalan gitu.
Ada workflow yang gak bisa dijelasin.
Jadi waktu itu emang.
Aku harus nge-DM mas Dan.
Buat minta dibenerin.
Udah panggil mas.
Bantuin nanti.
Kalau udah 100% nanti...
Dan Abramo kita undang ke ngobrol di web.
Diundang aja.
Belum tentu dia mau juga.
Supaya...
Supaya kita ngikutin...
Standard penulisannya.
Dokumental seriak dan sebagainya.
Kita bikin juga panduan penulisan universal.
Yang ini juga kita...
Kita ambil dari style guide-nya.
Regis ID waktu itu.
Di sini dapat banyak pelajaran juga sih.
Kalau ternyata ada EAD.
Di situ aku baru...
Waktu diskusi ternyata ada EAD.
EAD Disigil.
Jadi dulu itu kan ada EAD.
Terus di ganti PYB.
Terus sekarang EAD lagi namanya.
EAD ya?
Waktu itu ada EAD versi 4 namanya PWBI.
Panduan Umum Ejen Bahasa Indonesia.
Penyakit orang kita nih.
Bikin akronim baru.
Singkatan baru.
Terus itu tahun 2022.
Diganti lagi.
Jadi EAD.
Ini udah enak nih.
Web-nya bagus.
Web-nya bagus.
Ada on/off light dan dark mode.
Oh iyalah.
Ini kan kerjaannya apa?
Shadow...
Shadow...
Shadow organization.
Keren.
Shadow organization.
Tapi kerjaannya nyata gitu.
Kayak Shadow Dom berarti ya.
Shadow Dom.
Shadow Dom juga bisa di render nyata.
Shadow organization kerjanya nyata.
Nggak kayak organizasi aslinya.
Udah ada tukang nasi goreng abis itu.
Shadow Dom maksudnya ya.
Polymer.
Nah itu kan.
Kalau temen-temen kesempatan nih.
Kalau ada yang mau kontribusi.
Ke repository react langsung loh ya.
Mas Irfan bilang open recruitment.
Buat bantuan review.
Nah ini juga waktu.
Tapi review-nya jangan LGTM-LGTM doang ya.
Bener-bener kita baca satu-satu.
Terus kita ngeliat kayak.
Udah ada edisi gimana juga mas LGTM.
Oh apa tuh?
LGBTM.
Lux Good Bangetumi.
Apaan?
Lux Good Bangetumi.
Apaan?
Nah ini nih ada komen yang cocok nih.
Sebagai pembaca dokumentasi.
Kalau kita ngeliat kalo baca terjemahannya.
Makanya mungkin kebutuhan reviewer.
Di situ ya.
Kan reviewer itu gak nulis.
Kalau kita nulis kan kita fokus.
Kita nulis kita nerjemahin.
Kita fokus di kerjaan nerjemahinnya.
Tapi kalau reviewer kan gak nulis.
Pertama dari sudut pandang.
Pembaca dulu kan.
Berarti itu harus ngebaca dulu.
Dan reviewer-nya harus tentuin.
Bahwa ini udah akurat atau belum.
Betul gitu kayaknya.
Ya jadi kita juga bikinnya ESP itu.
Jadi ya kita.
Karena kan ini dokumentasi rec itu.
Sebenernya ditulis dengan bahasa.
Bahasa pasif ya.
Di dokumentasi itu.
Ditulis dengan bahasa pasif.
Jadi contohnya ya.
Emang kalo kalian liat ya.
Setiap kalimat itu.
Ada menggunakan.
Bahasa pasif.
Bukan bahasa aktif.
Karena ya ditulisnya.
Seakan-akan ya kita.
Sedang mencoba gitu kan.
Oke.
Kalau gak salah juga sempet di.
Sempet dibahas.
Kalau gak salah aku juga sambil research.
Yang lain.
Kalau gak salah di.
Dokumentasinya bahasa prancis.
Dia sempet nyambut kayak gitu di wikinya.
May I practice the tradu...
Oke.
Best practices of translation.
Ya.
Pasif voice. Jadi.
Karena ditulisnya dengan bahasa.
Ditulisnya dengan bahasa prancis.
Jadi.
Dengan bahasa inggris.
Bahasa inggris itu mereka menggunakan.
Banyak sekali bahasa.
Menggunakan passive voice namanya.
Jadi contohnya.
Gitu kan jadi ya.
Bener-bener pasif kan.
Gak penting yang menyesain siapa.
Tapi fokusnya adalah.
React itu sendiri ya.
Di desain seperti ini.
Ya.
Jadi kita juga harus.
Kita juga harus.
Ngikutin juga ya.
Gaya-gaya penulisan di bahasa.
Di bahasa.
Apa nya.
Di bahasa Inggris.
Dokumentasi bahasa Inggris.
Artinya gak.
Gak bener-bener kayak.
Secara.
Blindly.
Nge.
Saya blindly nge-translate gitu.
Kita misalnya.
Masukin Google translate dan semacamnya.
Jadi.
Emang kadang-kadang kita.
Kadang-kadang kita pakai kayak gitu.
Kita pakai kayak semacam Google translate.
Cuman waktu itu kita pakai.
Yang namanya.
Deep L.
Deep L itu.
Lumayan.
Lebih bagus.
Jauh lebih bagus.
Daripada.
Daripada Google translate.
Kita translate.
Paragraf-paragraf.
Sambil kita liat.
Sambil kita.
Terka lagi.
Jadi.
Gak bener-bener.
Translate secara blindly.
Jadi kita bener-bener.
Melihat satu-satu katanya.
Bener atau engga gitu.
Jadi.
Itu bener-bener.
Meticulous work.
Banget sih.
Kalau.
Misalnya kalau aku yang ngerjain.
Translation nya.
Karena ada konteks juga kan.
Iya bener.
Karena aku tau konteks.
Ini contoh.
Contohnya.
Kayak ini.
Kadang-kadang yang.
Yang sering miss dari.
Yang translator.
Kayak.
Deep L.
Atau Google translate.
Itu.
Kata serapan.
Jadi kadang-kadang.
Kata serapan itu.
Kita ada.
Event.
Event yang pasti.
Iya.
Kita ada.
Kita ada pendekatan khusus sih.
Untuk kata serapan.
Itu.
Jadi.
Alternatif pertama itu.
Kita langsung terjemahin.
Ke bahasa Indonesia.
Ini dipake.
Yang emang udah umum digunakan.
Contohnya.
Copy paste kan.
Jadi.
Itu bisa langsung kita translate.
Seperti itu.
Atau mungkin.
Yang.
Kata-kata.
Yang.
Mungkin.
Tidak familiar.
Iya.
Nggak terlalu familiar.
Cuman.
Cuman.
Bagi yang udah tau.
Kata itu.
Ya.
Emang.
Normal.
Contohnya.
Browser.
Senarai.
Senarai.
Senarai.
Senarai.
Senarai.
Ya ampun.
Ini tuh malah.
Ini kayak.
Apa ya.
Sebagai programmer.
Sebagai developer.
Yang berbahasa Indonesia.
Sekalipun.
Dari pertama belajar.
Itu namanya.
Udah RAID.
Dan udah browser.
Sebagai.
Maksudnya.
Sebagai.
Mungkin negara yang.
Kita kan bukan penemuan teknologi ya.
Jadi kita.
Oh.
Bakal lebih banyak.
Eee.
Bakal.
Kindrum.
Lebih banyak.
Pakai istilah serapan.
Nah.
Ini.
Berarti pusing juga nih.
Iya.
Pas baca apa.
Jadi.
Jadi kita.
Jadi kita.
Gimana.
Kayak.
Telepati.
Ke otaknya.
Udah Ivan Lanin gitu.
Gimana.
Gimana.
Apa yang.
Apa yang bakalan.
Apa yang bakalan biar.
Ivan Lanin dulu.
Jadi.
Kalau.
Kalau.
Kalau.
Kalau udah Ivan Lanin.
Sudah bersabda.
Di Twitter.
Nah itu kita ikuti.
Contohnya ya.
Ada berapa lah kita.
Ikuti reference nya.
Pakai.
Pakai tweet nya.
Mas Ivan gitu kan.
Oke.
Nah kalau komunitas.
Kommunitas WordPress gimana.
Waktu.
Translasi.
Ada.
Dia ada tools nya.
Namanya.
Glowpress.
Dimana.
Kita.
Tetap komunitas.
Yang submit untuk translation nya.
Dan kita dari viewer nya.
Jadi.
Semua orang bisa.
Tinggal login.
Dan.
Submit translation.
Yang approve.
Itu.
Disebut.
Apa ya namanya.
Jadi ada.
Editor nya.
Project.
Project translation editor.
Terus ada.
Ada level nya deh.
Saya.
Sempat di GTI.
General translation editor.
Jadi.
Yang submit banyak.
Jadi bisa aja.
Satu string itu.
Atau.
String itu bisa.
Double double.
Translation nya.
Bisa banyak yang translate.
Tetapi kita yang.
Choose yang.
The best nya.
Atau yang sesuai dengan.
Condition nya.
Jadi.
Karena.
WordPress kan.
Release.
Setiap release nya.
Ada trans.
Ada string baru.
Nah string baru itu.
Tetap perlu di.
Translate.
Tetap harus diikutin.
Terus.
Namun tantangan utamanya ya.
Kalo bagi.
Kita itu.
Selain.
Apa yang sudah diceritakan.
Annuncerasi.
Dan temen-temen lainnya.
Tantangan utamanya.
Terus.
Karena kita yang mentranslasi sebuah software.
Software itu dipakai banyak.
Orang.
Kalo ini.
Translate nya kan hanya untuk.
Dokumentasi yang hanya di website.
Sedangkan software itu berbeda.
Contoh yang paling utama adalah error.
Error message.
Kita sempat sampai harus meeting.
Error message itu perlu kita translate apa engga.
Karena ada kekurangannya.
Biar bisa dikuing.
Biar bisa dicari di stack overflow.
Kalo kita translate.
Itu nanti hasil error nya.
Kalo orang cari.
Gak ada hasil apa-apa.
Dan itu.
Mereka gak dapat solusi.
Contohnya.
Oke betul betul.
Jadi itu ada masalah sempat.
Jadi.
Kita ambil jalan tengah.
Kalo translation nya.
Misalnya hasil error nya itu beneran.
Umum.
Dan ada.
Panduannya selanjutnya mau kemana.
Kita translate.
Tetapi kalo dia lebih technical.
Misalnya.
Misalnya fatal error because of.
Memory exhaustion.
Misalnya.
Kita gak translate.
Jadi mereka bisa.
Ingatan bolah.
Tempel.
Di google.
Dan.
Mereka mendapat hasilnya.
Jadi.
Maksa kita translate memory exhaustion.
Jadinya apa gitu.
Contohnya.
Cepetan ingatan.
Cepetan ingatan.
Mungkin aneh lelah.
Lelah ingatan.
Mungkin aneh lelah.
Sama sih.
Hari ini juga di Riat ada tantangan.
Misal.
Remove.
Children from parent.
Mencabut.
Dan keluar nya.
Ini besar-besar.
Ini sebenarnya yang kita bikin.
Banyak.
Banyak banget tantangan.
Banyak banget tantangan.
Untuk translate itu.
Karena semua bisa secara harafia.
Ditranslate.
Ini sebenernya.
Kebiasaan aja sebenernya.
Karena.
Mencabut anak-anak.
Dari orang tuanya itu kan.
Sesuatu yang lucu kalo kita denger.
Di bahasa Indonesia.
Tapi.
Bayangkan kita jadi orang Inggris.
Atau orang Amerika atau mana.
Yang berbahasa Inggris.
Kita denger.
Remove children from parent.
Itu juga sama-sama.
Diadapnya juga sebenernya.
Bener bener bener.
Tapi.
Itu kan privilege.
Sebagai penemu teknologi.
Iya.
Tapi istilah.
Istilah jadi.
Iya.
Bahasa internasional.
Yang dari pertama.
Mengkonsep.
Kayak.
Itu kan konsep.
Kiasan ya.
Kiasan anak itu kiasan.
Ya.
Mencabut itu kiasan.
Analogi.
Nah.
Iya kan.
Terima kasih banyak.
Sama-sama.
Karena dari awal ditemukan dalam bahasa itu.
Iya sih.
Tapi seandainya kita yang menemukan dulu.
Kita juga akan pakai bahasa kita kan.
Lalu bahasa kita pun juga akan jadi gitu.
Iya.
Jadi.
Ujung-ujung akan sama saja gitu.
Jadi bayangkan orang yang gak tau react.
Orang yang.
Gak tau teknologi.
Dia tau-tau googling.
Dapat nemu.
Dia buka chat GPT.
Dikasih referensi ke.
How to remove children from parent.
Iya.
Wow.
Gak setahun.
Pakai use effect.
Gitu kan.
Itu sebenernya juga.
Sama-sama kanan sama.
Jadi sebenernya lagi-lagi masalah kebiasaan juga.
Karena bahasa berkembang.
Seiring dengan berjalannya.
Waktu dan kebudayaan.
Jadi.
Saya sempat sharing di private chat itu ada.
Itu ada paper saya dulu.
10 tahun yang lalu.
15 tahun yang lalu.
Jadi tahun itu saya sudah pakai simpul.
Sudah pakai kata pohon.
Cabang dan sebagainya.
Jadi sebenernya.
Kalo dibilang.
Aneh dong saya.
Saya aneh denger tree jadi pohon gitu.
Ya itu aneh karena.
Belum terbiasa.
Jarang kedengeran aja.
Belum.
Iya.
Sebenernya.
Menurut saya.
Tahun 2009 sudah.
Nulis.
Dengan bahsanya.
Sekarang masih terbiasa.
Udah terbiasa.
Jadi.
Makanya disini ada pendekatan kedua tadi.
Di penyedekatan terjemahan kita.
Jadi.
Kalo ada kata baru.
Yang menurut kita orang-orang itu.
Belum kenal.
Nah kita.
Kita pernah kenalan disitu.
Tapi.
Dengan harapan.
Ini akan jadi kata-kata yang.
Seperti salin.
Tempel dan sebagainya.
Unduh.
Unggar itu kan.
Haral yang.
Mungkin 5 tahun yang lalu.
Baru.
Tapi sekarang.
Kita mulai.
Dipload.
Udah.
Udah.
Tapi kan.
Itu putusan juga ya.
Kita.
Maksudnya editorial decision juga gak sih.
Kayak tadi di paper itu pun.
Algoritma.
Branch and bound.
Jadi kayak.
Branch and bound itu udah.
Udah.
Terlalu identik.
Dengan satu konsep itu.
Jadi kayak.
Idahlah.
Gausah.
Diterjemahin.
Kayak.
Kayak.
Kalo di.
Dokumentasi.
Oh gitu.
Merah.
Karena itu merek algoritmanya.
Itu namanya.
Istilah.
Karena kan hook itu bener-bener istilahnya.
Yang dibuat react.
Jadi contohnya kita ada di bagian sini nih.
Di bagian bawahnya yang.
Jadi yang.
Ada beberapa.
Ada beberapa.
Kata serapan yang.
Ya udah gak kita translate.
Contohnya kan.
Server side rendering.
Sama server side generator kan.
Bener-bener.
Istilah.
Istilah yang dipake sering.
Di react gitu kan.
Mempel sama.
Dan kadang-kadang.
Iya.
Kadang-kadang.
Straight mode juga.
Kadang-kadang kan juga itu.
Kayak marketing term juga kan.
Di dalam.
Di dalam.
Maksudnya.
Di dalam.
Di dalam.
Kayak marketing term juga kan.
Di dalam react itu sendiri.
Contohnya kayak.
Serverless itu kan sebenarnya.
Kayak.
Kedengerannya kayak marketing term banget kan.
Kalo kalian.
Kalo kalian.
Kayak mikir-mikir.
Memang marketing sih itu.
Karena gak mungkin.
Gak ada server juga kan.
Iya.
Iya makanya.
Tauan.
Ya kayak wireless lah.
Ada wirelessnya.
Tapi somewhere else.
Lebih sedikit server.
Lebih sedikit server betul ya.
Lebih sedikit.
Less.
Less server ya.
Iya.
Bukan gak ada.
Tapi sedikit aja.
Gak ada.
Ya.
Kalo emang.
Term-term kayak gitu.
Yang kayak serverless.
Gitu.
Static site generator.
Server site rendering.
Itu kita.
Gak.
Gak translate.
Karena kan emang.
Ya itu emang.
Specifik.
Terhadap teknologinya.
Iya.
Saya tuh sampe sekarang.
Masih ada sempat dulu.
Masih inget.
Kayak.
Drop down.
Drop down tuh bahasa Indonesia nya apa ya.
Tuh.
Kalo dulu saya.
Iya kan.
Sempat.
Tarik ulur.
Tapi tarik ulur juga.
Gimana gitu.
Utai tambang dong.
Bener.
Di pencet terus tarik ulur kan ininya.
Kayak anyway.
Itu juga sus.
Itu lah.
Mirip kayak upload download kan akhirnya diterjemahin dulu kan.
Upload download diterjemahin dulu sama.
Iya.
Makanya kita pake yang baru itu.
Kita gak diterjemahin ke atas.
Apa tuh.
Upload.
Atas.
Kenapa juga.
Konsepnya naikin turunin.
Kalo masa aku juga kayak gitu.
Di zaman.
Aku pernah.
Apa namanya.
Aku pernah iseng-iseng.
Ngeganti.
Bahasanya.
Google Chrome.
Dari bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.
Terus aku nemu.
Kayak serta.
Oh.
Alin.
Tempel.
Unduh.
Unggah.
Atau.
Waktu itu.
Andu kalo gak salah.
Urung.
Urung.
Oh cancel.
Oh.
Urung cancel.
Iya urutu cancel.
Betul betul.
Iya kita kan.
Yang selalu lihat kita.
Kalo misalnya kita bandingin sama.
Apa.
Negara tetangga ya.
Kayak di Malaysia.
Orang sana.
Itu udah melakuin hal yang sama.
Cuma di luar teknologi ya.
Kayak di sehari-hari juga kan.
Mereka dengan santainya.
Misalnya postcode.
Code post kan.
Postcode.
Kayak bahasa Inggris.
Tapi ejaannya jadi POS.
Ya saya.
Malaysia tuh setelah aku.
Emang banyak banget.
Katanya ada di bahasa Inggris.
Kayak card gitu kan.
Card 2.
Kalo kita kan mencoba card 2.
Kalo di sana bandinginnya card doang.
Card doang.
K-A-D.
Iya k-A-D.
K-A-D k-A-D.
Mereka pake R maksudnya.
Iya.
Iya.
Card.
Kan itu mantan jajikan Inggris soalnya.
Card.
Iya.
Saya share.
Dan bahasa.
Bahasa kan berkembang kan.
Saya share link juga gitu.
Sekarang bahkan Kepo pun.
Sudah masuk ke bahasa Indonesia.
Waduh.
Kepo alay ya.
Alay.
Alay udah masuk ya.
Kepo juga.
Kepo juga udah masuk.
Kepo.
Kepo juga udah masuk.
Sekarang bisa ngatain.
Ngatain orang alay nih sekarang soalnya udah fix.
Kan biasanya KBP itu kan dia juga gak fix banget kan.
Gak status.
Gak status.
Dia berubah sewaktu-waktu.
Iya.
Sama kayak ya kamus-kamus di bahasa-bahasa yang lain.
Kayak kalo di Amerika kan ada.
Kalo di bahasa Inggris Amerika kan ada Webster.
Kalo di British English kan ada Oxford gitu kan.
Iya.
Webster Oxford.
Webster Oxford itu mereka pasti berubah sejaman gitu kan.
Kalo banyak yang pake dan udah disepakati artinya ya udah diadopsi lah.
Sebetulnya ya kalo dibalikin ke teknologi React ini ya udah.
Itu kan berarti secara gak langsung komunitas React ID ini jadi kayak trendsetter lah.
Buat apa?
Buat konteks buat scope si React ini kan.
Deploy ya udah deploy aja.
Event-event aja.
Hook-hook aja.
Tapi kalo error galat.
Galat.
Tadi Mas Sivan tadi bilang.
Berarti bisa jadi gerakan lah.
Deploy apa tadi?
Galar.
Oh.
Sivan lucur ya.
Lucur kan.
Deploy.
Launch.
Launcher on launch.
Launch.
Publish ya launch ya.
Jadi kan sebenernya kita banyak upaya yang sifatnya ke bahasa Indonesia ya sebenernya.
Oh iya.
Jadi.
Harapannya sih Gold Serum ini bisa dibawa ke tempat lain.
Aku liat aku screenshot juga nih.
Ini aku.
Ini kita ada kayak discussion thread yang isinya cuma ngebahas-ngebahas ya ini.
Kita pake mana gitu kan.
Kayak error galat gitu kan.
Kita ngediscuss ini doang.
Di thread ini satu thread panjang ini kita discuss itu doang.
Contohnya yang kayak gini.
Terus kayak yang gitu.
Terus banyak lah.
Jadi ini juga.
Harapannya begitu ini sudah jadi mungkin bisa dibawa juga ke project lain.
Kalau dari.
Iya bener.
Jadi kita di Community Slot Place.
Dari hasil diskusi ini kita bikin sebuah spreadsheet yang Glossarium kita.
Jadi nanti ada anak yang baru yang apa member baru yang munculin.
Pake Glossarium.
Jadi sebelum mikir-mikir yang kejauhan.
Pake yang sudah kita spakati sebelumnya.
Kalau memang itu diroba.
Kita diskusi lagi.
Basterumnya publik gak mas?
Bisa diakses gak?
Bisa.
Bisa kita contak.
Bisa kita contak gitu.
Jangan menggelar di hari Jumat.
Jangan diplok di hari Jumat.
Jangan menggelar.
Kelar sejadah mas.
Simatan mas.
Ah itu menggelar sejadah.
Ya.
Langsung diproduksi.
Langsung diproduksi.
Gelar ke produksi.
Gelar ke produksi.
Memuji diproduksi.
Development pengembangan.
Production produksi.
Staging.
Staging.
Panggung.
Panggung.
Panggung.
Jadi menguji di panggung.
Jangan diproduksi.
Backstage.
Backstage kan di belakang panggung.
Gelar ke panggung dulu.
Gelar ke panggung dulu ya.
Ya.
Tapi.
Setuju nih dengan link yang dikasih Resy.
Translasi itu tidak harus secara harfiah diterima secara ini kan.
Kalau misalkan tadi kayak children atau anak gitu kan.
Kita bisa tambahin kan komponen anak misalkan.
Jadi lebih jelas kan.
Lebih ada konteksnya.
Nah contohnya itu yang kayak lokalizasinya.
Kalau menurut aku sih lokalizasinya website Apple Indonesia tuh lokalizasinya paling bagus.
Kayak nggak literal tapi kayak.
Ya maknanya.
Ya maknanya nangkep gitu.
Ya.
Kita butuh alibahasa sih.
Banyak kan yang translasi buku terus juga film subtitlenya juga itu kan tidak terjemahan.
Kata per kata kan.
Ya.
Nah cuma kan kalau teknis agak beda.
Maksudnya pendekatannya sedikit beda sama ya perusahaan atau puisi.
Ya.
Ya panjang emang.
Oke.
Nah target berikutnya kalau ini selesai.
Kalau ini belum selesai target berikutnya.
Perjemahin MDN.
Wih.
Jauh lebih banyak lagi tuh MDN.
Kalau ini selesai makanya selesain dulu.
Ini kalau kayak aja belum selesai kita udah ngide.
Iya.
Ya sandok loper kan kayak gitu ya.
Baru bikin loper.
Ini ada yang ngingetin kan tadi kan.
Alon-alon yang penting selesai.
Jangan hype ya.
Jangan hype ya.
Selesain dulu.
Baru melirik yang lain.
Oke.
Mungkin kita cukupan dulu pertanyaan seputar apa.
Dokumentasi.
Saya pengen tau nih.
Pengen update lah.
Pengen update.
Di dunia react ini sekarang lagi ada hal-hal.
Ada apa?
Bagi banyak apa nih?
Apa hype-nya nih?
Kalau aku mah masih abon ya.
Apa tuh?
Kalau nggak salah ada tweet aku yang dulu yang viral.
Karena kalau nggak salah abon.
Waktu itu aku bikin singkatan.
Always bet on next bet.
Hmm.
Always bet.
Kayaknya resonate dengan banyak orang di circle web definition.
Jadi itu pasti kepake.
Itu istilah abon.
Tapi kayak next jazz itu makin kesini tuh kayak bener-bener makin mantep sih.
Kayak awalnya kan mereka sempet mau pivot ke static.
Cuman agak gagal gitu.
Jadi hanya ya.
Pivot ke static gagal.
Terus akhirnya mulai main-main di serverless.
Terus setelah react server component.
Dia mulai banyak berkecimpung di ya itu kayak progressive enhancement dan semacamnya.
Yang awalnya waktu itu diploporin sama remix.
Oke.
Jadi waktu itu emang next jazz dia ngambil beberapa ide dari remix.
Dan akhirnya dituangkan di yang app router itu.
Jadi cukup buka docsnya next jazz.
Kalau nggak salah docsnya next jazz itu juga baru.
Jadi kayak app router itu bener-bener ini.
Kayak bener-bener mengubah cara kerjanya.
Bener-bener dari belakang ke depan dari server ke client.
Dan semuanya itu berkat di react server component itu.
Dan kalau nggak salah mas Haider kayaknya bisa jelasin deh.
Yang ada fitur baru di next jazz 13.4.
Titik 4 itu ya yang baru minggu, baru 4 hari lalu itu.
Yang namanya server actions.
Server actions itu kayak remix form on steroids.
Coba jelasin mas Haider.
Waduh mas saya mau jelasin.
Itu harus di share screen aja kali ya.
Langsung lower room.
Aku cari nih, aku cari.
Server actions, nah ini nih.
Jadi next ini lebih banyak inovasi ya.
Lebih banyak inovasi ya.
Keren banyak.
Yang ada reversal juga.
Kayaknya baru beberapa bulan yang lalu 12.
Tiba-tiba udah 13 aja nggak ngerti deh.
Jadi server actions itu kayak kita bisa bikin function di dalam component kita.
Yang jalannya di server.
Jadi contohnya kita mau bikin form.
Buat nge-add item to cart.
Jadi biasanya kan kalau cara react yang lama itu kita.
Ya udah kita bikin form tapi nggak ada action, nggak ada action, nggak ada methodnya.
Jadi kita langsung masukin aja itu.
Everything handled di java screen.
Ya di client.
Nah itu kan nggak forest of enhancement.
Yang padahal kalau kita buka di, apa namanya, kalau dibuka di form element.
Kita buka dokumentasinya si NBN.
Udah ada natifnya.
Ya jadi natifnya kan ada.
Kayak ada action.
Action ini kayak endpoint API-nya.
Terus methodnya apa, get.
Terus ini, terus nanti kalau kita submit.
Jadi tanpa ada.
Keirim datanya.
Nah kan kalau yang sekarang kan kita kan udah terlalu sering di client.
Jadi ya ya udah.
Prevent default dulu.
Melawan kodrat web.
Melawan kodrat web.
Ya makanya kalau semuanya, kalau misalnya ada user yang for some reason nggak bisa nge-load JavaScript-nya.
Ya itu nggak jalan formnya.
Nah jadi waktu itu awalnya emang dipelopori sama remix.
Ya ini baru remix banget nih.
Orang remix sebel kayak.
Emang udah sebel deh dulu orang remix tuh kayak.
One off ya.
Buat para pengguna remix dan para peminat remix.
Orang remix tuh kayak.
Community leader-nya tuh suka ngajak reboot kalau di Twitter.
Aku nggak tahu kenapa.
Oh biar menarik kan.
Lihat-lihat drama nggak ko, kemarin sampai orang-orangnya ada salah satu yang tutup akun kan.
Ada salah satu yang iya ada salah satu.
Ada ada.
Gitu yang ya remix itu yang iya.
Mungkin kodratnya manusia ya suka berkelah ya.
Bukan tutup akun pindah ke blue code kali.
Blue code.
Malas ah di Twitter lagi, blue code aja.
Blue sky.
Ya tapi mungkin lebih enak.
Iya bener.
Jadi kalau di remix kan dia kayak gini.
Eh nah jadi kayak ada form kan.
Ada form.
Ya udah.
Ini bener-bener.
Dari home patches ya.
Actual native form element kan.
Jadi method post action ini.
Terus kita bisa bikin langsung action-nya di halamannya.
Jadi kita bisa bikin action yang sebenarnya jalanin di endpoint yang sama.
Cuman dia bener-bener progressive enhance ini jalan di server.
Dia bikin endpoint untuk submit ke formnya sendiri.
Jadi kalau kita kalau nggak ada JS pun ini formnya masih jalan.
Dan kalau masih ada JS.
Tetap jalan juga.
Tapi ya dengan interactivitas yang disediakan secara additional.
Bukan compulsory dari si JavaScript ini.
Oke.
Gitu.
Nah ini awalnya plot point-nya memang remix.
Tapi kan emang karena.
Sekarang remix JS ada juga.
Yang merit.
Jadi ya itu.
Sebenarnya kan ya.
Sebenarnya ya sebanyak-banyaknya framework yang kita ini.
Yang sebanyak banyak framework yang muncul setiap minggu.
Itu sebenarnya.
Ya emang ya paling cuma beda dikit bikin framework baru.
Beda dikit bikin framework baru.
Tapi ya sebenarnya.
Lama-kelamaan akan kelihatan yang mana pattern yang sebenarnya lebih di prefer.
Padahalnya akan akan konfor game juga.
Semuanya akan konfor juga.
Jadi.
Kalau kita kalau kita bisa buka pain.net gitu kan.
Sambil kita buka pain.net.
Sebenarnya kayak gitu.
Jadi yang sebenarnya kita awalnya.
Contohnya.
Contohnya jQuery kan.
JQuery gitu.
JQuery.
Awalnya kan ya.
Orang banyak di jQuery mainnya kayak gitu.
Mainnya ya.
JQuery doang.
Terus nanti.
Kita mulai kayak banyak yang converge nih.
Kayak.
Sini misalnya angular.
Sini misalnya react.
Sini misalnya view.
Sini misalnya kesana.
Gitu kan.
Dan terus di misalnya di bagian react.
Ada lagi kresapnya.
Contohnya.
Nah kita bikin jadi lebih kecil ya.
Itu diverse berarti.
Bukan konfor.
Iya.
Awalnya kan memang diverge.
Jadi awalnya.
Awalnya disitu kita diverge dulu.
Karena.
Ya kita bilang lah ini awal tahun 2010an lah.
Karena waktu itu web lagi naik daunnya.
Jadi orang masih pada nyari jati diri gitu lah.
Jadi.
Jadi para developer ini masih nyari jati diri.
Sebenernya.
Cara bagus untuk.
Untuk di webnya kayak gimana.
Karena kan.
Web ini kan juga awalnya baru berkembang setelah.
Ya awalnya.
Awalnya dulu itu emang.
Dulu.
App native itu.
Banyak.
Memegang monopoly.
Contohnya ya.
Karena.
Sempet.
Dari sebelum ini tuh.
Kayak.
Sempet di.
Petahan.
Kayak disempet ditahan.
Sama.
Inter Explorer yang jarang update.
Dan semacamnya.
Jadi.
Supaya.
App native itu berjaya.
Jadi awalnya mulai dari jQuery.
Terus.
Mulai diver.
Contohnya disini bagian angular.
Disini bagian view.
Reacts.
Spell gitu lah.
Terus dari react lagi bercabang lagi.
Contohnya ini.
Next.js.
Gatsby.
Dan semacamnya.
Create backup gini.
Tapi nanti.
Lama ke lamaan.
Contohnya ada yang misalnya kita coba.
Diversi gak berjaya.
Jadi mereka akan mati.
Tapi nanti ke lama-lamaan.
Akan muncul.
Di mana.
Yang patternnya mirip-mirip.
Dan mulai kayak setuju-setuju.
Bahwa ya.
Ya.
This is.
Kayak the better.
The better way gitu.
Jadi akhirnya.
Lama ke lamaan akan.
Diver juga disitu.
Meskipun.
Mungkin.
Ya meskipun.
Kayak.
Ada beberapa yang.
Misalnya.
Ya ada flavor nya sendiri.
Contohnya kayak.
Kayak react.
Next.
Reacts.
View.
Tapi tetap dalam lane yang sama.
Tetap di lane yang sama kayak gini.
Jadi eksperimen-eksperimen yang kita lakukan di awal-awal tahun 2004 ini sebenarnya ya bukan sia-sia juga.
Karena ujung-ujungnya akan ada pattern-pattern yang disetujui.
Cross-framework, cross-library dan semacamnya. Karena kadang-kadang kita harus ngambil yang dari yang lama.
Tapi ya, if it makes sense, then it makes sense.
Jadi contohnya ya, ya progressive enhancement yang dilakukan sama remix,
sama yang dilakukan sama server action di Next.js.
Jadi sebenarnya mirip kayak itu juga ya.
Perkembangan web dari sisi web teknologi dan web API nya sendiri kan sebelumnya processor dan punya masing-masing jalannya EA punya sendiri,
Firefox punya sendiri, segala macam, Netscape punya sendiri, dan akhirnya karena Safari juga punya sendiri.
Stream one dalam bentuk standar karena semua kusing.
Cuma kan dilihat dari apa tadi, diverse dan converse itu kan makin kesini.
Makin dekat dengan standar-standar web itu, ya bisa dibilang makin aman lah ya.
Kayak misalnya contohnya form, behavior form itu kan udah ada dari dulu, ekspektasinya ada beberapa input field.
Ada tombol submit yang kalau diklik melakukan suatu action, ya ngirim data itu somewhere, submit.
Terus behavior-nya juga misalnya kalau di enter itu otomatis umumnya ada ekspektasi ke submit.
Itu kan hal yang udah ada bertahun-tahun, jadi kayak itu aman lah.
Jadi sering-sering, sering-sering nonton acara ini biar kita tahu apa yang terbaru di teknologi web ya kan.
Semakin mendekat ke standar web justru ya.
Ya kan akhirnya, ya itu yang akhirnya muncul itu kan standarisasi kan.
Jadi, dulu yang awalnya JavaScript itu yang awalnya karena awalnya JavaScript yang dibikinnya buru-buru kan kurang dari satu bulan.
Dan akhirnya, kelamaan-kelamaan, di standarisasi kan, ya ada IS 2015, IS 2016, dan seterusnya.
Di tempat lain juga, kalau di browser engine kan ya dulu awalnya browser engine yang satu, ya eksperimen dengan hal-hal yang lain.
Ini contoh paling menarik sih, tahu nggak sebenarnya penemuan CSS Grid itu, siapa?
Atau browser apa ya? Yang pertama kali mengeplopor internet explorer.
Microsoft?
Iya, sebenarnya internet explorer.
Believe it or not, pelopornya CSS Grid itu internet explorer.
Tapi ya awalnya, awalnya emang dimulai dari internet explorer.
Terus kayak standarisasi body-nya ngeliat, wah ini menarik gitu.
Emang butuh, itu slotnya yang dibutuhin.
Ya itu slotnya yang dibutuhin.
Jadi, oke kita ambil, cuman kayaknya standarnya internet explorer ini agak, agak gimana itu?
Jadi ya udah, oke kita ambil lagi, kita modify, kita perfecting.
Jadi dengan, akhirnya jadi ya CSS Grid yang sekarang kita tahu ini.
Cuman sayangnya karena internet explorer waktu itu emang karena release cycle-nya yang ngikutin Windows.
Jadi nggak bisa nge-update, nggak bisa nge-update dengan cepet gitu kan.
Belum di-couple ya, antara operation system dan browser-nya.
Jadi ya waktu itu memang internet explorer masih stuck ke spec Grid yang lama.
Dan ini juga sih, jadinya sekarang kita di-drive sama web standar jadinya, kalau menurutku ya.
Karena kalau kita lihat ya, Next.js, Remix, ya ujung-ujungnya, baseline-nya ya web standar.
Kayak misal Remix dan Next nggak bakalan bisa berjalan lebih baik ketika nggak ada history API dari web.
Iya kan? Sekarang kayak gitu.
Dan ya udah, jadi lebih bagus jadinya karena ada baseline standar yang kita pakai.
Kalau ada kitab lah, biar orang-orang nggak tersesat di atasnya kan.
Sehingga framework, library, jadi complementary aja kayak pelengkap buat bikin sesuatu yang lebih interactive lagi.
Namun perlu diketahui, orang-orang yang untuk menyusun web standar dan konsertium itu.
Ya orang-orang framework dan orang-orang browser ini juga.
Semuanya berkontribusi untuk membuat web standar.
Terus ini juga ya bikin, maksudnya daripada kepisah, kalau kepisah fragmented malah lebih berisiko nggak sih?
Karena nanti satu maunya kesini, satu maunya kesalah, nggak bisa dipakai juga.
Jadi ya udah emang ecosystem-nya.
Sekarang browser itu lagi kejar-kejaran, makanya ada intro.
Iya makanya.
Web standarnya cepat, implementasinya belum.
Browser engine misalnya, seru juga sekarang kayak Chrome udah mau, hampir di segala hal udah Chrome-based banget ya semuanya.
Gak sih, Apple mulai bangkit lagi di web.
Kalau masa ada sempet.
Udah mulai ngerekrut orang buat fokus di browser engine-nya Safari.
Jauh ini di intro masih menang sih Safari.
Safari masih mengejar cukup.
Awalnya Safari itu sebenarnya kayak agak ketinggalan karena kesan-kesannya emang kayak dimatisurikin sama Apple.
Jadi kayak Apple itu kayak mengulang kesalahannya, Apple itu mengulang kesalahannya Microsoft zaman dulu dengan Internet Explorer.
Jadi Safari itu semacam dimatisurikin dan baru sekarang kayak mulai bangkit lagi, gitu kan?
Iya, betul. Nah ini ada kecenderungan tren menuju ke ini gak sih apa? Client-side atau single-page application mulai perlahan-lahan ditinggalkan kembali ke server-side atau gabungannya.
Kalau melihat atau framework- framework-nya muncul ya kayak Astro, terus ada Quick, ada apa lagi, ada macem-macemnya.
Astro itu sebenarnya menarik sih, soalnya aku tahu ada temen aku yang memang anggota core-teamnya Astro dan kalau aku lihat-lihat sih emang lumayan menarik sih karena dia semacam compiler ya mirip Chris Feld sih.
Mereka tuh compiler. Compiler emang dikursuskan untuk kayak bener-bener full static.
Jadi kalau gak salah si Mas Theo, teo.gt3.gg, masa sempat bikin deh kayak spektrum framework gitu.
Spektrumnya framework itu sebenarnya antara full static sama full dynamic.
Kalau Astro itu lebih ke static-nya, Next.js itu dari agak static ke full dynamic, remix itu full dynamic, jadi kalau gak salah udah lupa.
Oh enggak, tapi si Astro yang baru nih yang udah versi 2 kalau gak salah sama kayak Next.js di segi client atau server-side bisa ada server routing juga.
Jadi kalau soal client-server sih udah sama, cuma dia yang beda adalah posisinya dia ya itu dia compiler, cuma sekarang bisa jalan di client, bisa jalan di server.
Gimana dengan react server component?
Itu agak gimana ya, gue juga belum terlalu main di situ, soalnya kayak setiap segala penjelasan yang aku cari soal react server component itu kayak terlalu cryptic dan kayak cuma dipake secara eksklusif di framework-framework kayak remix dan react, jadi aku gak terlalu main-mainin gitu.
Gak pakai sebenernya, jadi ya lagi-lagi react server component itu API yang disediakan react untuk memang untuk remix untuk framework seperti remix KSP dan Next.js, mungkin Astro juga.
Makanya kita sendiri emang seharusnya gak ada begitu banyak pakai itu, karena itu sebenarnya harusnya sih jadi..
Karena diposisi oleh meta framework ya?
Iya, jadi itu untuk digunakan oleh meta framework dan akhirnya Next.js itu, saya gak tau gimana kenyataannya, tapi saya yakin itu dibalik server actions yang tadi yang Ajay itu itu ada sebuah react server component yang beraksi disana.
Anyway kayak di Next.js yang baru, use server sama use client itu adalah convention dasar dari RSC, kalau kita merujuk ke RFC-nya React.
Jadi kayak perkembangan RSC persiang beberapa tahun yang lalu kan memang kayak masih membingungkan ya, ada nabu-abu belum ada bentukannya.
Sekarang di Next.js kan ada release barunya dan itu pakai convention yang dari RSC pembaharuan RSC.
Jadi kayak di standarin gitu ya dari react-nya, nih kalau mau pake meta framework silahkan pake gitu ya?
Jadi kayak react jadi di tengah-tengah antara mereka remix dan Next.js ya.
Jadi ini ada speknya, struktur datanya untuk lu ngelakuin RSC, si pembuat framework adopt itu, dia bikin convention juga.
Tapi masalahnya core-nya react juga anak persel juga.
Itu kayaknya versalisasi dari react itu kayak terasa banget. Kayak kebanyakan react core team kan sekarang udah dipoach sama versal.
Jadi kayak ini lama-lama kayaknya react.js ini bakal diakuasi sama versal juga atau something, I don't know.
Menurut Cerys dari Svelte aja udah diambil versal. Berarti harus ada perusahaan besar lainnya yang nandingin ya minimal biar nggak monopoli lah Netlify lah.
Remix diakuasi siapa? Sopify ya?
Awalnya juga sempet ada beberapa fitur di Next.js kayak nextimage dan semacam itu dan yang keliatannya itu fiturnya kayak lock in ke platformnya versal.
Dan kalau emang kita mau deploy di tempat lain itu kayak agak susah atau akhirnya kita nggak pake nextimage itu.
Kayak sempet di address sama tim versal, cuman aku lupa kayak resolusinya kayak gimana. Cuman awalnya kayak itu.
Kayak kadang-kadang awalnya kan keliatan karena versal makin naik daun dan mereka punya salah satu framework paling populer di web development kan.
Jadi ya agak gimana gitu.
Kayak dulu waktu kita bikin markah buat markah, Mbak Eka bantu ini kan? Bantu set up, kodinari sama nasi image gitu.
Gimana peribetannya itu? Ribet banget.
Oh nggak, kalau itu malah relative simple. Nggak, cuma si nextimage itu pakai fungsinya versal.
Jadi kalau misalnya blow up sama scaling, yaudah itu build-nya tagihannya ya.
Paksa pake versal.
Jadi kalau orang awam yang nggak, apa orang awam yang cuma tergiur sama flashy wow segampang ini apa image yang lazy load, multiple resolutions, auto format, blablabla tanpa mencermati apa under the hood.
Cara kerjanya gimana sih tanpa, tanpa apa kedalamin itu, cuman main pake ya siap-siap tiba-tiba dapet tagihan dari versal.
Tapi sebenarnya kalau asal kita paham, cara kerjanya gimana ya, relative gampang kok tinggal diganti di config.
Misalnya kita mau pake service time.
Kaskasnya mirip sama kayak pake promo, ternyata ada tulisan di situ, syarat dan kata-kata.
Karadengan.
Belaku ya.
Jadi memang ujung-ujungnya kalau mau tersesat ya membaca lagi, banyak membaca. Nah itu kan perusahaan ya, itu perusahaan bukan koden amal.
Maksudnya ada saatnya itu gantian, kan sebenarnya produk mereka itu memudahkan kita developer dalam berbagai hal lah. Next yes gratis, mksd versal pun 3 tier ada, next image bisa.
Cuman sampai di scale tertentu, giliran kita yang di, ya kita yang diperas lah.
Gak diperas ya, cuman kita yang di, kita harus bayar. Ya udah konsekuensi. Konsekuensinya jadi bikin yang kreatif juga sih.
Gak kalin.
Gak kalin.
Ada teknologi, kalau apa, contoh next image itu kita bisa ngebatesin formatnya, kita bisa ngatur cashnya.
Jadi ya itu akal-akalan antar kita versus korporat.
Iya.
Mas Zain gimana mas?
Ngomongin masalah running infrastructure di perusahaan juga, itu sebenarnya lagi-lagi mau kita, mau always bet on next yes atau always bet on remix dan sebagainya.
Sebenernya pada akhirnya yang jadi kontren juga mau deploy di mana gitu kan.
Iya.
Dan lagi-lagi kalau misalnya next yes ada, ada salah satu kendala terkait vendorock dan sebagainya, pada akhirnya kita gak bisa selalu pakai itu.
Dan itu sebenarnya itu yang terjadi di kantor saya, jadi saya tuh di kantor temen-temen pada pengen pakai next yes.
Tapi masalahnya untuk ini perusahaan gak siap lah kalau harus pakai service-nya virtual langsung.
Jadi kan harus siapin infranya dan infranya ribet banget.
Jadi ujung-ujungnya kita menggunakan next yes hanya sebagai client static set generator.
Jadi banyak banget versi, banyak banget fitur next yes yang gak pakai.
Jadi kayak semua hal yang indah seperti server co-exchange tadi itu pasti gak akan dipakai.
Karena itu gak bisa dijalani di action, di static set generating application kan.
Dan akhirnya tim infrananya malah minta ini.
Dan ini pun sekarang static set generationnya next yes kan tetap akhirnya ada banyak file index TML yang dia harus di serve kan.
Itu jadi beban tersendiri juga buat tim infrananya.
Karena tim infrananya harus pakai konfigurasi khusus di nginx atau di kongnya untuk milih index TML mana yang mau di serve.
Nah padahal dia bilang aplikasinya lama tuh dulu jaman-jaman masih create track app gitu kan.
Itu masih gampang banget tuh, cuma satu index TML semua route kesitu beres infranya udah kan.
Bisa di temperasi di n beres urusan gitu kan.
Mereka pengen seperti itu lagi gitu kan. Jadi dengan constraint itu akhirnya.
Ya tapi kan static size itu kan lebih deket ke web 1.0 jaman dulu kan.
Iya tapi masalahnya lagi-lagi our current server kan gak kan.
Sekarang web api semua via api gateway ada kong disana ada one big chunk of configuration yang harus dikelola sama tim infranya.
Yang itu not necessarily follow that kind of standard kan.
Jadi mereka pengennya pusingnya cukup di routing buat back end nya aja, front end nya udah lah setiap aplikasi satu index TML gampang kan.
Ya gampang dari sana emang.
Tapi akhirnya dengan constraint itu akhirnya kita tertekan tuh harusnya gimana lagi kan.
Akhirnya untungnya ada remix itu tadi dan dia bawa ke counter.
Jadi sebenernya itu yang sedang saya lakukan di kantor sekarang.
Jadi karena ingin tetap merasakan nikmatnya pakai format yang asumnya dia.
Jadi saya sekarang pakai rekrouter.
Tapi kan sebenernya di next.js kan dia juga bisa dijalanin sebagai yaudah sebagai server node.js biasa kan.
Ya tapi jadinya itu notepadnya sunit.
Ya lagi-lagi jangan kan bikin server node.js.
Ini configuring cong just for serving index TML aja udah keberatan info nya gitu.
Jadi between running node.js server that kind of scalability gitu kan.
Lagi masalah scary nya di level infra.
Kalau tentang node.js banyak juga.
Scale node.js itu gampang-gampang susah loh, complicated malah.
Gampang-gampang susah atau susah-susah gampang?
Susah-susah lebih tepatnya.
Susah-susah.
Segala nya di web memang susah-susah.
Lagi-lagi kita mau kita pengen yang mana,
sebenernya kita harus berkompromi dengan situasi di kantor atau dimanapun itu yang kita kerjakan.
Real-world constraint ya.
Iya, langsung dikasih project juga.
Kalau kita gak mau bayar tag ya next image, yaudah kita akhirnya pakai cloudinary gitu kan.
Dengan gambar yang kita upload sendiri, bukan pakai service, tapi kita upload manual.
Kita passwordnya ke situ gitu kan.
Jadi ini dengan world constraint kita harus bisa...
yang bikin remix lumayan menarik adalah apa yang sama itu ada di router.
Jadi saya share link-nya mungkin.
Karena pembuatnya sama ya?
Pembuatnya sama kan?
Pembuatnya sama, persis.
Jadi sekarang karena saya selama 2 tahun terakhir pakai remix di project itu kan,
termasuk project terbaru yang saya kerjakan sama Haider.
Jadi kita berdua anak reak yang suka remix.
Di kantor saya karena ingin pakai apa yang sama.
Jadi akhirnya saya pakai reak router supaya tetap bisa merasakan itu.
Tapi bukti nyaman banget sih.
Jadi manfaat yang dicari termasuk di antaranya adalah kecepatan development dan sebagainya.
Gak perlu bikin state management lagi, gak perlu ngurusin.
Jadi aplikasi saya itu cuma pakai reak router, Zot, buat validasi.
Terus udah gak pakai Redux, gak pakai apa sih?
Tadi ada yang nanya Zustan misalnya.
Zustan reakware pun gak pakai.
Jadi reakware pun gak pakai, kita pakai fsb saja.
Pemula pun juga enak ini ngajarin pemula, gampang banget sehari bisa.
Ini tukang ngajar ya Haider dari perspektif yang tukang ngajar juga.
Gak usah pakai apa-apa.
Gak usah pakai apa-apa.
Kalau gak perlu, gak usah pakai.
Tapi topic ini memang dari jaman dulu sih.
Dari jaman reaknya pakai kelas, sampai sekarang itu...
...ku pindah-pindah company pun masih ada yang pertanyaan kayak gini juga.
"Pakai state management apa yang bagusnya?"
Yang paling enak, state management-nya di sisi server.
Nungguin aja.
Sederhana sekali, gak refresh.
Tapi kalau reak router, versi lite-nya sih dari aku ya. Aku nyebutnya versi lite dari Remix.
Versi lite-nya.
Pada remix itu pakai reak router kan?
Iya, core-nya.
Reak router itu kalau gak salah di rewrite di versi berapa itu?
Jadi from the ground up untuk ngesupport pattern-pattern-nya di remix?
Iya, 6.4 itu dia somehow kind of rewrite.
Jadi banyak IP yang lumayan berubah, tapi menariknya upgrading-nya lumayan.
Jadi ada upgrading path-nya itu, di Google Maps juga ada upgrading from V5.
Itu di kantor juga, kan saya bikin project baru.
Gampang kan kalau project baru lah, tinggal pakai reak router versi terbaru.
Tapi ada project juga yang lama yang masih pakai versi 4.
Itu kita pelan-pelan kita upgrade dari 4 ke 5, 5 ke 6 akhirnya bisa pakai gini.
Ini jelas upgrade path-nya.
Ini juga reak router yang pintarnya pembuatnya, dia hampir mirip sama Jordan Wolk.
Kayak memanfaatkan web standar.
Jordan Wolk kan bikin reak, ya kayak basic-nya dom, create element.
Oke, udah dikasih data, jadinya ada reak.
Kemudian si pembuatnya reak router, ya ngikutin web standar, history API.
And lain-lain itu, ya base-nya dari situ jadi, apa ya, menurutku kayak baca reak router documentation itu kayak hampir sama DND lah.
Cuma ada reaknya aja di reak router.
Iya, iya.
Nah, ini ada pertanyaan nih.
Gimana cara rewrite Next.js versi 8 ke 13?
Silakan sebagai anak abon.
Anak abon.
I mean, sebenarnya nggak ada terlalu berburu-buru untuk rewrite.
Karena pattern-pattern yang udah ada di Next.js secara existing itu masih bisa dipakai di Next.js yang sekarang.
Jadi, app router itu emang baru, menarik, tapi...
Optional aja kan sebetulnya?
Iya, saya optional.
Jadi, art, page component, page list, slash, bla-bla-bla itu tetap bisa kan ya?
Masih akan tepat di support, jadi nggak terlalu berburu-buru buat upgrade juga, gitu.
Cuma...
Oh, cuma mungkin kalau Next.js 8, apa sih yang getServerSideProps atau apa?
Kayaknya nama methodnya ada yang berubah deh tuh.
Get apa ya?
Oh iya, kalau masa di Next.js 8 itu masih yang bener-bener lama ya.
Kalau misalnya kalian pakai getInitialProps gitu, itu masih gitu sebenarnya.
Oh iya, initial.
Itu kayak ada getStaticProps sama getServerSideProps.
Itu sebenarnya getInitialProps itu sampai sekarang masih di support di Next.js.
Tapi, ya, lama-lama emang itu bakal, itu emang udah API legacy,
jadi ya, sebisa mungkin awalnya kita mulai upgrade dulu.
Misalnya kalau emang getInitialProps ini jalannya secara server-side,
ya kita, kita ambilnya pakai getServerSideProps.
Itu kan kalau emang itu jalannya static doang, jadi ya getStaticProps.
Iya, sebenarnya sama aja sih.
Cuma, cuma nambah future aja.
Iya, saya cuma bedain antara oh ini jalannya di server, ini jalannya di static gitu.
Jadi on build time gitu.
Tapi yang masalah yang di dulu itu kan cuma baru get atau data kan.
Dulu tuh belum ada ngirim data atau mutasi gitu.
Jadi baru terakhir-akhirnya ada mutasi, ya kan.
Jadi, ya, makanya jadi kan agak kepecahan misalnya kayak pada pakai.
Di Next.js masih banyak loh project yang pakai use effect buat mutasi
atau misalnya kayak gitu-gitu ya, pakai Axios gitu.
Jadi, karena nggak ada sana.
Eh, sama-sama gue juga di kerjaan yang lama itu gue juga Next.js-nya,
Next.js-nya cuma nge-generate page adonan,
tapi segala macam interasi dari itu still mostly client.
Iya, still mostly client.
Kalau nggak salah di tempat aku kerja Type Dream juga.
Eh nggak sih, kalau di Type Dream emang lebih fokusnya ke server side
karena emang fokusnya ke website.
Tapi ya, kalau di tempat yang dulu kan emang mostly interaksi yang ini.
Jadi ya, ya udah kita full lead interasinya di client.
Dan Next.js itu emang benar-benar versatile banget.
Jadi kalau itu segala macam paradigm yang kalian pengen pakai itu bisa dipakai di Next.js.
Kalau kalian pengen bikin static website doang, bisa.
Kalau kalian pengen benar-benar bikin sesuatu yang server rendered, bisa.
Kalau mau bikin yang benar-benar full client side, ya bisa.
Jadi semuanya di support sama Next.js.
Next.js itu semacam kayak mereka mau jadikan semacam kayak the everything framework gitu.
Kan tagline-nya juga the React framework for production.
Kalau masalah hydration gimana?
Masih di React itu sudah ada solusi belum sih?
Untuk partial hydration itu?
Sebenernya belum ya.
Ya manual kita pakai.
Semua pasti harus pakai sebuah instance React ya.
Kita pakai effect kayak semacam use effect.
Terus kita pasang itu sendiri kan.
Pasang listener misalnya visible apa.
Intersection observer atau apalah.
Tapi tetap initialize untuk hydration-nya masih tetap perlu download.
Pake satu instance.
Itu get server side blablabla itu.
Kalau balik ke tips tree rate tadi kan berarti ya udah upgrade aja dulu.
Upgrade biasa.
Kan harusnya semua masih jalan ya.
Page component jalan, UI component jelas jalan.
Berarti kan satu per satu dilihat aja mana yang perlu dan worth it.
Modul pindah dari client ke server side.
Kalau nggak ada ya udah nggak usah apa-apanya.
Jadi sebenarnya kalau lihat share screen aku ya.
Next.js menyediakan dokumentasinya buat incremental adoption.
Jadi ya yang mereka tekan itu ya.
Adopsinya itu bisa incremental.
Jadi ya segala macam kayak emang kesini tuh.
Segala macam framework dan API itu emang didesain buat incremental adoption.
Kalian bisa mulai dari yang bener-bener low hanging fruit dulu.
Jadi emang bener-bener apa namanya.
Ya bener-bener dari page atau dari componentnya.
Emang bener-bener nggak terlalu ber efek ke yang lain.
Itu ya kayak ngomong-ngomong kan ya low hanging fruit.
Kalau low hanging fruit emang bisa langsung dipetik kan.
Bisa langsung di migrate gitu.
Ini penjelasannya cukup banyak kalau disini.
Agung-agungnya membaca kembali kan.
Ya emang sebagai program itu kita emang yang orang nggak nyadar itu.
Kita emang harus diajarkan untuk membaca.
Ini saya share screen juga.
Ini juga ini kasih tips juga sih kalau dari aku.
Kalau tips-tips kayak gini ya.
Satu kayak incremental tadi.
Terus ini kayak yang next 8 kan lebih banyak konteks yang namanya read.
Dari base-nya CRUD kan read data aja gitu.
Kemudian ada konsep yang mutasi ya di persi next.js yang baru.
Nah setelah di upgrade pilih salah satu page yang mau ditanamin yang namanya read.
Atau menulis ya.
Di situ bisa kelihatan jadi pelan-pelan per page.
Jangan satu project upgrade semuanya langsung di migration.
Kalau nggak salah di next sama react itu dia juga nge-poll point sesuatu yang namanya future flags.
Iya kan? Future flags.
Apa future?
Kalau nggak salah di next.js namanya beda.
Cuman kerjanya mirip-mirip gitu.
Kalau nggak salah di next config itu ada bagian di confignya namanya future.
Nah future itu yang benar-benar fitur-fitur experimental.
Yang kalau kalian pengen bisa pakai gitu kayak app router dan semacamnya itu.
Kalau kalian benar-benar pengen pakai itu kalian bisa nyalain feature flagnya.
Sama kayak di remix ini.
Sama remix juga.
Iya, Mas Zainian lagi ngasih lihat dokumentasi remix.
Nah ini benar-benar nyapin.
Jadi kalau kalian pengen yang stable-stable aja.
Jadi kalian bisa pakai remix ya as is gitu kan.
Fitur-fitur baru ya mungkin agak dimasak atau mungkin malah nggak diingkut.
Tapi kalau emang benar-benar kalian pengen terjun ke yang bleeding edge gitu.
Pengen nyobain yang baru, ya disediain sama remix.
Terus tinggal nyalain flagnya aja.
Ya sebenarnya kalau di remix konsumensinya sederhana.
Jadi kalau pakai yang unstable siap-siap itu akan rusak.
Tapi kalau udah pakai yang unstable misalnya v2_ itu akan datang di versi 2.
Jadi kalau mau mulai bring Residue sekarang silahkan pakai itu aktifkan.
Di beberapa aplikasi kita, kita udah pakai v2 juga yang remix.
Jadi nanti ketika udah masuk ke versi 2 ya tinggal upgrade.
Kayaknya kalau masjid juga udah pakai ya Res?
Kalau masjid aku nggak maintain kalau masjid sih.
Ader kalau masjid udah pakai route.
Routing yang baru udah kan.
Nah itu disini kita.
Jadi di GitHubnya ini kita bisa lihat di remix.
Remix config.
Nah ini kita udah pakai v2 error boundary meta.
Jadi ini fitur yang akan datang di versi 2.
Dan sudah pasti stable.
Jadi nggak akan rusak.
Jadi hal yang akan diubah ketika kita masuk versi 2 adalah menghapus flag ini aja.
Sama dengan yang disini tadi, jadi versi 2 tinggal remove flagnya aja.
Tinggal upgrade v2, remove flagnya udah.
Selain itu ini juga biasanya.
Sebelum memulai rewrite atau repector atau nambahin sesuatu.
Biasakan search kode moderation.
So far itu beberapa framework besar.
Pasti biasanya udah nge-siep juga kode moderationnya.
Codemod ya?
Codemoderation ya biasanya disebutnya codemod.
Codemodification ya.
Karena pernah dapet pengalaman kayak gitu udah migrasi secara manual.
Ternyata official udah ngerilis codemoderation ya.
Bisa kita jalankan satu kali aja.
Pertama biasanya kalau misalnya ada major release ya.
Cache weld kit itu dulu yang udah beta lama banget.
Bukan reaksi ini.
Cuma udah beta lama.
Terus begitu release major.
Kayak semua orang yang udah nyoba di beta.
Itu kayak dipermudah buat ngubah ke...
Ngubah hal-hal yang bisa di automate.
Ada codemodnya.
Sama satu lagi tipsnya nih.
Apa tuh?
Make sure dulu.
Apakah memang itinya udah butuh buat...
Make itu.
Kebutuhan apa yang dikembangkan udah butuh.
Itu paling penting sih.
Iya.
Udah upgrade tapi fiturnya ga dipakai berapa gitu ya?
Iya.
Ngapain di upgrade.
Kalau covid ini masih pakai next phase berapa?
Masih jalan-jalan aja nih.
Iya.
Kalau nggak ada apa-apain ya.
Nanti terus.
Iya.
Kalau nggak ada apa-apain nanti malah kejauhan.
Malah nggak bisa diapa-apain lagi.
Kalau versionnya semua di-pin.
Kayak dependencies-nya udah di-pin semua.
Ya udah aman kan.
Selama masih jalan mah jangan...
Mendingan ga usah.
If it in-broke don't fix it.
Mungkin makin dari nambahin kerjaan ya.
Nambahin kerjaan.
Ini kayaknya kita versi berapa ya Rasy?
Kalau covid ini ya.
Ini dulu pertama kali ada...
Ini kalau nggak salah masih pakai...
Kalau nggak salah masih pakai versi...
Lupa.
12.
Kalau nggak salah belum deh.
Masih antara 9 sama 11 gitu.
Lupa.
Next.
Masih pakai 10.
10.
10 iya bener-bener.
Udah lama banget kan.
Lama banget.
Ini kalau kita belum juga...
Kapan ini komitenya dulu?
Ini Rasy yang bikin dulu.
Lama banget.
Udah lama banget.
Lupa.
Rasy.
Dua tahun lalu.
Oke.
Ini ngomong-ngomong Riek udah...
10 tahun kan.
Apakah...
Tetap akan populer?
Atau...
Berkurang kepopulerannya?
Kalau pun mati...
Atau akan bertahan...
Karena kan banyak framework yang udah optimal.
Pertanyaanku adalah...
Ah masa?
Ya kan...
Kita lihat aja jQuery...
Meskipun...
JQuery aja masih...
Berapa kali kita coba membunuh jQuery...
Ada di 50% website di dunia.
Jadi kalau banyak framework-framework yang lebih optimal ya...
Pertahanan aku balik cuman ya...
Ah masa?
JQuery masih bertahan.
Riek juga udah hampir 10 tahun ini masih bertahan.
Jadi ya...
Nggak akan mati juga.
Pasti akan tetap berjalan.
Gitu kan?
Jadi...
Sebenernya...
Menurutnya bahkan kalau pun Riek sendiri katakan lah...
Riek mati ya.
Sepertinya...
Setidaknya pattern-nya masih akan bertahan.
Karena banyak framework baru yang...
Filosofi sih yang lebih banyak diadopti.
Filosofi Riek itu udah mulai banyak dipakai di tempat lain.
Soalnya ya...
Ini kan framework baru ya.
Kayak Quick.
Basisnya ya Virtual DOM juga.
Karena kan key selling pointnya Riek itu adalah ya...
Virtual DOM.
Mereka yang ngebawa sistem Virtual DOM itu ke...
Ya...
Ke dunia-dunia framework lain gitu kan.
Bahkan Vue pun sekarang juga udah mirip...
Udah ada JSX-nya.
Ya kan?
Vue 3.
Ini Hooks yang namanya JSUS.
Makanya ya Hooks.
Filosofinya Vue 5.
Ini juga ada Hooks.
Ini juga ada dengan ATX.
You know Riek.
You know Quick.
Ya kan?
Banyak.
Solid juga ya.
Solid juga pakai JSX.
Pre-Riek.
Terus banyak ya.
Inferno.
Di bahasa lain juga banyak yang terpengaruh dari Riek.
Contohnya di Swift.
Ya.
Swift ya.
Ya.
Pokoknya Riek itu tidak akan mati...
Kalau PHP belum mati.
Dulu sempat ada gerakan apakah PHP akan mati?
Gak mati-mati PHP.
Gak mati-mati.
Ada yang bilang siapa tahu 10 tahun lagi Vanilla akan jadi boleh dipakai.
Mungkin.
Sekarang juga udah mudah sih, cuma kayaknya life cycle atau bukan life cycle ya.
Umur library itu gak sependek itu deh.
Kayak jQuery aja masih dipakai.
Ya maksudnya kan gak mungkin, gak realistis semua orang langsung...
Karena misalnya JavaScript, ES Next yang paling baru udah bisa ini itu.
Ya kan?
Mungkin semua framework, semua meta framework, semua ekosistem yang ada langsung dirilang-ulang.
Semua kan kayaknya gak realistis ya.
Jadi bakal tetap ada sampai lama lah.
Walaupun saat yang bersamaan ya itu sebenarnya betul sih Vanilla.
Vanilla JS kan.
Emang udah makin mudah dipakai.
Jadi ya kayak jalan bareng sih.
Lebih ke sama-sama maju.
Ya kan?
Saya standarisasi sih yang akhirnya membuat itu lebih mudah dipakai.
Contohnya kan ya awalnya PHP itu memang stagnan kan karena standarisasi nya gak ada.
Ya orang bisa ngulis PHP senak jidat ya tanpa memperhatikan kayak optimize nya dan juga kayak safety nya dan semacamnya.
Dan akhirnya kan PHP itu mulai bagus di masa ada ya standarisasi.
Contohnya kalau gak salah PSR ya, Mas Ivan ya.
PSR itu dia PHP Standard Recommendations ya kalau gak salah singkatannya.
Gue sering pakai PSR 4, PSR 7 tapi gue gak tau panjangannya.
Kayak PSR gitu.
Ya PHP Standard Recommendations.
Ada PSR, ada auto loading.
PHP Standard Recommendations.
Ya bener.
Ya yang ngurusin standar ya.
Ya yang ngurusin standar kayak coding style guide dan juga auto loading dan semacamnya.
Jadi akhirnya kan kita mulai munculan ekosistem kayak komposer dan semacamnya.
Dan akhirnya ada framework-framework kayak Symfony, Laravel yang akhirnya ngebuat nulis aplikasi pakai PHP itu jadi lebih manusiawi.
Manusiawi.
Developer siawi.
Meskipun makin banyak hal yang baru ya sekarang. Contoh kayak htmx.org itu juga lagi.
Htmx ini yang dirender di server kan?
Abis itu baru dikirimin ke klien kan?
Ya jadi apa yang dijelasin tadi kayak RSC, Next.js, Remix ini ada juga nih, modelan lain gitu.
Ini yang lebih spesifik ya?
Dengan yang lain-lain itu.
Berhitung ke framework ya?
Ya nggak ada framework, langsung ke domnya si html.
Jadi dia juga mendekatkan antara server dan klien ya.
Tapi biasanya dengan sintaksis html.
Nah bisa cek example-nya sih kalau mau lihat juga itu model-modelannya kayak Remix juga ada /post/pom, ya click to edit.
Nah disitu kita bisa.
Nah disini ada demo-nya di bawah.
Istilahnya pake apa ini namanya, istilahnya pake hxput itu.
Apa custom element?
Oh ini server nih?
Ya server di proses server nanti ngasihin html.
Yang kayak model-model php kita zaman dulu, yang pernah moding php biasanya ngasih return html kan.
Nah ini hampir sama.
Ini ajaks-ajaks.
Masih aja ajaks.
Klik to edit, nah disini ada kayak network lah.
Di bawah ini yang sticky, server request satu.
Nah disitu kita bisa lihat under the hood-nya lagi mas.
Kalau kita klik show, yang di sticky-nya, yang server request.
Oh di bawah ini show.
Nah ini respon-nya html.
Ini mirip kayak, ini bukan sih kok ajaks, base kan dia bikin kayak gini mirip namanya hotwire.
Hotwire, terus di laravel ada livewire.
Di elixir ada liveview.
Liveview-nya ponix.
Nah si html ini dengan beraninya bikin di bawah, how to migrate from livewire dan turbo.
Terus optimis lah.
Secara sporadis, ngajak berantem mereka semua.
Karena dia jauh lebih kecil.
Jadi kalau misalnya yang jauh lebih kuat, lebih besar, nge-gituin yang lebih kecil kan.
Kayak bakal dibully masa.
Kayak, oh rese banget.
Cuma kalau ini justru dia yang underdog.
Jadi kayaknya dia berani gitu.
Ada di bawah tuh di tulisan.
How to migrate dari livewire sama turbo.
Wow berani sekali dia ya.
Soalnya underdog, oke ini asik nih.
Oh jadi ini move-nya kan karena reboot.
Migrating diri lah ya.
Ini ada nih migrating guide.
Ya ada migration guide.
Mana? Ini?
Tapi nggak ada tulisannya.
Ini bukan sih, aku tahu di private chat.
Private, oke.
Nah itu dia.
Migration guide.
Oke.
Intercooler GS.
Oh ada intercooler awalnya.
Migration information.
Nggak di sell screen tuh mas.
Oh ya, udah nggak ada.
Udah nggak ada.
Ya cuma intercooler doang jadinya.
Dikomplain kali, dikomplain.
Ini link-nya nih.
Ada?
Oh ada itu tuh.
Oh diumpetin.
Diumpetin.
Nggak ada indexnya ya.
Masih ngalu-malu.
Luar biasa.
Yang tau-tau aja.
Yang tau-tau aja.
Ini underground ini.
Stimulus, oh stimulus ya yang itu ya.
Yang si base cam ya.
Yang berarti yang pakai web socket itu ya untuk ngirim hasil.
Betul.
Yang kita sempat obrolin juga ya.
Oh ada orang Indo yang implement kayak gitu juga tuh.
Ada.
Web socket kayak si Mas Garin ya.
Nah, iya iya iya.
Seniman JS.
Seniman JS.
Seniman JS.
Nah.
Artisan ya.
Artisan.
TSP lagi.
Seniman.
Nah ini contoh terjumahan.
Kita nge-tick PHP artisan udah biasa banget.
Ini seniman.
Seniman.
Ini berarti ABUB ya?
Sayangannya ABON.
Sayangannya ABON.
ABUB.
ABUB.
Oke, oke, wah menarik ini.
Nah, jadi approach-nya banyak banget ya.
Ini kan yang kelompok ATMX yang temen-temen ini meletak ke server.
Oh, oke.
Babel, Babel udah mulai ditinggalin tuh.
Oke.
Sip, sip, sip.
Berarti arahnya kesana ya.
Jadi dari server di render.
Kita lihat-lihat ya.
Back to server ya, kebanyakan ya.
Back to server ya.
Kita lihat-lihat aja.
Ya itu.
Biar dapet lambor jini ya.
Yoi.
Share server juga.
Makanya kemarin pakai gue juga ya.
Back to monolith.
Ada movement lagi tuh, back to monolith ya.
Itu masih DHH lagi ya.
Microservice monolith dari cloud ke on-premise.
Banyak kan balik-balik lagi aja itu.
Karena mahal.
Karena kemahalan.
Karena kan sempet ada resign masalah kan di basecamp.
Kayak gaya-gaya itu.
Terus DevOps-nya mungkin ke layout semua ya.
Jadi nggak ada yang ngurusin.
Ini apa nih?
Komongin standar.
Kan kalau interrupt kan dari sisi browser kan.
Dari sisi server, dari sisi backend-nya ada juga yang berusaha menstandarisasi.
Oh, bikin standar.
Untuk ini ya.
Namanya Wintersiggy.
Runtime-nya JavaScript ya.
Yang di backend ya.
Ya, jadi kan selamanya kan Runtime JavaScript yang di backend adalah sebenarnya browser yang di package ulang.
Jadi backend ke nlcs gitu.
Tapi kan ada beberapa runtime yang sifatnya.
Mereka kayak scratch on top of v8 langsung kan.
Jadi seperti adino dan loadflare.
Mereka menginisiasi gerakan ini.
Jadi asum, kalau yang saya pahami sih.
Harapannya nanti bisa, di server side itu bisa kayak gini.
Tiny clouds.
Ini yang bikin Dino.
Dia punya mimpi seperti ini.
Jadi JavaScript containers.
Zoom in.
Apa?
Zoom in biar bisa text-nya.
Oke.
Jadi JavaScript itu sebagai universal scripting language-nya.
Jadi server udah bisa langsung jalanin JavaScript.
Sekarang kan server by default bisa jalanin Linux kan.
Biasanya jalaninin Bash.
Bash-nya nanti baru kita di install.
Di sana Bash install node.js atau install Dino.
Baru bisa jalanin JavaScript on top of Dino spasi file.js gitu kan.
Kalau Wintersiggy ini berhasil membuat sebuah standar seperti itu.
Dan ditarapkan oleh banyak server side provider, JavaScript server side provider.
Dino.
Iya, maka langsung di OS-nya kita tinggal punya file apa.
Langsung kita aja udah bisa asalkan misalnya ada sebuah file yang isinya ini.
Ini kan JavaScript API kan.
Server-nya langsung ngerti ini harus ngapain disini gitu.
Oke.
Selama JS masih pakai lib UV, masih ada satu layer.
Iya.
Ya memang agak jauh sih om mimpinya.
Tapi bisa.
Kalau memang disandarisasikan dan kemudian dia bisa langsung tanpa layer lib UV.
Langsung bisa ke kernel, ya maybe.
Ini bunyi JS gak masuk ya?
Oh dia bukan V8 ya bunyi JS ya.
Dia JavaScript Core ya.
Oh iya dia pakai punya-nya.
Punya webkit.
Kalo ini khusus V8 ya berarti ya?
Nggak juga sih sebenernya.
Nggak juga.
Lebih ke arah.
Interested in using web platform API outside of browser.
Nah ini sebetulnya kayak main power play aja.
Jadi kayak sekarang yang gampang yang sama-sama based on V8 kan.
Nah kalo misalnya ini udah jadi standar kan mau nggak mau ntar si bun JS dikut juga kan.
Nggak pressure si JS Core, developernya JS Core juga buat kerja sama buat gabung.
Jadi ini memang lagi perang API sih.
Perang standard.
Perang standard.
Perang standard.
Bisa diimplementasikan oleh orang sebanyak mungkin gitu kan.
Untuk web mungkin orang sudah sepakat dengan semua standard ECMAScript.
Itu aja butuh berapa tahun ya?
Pertahun-tahun kan.
Seperti Fakubama.
Ada ngambek dulu ribut itu.
Mereka baru bisa beneran bikin Interf22 ini kan awal itu dulu lama.
Iya dulu lama.
Tapi effortnya dari dulu nih.
Makanya ini semacam interop tapi di sisi lain dan ini masih fase awal.
Kita nggak tahu nanti kerepannya gimana.
Iya betul.
Tapi intinya apapun yang terjadi sebenarnya ini kita akan tetap menang juga asalkan kita tetap belajar yang standard-standard itu.
Fundamental. Balik lagi ke fundamental ya.
Iya semuanya kembali ke fundamental.
Karena mau react, mau angular, mau jQuery dan lain-lain bisa saja tergantikan dengan teknologi yang lebih baru.
Tapi JavaScriptnya tetap ada.
Bahkan JavaScriptnya sendiri bisa saja hilang nanti suatu saat kan.
Sama jadi web API.
Oke kita sudah tidak terasa ya seru sekali ya.
Sudah bukan 1 jam plus lagi tapi sudah hampir 2 jam.
Rekor ini paling lama ya?
Paling lama karena ya.
Padahal masih ada beberapa pertanyaan nih belum dijawab.
Masih masih ada.
Berarti harus ada 2 pertanyaan nih.
Nanti dibahas di Twitter berarti.
Mungkin kita closing dulu ya.
Closing statement kali ya satu per satu ya.
Dari siapa duluan?
Dari Haidar.
Waduh waduh waduh.
Mau follow-follow apa?
Atau mau kasih pesan-pesan khusus?
Silakan.
Pertama-tama paling terima kasih saja sudah menonton.
Kayaknya tadi gue juga paling tidak terlalu banyak ya.
Biasa soal di live stream ini sebelah di YouTube channel React Indonesia.
Paling subscribe aja tuh.
Di situ ada yang sampai jam 5 pagi juga ada.
Ini masih baru jam 10 ya.
Baru jam 10 ya.
Kita rekornya sampai jam 5.
Jadi subscribe aja di situ.
Terus tadi soal yang form juga sebelah ada penjelasan.
Yang sampai pagi itu ada di situ.
Yang penjelasan form.
Streaming sampai pagi ya.
Html sama javascript biasa.
Yang ga perlu pake framework.
Jadi fundamental ada di situ juga.
Terus paling yang kita belum membahas tuh.
Kan awal tahun ini februari itu ada dokumentari React.
Yang dari Honeypot.
Nah itu nanti ya.
Cukup jadi memberikan pencerahan bahwa React itu ke depannya gimana gitu.
Sejarahnya gimana dan ke depannya gimana.
Jadi ga perlu khawatir mungkin.
Udah berapa tahun ke depan gitu.
Ya pokoknya sebenarnya.
Ada acara nombor ya di channel owner.
Channel React Indonesia.
Nombor dokumentari React.
Silahkan dijadualin dulu di issue ya.
Taruh di issue dulu ya.
Oke oke oke.
Lanjut, siapa?
Ini closing statement ya berarti ya?
Yes.
Kalau dari aku sih tips.
Tips aja sih kayak.
Coba-coba buka-buka spek.
Webwork.
Web3 API gitu.
Kalau kita lihat perkembangan framework saat ini.
Ya ga jauh dari situ.
Karena web udah mature ya.
Webstandard sekarang.
Jadi kebanyakan framework juga bakalan referensikan kesana.
Karena tools atau alat tulis kita itu bisa diganti-ganti.
Tapi kalau pemahaman kita itu pasti selalu bertahan.
Kayak filosofi yang dijelasin tadi ya.
Ya.
Karena UI itu sama dengan FX.
Dalam kurung data.
Mentahan.
Funksional.
Menerima data yang memproduksi sesuatu.
Misi-misinya Jordan kan.
Make functional programming mainstream kan.
Nah Dewat React dia bikin ini.
Kayak gitu.
Nah ini juga kemarin saya ngalamin nih.
Lagi nyari React Indonesia yang muncul.
Video-video reaksi.
Gak susah sih emang.
Kalau search ini aja.
Obrolan anak React.
Obrolan anak React.
Ya lebih itu.
Formatnya kayak gini juga ya berarti.
Ngobrol-ngobrol gini ya santai ya.
Iya diskusi santai.
Karena ada live coding ya.
Live coding wah seru sekali.
Oke oke mantap.
Itu dia sih dari aku tadi.
Thank you semuanya.
Di ajak ngomong disini.
Masih.
Resi-resi boleh.
Jadi sebelumnya terima kasih dulu kepada temen-temen dari Webdev Indonesia.
Udah ngajak Nobro bikin honor di channelnya.
Jadi ya.
Cuma saya mau bilang.
Kita masih buka untuk kontribusi.
Untuk penunjemahan dokumentasinya.
Ke bahasa Indonesia.
Kalau mau liat.
Buka langsung aja ke report sitori bahasa Indonesia nya.
React.js
React.id
Ada isu.
Isu yang pin.
Coba buka. Nanti ada.
Kelihatan.
Progressnya kayak gimana.
Mau masuk kontribusi.
Bantu translate kayak gimana.
Nanti kita akan coba review-review.
Nanti textnya dan semacamnya.
Jadi nanti.
Bisa jadi reviewer juga.
Bisa jadi reviewer juga.
Jadi ya.
Kalau mungkin yang lebih ahli dari bahasa.
Kalau udah Ivan nonton.
Oh iya iya.
Ivan Lanin ya.
Bukan Ivan Chris.com.
Ivan Lanin.
Karena ini juga udah 50%.
Nanti kita bakalan coba buka.
Yang dokumentasi untuk yang.
Medium priority yang bagian UI dan semacamnya.
Jadi ya.
Tunggu tanggal mainnya.
Jadi ya untuk itu sih.
Dari aku sih itu aja sih ya.
Terima kasih udah diundang.
Jangan lupa kontribute ke.
Translation documentation ke bahasa Indonesia.
Nah ini kesempatan nih.
Bukan temen yang mau belajar.
Jadi kontributor open source ya.
Bisa lewat sini ya.
Oke siapa lagi.
Terakhir. Mas Zain.
Mungkin sekalian share screen.
Boleh boleh.
Jadi tadi kalau mau nyari.
Channelnya.
Cari aja obrolan anak react.
Karena susah kalau orang Indonesia.
Keluarnya jadi.
Di buka obrolan anak react.
Nah disini ada beberapa obrolan.
Itu udah terjadi. Baru dua kali sih.
Tapi satu lagi kerjaan.
Terkaitan sama kemarin.
Terus ini yang lima jam itu.
Kupas tuntas ya.
Marathon.
Jadi kalau mau bahas.
Dan yang labor ini lima jam.
Begadang sampai sahur.
Terus.
Sebenernya kalau masih mau.
Apa tadi.
Mau menghidupkan lagi lah ya.
Di website resmi kita react.js Indonesia.
Itu react.js.id.
Ini juga.
Sebenernya saya ada link ini sih ajukan topik.
Jadi bisa ajukan topik di github ini.
Bisa dibaca disini.
Atau sebenernya kalau mau.
Lebih jelas.
Lihat agenda kita itu ada di projects.
Terus di beta backlog.
Ini ada beberapa. Yang mesti udah masuk backlog.
Jadi mungkin nanti kalau sempat.
Mungkin bulan depan kita akan coba mulai bahas.
Beberapa hal di antaranya terkait.
Ada yang nyebut juga owner repo gimana.
Yang intinya kita coba menghidupkan.
Sesempatnya.
Sekarang mungkin karena sedang sibuk terjemahkan.
Mungkin kita akan banyak fokus ke terjemahan dulu.
Mungkin alih-alih.
Kita melakukan onar.
Kita bikin onar. Mungkin kita buka keran dulu.
Yaitu.
Kerjaan anak react.
Bisa juga dibikin meetupnya.
Ngenerjemahin dan ngereview bareng.
Oh iya benar.
Terus saya bisa menarik.
Kemarin itu topik awalnya itu.
Yang pertama itu adalah menyelesaikan Gullosarium Gulu.
Dan itu pun nggak selesai juga.
Dua jam setengah ini kita cuma selesai.
Mungkin sepertiganya.
Mungkin perusahaan kita udah bertemu lagi.
Gullosarium.
Setelah itu kita bisa fokus ke terjemahan.
Oke.
Mantap.
Sebenernya ya.
Gullosarium memang living document.
Jadi ya.
Nanti kita adjust lagi.
Dan bisa berubah juga ya.
Jadi misalnya sudah disetujui.
Tetapi nextnya ada...
Ada perubahan lagi.
Tadi menggelar itu deploy.
Mungkin bisa kita pertimbangkan.
Kalau memang disetujui.
Kita terbahas dulu.
Kayak kemarin sempat kejadian kok.
Yang kata render itu kan.
Jadi apa render?
Render jadi apa?
Render.
Kayak merender.
Merender.
Di italic atau nggak.
Di italic atau nggak.
Oke.
Oke.
Terima kasih banyak untuk semuanya.
Mudah-mudahan.
Kita bisa unang lagi.
Mau akutin komen yang belum dijawab.
Silakan kontak.
Telegram.
Telegram.
Kalau di sosial media terdekat.
Ya pokoknya ya.
Ping salsa dari Kamila.
Di sosial media mana pun.
Kalau aku asalkan.
Bukan Facebook dan Instagram.
Karena aku nggak ada dua-duanya.
Oke. Kalau begitu.
Terima kasih banyak.
Kita ketemu lagi lain waktu.
Untuk malam ini kita udahan dulu.
Terima kasih. Selamat malam.
Selamat istirahat. Bye bye.
Terima kasih banyak.
Deskripsi asli dari YouTube
Yuk mari kita diskusi dan ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia web. Agar tetap up-to-date dengan teknologi web terkini. Topik, tautan dan pertanyaan menarik bisa dilayangkan ke https://bit.ly/ngobrolinweb Kunjungi https://ngobrol.in untuk catatan, tautan dan informasi topik lainnya.
Episode Terkait
1 Apr 2025
Ngobrolin Lebaran
Episode ini adalah ucapan Selamat Idul Fitri dari tim Ngobrolin WEB. Eka, Ivan, dan Rizah memberikan salam Lebaran denga...
15 Mar 2023
Ngobrolin TypeScript
TypeScript dibahas sebagai superset JavaScript — bahasanya tetap JavaScript, hanya ditambah anotasi tipe, interface, gen...
17 Apr 2024
Ngobrolin OOP di JS
Episode ini membahas Object-Oriented Programming (OOP) di JavaScript secara mendalam, dimulai dari konsep dasar prototyp...
Suka episode ini?
Episode baru setiap Selasa malam. Dengarkan lewat YouTube, Spotify, atau feed podcast favoritmu.
Memuat komentar dari GitHub Discussions...
Jika komentar tidak muncul karena ekstensi privasi / adblocker, kamu bisa berdiskusi langsung di GitHub Discussions .