Lompat ke konten utama
EP 127

Ngobrolin TanStack

Ringkasan Episode

Bantu Koreksi

Episode Ngobrolin WEB membahas TanStack, kumpulan library front-end yang dibuat oleh Tanner Linsley. Awalnya dikenal dengan React Table dan React Query, TanStack kini telah berevolusi menjadi ekosistem yang framework-agnostik, mendukung React, Solid, Vue, Svelte, dan Angular. Diskusi mencakup sejarah evolusi dari library React-centric menjadi framework-agnostik, filosofi desain modular yang memungkinkan penggunaan library secara terpisah (ketengan) sesuai kebutuhan, serta pendekatan unik Tanner dalam membangun bisnis open source yang independen tanpa venture capital atau akuisisi. Episode juga menyinggung tentang sustainability model bisnis open source dan perbandingan dengan ekosistem lain seperti Vue (Anthony Fu/Evan You) dan React (Next.js/Remix).

Poin-poin Utama

  • •TanStack adalah ekosistem library front-end yang awalnya React-centric (React Table, React Query) namun kini telah menjadi framework-agnostik, mendukung React, Solid, Vue, Svelte, dan Angular
  • •Tanner Linsley, pencipta TanStack, sebelumnya dikenal dengan React Static (SSG framework) dan library React seperti React Table dan React Query yang menjadi standar industri
  • •TanStack Query (sebelumnya React Query) muncul sebagai alternatif yang lebih sederhana daripada Redux + Apollo untuk manajemen state server, dengan API yang lebih straightforward dan caching yang cerdas
  • •TanStack Router menawarkan pendekatan file-based routing mirip Next.js dengan fitur lengkap termasuk DevTools, type-safety, dan berbagai template untuk memulai project
  • •Filosofi desain TanStack adalah modular - library dapat digunakan secara terpisah (ketengan) sesuai kebutuhan, berbeda dengan pendekatan 'batteries-included' seperti framework lain
  • •TanStack dijalankan sebagai perusahaan swasta independen tanpa venture capital, akuisisi, atau investor luar, dengan model bisnis melalui sponsorship, merchandise, dan kursus
  • •Diskusi tentang sustainability open source mencakup pentingnya entitas legal untuk menerima donasi/sponsorship dari perusahaan besar, dengan referensi ke Perkodi sebagai contoh yayasan open source di Indonesia

[Musik]

[Music]

Eh, udah live ya?

Hello, apa kabar?

Apa kabar semuanya?

Selamat malam.

Keberbaik-keberbaik, selamat malam.

Biasanya kalau sedang harga naik, selasa waktunya?

Selasa malam waktunya, om perluling web.

Ya, selamat malam buat teman-teman di YouTube.

Dan kita malam hari ini coba live juga di LinkedIn.

Ada LinkedIn yang nonton.

LinkedIn ada live-nya.

LinkedIn malam-malam, kalau ada yang nonton hebat ya.

Ada yang buka LinkedIn gitu ya.

Ada lah, ada-ada lah.

Masa? Gua kok belum liat sih?

Coba liat dulu lah, liat dulu lah.

Kita bisa multi-stream setara.

Ada sih, ada. Cuma maksudnya baru tau LinkedIn ada live-nya.

Ada.

LinkedIn itu akhir-akhir ini lagi fokus ke video dia.

Banyak promosiin video, banyak encourage, influencer untuk posting atau live juga di platformnya dia.

Kita bisa connect ke TikTok juga nggak sih?

Kayak motivasi gitu.

Nah, ke TikTok.

Ke TikTok kayaknya agak susah ya.

Karena kan vertikal.

Portrait ya, portrait.

Susah kalau begini.

Lihat transkrip lengkap (1826 segmen lagi)

Udah dua aja, LinkedIn atau Youtube aja.

Coba teman-teman nge-message, coba di-posting nonton dari mana.

Twitter, Twitter.

Kalau Twitter harus itu, harus premium.

Twitter-nya.

Twitter-nya harus premium ya?

Iya.

Nanti kita naikin aja Twitter Mas Riza ke premium.

Oh boleh.

Asyik.

Asyik, oh iya.

Gainnya banyak.

Oh iya, keren.

Logonya keren tuh.

Logonya.

Siapa dulu dong yang desain? Bukan gue.

Ya, kamu engineer doang.

Desainnya pakai prompting.

Itu namanya LM Generated.

Tapi sekarang kayaknya kalau Go Generated bisa lebih baik ya.

Lebih bagus lagi ya.

Kalau dulu Generated ini kan tahun lalu, satu setengah tahun lalu.

Generated ini.

Pas awal-awal baru bisa generasi pakai apa ya?

Kok lupa ya, pakai apa ya?

Masih pakai Bing.

Bing kan paling awal tuh yang bisa bikin image generation yang gratis.

Sedangkan kalau pakai Discord gue lupa, Mid Journey.

Mid Journey kelamakan.

Lama banget bikinnya jadi gini ya.

Dan hasilnya juga bagus.

Tetap lebih bagus.

Zaman itu lebih bagus Bing.

Satu setengah tahun yang lalu.

Oke.

Ya, jadi.

Kalian bikin komunitas di Twitter.

Banyak ya yang main Twitter ya?

Bisa ya.

Baru tahu Twitter komunitasnya.

Karena udah nggak Twitteran, nggak tahu.

Keren.

Itu keren lagi tuh Eka.

Lumayan menarik.

Kalau memang ramai di Twitter, bisa kita nanti bikin Twitter community ya.

Boleh, boleh.

Boleh dicoba Mas Fidi.

Terima kasih.

Jadi malam hari ini kita akan bahas, kita akan bedah.

Sebenernya.

Kalau bilang bedah framework, agak ini ya.

Agak misleading ya.

Agak kurang tepat karena.

Ini agak meluas.

Jadi supersetnya ya.

Supersetnya.

Jadi kalau di dunia front-end itu.

Ada universe-universe nya ternyata ya.

Kayak Marvel ya.

Iya.

Kayak Marvel kan bisa ada dunia sendiri.

Iya.

Awalnya kan, awalnya itu universe nya si apa?

Yvan Yu. Yvan Yu itu ada universe gak sih?

Ada kan. Sekarang jadi void zero itu kan ya.

Iya.

Ecosistem.

Akhir-akhir ini dia bikin.

Akhir-akhir ini ya.

Sebelumnya kan dia berkutat di Vue.

Masih-masih hilang.

Hilang?

Nggak. Masih di sini.

Berkutat di Vue.

Terus abis itu dia bikin VT kan.

Dan VTES.

Eh VTES sih bukan dia yang bikin ya.

Pokoknya ekosistemnya lah ya.

Nggak. Komunitas.

Terus kalau yang terkenal banget kan.

Kalau di Ecosystem Vue ada mas Antoni Fu.

Jadi ya ini universe-universe.

Istilah pecandaan kita aja.

Karena saking banyaknya.

Kayaknya bolak-balik kita mau dia lagi.

Di berbagai library pendukung.

Universe.

Universe.

Kita coba aja sih kalau si Mas Anfu ini.

Banyak.

Karena gue nggak pake Vue.

Ya nggak terlalu banyak yang dipake.

Yang gue pake slide dev.

Terus yang buat icon.

Oh VTES dia yang bikin.

Icones.

Itu yang buat kayak icon browser.

Icon.

Icones lah. Icones. Nggak tahu gimana bacanya.

Coba kita lihat ya.

Website pribadinya.

Oh kecil banget.

Creator of VTES ternyata dia creator of VTES.

Kita baru tahu dia.

Kirain si Evan Yu yang bikin.

Tapi kita bukan.

Uno itu punya dia yang bikin.

Uno CSS juga dia yang bikin.

Tuh kan dia tuh kayak punya.

Dia kayak punya alam semesta sendiri gitu kan.

Jadinya.

Terus juga.

Yang terkait sama Ecosystemnya Vue.

Core teamnya.

CSS ini yang apa namanya.

Meta frameworknya Vue ya.

Meta frameworknya Vue juga.

Dia ikut kontribusi.

Terus ada Siki.

Siki ini.

Keren juga nih. Saya pake ini.

Markdown highlighter.

Gue juga pake.

Untuk di kayak.

Untuk di block.

Block.

Block engine gitu.

Atau dimanapun sebenernya.

Iya.

Untuk dimanapun.

Banyak ini. Lengkap.

Bahasanya lengkap.

Jadi menarik.

Bahasa yang disupport.

Terus ada lagi.

Yang baru-baru.

Yang ini kan. Un.js.

Ada yang itu nggak un.js.

Yang ini juga kan.

Pernah ya.

Kita nggak bahas.

Nggak. Maksudnya episode ini kita nggak bahas.

Mereka ini cuma intro aja.

Intro.

Ini kan banyak ya.

Un.js.

Nanti.

Ada 60 giga loh.

Banyak sekali.

Dan universe yang mau kita bahas adalah.

Ini.

Malam hari ini.

Itu memang sengaja ya logonya.

Untuk.

Untuk tanning gitu ya.

Iya ya.

Ini AI Generated deh.

Kan tanning.

Tanning buat ini hitam itu.

Berjemur di pantai.

Berjemur ya.

Nah ternyata.

Si 10 stack ini.

Ini ekuivalennya kalau tadi.

Punyanya Anhu kan di view.

Nah.

Terus 10 stack kan.

Emang gambarnya.

Kirain buat tanning.

Ya mungkin apa.

Multi interpretasi.

Karena yang bikin namanya Tanner.

Oh namanya Tanner.

Sama kayak Anfu ya.

Tapi Anfu.

Nggak begitu.

Apa namanya nggak begitu.

Dia kan menyingkat namanya juga kan.

Anthony.

Apa namanya Anthony Fu.

Oh iya.

Ini yang kayaknya stacknya.

Stacknya Tanner.

Ini ya. Tanner Lindsey.

Tanner Lindsey.

Yang bikin.

Tapi nggak dia sendiri kan.

Maksudnya dia yang inisiat ya.

Nggak dia.

Dia yang inisiat.

Dan fun factnya ini.

Gue tahu nama ini.

Udah saya dari dulu banget.

Saya bekerja di web dev yang proper.

Yang.

Ya yang pakai JS Framework.

Itu dulu pakai.

Framework SSG React.

Bikinannya dia.

Namanya React Static.

Sekitar tahun 2017 tuh.

Dulu tuh kayak head to headnya sama Gatsby.

Dulu kan kalau SSR kayak.

Oh iya iya iya.

Nah cuma kalau Gatsby itu kan.

Dulu mainly SSG.

Tapi ribet banget kan.

Terus kayak apa sih.

Conventionnya ribet.

Nah kalau React Static.

Bikinannya si Tanner dulu itu.

Kayak ya simple banget straight forward.

Ambil data dari ya source apapun.

Ya udah langsung di render.

Jadi maksudnya sejarahnya.

Jadi dulu dia kerja normal gitu.

Maksudnya dulu dia developer.

Kerja di entah apalah.

Ya stanger lah.

Kayak creator apa.

Kayak toko open source lainnya.

Cuman kayaknya ya eventually setelah.

Makin banyak bikinannya dia.

Library nya dia yang dirilis.

Akhirnya itu dia kayak.

Bikin company sendiri.

10 stack itu.

Ya mungkin kalau sekarang sih.

Punya tim ya.

Cuma dulu awalnya.

Ya dia kayak developer individu.

Bikin macem-macem apa.

Bikin SSG framework.

Bikin library yang kayak React Table.

Dulu tuh namanya React Table.

Itu itu salah satu yang terkenal banget juga.

Maksudnya kalau.

Kalau pernah bikin rich table.

Yang pakai sort. Yang computer. Yang gitu gitu.

Akhirnya jadi ini ya.

Pasti pernah pakai punya dia.

Nah terus.

Makin lama makin berkembang.

Dia quit his job.

Dia berhenti kerja jadi developer.

Dia seriusin full time ini.

Terus kayak jadi yang tadinya semua react centric.

Sekarang mulai bergeser.

Ke framework agnostik.

Jadi kayak ada integrasi nya ya.

Macem-macem sih ada yang.

Masih fokus ke React.

Ada yang lebih agnostik.

Tergantung library nya kan.

Nggak semua langsung bisa dibikin.

Full framework agnostik.

Oke.

Banyak banget itu di kiri kan.

Iya.

Jadi ini awalnya dari React Table.

Terus 10 stack query juga.

Awalnya dari React query kan ya.

Iya banyak-banyak itu kayak

unrelated gitu.

Dulu dia React.

Dulu sih React query kayaknya sampai agak-agak

ini juga masih center ya.

Masih ada kan React query?

Nggak ya?

Ganti nama.

Tapi ini ya library nya

masih ada nggak?

Masih-masih.

Oh ya?

Masih.

Masih ada.

10 stack query.

Masih.

Oh ya masih ada.

Cuma.

Ini nih.

Kalau sampai versi yang 3.

Dia masih support sampai versi yang 3.

React query.

Tetapi untuk versi yang 4.

Nanti sudah berubah jadi.

10 stack query.

10 stack React query.

Jadi dia roba ini nya.

Nama library nya.

Organisasi nya.

Oh cuma?

Iya organisasi nya baru.

Dia satuin semua ke

10 stack.

Iya.

React query ini kan juga

salah satu yang oke ya.

Iya.

Masih pakai sampai sekarang.

Tapi gue nggak tahu kalau itu

ini.

Dari 10 stack.

Iya.

Ya karena dia belum branding.

Tidak.

Belum branding.

Namanya straightforward banget ya.

React static.

Jadi kalau bikin static stack generator ya React static.

Bikin library buatan ya

React table.

Buat query, React query.

Trus sekarang dia udah

printing.

Kayaknya nggak boleh pake kata react gitu lagi kali.

Mungkin dia kena copyright.

Nggak lah.

Dia mau jadiin satu semuanya.

Mau jadiin satu.

Biar jadiin satu.

Biar jadiin satu.

Biar jadiin satu.

Biar jadiin satu.

Atau dia lebih utama

karena pengen fremo agnostik.

Kalau dia pake kata react query.

Jadi nggak bisa.

Jadi nggak bisa yang lain.

Nah itu kan dari tagline nya

juga udah kelihatan kan.

Prioritas itu scroll ke atas deh.

Nah for TSJS,

React, Solid, View, Swelt, Angular.

Jadi kayak dibela-belain.

Semuanya dimasukin ke caption.

Jadi kayaknya rebranding aja.

Nggak cuma

React doang.

Nah ini, React query ini

salah satu yang

generasi setelah

Redux ya.

Redux kan sempet

populer banget gitu.

Jadi kayak de facto kan.

Tapi setelah itu kan mulai Google.

Karena setelah itu harus dipake ke pisah.

Pisah-pisah itunya kan.

Kayak reducernya itu.

Mau fetching aja susah banget.

Nah si React query ini kayaknya lebih

maksudnya keuntungan-keuntungannya kayak caching.

Kayak yang compare sama request sebelumnya

tetap ada.

Tapi kayak API nya, syntax nya.

Lebih straight forward kan.

Karena waktu

Redux itu diciptakan,

React nya

masih versi-versi

belum sedinam

saat React query

diciptakan.

Bukan juga secara

architecture lah ya.

Jadi waktu React query

sudah muncul,

secara keilmuan lah.

Secara kematangan frame

atau library-nya si React itu

sudah lebih maju. Sehingga dia

bisa lebih mudah implementasinya.

Lebih simpel.

Lebih simpel. Saat jamannya Redux.

Redux mau berubah

atau mau rewrite semua

juga nggak bisa. Karena sudah terlampau banyak

yang gunakan.

Kalau berubah caranya sudah susah.

Makanya...

Nanti banyak yang ngamuk.

Semua library atau punya

popular yang udah dipake banyak orang,

itu kayaknya backwards compatibility-nya

itu harus...

ada satu dilema.

Kalau dibangun sama jamannya

React 3,

4, itu kan ya sudah

nggak bisa diapapain lagi.

Memang begitulah architecture-nya.

Sama ini kan

waktu itu, seingat saya itu

abis Redux,

terus muncul kan GraphQL

bersama Apollo

yang buat

patching data sama state

management. Terus abis itu

tiba-tiba muncul

React Query yang katanya lebih simpel.

Jadi nggak perlu ada Redux,

nggak perlu ada Apollo.

Bisa jadi satu aja.

Terus buat

patching dan lain-lain.

Moving semua ya dari situ.

Redux pindah semua ke Redux Query.

Menarik, menarik, menarik.

Terus abis itu

mungkin dia mulai dari dua itu

Table, ini kayak

standar lah ya.

React Table,

Query, terus abis itu lebih

spesifik kan ke Router.

Kalau mau bikin yang tadinya ClientShot

rendering, mau ada

routing-nya, pilihannya

kalau dulu kan de facto-nya kan

React Router ya. Yang kemudian

jadi Remix, abis itu balik

lagi jadi React Router lagi kan.

Ternyata dia juga bikin ya.

Iya.

Itu udah lama, cuma

kayak rebranding-nya

baru sekarang.

Kenapa, Ivan?

Caranya gimana sih

React Router? Keren.

Bisa digituin.

Ada DevTools-nya ya.

Ini niat banget ya bikin

library langsung dibikin supaya

useful DevX-nya bagus.

Itu niat loh.

Desainnya juga udah biasa ya.

Itu dari dulu banget

jadi kayak apa, selalu

diiterate-iterate kayaknya dipercaya

lagi.

Cara apa, gimana tadi

pertanyaannya? Router, cara pake Router-nya.

Iya, cara pake gimana nih?

Ini fitur-fiturnya ya.

Sama, mirip lah.

Pilihin Router.

File-based ya, file-based

route generation.

Kayak Next.js.

Next.js jaman pages.

Iya, sebelum

sampai sekarang

juga selalu masih file-based ya.

Oh, jadi kalau misalkan kita mau mulai

pake, kita

pake React seperti biasa dulu

pake fit atau pake apa,

habis itu kita install kayak gini aja ya, langsung ya.

Iya, ini kan soalnya terpusak.

Apa ketengan, Router-nya doang.

Ya, ketengan-ketengan.

Wah, menarik nih yang ketengan-ketengan gini

jadi gak berat ya.

Kayaknya lebih bagus ketengan gini daripada

jamanya meteor gitu, kayak semuanya

everything sudah ada.

Iya.

Tergantung butuh apa.

Tergantung orangnya juga.

Kalau orangnya overthinking ya, mungkin

yang ketengan gini bingung ya, oh,

pilih yang mana nih ya, React Router apa?

Iya.

Atau ngak bisa compact gitu, misalnya

empat orang, semua punya cara mikir

sendiri-sendiri, mau pake

state management, berumpak ribut

dulu, seharian.

Alhasil,

udah pake Apollo Client,

udah pake Apollo state-nya,

terus ditambahin Redux, tuh.

Iya.

Sering ditambahin apa?

Jadi, nge-fetch-nya

dari GraphQL,

pake Apollo Client,

disimpan...

Ya, abis itu

disimpan di Redux.

Semua-semua disimpan di Redux ya.

Saya bikin begitu.

Oh, tapi bisa

tidak file-based juga berarti ini?

Ini ada kayak

fiturnya, kayak

flagging-nya kayaknya.

Ya, itu template

starter-nya aja.

Kan, itu tuh

penyatang itu create TS

router. Bisa

pake template custom.

Oh,

oke. Template-nya adalah file

router ya. Berarti ada template-template lainnya

berarti ya.

Kalau kita

nggak mau kakai

create TS router, kita harus

jalanin ini ya, harus install ini ya.

Kalau manual,

ya itu.

Terus konfigurasi

pt-nya.

Oke, terus baru

kita bikin ini ya,

folder routes, terus ada root

SS. Ini

link. Oh, dia pake link ini

juga ya.

Link yang dibungkus.

Tapi, link-nya dia punya.

Iya, dibungkus.

Iya, dia punya bumpunan link.

Iya, sama aja kayak

NSCS, coba kan.

NSCS.

Create

TS, apakah

masih digunakan?

Masih di-maintain kan ya.

C-R-A.

Coba lihat ya. Udah, cuma udah.

Aku nggak bisa pake versi React yang baru.

Oh, ya.

Sudah tidak direkomendasikan

di dokumentasi React-nya.

Iya, nggak didokumentasiin.

Lama nggak bisa pake versi React yang

paling baru.

Oh, udah berhenti berarti?

Sudah berhenti beroperasi.

Ya, di-maintain juga versi.

Nggak, nggak berhenti. Cuma ya, apa?

Dikunci di versi React-nya.

Apa ya?

Yang terakhir lah.

Sudah. Deprecated.

Oh, iya.

Sebaiknya jangan digunakan lagi.

Sebaiknya jangan digunakan lagi.

Maksudnya, if you are following a tutorial.

Paragraph kedua.

Misalnya ngikutin tutorial.

Ya udah, ngikutin aja dulu.

Maksudnya nggak bahaya, nggak gimana.

Cuma kalau misalnya

mau bikin baru, nggak perlu.

Udah nggak relevan lagi.

Kalau mau bikin

yang client-side only,

yang hanya client-side rendering,

bisa pake VT. VT Starter.

Ya.

Jadi gantinya itu.

Kalau mau yang full stack ya,

pake antara Next.js,

atau Remix, atau 10 stack tadi ya.

Salah satunya. 10 stack Starter.

Nah, yang baru itu

ada itu tuh

Create TS Router App lagi ngetrend.

Yang ini ya?

Create TS Router App.

Punyanya 10 stack tadi.

Oh, punya dia juga?

Oh.

Ini adalah?

Equivalent to

Create Rec App.

Jadi ini penggantinya ya?

Gak harus buat 10 stack router ya.

Bentar, di private chat.

Ini nih.

Coba buka di private chat.

Ini beda.

Oh, DCLI-nya.

Eh, mana kali?

Ini ya.

Salah satunya.

Nah.

Oh.

Bisa

buat

app macam-macam.

Oh, jadi dia bikin

kayak Create Rec App, tapi

dari 10 stack. Cuman

udah termasuk fitur

router-nya ya.

Ya, kalau mau

pakai,

kalau mau bikin single page app.

Cara pakenya gimana?

Oh, yang tadi ya?

Yang tadi, NPX

label-label.

Nah, itu tolong.

Coba aja, Mas.

Pake itu, apa?

Tools yang itu, bisa kan?

Pake tools, apa namanya?

Yang buat LiveJS

itu loh.

Langsung aja.

Eh, namanya My App.

Ya, udahlah. Yes.

Oh, RUNJS.

RUNJS.

Gimana caranya?

RUNJS.

Pernah kita bahas sekali ya?

RUNJS.

R-U-N-J-S.

Kayak JavaScript Playground gitu.

Emang bisa NPM?

Bisa?

Bukan JavaScript doang.

JavaScript Client.

Coba scroll, kalau nggak salah sih bisa.

Kalau nggak salah ya.

Apa?

Salah kali.

Itu install NPM package tuh.

Itu tunjuk lah seterus-terusannya.

Iya, tapi installnya ini nggak

NPM install blablabla.

Pake itu, apa namanya?

Pake tools-nya. Oh iya, bisa ya?

Tapi bisa jadi server.

Ini Lodas loh, dicontohinnya.

Nggak tahu juga sih.

Belum pernah coba sedalam itu.

Ntar gue coba.

Ada AI-nya juga.

Oh.

Nggak sebentar ya.

Seperti biasa.

Ini apa aja ya?

Nah sambil install, lihat ini deh.

Menarik sih, balik ke home-nya.

Coba.

Balik ke home, scroll ke bawah.

Bawah lagi.

Seriusan ya.

Banyak. Bawah lagi.

Bawah lagi.

Bawah lagi.

Terus.

Terus.

Nah, nah.

Terus.

Sponsor paling besar salah satunya, Boon.

Lucu.

Oh iya.

Boon, sanity.

Nah, bawah lagi.

Oh.

Oh, Boon punya duit sekarang ya.

Nah, bawah lagi.

Iya ya, dari mana ya?

Tapi ini Sponsor Project.

Mungkin ada Sponsor Project.

Ini juga Sponsor Project.

Nah, kebawah lagi yang tadi.

Masih kebawah lagi, Mas.

Kebawah lagi.

Bawah lagi.

Mas bisa, scroll, delay ya.

Kebawah lagi.

Terus.

Nah, bawah lagi.

Bawah lagi.

Bawahnya button yang hijau itu.

Bawahnya lagi, itu lucu deh.

And add on, ya.

Baca itu.

And add on an open source project.

Kayak dia nyengir gitu.

Apa sih nih? Kayak tahun 99 aja.

Terus.

Dia nggak mau ada iklan gitu ya.

Dia kayak.

Dia di Intense Tech tuh kayak misi

mulianya beneran sesuai idealismunya

dia gitu lah. 100%

privately owned, tanpa paid

product, tanpa venture capital,

tanpa

akwisisi, ya, liatnya.

Nggak tahu terkabul atau nggak. Terus.

Blablabla. Terus click itu, check out

our ethos.

How we plan, gimana dia

mencanain biar bisa sustainable.

Nah, ini jadi kayak

dia punya misi mulia untuk

open web, open standard.

Makanya dia juga pindah keser dari

React ke, apa,

framework atau library

agnostik.

Agnostik, ya.

Core values-nya tuh yang di, apa,

independently owned, blablabla.

Tanpa investor luar, blablabla.

Open web, open standard.

And freedom to compose and

deploy anything you want, anywhere

you please.

Ya, ini mulia banget sih. Cuma nggak

tahu. Maksudnya di depannya ya, semoga bisa

aware.

Mari kita lihat. Apakah

dia akan menjual cloud hosting?

Tapi dia jual

merch, tuh. Merch.

Dia jual merch, dia jual course,

maksudnya kursus, ya. Maksudnya, apa,

sponsorship. Dia jual course, ya.

But they take free sponsor. Cuma

maksudnya nggak

kayak yang Next.js dibawah

Carcel, gitu. Kalau itu kan emang disetir.

Apa, kalau ini.

Keren juga, nih.

Kualan tetap, terima sponsor tetap, tapi

kayak dia

fokus idealismunya dia.

Keren juga, nih.

T-shirt-nya.

Nah, ini menarik.

Ya, ada 10 stack-nya sih.

Tapi nggak kelihatan apa ya.

Ya, art aja udah.

Tapi kan branding-nya dia.

Cuma lucu aja desainnya menarik.

Iya, desainnya menarik.

Nah, itu no pressure,

bla-bla-bla, no corporate influence.

Oh, berarti

ini agak sedikit bertolak-belakang

dengan Void Zero, ya.

Void Zero itu

memang cepat. Void Zero kan

difunding.

Ya, tapi maksudnya kenapa bertolak-

belakang, ya. Bisa kan

kalau soal funding dan non-funding, oke

lah. Tetapi secara visi,

apakah Void Zero

benar-benar disetir?

Oh, nggak tahu. Kalau disetirnya nggak tahu. Yang jelas kan

visi funded kan. Maksud

yang saya sebutkan itu ya,

perbedaannya bertolak-belakang ya, dia nggak mau

atau belum mau.

Mungkin belum ada tawaran yang gede aja

kalau ada tawaran yang gede.

Pasti ada sih. Sebenernya pasti ada kalau udah

seukuran ini. Cuma ya dia,

idealismunya dia. Itu kan sebegini,

dia bikin, itu bikin

perusahaan

swasta kan tadi bilang private,

dia bikin kan untuk nyalurin cara

mikirnya dia. Nah, kalau udah gitu kan nggak ada

benar-benar salah.

By the way, kalau misalnya

teman-teman kayak kita

atau teman-teman yang penonton di sini

mau kayak bikin

seperti ini juga,

maksudnya bikin

open source project yang bisa

sustainable.

Terus kemudian, apakah

kalau secara hukum

kita perlu set up ini nggak sih?

Set up non-profit organization,

yayasan gitu nggak sih?

Karena terima

donasi kan?

Nah, kan

donasi juga kayak

apa itu yang dipakai astral, dipakai banyak

kan ada

tergantung-tergantung

kalau misalnya GitHub sponsor gitu kan.

Kan ada TNC-nya sendiri,

itu individu nggak apa-apa.

Tapi kalau yang aduh lupa namanya

open-open apa itu yang dipakai astro

yang dulu kita pernah bahas, terus dipakai

macem-macem library lain, yang kayak

ada poolingnya, orang bisa donasi,

terus kayak dipakai

buat maintain

open collective.

Nah, itu

atas nama individu

bisa atau nggak kan, pasti dia punya

legalitas sendiri.

Iya, maksudnya kan kalau secara di Indonesia nih

anggap aja boom

dari luar negeri atau

anggap aja

angular deh, angular

atau Google gitu mau

ngesponsorin

proyek karyana bangsa

kita gitu. Tetapi kan

pasti butuh entitas kan?

Karena dalam dari company besar yang

ngasih sumbangan itu kan

butuh entitas dan

terpajakan segala macem.

Kita perlu undang lawyer kali ya

satu saat di obrolan web ini ya.

Sepatutnya.

Cuma kalau yang

on-the-surface-nya ini begon-begonnya

dia ngasih

donannya, perusahaan besar kan

nggak mungkin tiba-tiba cuma transfer

minta rekening BCA

atau mandiri atau BNI, nggak mungkin gitu kan

pasti dia ada caranya

misalnya pakai perjanjian, kontrak.

Nah, itu kan kontraknya berarti

kontrak kan bisa macem-macem juga, kontrak

kan bisa sama individu, bisa sama

organisasi atau

perusahaan, apa, badan hukum.

Nah, kan itu tergantung banget

si apa? Si yang mau

ngasih duit itu, terms-nya kayak gimana?

Kerajanya di NGO nih.

Kalau di NGO-nya kan berarti ada entitas.

Entitasnya yang terima bisa

menampung

donation atau

government project yang

untuk non-profit kan

sebenarnya kan?

Iya, bisa. Nah, kalau kan

non-profit kayak ada TNC-nya sendiri

misalnya harus

bisa di-audit secara public

jadi kayak harus laporan keuangannya

itu harus tersedia untuk

di-audit, kayak itu masing-masing negara

juga kan ada TNC-nya sendiri.

Terus kayak misalnya

kalau di ranak non-profit sih

lebih ke misalnya apply funding

itu kan emang ada yang cuma

terbuka untuk jenis

non-profit, blablabla. Jadi

kalau balik ke topik ini, kita pengen bikin

library open source, kalau levelnya

masih di GitHub Sponsors

itu mah individu juga

masih nggak apa-apa kan. Itu individua

nggak terlupusin dengan

entitas ya.

Ya, misalnya

teknikali sih, kalau mau nyumbang

misalnya atau meta atau apa

kalau lewat platform GitHub

Sponsors, ya sah-sah aja.

Tapi kalau perusahaan besar, biasanya mau

lontorin dana besar, pasti kan

punya, ya itu tadi program sendiri

jenis kontraknya kayak gimana.

Kita pengen ya lucu deh coba di show.

Kenapa?

Eh, bisa lah siung.

Bisa, bisa sih.

Sudah jadi admin.

Nggak,

kalau ini mungkin

sama atau beda nggak tahu ya

minta pendapatnya juga.

Kalau di komunitas

waktu kita mau bikin conference

itu kan kalau mau terima sponsor

nggak bisa tuh pakai

pribadi. Makanya

waktu awal dulu

Ruby conference sama

Python conference mau bikin

itu teman-teman dari komunitas bikin

namanya Perkodi.

Jadi kalau teman-teman mau bikin perusahaan

apa, perusahaan

open source yang menerima donasi

bisa ikutan sini aja

daripada bikin sendiri.

Jadi daripada punya

apa namanya, bukakan nih

harus ada, ya

harus yayasan, harus ini, harus ngurus

kemana-mana, ikutan ini aja.

Tujuannya ya sebenarnya

cuman punya

rekening bersama sebenarnya.

Regber.

Regber, tapi versi ini ya.

Regber.

Yang 2017.

Kenal siapa ini ya?

Gio.

Gio.

Yang Gio sama Mas

Didik.

Didi Ucasono.

Didi ini kan yang Ruby kan?

Ruby-Ruby ya.

Jadi mereka kayak bikin yayasan untuk

supaya nggak perlu ngurus-ngurus lagi

kalau mau bikin conference atau ya tadi

kalau mau bikin entitas itu ikutan

sini aja.

Cookpad.

Cookpad.

Ada yang mau lihat-lihat, silahkan.

Oke.

Kita kembali ke topik ya.

Teknologi agnostik by default.

Saya cuman mendoakan supaya ada

karya anak bangsa sekelas ini nantinya

gitu, siapa tahu.

Terbuka.

Jadi temen-temen nggak usah

khawatir mikirin yang tadi ya.

Nggak perlu mikirin, wah gimana nih harus bikin

perusahaan blablabla. Udah.

Mulai aja dulu.

Wah, ini ada dari LinkedIn.

Ada nonton dari LinkedIn.

Kita baru pertama kali multistream

ke LinkedIn sama ke YouTube.

Jadi selamat datang.

Setahu saya kalau dapet grant atau kerja

sama dengan perusahaan, biasanya perhamputan.

Nah itu grant tadi kan.

Grant funding.

Itu harus ada badan hubungan.

Iya, kalau mau sponsor pun kadang-kadang

kalau perusahaan besar, pasti dia

mintanya entitas. Nggak mau dia

kayak...

Nggak usah harus perusahaan

besar, mas. Perusahaan yang

terdaftar.

Kalau atas nama perusahaan, harus ke

yang ada entitas yang nggak bisa ke pribadi.

Oke.

Nah, lagi-lagi tergantung platform

perjanjiannya kayak gimana kalau

dianggap sebagai apalah

ya nggak tahu ya, dianggap sebagai

pilihannya

antara kalau misalnya pribadi ke pribadi

berarti si pemilih perusahaan, ya udah

kalau gue nggak bisa pakai perusahaan, pakai

pakai nama gue pribadi ke orang

pribadi, itu bisa.

Kalau memang mau support doang.

Iya, mau support doang.

Kalau saya konsultasi

atau semacamnya, itu bisa

NPWP pribadi.

Oke.

Nah, tapi kan lagi-lagi

ini kan abstrak ya,

programnya kayak gimana, ini kan cuma

berandain-andain aja. Kalau misalnya kita

pengen bikin project open source

terus ada perusahaan besar yang

support. Nah, support itu kan

sebetulnya kalau yang di

ranah legal, supportnya itu apakah

sebagai grant, funding, apa

dianggap sebagai project CSR-nya

mereka, itu kan ada

kategorinya sendiri.

Pakai Saweria,

mana mau perusahaan-perusahaan besar

donasi lewat Saweria.

Ya, sih perusahaan besarnya nggak mau.

Nggak mau.

Ya, kalau yang donasi

sesama, apa, individu

ya aman. Tapi

kalau, apa,

kalau perusahaan besar mah nggak mau.

Kalau tiba-tiba yang donasinya

gede, nah, itu harus dicurikai.

Jangan-jangan.

Oke, back to topic.

Oke, kembali ke topic ya.

Jadi

menambah ide-ide aneh.

Udah mikirin duit aja, jadi bikin projectnya

aja boleh. Nah, akhirnya

selesai.

Akhirnya selesai.

NPM start.

Oh, tiga-tiga. Wih, langsung pakai VT.

By default. Iya.

By default. Keren.

Iya, emang VT kan berimigrasi dia semua.

Jadi CRA?

Itunya dia.

Oh, berarti dia

nyambungnya ke

VT ya, dia pakai

VT ya dari awal ya.

Jadi pakai 10-stack

start ya?

Enggak, ini belum start. Ini 10-stack aja.

Ini pakai router.

Enggak, nggak ada 10-stack

aja. 10-stack router.

Jadi kayak 10-stack itu kayak

umbrella term-nya. Cuma dia punya

macem-macem opsi yang tadi di halaman

awal itu yang kita lewatin, kita

control. Dia load

widget-nya loh tadi tuh.

Widget-nya dia bisa di-routing.

Routingnya jadi kayak...

Ada dev-nya, dev tools-nya.

Iya, dev tools-nya.

Ini nih dev tools-nya, jadi mana dia?

Router, eh bukan.

Ih, ada report

buat vitals loh. Langsung...

Iya, jadi kayak udah semua.

Jadi, kan tadi pertanyaannya buat

semacam...

Semacam nggak gantiin.

Orang-orang yang sekarang

udah kan itu tadi

Create React App udah

depiketit. Nah, terus kalau mau bikin

baru SBA, gimana kan?

Selama ini kita ngasih saran, ya udah pakai

VIT aja. Cuma kalau mentahan kayak cuma

VIT sama React, kan

belum banyak, belum ada fasilitas-fasilitas

builds and whistles kayak yang

dikasih sama Create React App kan.

Nah, ini kayak drop-in

replacement-nya adalah si Create

10-stack router app ini.

Tapi Create React App nggak ada

router juga, dia lebih

nambahin satu berarti.

Iya, satu fitur.

Cuma maksudnya buat apa? Yang kayak kita

bikin sesuatu yang agak mateng

lah. Kalau cuma VIT sama React luar, kan

cuma satu counter.

Singletis app doang, bener.

Testing library itu punya CanSeedle kan?

Ya, betul.

Testing library itu.

Testing library,

VITES,

WebFighter.

Standard lah ya. WebFighter.

Kalau WebFighter ini, DCRA juga

udah ada. Nggak usah kaget.

Coba gimana hasilnya kalau di dari ininya?

Buka console log-nya

tadi?

Ini?

Inspek elemen? Apa yang ini?

Kayaknya ini buat router doang.

Oh iya. Inspek elemen.

Iya, di console.

Console, console, console, console.

Console.

Iya.

Lo ngapain? Kalo di

reload?

Reload?

Ya reload.

Lo, kalo udah keluar.

Kalo udah keluar itu

hasil

WebFighter.

Di-enable nggak?

Nggak, mungkin belum nyalain.

Ini udah.

Ya itu console.log.

Dalemnya kasih

callback function

to.log.

Ya.

Oke, ya.

Block?

Block by client, karena localhost.

Bukan.

Oh gitu?

Gak tau.

Oke.

Nah itu submit

bug ke

kan ini open source semua.

Kita mau liat. Nah ini DevTools-nya

ada di sini.

Jadi kalo kita harus pake.

Yang dikiri tadi, kiri-bawah.

Nah, hilangkan kiri-bawah.

Kalo mau pake

DevTools, nah ini.

Komponen.

Komponen base dia.

Ini

routes-nya, terus ada index.

Kalo kita mau bikin

routes baru.

Oke, patch.

Ini ya di routes-nya.

Coba

.tsx

Udah dibikinin.

Kok bisa?

Kok bisa?

Coba ini deh.

Enggak.

Oke, ulang ya.

Ini .tsx, kita hapus.

Oke.

Bikinnya pake ini.

src

routes

.jsx

Yes.

.sx

Oke.

Oke.

Wow.

Dia gak detek

perubahan file.

Dia langsung inject.

Inject ya.

Nice.

Coba buka route-nya.

Coba.

Coba buka ya.

Eh, harus pake link ya?

Coba pake A aja ya.

Itu pake A kok itu?

Enggak.

Kan ada yang pake link.

Kalau

di dalam itu nanti SPA-nya gak jalan.

Ini?

Iya sih.

Ini gak pake SPA ya?

Coba aja.

Coba, coba.

Iya.

Tapi

internet-nya gak ya?

Cuman, gak SPA ya?

Tapi hapusnya kelihatan bukan itu.

Link.

Link ya?

Link.

Gak tahu bentar.

Eh, salah.

Link.

Link-nya sama ref.

Pake ref. Error.

Gimana kalau dicari

di Docs?

Bocan Docs.

Kebiasaan ya nyari-nyari sendiri.

Eh, mana dia? Ini.

Router.

Nah, search.

Control.K.

Link.

Control sama K.

Manual.

Gimana kalau search?

Control K.

Comment.

Nah, link.

Link.

Mana?

Itu link option.

Yang nomor 2.

Link option. Coba.

Oh gitu.

Link 2.

Ya, link itu.

2.

Mana 2?

Oh iya.

Tidak terbaca.

Tuh.

Ternyata di comment juga udah ada.

Disini juga ada kan?

Harusnya ya.

Property 2 is missing.

Kenapa kita gak baca disini ya?

Oke.

Karena tadi belum tau pake

turning link.

Baik.

Nah, coba tadi back.

Oke.

Ya, jadi SPA.

Berarti ini SPA ya?

Tep.

Oke.

Kok gak ini ya?

Masih keblok ya.

Oh, Webvital ini kali.

Lu pake ini kali ya? Apa namanya?

Mas Liza pake...

VPN?

Bukan.

Pake ad blocker gitu?

Enggak.

Nah, itu mungkin.

Itu gak ad blocker?

Itu content blocking.

Atas, atas, atas.

Block third party aja.

Block third party aja. Nah, dah.

Coba.

Nah.

Tadah.

Ya, wamsudah.

Keren.

Ya, wamsudah kelihatan FCP-nya apa.

Ya, gak ada apa-apa.

Ya, gak ada isinya, bang.

Pasti bagus.

Tapi kan

kalau sudah terintegrasi sama Webvital

wikini kan.

Ya, enak. Masaya tinggal

di depan mata.

Orang yang pake ini juga kan isinya bakal

diganti isinya dia sendiri kan.

Tapi kebantu banget.

Di depan mata.

Ini react router

tapi type safe. Ada

generate type. Ya.

Eh, emang react router gak ada ya?

Baru tahu sih.

React router

kayaknya lebih simple deh.

Kayak cuma bikin routing aja.

Karena dulu juga mereka mulainya

dari JavaScript sebelum

ada TypeScript ya.

Sebelum TypeScript seperti sekarang.

Pakai 2, pakai 2.

Ya, ya. Maaf ya.

Kita belum pernah

pakai. Ketanya LLM.

Oh, ada ya LLM

sd.txt. Ya, sayangnya belum ada.

Belum ada. Oh, belum ada.

Oh, belum ada.

Gue lagi menyoba kemarin. Karena

kemarin nih minggu lalu, kita kan nyoba LLM

sd.txt. Ya.

Sd.txt belum bikin.

Oke, menarik-menarik.

Dan, dan

tidak sulit ya. Karena udah

kayaknya udah umum ya.

Sudah terbiasa. Ya, kayak itu common

use case. Dan apa ya?

Sebenernya dia punya

keunggulan dari karena dia sama

mereka lama bikin di Ecosystem

React. Terus kayak orang

user developer tuh kayak

udah ketanam best practice-nya.

Nah, sekarang walaupun udah

framework agnostik. Maksudnya bisa

dipakai di macem-macem. Ya, kayak

sekarang udah familiar aja jadi.

Hmm.

Oh, sekarang React Router malah udah

kayak meta framework ya sekarang ya.

Malah ganti ya. Bukan.

Jadi sebenarnya agak ya

rancu sih. Jadi kalau 10-stacks

intinya mah 10-stacks start itu

yang

yang lebih SSR

friendly. Nah, cuma

kalau cuma pengen apa, ada routing-nya

aja. Jadi itu 10-stacks router

ini. Mereka sampai

nulis blog post. Buka deh

di private chat.

Jadi itu dia kayak

kata pengantarnya di dokumentasinya

10-stacks start.

Tuh kan, 10-stacks

start overview.

10-stacks start adalah bla-bla-bla

powered by React 10-stacks router.

Jadi emang ya kayak remix.

Kayak remix kan

powered by React router ya.

Nah, ini 10-stacks start

powered by 10-stacks router.

Jadi 10-stacks start

kayak

lebih dilengkapin aja.

Apa aja, oke.

Ada nested routing, ada

routing. Pokoknya semua routing lah ya.

Kemudian ada filebase

routing juga.

Kalau dynamic routing

nggak ada ya? Dynamic routing

kayak setelah

blog.

Harusnya ada lah ya. Masa nggak ada sih.

Iya.

Nah, itu.

Terus ke bawah. Itu kan tadi

yang ternyata 10-stacks router.

Nah, 10-stacks start itu

kayak lebih

lengkap aja based on

semua yang di 10-stacks router itu

plus to full SSR

streaming

for function.

Bisa SSR juga.

Bisa SSR, bisa

CSR.

Kalau kita perlu SSR,

kita mau pakai 10-stacks start, tapi kalau cuma

pure CSR

kayak single-touch cat gitu.

Itu tadi 10-stacks router udah cukup.

Iya, iya, iya.

Build from scratch.

Dia ngasih tahu

kalau mau

bikin, iya,

kalau mau set up project kosong

atau project yang sudah jalan mau

dirubah, ini ada caranya.

Daripada kalau yang...

Karena kalau pakai NPX

start gitu kan, kalau kayak...

Iya, itu harus dari awal, dari kosongan

pakai starter template.

Iya. Dan banyak konfigurasinya

sudah dihidang didalam

library-library itu.

Oh, dia

merekomendasikan Netlify.

Karena dia partnership

sudah, dia partnership.

Official

deployment partner.

Netlify kan sudah bisa server

back-end. Ya nggak sih?

Iya, bisa.

Function bukan?

Node ya? Node.js ya?

Kayaknya sudah node deh.

Karena sebenarnya dia cuma raper dari

AWS.

AWS.

AUS.

Mereka semua itu rapernya

AWS.

Iya.

Cuma

JavaScript developer friendly.

Kita nggak usah lihat

panel AWS yang bikin busnya.

Clerk.

Clerk.

Database.

Kayak Sentry pernah denger deh.

Sentry itu apa?

Sentry itu analytics.

Error analytics.

Oh iya, iya, iya.

Kayak New Relic gitu ya?

Kayak apa?

Kayak New Relic.

New Relic ya?

APM kan?

Ada browser,

browser-nya juga ada browser

site-nya.

Browser monitoring bahasanya.

Database-nya apa aja boleh

tapi

oh dia

kerjasamanya sama ini ya?

Satu-satu ya? Postgre.

Kalau untuk authentication, untuk deployment,

untuk database,

konvex ini apa ya?

Kayaknya database

as a service kali ya?

Back-end as a service ya?

Ya.

Apa sih maksudnya serverless

Postgre, serverless database

itu maksudnya gimana sih

serverless gitu.

Serverless itu pada dasarnya adalah

as a service pasti sebetulnya.

As a service.

Gampang ya kan?

Kalau serverless

function, gue ngerti nih

ceritanya. Karena sekali

misalnya kita info function,

jalanin, dia

selesai. Kita cuma bayar

per micro time yang

terpakai. Tapi kalau serverless

database itu

pasti

menangkep sih.

Itu gimik sih. Sebenarnya kalau dilihat

sekilas dari

deskripsinya sama

kemarin juga gue udah buka website-nya

satu-satu. Lihat depannya doang.

Hosted database as a

service.

Tapi bayarnya tetap

per storage atau

per month?

Harus kita cari

narasumber yang bisa kita

ajak ngobrol.

Serverless database.

Kayak hosted

database as a service.

Kalau serverless function

kita udah paham.

There is no such thing serverless.

Iya pasti.

Wireless earphone

juga dalamnya ada kabelnya pasti.

Cuma kita nggak lihat kabelnya aja.

Jangan salah. Serverless itu

bukan new server.

Tapi servernya sedikit.

Atau server yang kita maintain itu sedikit.

Sama bukan kita yang maintain

servernya.

Bukan kita yang ngobrol servernya. Kita bayar

untuk service-nya. Kita bayar untuk service

database-nya.

Orang banyak salah sangka, wah

ini serverless tapi kok masih ada server?

Ya namanya serverless, bukan no server kan.

Ya nggak bisa.

Ada yang free neon.

Ada yang free neon.

Ya neon ada freemiumnya ya. Benar-benar.

Kontongannya mungkin autoscaling

betul. Tapi RDS juga udah

autoscaling kan. Eh nggak ya.

RDS auto back up.

Tapi tidak autoscaling kan.

Bukan. RDS itu bisa

autoscale. Kan ada scaling

apa? Vertical atau horizontal.

Kalau RDS

itu bisa scaling

horizontal.

Kalau scaling verticalnya hanya

bisa one time.

Artinya kalau sudah naik nggak bisa turun.

Oh iya iya iya.

Anjay bahaya banget.

Ya iyalah.

Kalau storage-nya sudah dinaikin, nggak bisa

diturunkan lagi. Bisa data lost.

Data-nya abis, hilang loh.

Oh storage-nya ya?

Bukan

dekat machine run.

Semua-semuanya kan

kalau sekali naik kan memory naik,

CPU naik, data

storage-nya juga naik.

Storage-nya ikut di itu kan.

Bertambah.

Ada segudang

kompleksiti.

Mengkonfigur itu semua.

Pakainya serverless. Ya someone else yang

mengkonfigur itu semua.

Kan udah dikasih konfigurasinya kan.

Iya.

Termasuk juga

termasuk juga kartu credit kita.

Seperti diserahkan kepada orang lain.

Iya itu

mengerikan. Eh ada static

pre-renderingnya.

Nitoro.

Nitoro itu apa lagi?

Nanti kita mau bahas

ini.

Ini menarik

static pre-rendering

dulu. Ini isinya fit

dan nitro sama

ini menurutku

fenomena yang menarik sih.

Nitoro itu adalah

nitro itu

pokoknya

buat ngahendernya

target deployment.

Oh.

Ada blog post-nya dari

Tenstake, bentar. Si Tenor.

Ketauan robot nih.

Ketauan AI.

Mas Riza AI nih.

Kayak kita semua AI.

Saya

create web server.

Next Generation Server

Toolkit. Ini kayak Express bukan sih?

Pendatungnya Express bukan sih?

Noh ini belum ada sebelumnya.

Kayak menarik sih.

Deploy them wherever you prefer.

Posisinya dimana?

Jadi bikin server

memungkinkan suatu

library atau punya software JS

JavaScript based untuk

di deploy di macem-macem target.

Kayak misalnya aku lah di

Cloudware

Workers atau

di mana? Cloudware Pages tadi.

Cloudware Pages.

Di deploy nih.

Bisa dimana aja?

Framework untuk meng-handle

macem-macem target deployment.

Nah, yang udah

disediakan sama mereka adalah

zero-config provider.

Tapi kayak yang namanya framework.

Jadi kayak bisa di-customize. Jadi misalnya suatu hari

bakal ada provider jenis

lain yang

berbeda lagi.

Bakal bisa ada lagi.

GCP misalnya. Tadi nggak ada yang sebut GCP.

Nggak ada GCP.

Tak ada.

Tadi kita ngomongin AUS doang.

AUS sama AUS.

Azure Cloudware

Pages.

AUS.

AUS.

AUS.

Itu firebase app hosting kan udah keintegrate sama

Cloud.

Sekarang.

Itu udah zero-config.

Itu ada dua.

Ada HIO.

Firebase

app hosting.

Firebase.

Firebase ya.

Ini kayak

kalau di

Go itu ada namanya apa ya?

Numpah is namanya. Ada kayak Tulkit-tulkit juga

namanya.

Namanya tagline-nya juga mirip.

Coba ya.

Menarik sih dia

apa?

Gorilla sama nggak?

Gorilla.

Soalnya ini sama-sama Tulkit.

Nggak tahu nih sama apa nggak.

Soalnya dia ada

library-library yang lain juga.

Jadi ketengan juga.

Oh kalau Nitro.

Oh ini head-to-headnya Tenstake.

Kayaknya temen-temen yang pakai Go

yang lebih mengerti daripada kita

tolong dicerahkan.

Kalau Tenstake

kan front-end.

Kalau Nitro ini.

Sama Nitro.

Kayaknya beda deh.

Ini cuma buat

target deployment

untuk web server.

Server-nya juga ada.

Ini udah nggak apa-apa.

Ada QVStory.

Maksudnya semua yang

enforce dengan menjalankan photo server.

Mari kita simpan untuk

episode-episode berikutnya ya.

Ini enak nih dibahas Nitro.

Jadi intinya

adalah

kalau kita yang bikin

web-app itu kita kemungkinan

nggak langsung pakai Nitro-nya.

Nitro itu memfasilitasi pembuat

meta framework kayak Tenstake Star.

Terus kayak tadi yang dikomen

Nux.

Sebentar dulu juga Express

itu kan

SpellKit terus Nex

terus hampir semua meta framework

pakainya Express backend-nya kan.

Dulu ya nggak tahu sekarang.

Dulu ada pilihan tuh SpellKit.

Mau pakai Polka

atau pakai Express.

Apakah positioningnya

si Nitro itu seperti itu?

Ya nggak kayaknya deh.

Kalau dulu kan

semua by default semua

Node.js ya. Kita misalnya nggak punya

runtime lain mau pakai Express

mau pakai Polka. Perbedaannya

tipis karena semua

masih di bawah Node.js.

Nah sekarang kayak lebih macem-macem lagi

mungkin, dan sejujurnya

gue nggak terlalu ngerti intinya

perbedaan masing-masing runtime. Tapi maksudnya dengan

sekarang runtime-nya namun

macem-macem kan mungkin ada yang perlu

di adjust juga.

Mungkin dia jadi rapper atau jadi

itu ya. Jadi apa?

Jadi kayak polyfill

untuk berbagai

runtime kali ya.

Jadi kalau disini nggak ada, oh dia pakai

callback-nya kemana gitu ya.

Dia jadi middleware.

Yang

yang bikin Nux nggak usah

mikir beneran implementasi

detail-nya gimana buat ngejalanin

di

Deno, atau Node, atau

apapun, 10 stack start juga

kayak gitu. Jadi kayak

memfasilitasi macem-macem

meta framework.

Dan

Deno is block tuh, menarik tuh

si tanner-nya. Tadinya dia mau

pakai adapter. Maksudnya buat 10 stack start

dia yang manuali bikin adapter-nya

untuk Netlify, bikin

adapter buat Vercel,

dan lain-lain. Setiap kali Vercel

ada update

ya dia kayak harusnya soain.

Terus dia mikir, "Anjir, abis itu

gue nulis adapter, ya kalau cuma dua."

Terus dia liat,

dia ngebandingin remix. Jadi kayak

adapter-adapternya tuh kayak tipe-tipe gue udah 10

aja. Kayak makin lama makin banyak.

Dan itu kan dia harus memaintain

terus kan. Jadi kan nanti

pusing. Terus

dia nyari apa, pendekatan

lainnya.

Akhirnya malah pakai itu

10 stack start sama dengan

nitro, tambah fit, tambah

plus 10 stack roaster.

Iya, sama

berarti kayak express jaman dulu.

Kurang lebih ya.

Java Stack tool can to build

comfort state framework with your own opinion.

Oh, ada preset-presetnya.

Oke, oke.

Nah, presetnya yang tadi kita lihat itu, yang ada

Azure, AWS, firebase, uphosting,

dan lain-lain.

Berarti sudah kayak opinion

itu cara

nge-build aplikasi

back-end sama front-end

sekaligus ya 10 stack start itu ya?

Ya, 10 stack start ya.

Jadi dia

udah gabungin beberapa. Pertama

yang ini kan, router. Query masuk gak?

Enggak ya? Belum.

Maksudnya query ketengan kalau mau

pakai. Iya, kan dia hanya

untuk back-end-nya saja, membangun

back-end-nya. Terus front-end-nya

ya terserah lu sebenarnya mau

pakai query, 10 stack query

gue boleh aja gitu.

Tapi minimumnya

minimumnya 10 stack router.

Iya.

Untuk

transpiler-nya, bundler-nya

vt, nitro-nya back-end.

Kurang lebih gitu ya.

Dan sudah opinionated ya.

Sudah ada config-confignya dari dia.

Iya, sudah disiapkan.

Itu meta framework. Jadi yang meta

framework-nya adalah 10 stack start.

Framework di atas framework.

Framework di atas framework. Oke.

Saya harus

ini dulu.

Ternyata ada GDI web

perf meetup.

Sudah mulai.

Sudah mulai.

Boleh, boleh, ntar gue kasihin.

Oh iya, pernah ya.

Nah, malam ini

ya cuman silahkan coba satu-persatu

10 stack library

universe.

Mungkin besok-besok kalau ada

yang punya saran, pengen nyobain

10 stack start atau apalah yang

spesifik, ya kita bisa balik ke

product 10 stack

lagi. Kita langsung berdiskusi

di github discussion. Teman-teman

kita langsung kesana.

Nanti kita lanjut

lagi ngomongin

10 stack start kita bisa bahas

kemudian nitro juga kita bisa bahas.

Kita bahas 10 stack start

plus nitro aja sekali

biar nyambung.

Oke, boleh.

Boleh, siap.

Kita next-nya bahas bedah framework

itu ya.

Oke, untuk malam ini sekian dulu. Terima kasih banyak

semuanya yang sudah hadir.

Terima kasih juga buat yang

sudah hadir di link-in

malam hari ini. Nanti kemarin

kita akan coba juga

boleh kita banding-bandingin

aja yang mana yang lebih bagus.

Ini komennya.

Produk kecel, iya

produk kecel lagi mau di-boycott kan.

Ya, bagus-bagus.

Nanti bisa kita undang jeselin aja yuk.

Mumpung dia sudah.

Ya udah jadinya lagi kan berarti?

Belum, tapi kan dia tetap

ngerti anggular.

Ya, kali kalau udah

bukan gugular, jadinya lagi.

Anggular tuh, ada

yang minta anggular ya.

Jarang nih kayaknya

ngelihat lifetime pak.

Padahal bagus lah sekarang.

Bagus.

Oke, cukup ya.

Selamat malam.

Sampai jumpa. Bye bye.

Deskripsi asli dari YouTube

Yuk mari kita diskusi dan ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia web. Agar tetap up-to-date dengan teknologi web terkini. Topik, tautan dan pertanyaan menarik bisa dilayangkan ke https://ksana.in/ngobrolinweb Kunjungi https://ngobrol.in untuk catatan, tautan dan informasi topik lainnya.

Episode Terkait

Bagikan:

Suka episode ini?

Episode baru setiap Selasa malam. Dengarkan lewat YouTube, Spotify, atau feed podcast favoritmu.

Pilih Cara Langganan

Memuat komentar dari GitHub Discussions...

Jika komentar tidak muncul karena ekstensi privasi / adblocker, kamu bisa berdiskusi langsung di GitHub Discussions .