Ngobrolin Web & #KULTUM
Halo semuanya! Apakabar nih, semoga sehat selalu yaaa😊 Udah lama gak sih kita gak bincang-bincang bareng di Discord? Jangan khawatir ya karena besok kita bakal ada event special yaitu #KULTUM: Eps. 1: KULiah Teknologi Untuk Masyarakat Edisi GDE Web! Kalian bisa sharing-sharing mengenai web development dengan para GDE Web yang sudah berpengalaman dan pastinya keren-keren banget, antara lain: - Riza Fahmi, Co-Founder @Hacktiv8 Indonesia - Sandhika Galih, Content Creator at Web Programming Kunjungi https://ngobrol.in untuk catatan, tautan dan informasi topik lainnya.
0:00Oke, coba ulang lagi dulu. Share ulang, share ulang. Untung masih diperkenalan.
0:14Kalau mau nanya gimana? Kalau mau nanya di Discord, nanti boleh di-text aja di samping
0:23buat kasih tanda, tanya langsung gitu, nanti dibantu dari teman-teman Pani Tia
0:31buat ap naik kesini bareng-bareng.
0:34Oke, suaranya sudah aman.
0:36Oh, aman, oke, oke.
0:38Aman, kita bisa lanjut.
0:40Oke, kita bisa lanjut. Langsung aja kita masuk ke sesi Tanya-jawab karena kemarin juga kita
0:46udah collecting beberapa pertanyaan sembari menunggu teman-teman yang ingin bertanya langsung
0:51via Discord atau di YouTube, nanti ada teman-teman yang stand-by buat collecting pertanyaannya juga.
0:57Atau yang mau bertanya langsung sekarang juga boleh buat kasih tahu di kolom chat nanti dibantu
1:05kakak-kakak Pani Tia buat naik ke on-hole-nya gitu.
1:10Bisa tunjuk tangan gitu ya?
1:12Ya, tunjuk tangan ya, tunjuk tangan bisa.
1:15Tunjuk tangan.
1:17Tunjuk tangan online.
1:19Ya, ada yang gak bisa masuk.
1:23Sekarang masih limit ya, semoga 150 ya.
1:28150 ya.
1:30Ya, semoga Discord kita bisa terus nge-boost ya.
1:35300 bisa tuh.
1:37300, iya terbatas.
1:39Tadi ada yang nge-boost, ada yang nge-boost.
1:42Iya, tadi ada, nge-boosting lagi baru bisa.
1:44Nge-boosting lagi, let's go.
1:46Iya.
1:48Nah, udah 300.
1:51Udah 300, ayo masuk.
1:53Masuk, masuk.
1:55Waduh, masing rame ini.
Lihat transkrip lengkap
1:58Waduh, rame, oke.
2:00Oke, mungkin kita sembari mulai aja pertanyaan yang pertama dari Robert seputar SSR dan CEO.
2:12Mungkin dari Mas Riza boleh membuka topiknya perhal itu.
2:16Oke, SSR sama CEO ya.
2:20Sebenarnya kita udah pernah bahas ya.
2:22Iya, pertanyaan komplitnya gak ada.
2:26Mungkin mempertanyakan itu konteksnya ya.
2:31Jadi mungkin boleh dielaborasi lagi, kayaknya orangnya ada sih.
2:36Kalau saya boleh mengimpulkan, merekak-rekak.
2:43Karena ini menjadi pertanyaan yang paling sering banget di dunia web dan khususnya di dunia ini ya.
2:53Apa namanya?
2:54Di dunia ini.
2:57Apa, yang kayak industri news gitu ya.
3:04Jadi kalau mau pakai client side rendering atau server side rendering itu ada pros and consnya.
3:12Nah, salah satu kekurangan menggunakan client side rendering itu kan,
3:18ingat gak kalau, ini saya contohin pakai React ya.
3:22Kalau React itu kan, kalau mau nambahin sesuatu di head, biasanya pakai React Helmet kan ya.
3:27Ingat, React Helmet.
3:30Primoq lain atau client side rendering library yang lain, menyesuaikannya.
3:37Yang intinya menambahkan meta di head tag itu biasanya menggunakan library
3:47dan proses itu terjadi saat client side rendering.
3:51Sehingga saat Google crawler atau search engine crawler jaman dulu,
3:57itu belum bisa nge-execusi JavaScript.
3:59Sehingga tag SEO-nya itu gak kebaca atau meta description tag dan tag-tag yang lain gak kebaca.
4:10Sampai di-execusi JavaScript dilakukan.
4:14Namun beberapa tahun belakangan Google crawler sudah bisa nge-execusi.
4:19Tetapi masih ada kelemahannya yaitu ada yang namanya execution budget
4:27atau crawler time budget itu ada.
4:29Jadi crawler itu gak bisa semana-mana datang nge-execusi semua JavaScript.
4:34Karena kalau misalnya crawlernya, apa namanya, ngefisiknya terlalu sering untuk ngerender,
4:42mereka akan menghabiskan bandwidth server teman-teman.
4:46Jadi kayak nge-DOS, jadi ada time budget.
4:48Sehingga saat itu kan mulai saat client side rendering naik,
4:55trend itu menjadi masalah.
4:58Dan akhirnya muncul lah yang namanya prerender kan.
5:00Yang prerender server side diakalin dengan prerender intermediary atau sesuatu di tengah.
5:09Wah, pernah kita set up ngerender Tron sampai capek lah.
5:13Iya, prerender dulu.
5:16Library yang sempat trending banget namanya ngerender Tron.
5:19Kalau gak salah dibawah Chrome juga ya.
5:22Tapi banyak lah itu.
5:25Salah satunya namanya prerender, ada prerender IO.
5:28Prerender IO.
5:30Saya pakai itu dulu kan.
5:31Jadi prerender IO ini kayak main in the middle,
5:34dimana akan nge-execusi JavaScript kita dan jadi HTML aja.
5:39Dan di output ke browser dan nanti ada process hydration.
5:48Itu jaman dulu.
5:50Sekarang kan sudah maju.
5:54Sudah lebih canggih.
5:56Ya, sudah lebih canggih.
5:57Tapi di tengah-tengah itu sempat ada yang namanya static side generation.
6:00Jadi semuanya sudah dirender dulu.
6:02Jadi instead of jadi main in the middle, semuanya dirender dulu.
6:05Static side generation itu jaman si siapa?
6:08Gatsby.
6:10Tapi sekarang ini semua yang JavaScript Framework Library yang digunakan itu kan mulai dari React, Vue, segala macam.
6:22Sudah men-support yang namanya service head rendering juga, SSR.
6:27Jadi bisa untuk first visit-nya tetap akan dirender di server.
6:35Selanjutnya di hydrate di client saya.
6:41Jadi SSR tetap lebih efisien.
6:46Si crawler search engine untuk mengambil data SEO atau data konten kita jika konten kita langsung HTML saja.
6:55Of course, ya.
6:56Itu gak butuh execution power apa-apa.
7:00Jadi dia cuma tinggal ambil HTML, ekstrak HTML-nya, that's it.
7:04Jadi gak perlu execution JavaScript apa-apa.
7:06Kita berasal dari SSR-nya maupun SSG ya.
7:10Jadi maksudnya gak masalah mau generate statically.
7:13Kalau di server side itu kan tergantung kontennya.
7:17Betul. Crawler search engine crawler itu gak perlu mau pakai apa.
7:21Yang penting dia tahu HTML-nya apa.
7:23Hasil akhirnya ya.
7:25Hasil akhirnya.
7:27Jadi tetap menggunakan SSR.
7:29Yes. Go ahead, Jessica.
7:31Ya itu semuanya jadi inget sih waktu crawling-nya Google itu gak bisa ngelakuin kayak on-click gitu ya.
7:41Waktu itu ternyata ada kontennya.
7:43Tapi kalau load more gitu, itu gak bisa tercrawl.
7:47Jadi bukan karena SSR-nya, bukan karena client range atau static render atau apa.
7:53Tapi kalau ada event, dia harus click load more atau apa, ya gak bisa.
7:57Udah gak masuk sisanya.
7:59Ya benar-benar. Nah itu solusinya kalau kayak gitu kan jadi harus detect apakah ini bot atau enggak.
8:04Kalau misalkan ini bot, tunjukin aja udah semua HTML belontong aja.
8:10Ya, ya, ya.
8:12Dulu juga sempat ada trend di mana jadi kebelah dua.
8:17Kalau di detect apakah dia crawler atau bukan, kalau crawler diarahkan ke server.
8:23Di render sendiri.
8:25Itu namanya kalan-kalan montir.
8:31Dan itu sangat di-scarge karena maksudnya search engine kayak Google dan lain-lain pengen ngasih hasil yang reflect ke user experience-nya.
8:43Jadi kalau ketahuan malah bisa di-penalty atau apa lah.
8:47Masa ilang.
8:49Oke, mudah-mudahan sudah terjawab ya pertanyaan pertama.
8:53Oh iya, sama bonus tips deh.
8:56Kalau pun kita pakai client-side render nih.
9:00Misalnya kan ada bagian yang emang harus atau emang perlu di client-side render.
9:06Minimal kita pakai Shell, HTML biasa kayak yang disebut Ivan tadi.
9:12Entah kita pakai create-write app atau kita pakai server-side framework kayak Laravel atau Ruby on Rails.
9:21Tapi front-end-nya misalnya pakai React dan lain-lain itu kan common use case ya.
9:25Gak apa-apa, tapi minimum pakai Shell yang ada markup-markupnya lengkap.
9:29Two-head, meta-text.
9:31Ya maksudnya sebisa mungkin kita kontrol Shell-nya jangan semua di-inject belakangan.
9:37We are lebih optimal.
9:42Terus canonical atau apapun lah, SEO-based practice itu banyak hal di luar SSR atau CSR.
9:50Bener banget, itu SEO itu emang menarik sih diulikin, gak ada abisnya.
9:56Iya, baru tamat tiba-tiba ada ini baru lagi, ada algoritma baru lagi, ganti lagi.
10:04Tau-tau SEO score-nya tiba-tiba echo drop tiba-tiba ya.
10:12Dari Pak Sandika ada tambahan Pat atau cukup?
10:24Kayaknya udah diborong semua tadi.
10:27Terdengar banget ya, sakit ya suaranya.
10:31Oh maaf ya, aduh tidak berlaku ini suaranya.
10:35Gak apa-apa, gak apa-apa.
10:43Ini udah ada yang mau bertanya langsung, kayaknya udah mulai banyak.
10:49Jadi kita tahan dulu yang pertanyaan di Docs, kita izinkan temen-temen bisa bertanya langsung.
10:54Mungkin boleh dari, ini naikin dulu Zaky ya, GDSC Uni Persetas sama dia.
11:02Tadi mau bertanya secara langsung, dari Gian boleh dibantu naik ke stage.
11:07Ini versi online ya, kita yang nanya harus naik ke atas panggung.
11:21Harus request dulu katanya.
11:23Oh request dulu, dari ini ya request dulu.
11:26Zaky nanti di accept, coba request naik ke panggung.
11:32Itu ada di bawah buttonnya.
11:35Zakynya mana?
11:37Zaky, ada atau yang standby dulu, Muaz.
11:47Siapa lagi, request, ayo request.
11:50Oh iya, mungkin yang mau bertanya secara langsung boleh langsung request ya.
11:57Biar nanti tinggal di approve buat naik ke atas.
12:01Oke, tadi siapa ada lagi, Muaz ya, pertanyaannya udah ada tapi mau bertanya secara langsung kan.
12:10Request to speak ya, temen-temen yang mau bertanya secara langsung biar clear.
12:18Nah itu udah ada tuh Zaky, invite.
12:22Nah, mantap.
12:24Oke, Zaky, Zaky.
12:28Wah, hilang lagi.
12:30Jadi dia ambil ini dulu, ambil mic dulu.
12:35Di salun dulu.
12:37Oh, Fahri, request speak.
12:41Oh, ini gambar ya.
12:43Itu gambar ya.
12:45Oh itu gambar.
12:47Oke, oke.
12:49Zaky, Zaky, boleh naik.
12:53Kapan-kapan kalau kamu anak UX?
12:56Nggak ada ya di sini, youtuber dong.
12:59Iya, pokoknya kita jawab aja pertanyaan yang ada di chat dulu.
13:04Iya, pertanyaan yang ada di chat text mungkin, yang mana nih?
13:07Kita bingung kebanyakan.
13:09Yang nanya di chat text pakai emote ini semua.
13:13Oh iya.
13:18Wih, nggak ada.
13:20Wih, ada Mas Irfan di youtube.
13:22Yey, halo Mas Irfan.
13:24Oke, oke.
13:26Mas Irfan harusnya di-invite ke belakang.
13:28Eh, Mas Irfan.
13:30Ternyata Zaky-nya lagi ada zoom.
13:33Lagi kita wakilkan pertanyaannya.
13:35Lagi ada zoom.
13:37Oke.
13:38Saya mau nanya sekarang.
13:40Ya, semangat banget ini, Zaky.
13:44Saya mau tanya sekarang, text saya type script and not TS.
13:50Nah, is it worth it to learn PHP Laravel for the future?
13:53Karena trend-nya juga menurun tahun ke tahun.
13:55Tapi demand di kota kecil itu masih banyak.
13:57Jadi bingung, gimana ya?
13:59Boleh minta sarannya?
14:01Kita terima kasih.
14:03Oke, siapa yang mau bilang?
14:06Rang-rang begini nih.
14:08Ini sebentar.
14:10Desika mau jawab?
14:12Aduh, waduh, waduh.
14:14Oh enggak, oh enggak.
14:16Tapi terlepas dari, ini kita nggak bicara Laravel, langsung Laravel.
14:20Baru-baru ini, sebenarnya PHP kayak ada, ya ada development gede juga kan.
14:25Sebenarnya ada update, ada major update juga.
14:27Yang bisa type checking.
14:29Oh iya.
14:31Ya, nah itu. Itu yang bikin kayak, wah.
14:33Kayak akhirnya mulai ke arah situ juga.
14:36Tadi kan PHP, ya sama kayak JavaScript.
14:39Terus, wah jadi type checking sekarang.
14:41Betul.
14:43Trig data type maksudnya.
14:45Oh iya.
14:47Sudah bisa type checking dengan trig data type.
14:49Cuma kelihatannya, ini kan bukan berkara PHP-nya atau TypeScript-nya.
14:56Maksudnya soal teknologi kan, itu tergantung kita mau kerja di industri apa.
15:03Terus kalau ini ada demand di kota kecil itu banyak.
15:08Tapi berarti itu kan, berarti mungkin penanyanya nih.
15:13Cuma mau kerja apa, apa namanya, kerja di kantor kan, kerja in person.
15:18Walaupun tinggal di kota kecil, ya bisa aja kan kerja remote.
15:22Misalnya kalau emang mau, terus apakah worth it to learn?
15:28Kalau ini subjektif saran ya, itu kan soalnya ini udah di luar teknis teknologinya.
15:34Tapi kalau mau ngulik sih, itu bagus.
15:38Karena kita jadi bisa mikir dari banyak perspektif.
15:42Tapi kalau misalnya dikejar atau nggak untuk karir kan,
15:45maksudnya otomatis pengalaman kita di tech-tech yang baru itu.
15:49Dalam kasus ini di Laravel, pengalamannya kurang.
15:52Maksudnya walaupun kita speed-trans dokumentasi, nggak ada yang bisa mengalahkan real-world experience bikin production app kan.
16:00Dan itu nggak bisa instant langsung kita dapetin semua insights-nya.
16:04Nah berarti kan butuh waktu dan effort untuk mendalami itu.
16:10Jadi kalau soal belajar dulu, worth it to learn sih worth it.
16:14Tapi buat ngejarkan, ini berarti kayak tersirat,
16:19pengen demi ngejar karir, pindah tech-tech ke Laravel.
16:22Nah itu harus dipertimbangin kayak,
16:25kalau emang mungkin pengen ngejar banget kerja di suatu perusahaan yang emang dream company,
16:32emang tech-tech-nya itu, berarti kan itu patut diperjuangin kayak pindah tech-tech.
16:37Tapi kalau misalnya nggak segitu prioritasnya, ya mungkin kedepannya kan,
16:43ya itu entah mungkin bakal ada perusahaan baru di kotak kecil itu,
16:46yang tech-tech-nya type script yang sesuai yang sekarang udah didalamin,
16:50atau mungkin ada kan kerja di luar kota atau luar negeri secara remote.
16:54Jadi itu untuk bisa dijadiin pertimbangan.
16:58Yang lain gimana?
17:01Yang apa, yang konten videonya banyak juga php nih Pak Dika,
17:08mungkin bisa kasih tambahan gitu, insight dari sisi php-nya.
17:12Tadi apa namanya, katanya javascript-nya udah belajar, javascript, type script udah belajar gitu ya.
17:20Terus alasan kenapa mau belajar php-nya tadi gimana?
17:25Karena kadang ya.
17:28Kalau misalnya ada kebutuhannya sih ya gas aja pelajari.
17:31Tapi kalau misalnya sekarang udah jauh gitu di ekosistemnya fast script,
17:38kalau belum ada kebutuhannya rasanya gak usah gitu.
17:42Di sini sih, kekhawatiran ke ini sih kayaknya, type script katanya node.js,
17:51node.js itu menurun dari tahun ke tahun, apakah worth it learning php,
17:57jadi kayak mau pindah gitu.
18:00Menurun sih gak juga ya?
18:02Gak ya, kayaknya ngeliatnya, ngeliat menurun itu karena statistiknya statistik javascript kali ya.
18:09Iya bisa jadi.
18:10Kalau statistik Lara.
18:12Karena kalau menurut saya kalau udah masuk ke Laravel juga jangan Laravel aja,
18:15harus ekosistemnya dipake juga semua, depan, belakang, server segala dipake gitu.
18:22Maka itu akan jauh lebih optimal gitu.
18:26Saya punya pendapat yang mungkin gak semua orang suka.
18:30Kalau dari saya, kalau memang sudah tahu text tagnya, sudah pakai type script,
18:40node type atau javascript, cobalah kembali ke basicnya, belajar awalnya,
18:47belajar basic programming, belajar basic dari asik tektur, belajar basic servernya juga,
18:54bagaimana cara execution dari javascript engine atau belajar execution dari php,
19:03interpreter segala macem, dan belajar algoritma dan pemenggerapan data struct segala macem.
19:09Sehingga kamu bisa menjadi agnostic untuk programming language apa aja.
19:14Kalau mau pindah ya pindah gitu.
19:16Jadi kalau bisa bikin programming language sendiri.
19:20Nah itu kan, jadi kalau memang mau pindah ke programming language lain atau ke framework lain,
19:26silahkan saja karena itu kebutuhannya.
19:28Namun tetap harus kamu pegang satu, pegangan satu kamu kuat basicnya
19:34dan juga kuat untuk di stack yang kamu nyaman.
19:39Contohnya saya nyaman di php.
19:42Dan saya basic untuk, apa maksudnya, secara pengetahuan php-nya banyak dan namun saya tidak terbatas untuk php.
19:53Saya bisa hal-hal yang lain juga, sampai bus script juga bisa,
19:57sampai mungkin sedikit rush dan golong juga bisa, javascript juga bisa.
20:02Dan kalau mau pelajari program baru, saya so aja gitu.
20:06Kalau mau belajar tinggal belajar gitu.
20:08Karena basic dari pengetahuan cara programming language itu bekerja sudah punya.
20:15Jadi mau kemana aja bisa.
20:16Jadi kalau bisa agnostic.
20:18Back to basic.
20:23Ini kayaknya objek yang nggak kontroversial nih.
20:28Saya mau nambahin diseputar Jessica dulu deh.
20:38Ya sebenarnya juga kita perlu nanya lagi sih.
20:43Kalau misalkan di main kotak-kotak kecil gitu, mereka pengen pakai Laravel itu
20:49emang sebenarnya ada apakah sosibel karena mereka taunya Laravel aja
20:54atau mereka ada consideration sendiri sebenarnya kan itu yang bisa jadi pertimbangan kita juga.
20:59Apakah itu worth buat kita dalemin beneran?
21:03Kalau sebutannya asal bisa pakai kan sebenarnya nggak usah sampai didalemin aja gitu.
21:08Kalau misalkan ya asal, misalkan buat jadi kerja, buat jadi proyek gitu,
21:14nggak usah sampai dalem-dalem banget juga kan.
21:16Dan ya balik lagi ke agnostik aja.
21:18Saya mau menambahkan sedikit tentang ini apa trend, ngikutin trend.
21:27Jadi pindahnya itu apakah karena trend atau karena kebutuhan?
21:31Jadi kalau saya sih lebih memilih ya karena butuh aja gitu.
21:34Karena PHP sama Node itu kan dua hal yang ya bisa, kita bisa bikin apapun pakai keduanya.
21:42Tapi juga specific problem yang hanya bisa diselesaikan OCS
21:47belum tentu bisa diselesaikan dengan cepat dengan mudah di Laravel, begitu juga sebaliknya.
21:52Jadi kalau misalkan tujuan hanya gara-gara trend itu kayaknya mendingan kita yang bikin trend.
22:00Kalau mungkin di daerahnya ini Node.js kurang ngetrend nih, ya udah kita bikin trend.
22:05Jadi jangan secara buta mengikuti trend.
22:10Trend itu kan di luar, belum tentu di Indonesia juga seperti itu.
22:14Jadi ada perlunya juga kita kayak menahan diri untuk tidak mengikuti trend,
22:20menyelesaikan masalah apa yang bisa kita selesaikan dengan apa yang kita bisa, apa yang kita mampu.
22:26Karena kalau belajar orang dari awal, jenjang karirnya kayak mulai dari awal lagi nggak sih?
22:33Jadi dikonsiderasinya itu, kecuali kalau misalkan di kotanya ini,
22:42dan Zaky nggak mau ke luar kota atau nggak mau di luar negeri misalkan.
22:47Hanya di kota itu dan di kota itu hanya PHP atau Laravel.
22:52Itu mau nggak mau ya, karena itu penyerapan tenaga kerjanya di sana, ya mau nggak mau harus mengikuti.
23:02Ada yang percaya nggak saya di dunia WordPress sudah 15 tahun?
23:08Enggak. Kenapa harus luar percaya?
23:13Dan masih di dunia WordPress 15 tahun setelah nggak tahu berapa tahun lagi.
23:19Ya itu kan katanya PHP mau mati kan. Dari tahun berapa itu nggak mati-mati.
23:24Lama. JavaScript juga banyak hatersnya kan. Sama aja.
23:32Gak jauh-jauh.
23:34Ya itu mau bilang, aku harus bilang PHP mau mati, tapi perasaan WordPress tetap aja populer-populer terus.
23:40Penuh lagi ini server.
23:43Lanjut, lanjut, lanjut.
23:50Ada pertanyaan lagi.
23:52Sudah mulai banyak cicilan pertanyaannya.
23:55Oke kita move ke pertanyaan selanjutnya.
23:58Jadi kayaknya yang di Docs kita tahan dulu, kita pindah ke pertanyaan yang standby.
24:03Di sini ada pertanyaan selanjutnya, apakah sekarang jamannya Ruby on Rails akan digantikan oleh Poenix?
24:10Soalnya banyak sekarang konten-konten bahas tentang kelebihan Elixir ketimbang Ruby.
24:15Dan bahkan ada X-Rails, Dev, dan Ruby on Rails.
24:24Jawabannya adalah tidak. Ruby on Rails.
24:31Terlalu dipakai karena yang bikin Ruby on Rails kan base cam kan.
24:36Nama perusahaannya base cam.
24:38Selama perusahaan itu ada kayaknya.
24:40Tadinya 37 signal, sekarang nggak ada base cam.
24:44Sudah nggak 37 signal lagi?
24:46Sudah.
24:47Tadinya nama produknya tuh, akhirnya jadi satu aja dia produknya base cam itu.
24:51Dan base cam itu dibuat dengan menggunakan Ruby on Rails.
24:54Dan mereka bikin framework itu untuk base cam ini.
24:57Sama aja kayak Facebook menciptakan React untuk bikin sosial media-nya dia.
25:02Iya. Kayaknya sulit kalau nanti React akan tidak dipakai.
25:08Karena minimal akan ada satu perusahaan yang menggunakan.
25:11Yaitu ya, yang menciptakan gitu kan.
25:14Jadi, sebagai alternatif aja Ruby on Rails kabarnya kan karena dia bahasanya high level,
25:25mirip-mirip kayak Python, JavaScript.
25:28Jadi, secara performa mungkin agak tricky untuk di-scaling kan.
25:33Sementara ada bahasa-bahasa yang agak low, yang out of the box itu udah cukup,
25:42performanya udah cukup bagus.
25:43Tapi, kembali lagi, sekarang dengan adanya cloud, server itu udah lebih murah.
25:50Jadi, sebenarnya pemilihan teknologi itu udah nggak terlalu rev1 lagi.
25:54Mau kita pakai bahasa yang lambat banget pun, kalau selama kita produktif
25:59dan ada duit untuk bikin server, ya masih aman gitu.
26:03Nggak perlu ganti yang, "Oh, harus pakai Rust, oh, harus rewrite ke Go."
26:07Nggak juga gitu.
26:08Dan kadang kita tuh developer yang aktif, yang suka agak fomo ya,
26:12kebanyakan baca Hacker News dan sebagainya.
26:14Itu kita kayak mikir kalau ada sesuatu yang baru, lebih bagus, lebih cepat,
26:19semua bisa diganti. Padahal di kehidupan nyata, misalnya kita di tempat kerja,
26:26existing codebase pakai teknologi apalah yang agak outdated atau kurang trend,
26:31kan nggak segampang.
26:33Itu kita meyakinkan atasan kita untuk rewrite semua dari awal pakai stack yang sempurna,
26:41versi tahun 2023.
26:43Jadi kelihatannya maksudnya bakal tetap banyak banget ada legacy framework yang bakal
26:49masih dipakai di industri sampai lama ke depannya.
26:53Ya pelan-pelan bisa dioptimize, kecil kemungkinan langsung diganti.
26:58Sebenarnya masalah daripada apakah bahasa bisa menggantikan,
27:07atau framework bisa menggantikan, kalau misalkan terlalu high level atau low level,
27:13itu learning curve-nya gimana?
27:15Jadi kalau kita jangan fomo-fomo, apakah bisa menggantikan, apakah orang lain gampang?
27:25Maksudnya buat belajar hal yang baru itu, apakah itu worth it?
27:30Kalau seandainya belajar hal baru, terus kita kembali cepat lagi buat development kayak gitu,
27:37apakah itu worth it? Maksudnya nggak diganti kayak gitu sih.
27:40Iya, betul. Yang dipikirin sebenarnya user.
27:43User nggak peduli kita pakai apa selama aplikasinya bagus.
27:48Dan cepat sih ya.
27:51Cepat itu bisa banyak faktor ya.
27:54Saya sedikit membagi pengalaman di proyek-proyek yang enterprise.
28:00Di proyek enterprise kalian tidak dihadapi dengan pilih framework yang mana kok.
28:05Karena jarang banget meminta, oh ini pakai framework yang mana.
28:09Karena sehari-harinya framework ini, penamanya situsnya sudah jalan,
28:13atau mereka sudah punya sistem sendiri yang mana kita tinggal menyesuaikan dengan apa yang dipakai.
28:21Kalau memang kita mau introduce yang baru, itu butuh arkitektur yang besar.
28:28Maksudnya dari sisi sistem arkiteknya akan mulai buat dokumentasi segala macam,
28:35yang mana nanti pemilihan framework-nya pun adalah sesuatu yang untuk enterprise
28:39dan yang sudah dipilih, yang sudah rata-rata, sudah punya track record,
28:44dan bukan sesuatu yang baru-baru banget, tetapi sesuatu yang stable.
28:49Jadi tidak pernah pakai sesuatu itu, eh tiba-tiba besok ada JavaScript framework baru.
28:55Eh kita pakai itu, yuk gitu.
28:57Nggak.
28:59Jadi tetap akan ada backward compatibility dan stability.
29:05Jadi apapun yang kalian pelajari sekarang, akan masih tetap relevan kok.
29:09Dalam 3, 4, 5 tahun masih tetap relevan.
29:13Oke, sudah terjawab?
29:16Oh, lagi lanjut.
29:20Framework yang populer-populer juga kan sebenarnya di-develop-nya juga dari yang lama-lama.
29:26Jadi kita belajar yang lama, apakah dengan misalkan yang kita belajar itu ternyata nggak dipakai lagi,
29:34kayaknya nggak langsung segitunya deh.
29:37Karena banyak lagi sih memang kalau misalkan kita agnostik,
29:41nah kalau kita agnostik kan akhirnya kalau kita belajar yang baru lagi juga ya,
29:46kolanya mirip-mirip gitu bisa.
29:48Itu sih.
29:50Iya.
29:52Oke.
29:54Kita lanjut pertanyaannya semakin banyak, teman-teman.
29:58Semoga menjawab ya Mas.
30:01Ada satu pertanyaan terlewat tadi dari Hiko, bagaimana web scraping yang otabenya,
30:07web yang ambil data article dari website lain, sudah dijawab?
30:11Sudah saya banget, sudah saya jawab.
30:14Asingkronus.
30:18Asingkronus, asingkronus, oke.
30:20Mungkin next pertanyaan Abdurrahman ya,
30:23untuk mengintegrasikan Laravel dengan react.js, bagusan dengan inersia atau dengan API?
30:29Ini aku kebetulan ada pengalaman, emang pengalaman pakai Laravel.
30:35Ini tempat kerja.
30:37Laravelnya sendiri malah nggak ahli-ahli amat.
30:39Cuma ini kalau pertanyaannya agak aneh sih dengan inersia atau dengan API.
30:44Ini hal yang beda ya.
30:45Jadi inersia itu untuk front-end-nya.
30:49Jadi Laravel itu kan full-text, full server-side.
30:53Jadi misalnya kita nggak pengen front-end yang JavaScript-based,
30:57pengen yang beneran markup template biasa aja,
31:00kita bisa pakai Laravel dengan Blade.
31:03Tapi kan kebutuhan sekarang, kebutuhan modern ya, web app yang interaktif,
31:10perlu banyak intrasi JS, kita pengen pakai front-end framework.
31:15Pilihan yang paling basic, mentahan nge-load react juga bisa sebetulnya.
31:21Tapi kan agak sulit karena kita harus mengkonfigurasi segala macam build system sendiri
31:26dan disambungin ke Laravelnya.
31:29Jadi itu nggak sangat dipercaya.
31:31Terus ada library namanya inersia nih yang cukup populer
31:37karena dia bisa mengintegrasikan framework front-end.
31:42Pilihannya bisa pakai react, bisa pakai swell, bisa pakai view,
31:45terus pakai web pack build-in-nya Laravel itu disambungin.
31:50Itu bisa jadi opsi karena cukup banyak yang pakai
31:54dan dokumentasi lumayan, jadi ekosistemnya lumayan.
31:59Atau bisa juga pakai semacam yang dibawah dari Laravelnya sendiri itu
32:05ada jet stream, kalau jet stream itu sama juga punya buat handling UI.
32:15Jadi kalau live wire itu lebih hanya dia offisial dari Laravelnya.
32:20Jadi mungkin itu juga dokumentasinya bagus.
32:23Tapi personal nggak pernah pakai sih, jadi nggak bisa ngasih saran.
32:27Buat saya sih sebenarnya bagus dan cukup umum.
32:31Tapi kalau pertanyaan luksia atau dengan API,
32:34API itu kan di level data.
32:37Maksudnya kita nge-grab data entah langsung dari database
32:41atau kita pakai service eksternal, ya biasalah kita bikin controller,
32:46terus kita serve datanya sebagai API, itu kan data doang.
32:50Itu bisa dipanggil baik dari front-end itu,
32:54baik dari front-end kita yang pakai react,
32:56atau ya dipakai langsung di view blade.
32:59Jadi ini masih agak kurang jelas sih maksud pertanyaannya.
33:04- Kalau mau fleksibel mungkin lebih bagus API kali ya.
33:09Tapi kekurangannya adalah kita harus menit lagi.
33:12- Tapi API kan cuma ngasih data doang.
33:14- Iya, harus menit si reactnya, mungkin pakai next.js atau pake vidka dan lain-lain.
33:20Jadi API-nya dikonsumsi langsung.
33:23Itu lebih fleksibel.
33:25Kalau kita mau buat API-nya, servernya,
33:29terus kita bikin front-end terpisah yang khusus react.
33:33Kalau itu sih tergantung kebutuhan tim dan konteksnya ya.
33:39Berarti kan bisa aja fleksibel, tapi kan jadi ada 2 database yang harus diurus.
33:44Nah terus itu tergantung banget sama resursi tempat kerja
33:48atau tim kamu itu orangnya pada terbiasa pakai apa.
33:53Misalnya emang semua pada terbiasa pakai next.js atau pake track app,
33:59emang pada bisanya itu dan pada benci gitu, nggak mau alergi pakai Laravel,
34:03ya udah kalau itu kan ada tujuannya, kepentingannya.
34:08Atau sebaliknya pada nggak mau pakai next.js,
34:10kalau pada suka di Laravel aja, ya udah pakai Laravel dan Inertia.
34:15Jadi ini kan pertanyaannya 1 di Laravel, back-end dan full-end,
34:20atau dipisah, yaitu tergantung tujuan.
34:22Tergantung resursi, tergantung kebutuhan.
34:26Iya, sepuluh persen pertanyaan jawabannya adalah it depends.
34:30It depends ya, gampang ya.
34:33Ya udah, sisa berapa belas pertanyaan nih kita jawab, it depends semua.
34:37It depends.
34:40Iya, ini ada masukkan nih dari Lukman.
34:44Lebih bagus Laravelnya jadi server, kalau dipakai front-end katanya berat.
34:48Mungkin ada yang pengalaman ya, kalau kita nggak pengalaman soalnya menggunakan Laravel.
34:54Oke, mungkin setus, semoga menjawab.
34:59Oke, ada tambahan lagi dari Pak Sandika atau Kak Jess?
35:07Atau Mas Ivan?
35:10Engga, lanjut dulu.
35:14Oke, kita lanjut pertanyaan dari Lil B.
35:18Saya mau tanya dong mas terkait dunia front-end nih ke depannya.
35:23At SS atau Prompt to Functional Web, jadi agak kena mental gitu.
35:28Buat pemula yang lagi nekunin front-end.
35:30Ini dalam konteks dunia kerja.
35:32Jadi dia kayak butuh insight-insight lah dari suhu-suhu di sini.
35:36Aduh.
35:37SS mana ya?
35:38Screenshot. Jadi kode. Yang kayak Excalibrol.
35:45Jadi kita gamak-gamak, mokap gitu. Terus tiba-tiba di generate jadi kode.
35:49Atau sekarang Versal tuh punya v0.
35:52Ya pokoknya AI itu lah ya.
35:56Ya per AI-an.
35:58Figma dari ini sudah langsung jadi kode HTML.
36:03Dan apa tuh? Tailwind. Sudah bisa gitu.
36:07Itu katanya kena mental.
36:09Gimana tuh?
36:11Cuman balik lagi. Sebenarnya kayak gitu lebih...
36:15Kita kalau mereka generate yang kayak gitu, keren-keren sih mungkin iya.
36:19Itu event mungkin AI pun lebih baik daripada kita yang kadang-kadang agak mager nekunin.
36:24SS-nya diulikan margin-marginnya.
36:27Tapi kalau kita bahas integrasi ke back-end-nya.
36:31Terus kayak arsitekturnya itu kan nggak akan nge-cover.
36:34Jadi di situ sebenarnya skill front-end-nya mayannya di situ sih.
36:39Mungkin kalau kita nggak usah sampai generate kayak gitu.
36:44Event sebelum ada per AI-an ini juga.
36:47Figma aja kan udah canggih ya.
36:50Sebenarnya udah kayak kita si desainnya itu kan bisa langsung di-convert jadi SS.
36:55Itu sebenarnya kan itu pun udah the wannabe automation ya.
37:02Cuman waktu itu dulu maksudnya belum bisa populer sekarang aja.
37:07Padahal sebetulnya itu pun udah bisa menggantikan tanda kutip front-end.
37:13Saya, pendapat saya, sekali lagi pendapat saya mungkin nggak disuka.
37:20Ini ternyata pendapatnya normal banget biasanya.
37:28Jangan mengira kalau front-end itu hanya meng-convert desain.
37:34Slicing, slicing, slicing.
37:36Front-end itu bukan slicing.
37:38Bukan, bukan.
37:40Salah.
37:42Itu baru kulitnya.
37:44Itu baru kulitnya.
37:46Front-end itu tugasnya apa?
37:48Kita lihat, oke yang pertama memang membuat pixel perfect dari desain menjadi HTML.
37:53Lalu membuat komponennya testable.
37:56Jadi setiap komponennya itu bisa testable, bisa ada visual regression test.
38:00Membuat komponennya itu semua accessible.
38:04Accessibility AAA.
38:06Kalau bisa.
38:08Lalu membuat komponen-komponen yang dibuat itu cross-platform.
38:16Maksudnya cross-browser.
38:18Support sampai 3 browser, 3 major browser version yang sebelumnya dan ditest.
38:22Testable juga.
38:24Terus membuat komponen-komponennya itu progressive enhancement.
38:30Mulai dari misalnya misalnya dia nggak bisa dipakai.
38:33Contohnya annoying Firefox belum bisa hash.
38:36Baru bisa nanti 3 hari lagi ya.
38:40In titik 2 hash.
38:42Itu Firefox belum bisa.
38:44Tapi bagaimana bisa membuat progressive enhancement.
38:47Jadi kalian buat itu.
38:49Layoutnya itu stable.
38:52Maksudnya mau di browser mana aja bisa tetap di jalan.
38:55Dan di device mana aja tetap bisa load-nya bagus.
38:58Terus memperhatikan core web vital.
39:01Membuat load-nya sebagai lebih cepat, lebih sederhana.
39:04Renderingnya lebih bagus.
39:07Stable dan juga responsif.
39:10Responsif masinya tidak patah-patah.
39:12Tidak nge-like.
39:13Terus juga front-end itu juga membingkirkan UX.
39:17User experience-nya.
39:19Bagaimana animasinya.
39:22Bagaimana respons dari setiap komponen.
39:24Jika di-click, di-hover dan di-slide atau di-swipe.
39:29Itu juga dipikirkan oleh front-end.
39:31Apa lagi?
39:34Untuk nge-test data flow atau end-to-end testing.
39:41Itu dari front-end.
39:43End-to-end testing dibuat supaya mengikuti business process dan business logic.
39:47Supaya minimal check-out-nya dan payment-nya tidak gagal.
39:51Mungkin kalau di Tokopedia.
39:54Kalau misalnya check-out dan gagal itu bisa tutup besok.
39:57Kalau Tokopedia bisa fail.
39:59Pasti mereka sudah punya itu.
40:01End-to-end testing untuk payment.
40:04Pasti punya dan itu gak boleh gagal.
40:06Kalau fail gak bisa deploy.
40:08Dan berbagai macam lagi.
40:11Itulah scope front-end.
40:13Jadi kalau misalnya liat SS prompt itu fungsional web.
40:19Itu baru kulitnya.
40:21Itu sprinkle-nya.
40:24Baru apa namanya?
40:27Mesejnya ya.
40:29Baru mesejnya itu.
40:31Mesej.
40:33Sisa masih panjang.
40:35Makin kena mental ini Lilby.
40:37Makin kena mental malah.
40:39Banyak.
40:41Belum lagi back-end-nya.
40:44Udah ada front-end-nya terus mau diapain.
40:46Datanya disimpan di mana.
40:49Jadi jangan jadikan AI itu sebagai lawan.
40:55Tapi jadikan sebagai teman.
40:57Bisa buat teman belajar.
40:59Bukan teman sih.
41:01Budi kacung aja.
41:03Terlalu baik ya kalau jadi teman.
41:05Terlalu baik ya.
41:07Yang apa-apa bukan orang.
41:09AI juga menganggap lu teman kok.
41:13Nanti kalau misalkan dia jawab aneh-aneh.
41:17Kamu terlalu baik buat aku.
41:19Jadi kita harus dikacung aja.
41:21Terlalu baik.
41:23Terlalu baik.
41:25Terlalu baik.
41:27Yang tadi dibuat sama Ivan.
41:29Tulus yang ada itu kita pakai buat mempermudah kita.
41:34Jadi kan sebetulnya kadang kita misalnya nggak punya di kehidupan nyata,
41:39kita nggak punya waktu atau sumber untuk nyunci sendiri atau masak sendiri.
41:44Itu kan sebenarnya kita delegasikan.
41:46Kita mampu bayar, kita beli makan di warung,
41:48atau londri hilauan, atau apalah.
41:51Sebenarnya tulus itu kayak gitu.
41:53Tapi yang punya kontrol kita yaitu front-end tadi.
41:56Terus satu lagi, selain semua yang udah dijelasin Ivan tadi,
42:00satu, tulus AI itu nggak punya kemampuan untuk memahami konteks kebutuhan.
42:07Misalnya kalau kita kerja di perusahaan atau organisasi,
42:12kita punya tim lead yang punya suatu tujuan.
42:16Mungkin organisasi kita membuat produk, entah itu berupa.
42:21Entah itu komersil atau bukan komersil,
42:23tapi kan pasti ada tujuannya.
42:25Kita bikin aplikasi atau situs web kan harus ada tujuannya.
42:28Yang simple kalau misalnya marketplace biar banyak orang yang beli berita,
42:34biar banyak orang yang baca, dan seterusnya.
42:36Yang bisa mahamin semua konteks itu developer yang manusia.
42:40Terus kalau contoh penerapannya gimana?
42:42Misalnya kalau tools,
42:45tools AI itu kan bisa suruh buatin webform yang inputnya ini, ini, ini.
42:50Tapi kan dia nggak punya.
42:52Maksudnya misalnya orang marketing atau produk
42:55bisa nuruh tools itu untuk bikin webform yang inputnya ini, ini, ini.
43:01Tapi mungkin karena mereka nggak punya underlying,
43:04nggak punya pemahaman kayak kita sebagai front-end dev,
43:08mungkin mereka nggak bakal nanya soal validasi.
43:13Maksudnya validasinya kriterianya apa, pesannya apa biar helpful untuk user.
43:19Nah yang ngerti konteks itu kan cuma kita.
43:23Terus kalau misalnya validasi error dikaitin sama aksesibilitas nih.
43:28Kalau misalnya pesen error, itu munculnya pakai aria role apa sih.
43:32Nah itu tools AI kan nggak,
43:35mungkin bisa kita suruh.
43:36Kalau kita prom dengan se-specific itu ya dia bisa bikin.
43:40Tapi kan tetap harus lewat kita berarti.
43:42Yang bisa mengontrol AI dengan baik ya itu cuma kita.
43:46Cuma front-end developer.
43:48Kalau misalnya di luar itu, misalnya orang yang bukan front-end dev,
43:52minta bikin inform, ya udah dibikin inform doang.
43:56AI-nya nggak akan inisiatif nanya soal hal-hal itu.
44:00Atau kalau yang contoh bego-begonyalah,
44:02kalau misalnya punya sign up form melalui OAuth,
44:07punya melalui email dan password.
44:10Kalau misalnya double, itu gimana UX-nya untuk misalnya menawarkan
44:15merge account, atau bikin dua akun,
44:17atau malah dilarang bikin akun lagi.
44:19AI kan nggak bisa mikir sampai situ kalau nggak disuruh.
44:23Jadi front-end itu ada kaitannya dengan UX tapi secara teknis.
44:28Iya, itu form-nya itu tricky sih.
44:32Nggak bisa diautomasi semudah itu.
44:36Walaupun itu kayak tinggal isi-isi.
44:38Tapi yang selalu yang membuat susah kan user biasanya minta form-nya itu,
44:43karena mereka malas ngisi, form-nya itu bisa auto-fill,
44:46terus terintegrasi, aneh-aneh.
44:48Nah, itu kan, ya itu something yang saya nggak bisa banget gitu.
44:53Itu dikasih AI aja, udah desain sendiri sana,
44:56nanti generate baru kita coding.
44:59Jadi kita nggak perlu berhadapan dengan user seperti itu.
45:03Jadi kan terbantu.
45:05Iya, bayangin kan kalau misalkan kita orang-orang seperti saya
45:10yang skill CSS-nya payah gitu kan,
45:13dengan adanya tools itu kan jadi lebih terbantu kan.
45:16Wah, lebih cepat nih bikin form, oh lebih cepat nih bikin landing page gitu.
45:20Jadi dimanfaatkan saja untuk belajar, untuk bikin sesuatu.
45:23Jadi kita bisa fokus di integrasi-nya.
45:26Fokus di integrasi, fokus di bikin produknya, gitu.
45:30Fokus di business logic.
45:32Iya.
45:34Oke, mungkin karena pertanyaannya masih banyak kita boleh move dulu ya, Mas.
45:42Lanjut.
45:44Mau tanya pendapat Tarah Suhu nih,
45:47terkait Spellty untuk mengembangun sistem yang cukup besar dan berkepanjangan,
45:52bagaimana ya masa depannya?
45:55Spellty terusannya S-T-I-L-Q.
45:59Spell, iya.
46:01Wah, ini nih, Suhu ngobrolin web ini yang apal.
46:05Boleh, boleh.
46:07Maaf kita bukan, nggak bisa menerawang ya, usah ya.
46:11Kita bukan cenayang.
46:13Iya.
46:15Iya, jadi kalau ditanya masa depan ya, kita nggak tahu.
46:17Antara 50-50 kan, antara suram atau cerah kan.
46:21Jadi, kalau memang, ini kan pemilihan framework,
46:26bahasa, library dan lain-lain itu kan personal ya.
46:30Subjektif.
46:32Jadi kalau kira-kira suka, ya udah pakai.
46:34Kalau nggak suka, cari yang suka, gitu.
46:36Jadi jangan hanya gara-gara, "Wah, Spellty rame ini di luar negeri."
46:41Kayaknya pakai, gitu.
46:43Tapi lebih serak, misalkan pakai ryek atau pakai view, gitu.
46:47Iya, jangan gitu.
46:49Iya.
46:51Gimana, gimana?
46:53Nggak, gue punya ini lagi, opinion circle lagi.
46:57Boleh nggak?
46:59Boleh, doang. Kurang pedas.
47:01Oke, kurang pedas.
47:03Masih terlalu normal.
47:05Ini saya ngasih pendapat yang pedas kali ini.
47:10Apapun framework yang kalian suka.
47:12Ataupun apapun open source project yang kalian suka dan kalian pakai.
47:16Kalau memang mau dia mati.
47:18Pertama, support dia.
47:20Pakai frameworknya.
47:22Support frameworknya.
47:24Kontribusi ke frameworknya.
47:26Ajarkan frameworknya ke orang lain.
47:28Bantu bikin dokumentasinya.
47:30Translate dokumentasinya sehingga yang lain bisa pakai.
47:34Dan racunin orang lain untuk bisa pakai.
47:37Terus kontribusi kalau bisa dalam untuk finance, kalau bisa.
47:41Kalau nggak, bikin extensinya.
47:43Atau add-on-add-on-nya untuk mempermudah orang lain untuk bisa pakai.
47:47Dan kalau bisa, bantu terus itu, ininya.
47:50Maintainernya.
47:52Dan mudah-mudahan kalian bisa salah satu jadi maintainernya.
47:56Itu.
47:58Kalau nggak mau mati.
48:00Kalau nggak mau mati.
48:02Projeknya.
48:04Kadang-kadang, ya, kadang-kadang itu.
48:07Kalau ditanya apa, prediksi kita nggak bisa.
48:09Karena, ya, balik lagi ya.
48:11Kalau kita ngomongin THP kan.
48:13Dari tahun kapan di prediksi akan mati, gitu kan.
48:15Terus tiba-tiba Laravel muncul.
48:17Wah, naik lagi.
48:19Sekarang jadi hame lagi, gitu.
48:21Kadang-kadang ya, siklusnya berputar.
48:23Karena waktu sempat itu kan, Laravel, eh, sorry.
48:27Bukan Laravel, THP sempat dia mau hampir mati.
48:31Tidak, bukan hampir sih, maksudnya sempat dia stagnan.
48:35Saat lumayan.
48:37Ya, 5-6, THP 5-6.
48:39Terus dibikin.
48:41Sudah mulai dibuat THP 6.
48:43Tetapi THP 6 banyak politiknya.
48:46Terus Facebook buat HHVM.
48:50Oh.
48:52Ya, jadi di 4K.
48:54Buat yang Facebook, sorry, THP.
48:58Compiler, interpreter.
49:01Yang jadi executionnya jadi kayak PHP, FPM-nya.
49:07Jadi seperti service-nya atau, inilah, compiler-nya ya, sorry.
49:11Benar ya, compiler.
49:13Ya, atau engine-nya.
49:17VM, VM.
49:18VM-nya, betul.
49:19Nah, jadi PHP, Facebook buat HHVM.
49:23Ya kan?
49:25Yang mengatakan lebih cepat dari 5-6 dan lebih cepat dari PHP 6.
49:29Kebakaran jenggot dong, ini komunitasnya.
49:32Dan restrukturisasi, dan dapat pendan funding juga dari foundation-nya.
49:39Lalu, rilis lah PHP 7.
49:43Di mana jauh lebih cepat.
49:45Tapi selalu gitu ya, ekmascript juga gitu.
49:47Harus ada pecah dulu, masalah.
49:49Harus ada dramanya.
49:50Terus jadi terpancu, ya udah.
49:52Oke, kita jadi progres lah.
49:54Jadi drama itu ada tempatnya.
49:58Drama tapi produktif ya, saling ini ya.
50:02Drama sebagai produktifitas.
50:05Semenjak PHP 7 kan, HHVM ditinggal.
50:10Facebook juga tinggalin.
50:11Dan mulai merging semua ke PHP 7.1, 7.2, 7.3, 7.4, 8, 8.1, 8.2, dan baru saja rilis.
50:20Bulan lalu 8.3.
50:22Oke.
50:26Nah, mungkin sedikit masih tentang Svelte tadi nih.
50:29Tadi kan, kayak Mas Tricia bilang ya, framework ma subjektif.
50:34Nah, cuma kalau misalnya kita balik ke statistik.
50:37Kalau dari state of JS yang 2022, itu Svelte itu sebetulnya opinion.
50:45Jadi state of JS itu ada dua aksis.
50:48Pertama, yang mengukur banyak dipakai atau enggak.
50:51Nah, Svelte itu masih di bawah, tengah-tengah.
50:54Jadi kayak yang pakai masih relatif sedikit.
50:57Nah, terus aksis satunya adalah tingkat kepuasan.
51:00Maksudnya negative opinion atau positive opinion.
51:04Jadi makin lama, makin tak...
51:07Dan Svelte itu berada di kanan.
51:09Berada di quadrant yang opinionnya positif.
51:13Jadi intinya, developer suka, tapi dikit yang pakai.
51:18Nah, tapi jadi kalau dari itu datanya dari 2020 apa 2019,
51:24sampai 2022, dalam 3 tahun, itu penggunaannya naik.
51:30Jadi trendnya tetap naik.
51:32Terus tingkat kepuasannya pun tetap naik.
51:35Jadi makin banyak yang pakai.
51:37Dan yang pakai itu pada happy.
51:39Tapi tetap aja masih di bawah garis tengah-tengah.
51:44- Kemiskinan. - Garis kemiskinan jumlah pengguna.
51:48Jadi maksudnya sebetulnya prospeknya ada.
51:51Masa depannya ada.
51:52Tapi kalau mass scale adoption yang se-level react,
51:57mungkin secara realistis enggak ya.
51:59Tapi ya itu tadi bukan berarti kita nggak bisa pakai kan.
52:03Tetap kita bisa.
52:05Tapi ini sih aman ya.
52:07Karena si Mas Rich Harisnya kan dapat sponsor kan.
52:12Dia kan dipekerjakan untuk menguntin.
52:14- Dihire oleh Versel. - Versel untuk.
52:18Jadi so far masih aman.
52:22Jangan sampai dia di lay off.
52:24Kalau dia di lay off, ya...
52:26Masa depan scale bisa jadi surang.
52:28Maksudnya gitu loh.
52:30Tapi itu drama lagi kan Mas.
52:32Bisa jadi drama.
52:33Mau micu lagi.
52:34Bisa jadi micu drama lagi.
52:36Bisa jadi foundation gitu. Rich Haris foundation bukan? Swell foundation.
52:42Enggak lah. Kayak Evan Yu aja.
52:44Jadi itu. Buka Patreon.
52:47Jadi digaji sama netizen.
52:50- Ya susten atau nggak? - Kalau nggak love you.
52:54Iya.
52:57Sudah, sudah? Puas, puas?
53:00Hidup dan mati open source project itu adalah di pengguna dan maintainernya.
53:05Iya.
53:07Dan sponsornya.
53:09Oke, mantap. Jadi itu jawabannya ya.
53:13Semoga menjawab.
53:15Selanjutnya kita next lagi.
53:17Ada pertanyaan.
53:19Tapi sepertinya yang ini inskripsi sudah dibantu jawab sama Pak Sdika tadi ya, Pak.
53:23Di bawah.
53:25Kuncinya sih bukan judul ya, tapi dosbing ya teman-teman.
53:27Kalau cinta skripsi.
53:29Ada yang nanya ini, Kak.
53:31Untuk skripsi, soal web apa ya judulnya?
53:34Untuk ideation di sini.
53:36- Oh. - Mungkin nanti bisa.
53:38Pake CGVT lah, manfaatkan ya.
53:40Iya, iya betul.
53:42Pake CGVT ya teman-teman itu lebih bisa menjawab pertanyaan teman-teman gitu.
53:48Nah, selanjutnya ini aja ada pertanyaan dari Riza.
53:52Mau tanya pendapatnya. Sekarang kan lagi trend kan ekosistem JS back to front.
53:57Sampai banyak framework front-end yang berlangsung jadi full stack dan jadi sistem monolith sendiri.
54:04Mungkin agak beda.
54:06Saya mau tanya ekosistem .NET, C#.
54:08Sekarang saya lihat banyak otor .NET khususnya buat corporate.
54:12Mau tahu pendapatnya tentang .NET ke depannya apakah akan sepopuler JS karena ekosistemnya.
54:18Dan .NET ini juga mulai rama environment-nya dulu, exclusive Windows.
54:22Dengan munculnya .NET Core tapi di Indonesia masih sepi ya, content creator yang bahas ini.
54:27Wah, sisi Pak Sandi kan kita bisa dibahas, Pak.
54:30Dan Mas Riza boleh masih.
54:32Dia ngerti dan ngupik itu.
54:34Kembali lagi ya, kalau tanya prediksi kita gak bisa prediksi akan gimana-gimana.
54:40Soalnya kita bukan dukun ya.
54:42Jadi kalau ditanya ada pasarnya gak sih? Ada.
54:45Ada banget. Microsoft itu banyak dipakai di corporate, di internet, lain-lain gitu.
54:51Jadi yang pakai .NET, Pak.
54:53Cuman gak ketahuan aja gak ada yang ngomong-ngomong kayak gini yang pakai .NET, coba.
54:57Gak ada yang ngaku di sini. Siapa di sini yang pakai .NET?
54:59Oh ada nih.
55:01Siapa ya kemarin?
55:03Rafki. Rafki pakai .NET kan?
55:05Saya selama kuliah programmer .NET sejati loh.
55:10Dari tahun 2004, 2005, 2006, 2007.
55:17Sampai skripsinya juga pakai .NET C#.
55:20Dan saya baru belajar PHP setelah lulus kuliah.
55:24Ya .NET itu kayaknya mungkin secara tatanannya itu mirip-mirip kayak kalau di front-end itu kayak angular kali ya.
55:35Kayak gak kedengeran ada yang pakai, tapi Microsoft pakai gitu kan.
55:39Tapi corporate.
55:41Corporate pakai.
55:43Jadi corporate di breakdown apa sih? Stabilitas ya?
55:46Stabilitas, support.
55:48Support dan back one cooperative.
55:50Coba kalau pakai PHP, mau minta support sama siapa?
55:53Gak bisa kan?
55:55Ngobrolin web loh.
55:57Terima kasih.
55:59Tolong itu email di bawah sini silahkan.
56:02Kita buka konsultasi.
56:06Iya, jadi .NET itu salah satu keunggulan terbesarnya adalah support.
56:15Jadi kalau misalkan teman-teman di kantornya, bingung nih mau di optimize mana lagi ya.
56:19Kok servernya agak lambat gitu.
56:21Ya hubungi aja Microsoft, pasti bayar sih ya.
56:23Cuman setidaknya ada supportnya, kita bisa nelfon, bisa email gitu.
56:29Kalau open source, kita ke mana larinya?
56:31Tech Overflow, Google, ya kan?
56:34Belum tentu berhasil.
56:36Kalau ini udah bayar, pasti berhasil.
56:39Kalau yang dari Microsoft yang skala SAP-nya apa ya?
56:42Ada itu produk Microsoft untuk SAP?
56:44SharePoint?
56:46Bukan.
56:47SharePoint itu untuk CMS kan ya?
56:49Bukan SAP.
56:51Ada, saya lupa.
56:53Atau di XP-nya, Digital Experience Platform-nya ada juga tuh Microsoft.
56:57Nah, itu pakai .NET.
56:59Terus gitu tapi akses database ya?
57:01SharePoint.
57:04Apa tuh?
57:06Ya, Microsoft akses bukan ya, dia database ya.
57:10Akses database.
57:11Akses database.
57:14Bukan yang dia skala SAP.
57:16C# itu secara bahasa juga bagus loh.
57:25Jadi secara teknik juga udah mature, udah mateng, supportnya lengkap.
57:33Komentasinya pasti banyak.
57:35Oh, sorry, dynamic of dynamic.
57:37Oh, dynamic, oke.
57:39Yang bikin C#, yang bikin bahasa C#, sama yang bikin TypeScript.
57:44Dan yang bikin Pascal.
57:47Itu satu orang?
57:49Sama, satu orang.
57:51Jadi memang udah suhu, hobinya bikin bahasa.
57:55Ya, makannya gak makan nasi tuh, makan...
57:59Engga, dia gak makan nasi, kentang dia sama roti.
58:02Oh, iya, iya.
58:03Boleh sih.
58:05Jadi secara bahasa, secara teknik juga ini ya.
58:09Banyak teman saya yang lulus kuliah, yang kita memang kuliahnya belajar .NET.
58:15Masuk ke company yang urusannya ERP, yang SAP dan Microsoft Dynamic yang dipakai di perusahaan enterprise.
58:25Mereka sampai sekarang masih pakai .NET.
58:28Dan maintain aja gitu, maintain dan bikin internal-internal tools, office tools segala macam di internal, udah.
58:35Dan mereka dapat pelatihan internali segala macam.
58:38Jadi kita nyanyi, gak tahu, gak pernah kedengaran.
58:41Mereka punya ekosistemnya sendiri.
58:43Dan itu karena memang ekosistemnya bukan ekosistem yang terbuka, jadi gak banyak yang diskusi.
58:53Di internet itu ya gak banyak yang ngomongin kan.
58:56Gak ada program ngobrolin good night setiap hari setelah malam.
59:00Bikin apa, bikin? Nanti ada GDN 60.
59:05Ya bukan GDN apa, MDN.
59:08Oh bukan ya, MVP, MVP.
59:10MVP.
59:12Ada Mas Danang loh, jadi hati-hati loh.
59:15Waduh.
59:18Bisa di lay off saya nanti.
59:22Waduh.
59:25Waduh, waduh, waduh.
59:27Oke, kita lanjut ya.
59:34Di sini ada pertanyaan lagi dari Nabil.
59:36Ini kayaknya lebih kecurahan hati dari Nabilnya nih.
59:39Misal ada suatu company yang meminta menggunakan tektor update kepada developernya.
59:44Dan pada akhirnya kadang dependenciesnya ini sering berubah-ubah gitu.
59:47Terus termasuk runtime terbaru dari JS, yaitu band.js yang memaksa kita harus cepat memahami sesuatu tektor baru itu.
59:54Mungkin gimana pendapat dari Mas Andika, Maika, Mas Ipan, Mas Riza dan Jisika.
1:00:00Soal perihal, mungkin pengalaman yang dia hadapi nih.
1:00:04Siapa? Pak Adika dulu kali ya?
1:00:08Gak, boleh Pak Adika.
1:00:10Ini sih harusnya yang jawab yang pengalaman industri sih.
1:00:13Kalau ada tiba-tiba permintaan perubahan teknologi yang baru gitu.
1:00:18Kalau dari saya mungkin pindah kantor, opsi bukan.
1:00:22Itu ekstrim.
1:00:27Ekstrim, ekstrim.
1:00:30Bisa, bisa.
1:00:32Waduh, waduh, waduh.
1:00:36Ini sebenarnya pertanyaan yang...
1:00:38Masa ini kasus yang abis-abis dibilang aneh loh, gak biasa justru.
1:00:42Di industri kan biasanya sebaliknya.
1:00:44Ya, resource kan terbatas ya. Mereka membayar kita, developer 40 jam seminggu atau berapa jam lah.
1:00:52Biasanya bikin fitur, nge-fix banget.
1:00:54Biasanya malah pada sebelum kan,
1:00:56kalau kita menghabiskan waktu buat ngutangatik text tag,
1:01:01micro-optimize pakai hal terbaru.
1:01:04Jadi pertama sih ini kayaknya kasus yang agak kurang biasa, kurang lazim.
1:01:10Terus yang kedua, ya kan ini kalau di konteks kerja, asumsinya ada tim lead of some kind ya.
1:01:18Dia tanya, sebenarnya komunikasi aja dulu sih, tanya aja.
1:01:21Alatannya kenapa.
1:01:23Tujuan nya apa.
1:01:25Misalnya ban lebih cepat, kan emang ban lebih cepat tuh.
1:01:28Waktu dulu ngobrolin web, kita pernah event live demo, jadi promo episode deh.
1:01:33Promo episode.
1:01:35Jadi maksudnya si bun.js itu kan emang lebih cepat,
1:01:39tapi sebetulnya kita juga harus nge-check bahwa bun.js itu klaimnya adalah one-on-one sih.
1:01:49Full compatibility.
1:01:51Full compatibility semua fitur web.js bisa di-replace dengan perfect oleh bun.js.
1:01:57Padahal kenyataannya belum sampai sana.
1:02:01Maksudnya drop-in replacement.
1:02:05Maksudnya itu tadi drop-in replacement.
1:02:07Terus buat ngeganti text-text dan mastiin steam semua compact lah sama.
1:02:13Update semua kan butuh waktu.
1:02:16Kalau emang ada waktunya, misalnya perusahaannya emang nggak terlalu banyak kerjaan,
1:02:20dan kelebihan duit nge-hire banyak developer gitu, padahal kerjaannya dikit.
1:02:27Atau mungkin lagi sepi gitu, ada waktunya emang lagi downtime,
1:02:30ya nggak apa-apa, tapi sebaiknya pastiin aja dulu tujuannya apa.
1:02:35Kan itu bisa, itu hal yang harus di-decide sama-sama sih.
1:02:39Maksudnya dalam satu tim tujuannya apa, worth it, atau nggak.
1:02:43Kalau misalnya kita udah berargumin,
1:02:45maksudnya kita nunjukin bahwa nggak segitu worth it, dan ke depannya nih fitur kita,
1:02:49mungkin ada yang harus dipatch atau kita harus berwaktu lebih untuk nge-check ini nih,
1:02:56kompatibel atau nggak dengan text-text terbaru.
1:02:59Tapi misalnya kita bilang, ya udah nggak apa-apa, kerjain aja, bikin tiketnya.
1:03:03Ya udah nggak apa-apa lah dibayar ini kalau dapat tuh.
1:03:08Iya. Jadi lebih kebalik lagi ya, pemilihan ini sebenarnya motivasinya apa?
1:03:16Kita harus gali kenapa dia memilih satu teknologi dibandingkan teknologi lain.
1:03:21Ada temen yang cerita gitu ya,
1:03:23jadi ada untuk dalam rangka membuat senang developer, kan developer suka ngulik kan.
1:03:29Membuat senang.
1:03:30Membuat senang gitu ya.
1:03:33Jadi satu perusahaan itu membolehkan mereka untuk propose teknologi baru di satu perusahaan itu.
1:03:38Akhirnya banyak tuh, pakai Kafka, microservice segala macem gitu kan.
1:03:44Gak kebayang.
1:03:45Ya, ini sebenarnya bukan teknologinya jelek ya.
1:03:48Kalau sesuai kebutuhan bagus gitu.
1:03:50Tapi kalau misalkan hanya demi meng-update LinkedIn, ngapain gitu.
1:03:58Jadi kayak begitu dia diselesai implementasi, problemnya jadi apa?
1:04:04Selesai implementasi, terus abis itu dia cabut.
1:04:07Apply perusahaan lain dengan embel-embel di LinkedIn, ada.
1:04:10Saya pernah implementasi Kafka.
1:04:12Itu perusahaan rugi dua kali loh.
1:04:16Rugi kehilangan talent.
1:04:18Yang kedua, yang dijatahin untuk menghandle itu yang anak baru, bingung setengah mati dia.
1:04:25Akhirnya si perusahaan itu balik lagi.
1:04:28Dihabisin lah, Kafka-nya dihilangin, microservice-nya balik lagi ke monolith karena memang belum butuh.
1:04:34Jadi balik lagi.
1:04:36Dicari motivasinya, tujuannya apa, alasannya kenapa.
1:04:39Kenapa, Bun? Apakah Node.js kurang cepat? Coba ditandingin.
1:04:43Jadi konsidrasinya tuh panjang sekali.
1:04:46Atau cara singkatnya tadi, Pak Dika ya.
1:04:49Coba apply pekerjaan banget.
1:04:52Soalnya kalau saya membaca pertanyaannya tadi perspektifnya kita sebagai karyawan.
1:05:00Orang, karyawan.
1:05:02Jadi kalau keputusan dari atas udah harus ganti teknologi, ya keputusannya ada di tangan kita.
1:05:08Mau ikut aja gitu.
1:05:10Tapi kan bisa di-argue kan, kenapa alasannya, apa yang menyebabkan keputusan ini.
1:05:17Boleh tahu gak?
1:05:18Kalau gak boleh tahu ya berarti benar, harus pindah aja.
1:05:21Ya itu tadi, kita warning aja.
1:05:23Nanti mungkin harus, kita bakal harus berwaktu sekian buat ngurus ini ini ini.
1:05:28Apalagi minta tiketnya.
1:05:30Maksudnya jangan sampai jadi numpuk di kita gitu.
1:05:33Kita yang jadi puntang-panting.
1:05:35Jadi yaudah kita tanya aja ini prioritasnya tinggi atau enggak.
1:05:39Ini butuh waktu segini.
1:05:41Oh gak bisa, kamu harus bikin fitur itu.
1:05:43Wah ya, kalau ini gak bisa sama aku.
1:05:46Kita rewrite ya, dari Node.js ke Boon gitu ya.
1:05:52Tapi besok jadi ya.
1:05:54Terima kasih.
1:05:56Terima kasih.
1:05:58Bye bye.
1:06:00Oke, oke, semoga menjawab ya curahan hatinya.
1:06:07Oke, selanjutnya ada pertanyaan lagi nih.
1:06:10Semangat, semangat, tapi semangat, semangat.
1:06:13Ini, gimana pendapatnya dari para expert di sini?
1:06:18Pelihal mendingan deploy web di Google Cloud atau di penyediai layanan hosting?
1:06:24Wah, nanya ke gini.
1:06:26Google Cloud lah, Google Cloud.
1:06:30Walaupun saya apply untuk credit, tapi gak dikasih.
1:06:34Saya tetap memilih juga.
1:06:36Jangan curhat dong.
1:06:41Oke, mungkin boleh dikasih concern-nya mungkin, Mas.
1:06:44Bari hal kenapa Google Cloud dan alasan behind-nya kenapa.
1:06:49Ya, balik lagi ini.
1:06:53It depends juga ya.
1:06:57Gimana, Eka?
1:06:59Ya, sebetulnya kalau itu mah.
1:07:02Soal hosting pakai apa ya?
1:07:04Silahkan disesuaikan kebutuhan masing-masing ya, biaya.
1:07:08Terus kebutuhannya kayak gimana?
1:07:11Google Cloud hosting kan ada free tier-nya tuh.
1:07:14Bisa dicoba dulu, ya maksud saya cocok atau enggak?
1:07:17Kalau beneran gak bisa memenuhi kebutuhan web yang dihosting,
1:07:23ya bisa cari lainnya yang lebih cocok.
1:07:27Karena biasanya kalau Google Cloud itu lebih fleksibel dan servisnya udah lengkap ya.
1:07:34Kalau dihosting itu biasanya kan bahasanya terbatas ya.
1:07:39Di bahasa-bahasa tertentu, database-nya juga tertentu.
1:07:42Kita mungkin untuk implementasi continuous integration, continuous delivery agak susah.
1:07:49Kalau dengan cloud cenderung lebih gampang, walaupun bisa ya.
1:07:55Tapi agak lebih susah.
1:07:57Oh ya, terus kalau kita pakai produk Google-nya, misalnya Firebase gitu, Cloud Firestore ya.
1:08:03Dan sebagainya, ya otomatis kan kalau kita pakai web hosting-nya Google Cloud,
1:08:09integrasinya otomatis.
1:08:11Kita nggak perlu nge-set up sendiri.
1:08:13Jadi kalau emang kebutuhannya sama penggunaannya seperti itu ya,
1:08:17itu bisa jadi faktor yang memudahkan.
1:08:20Mungkin dari Mas Ivan, Pas Hanika atau Majiska ada tambahan lagi?
1:08:28Tergantung ukuran proyek.
1:08:30Tergantung lagi kan?
1:08:33Nggak perlu Google Cloud, menurut saya.
1:08:35NG Rock aja cukup?
1:08:37Pakai NG Rock aja atau pakai CloudFlare Tunnel juga cukup.
1:08:47Bukan kalau proyeknya kecil dan nggak bisa malas set up, ya pakai web hosting aja.
1:09:01Ada VPS yang cuma harganya 2,5 dolar per bulan atau yang 5 dolar cukup.
1:09:10Atau kalau memang nggak penting-penting apa, pakai share hosting.
1:09:14Share hosting yang 30 ribu sebulan.
1:09:18Selama share hosting-nya ada si panel itu bisa menjalankan,
1:09:26maksudnya mudah loh untuk menjalankan JavaScript ini.
1:09:33Dia ada Node.js-nya, sudah bisa execute Node.js.
1:09:38Jadi tinggal buka port tertentu, pasang domain-nya.
1:09:43Di depannya ada nginx dan beres.
1:09:47Jadi nggak perlu mewah-mewah.
1:09:50Apalagi kalau untuk portfolio, nggak perlu mewah-mewah.
1:09:54Semakin mewah, semakin mahal.
1:09:57Saya juga pernah pakai Google Cloud, akhirnya boncos.
1:10:01Lupa mati.
1:10:04Biasanya kalau portfolio kecenderungannya over-engineering sih.
1:10:13Tapi kalau emang ingin demonstrate bagian itu, nggak apa-apa sih.
1:10:18Justification-nya, itu harus sesuai sama skillset yang ingin kita tonjolin.
1:10:23Kalau misalnya kita demonstrate hal lain, tapi kita bikin settingan ribet,
1:10:29ngesahin diri sendiri.
1:10:32Masih ada Netlify, Firestyle, dan Next.js yang free tier.
1:10:38Google Cloud musti sekarang support Next.js juga.
1:10:43Tapi nggak free ya?
1:10:46Tidak, TTR-nya sampai berapa sekian dolar itu dianggap free kan?
1:10:52Tapi kita harus masukin credit card, tapi nggak ada billing.
1:10:58David Cat bisa nggak? Karena pakai digital bank kan udah banyak.
1:11:03Nggak bisa, nggak bisa.
1:11:05Heroku udah mati, iya. Heroku ini andalan sekali.
1:11:08Bukan mati, free-nya dimatiin.
1:11:13Free-nya dimatiin.
1:11:15Terus kan biar dia nggak mati.
1:11:18Biar dibertahani.
1:11:21Kalau misalkan mahasiswa bisa dapat GitHub Student Developer Pack ya?
1:11:25Dapat gratis ya?
1:11:27Iya.
1:11:29Termasuk Copilot juga.
1:11:31Eh bukan, Copilot nggak dapat ya?
1:11:33Enggak lah.
1:11:37Copilot itu untuk...
1:11:39Enterprise.
1:11:41Sama Open Source, Large Open Source Project Maintainer.
1:11:45Dapat kok kayaknya.
1:11:47Dapat ya?
1:11:49Saya teacher sih.
1:11:52Tapi student dapet, itu dapet-dapet di cat.
1:11:57Boleh pinjam teacher card-nya Mas Sandika.
1:12:02Biasanya disaplai juga.
1:12:04Kan harus foto kayak KTP gini.
1:12:07Iya, nanti fotonya Mas Sandika terus saya pakai.
1:12:11Nggak ajar aja, jadi dosen satu semester lah.
1:12:15Nggak ajar di sekolah kehidupan.
1:12:17Oh jadi ini aja.
1:12:19Jadi dosen tamu.
1:12:20Dosen tamu aja.
1:12:22Wah ini konspirasi demi Copilot.
1:12:26Lanjut, lanjut, lanjut.
1:12:28Ini ada pertanyaan lagi nih.
1:12:33Merti gak sih belajar WordPress?
1:12:35Apa lebih baik langsung fokus belajar nge-moding aja?
1:12:38Emang belajar WordPress nggak nge-moding ya?
1:12:42Oh maksudnya mungkin setup-setup kali ya.
1:12:47Kita install Teams gitu ya.
1:12:50Ya, kalau kalian mau mulai karir sebagai di WordPress dan mendalem ya.
1:12:56Pertama, pastinya kalian jadi implementator dulu.
1:12:59Jadi beli Teams, beli plugin, install-install, setup-setup.
1:13:04Jadi itu namanya implementator.
1:13:07Lalu selanjutnya mulai ngulik-ngulik ada mutuh feature tambahan
1:13:13atau ada plugin yang masalah dikulik-kulik dibenerin.
1:13:16Selanjutnya bikin Teams sendiri.
1:13:18Selanjutnya bikin plugin sendiri.
1:13:19Selanjutnya kontribusi misalnya jadi pembicara di WordCamp.
1:13:24Atau jadi organizer di WordCamp.
1:13:26Selanjutnya bisa jadi translator di WordPress ID.
1:13:31Ada juga itu komunitasnya, WPID.
1:13:33Selanjutnya jadi core contributor.
1:13:35Selanjutnya jadi core committer.
1:13:37Dan selanjutnya, ya, terusin lah.
1:13:40Nanti berkembang terus.
1:13:44Kalau kalian sudah di level itu,
1:13:48banyak banget agensi di dunia ini
1:13:52yang masih menggunakan WordPress
1:13:54dan punya banyak client enterprise di WordPress.
1:13:57Kalau kalian punya jam terbang
1:14:03dan juga banyak menghasilkan atau banyak dikenal orang,
1:14:10bukan lagi kalian yang melamar perusahaan.
1:14:12Kalian yang ditarik-tarik mau ke mana.
1:14:15Jadi worth it, worth it.
1:14:18Kalau memang mau terus didalami.
1:14:22Sama dengan framework lain, sama dengan CMS lain.
1:14:26Enggak cuma WordPress.
1:14:27Drupal punya komunitasnya.
1:14:28Jumlah punya komunitasnya.
1:14:30Jadi mau yang mana, pilih.
1:14:33Pick your interest.
1:14:36Pick your poison.
1:14:38Pick your poison, betul.
1:14:42Kak Jess, gak ada suaranya?
1:14:45Oh iya.
1:14:47Kak Jess, ada tambahan dari Kak Jess?
1:14:50Di-mute nih, di-mute nih.
1:14:52Oh, gak ada suaranya.
1:14:53Siapa yang nge-mute?
1:14:54Siapa yang nge-mute nih?
1:14:56Belum masuk.
1:14:57Dari tadi ya?
1:15:00Dari tadi lu ngomong ya?
1:15:02Iya, pasti.
1:15:04Coba tes-tes, Kak Jess.
1:15:08Oh, rejoin, rejoin.
1:15:10Rejoin, rejoin.
1:15:11Tapi kayaknya ini, sambil nunggu Kak Jessica,
1:15:14WordPress itu ekosistem yang berbeda ya, Mas Ivan ya.
1:15:17Jadi kalau udah nyemplung ke WordPress tuh kayaknya
1:15:20dia lebih deket ke publisher ya,
1:15:22daripada ke developer yang natif.
1:15:27Maksudnya ke publisher itu gimana?
1:15:32Iya, jadi implementator tadi kalau kata Mas Ivan ya.
1:15:37Oh, kebanyakan, misalnya kalau sistem piramid ya,
1:15:42yang dari basic sampai yang expert kan,
1:15:44pasti yang di atas-atas kan,
1:15:46yang basic itu pada rata-rata kan implementator ya.
1:15:49Yang paling tinggi itu dan paling banyak biasanya.
1:15:52Dan semakin mendalam itu kan,
1:15:54semakin yang expertnya gitu.
1:15:57Nah yang experience semakin sedikit.
1:15:59Jadi, kalau misalnya di ekosistem WordPress itu,
1:16:05yes banyak banget yang implementator.
1:16:08Banyak.
1:16:09Tapi bukan berarti itu hal yang jelek.
1:16:12Kembali lagi itu hanya profesi.
1:16:14Dan mereka tetap dibutuhkan.
1:16:17Jadi kalau misalnya kebutuhan sebuah perusahaan
1:16:22yang ingin yang budgetnya terbatas
1:16:25dan hanya ingin maunya spesifik,
1:16:29gak butuh banyak customization.
1:16:32Apa kayak apa yang ada, set up dengan cepat.
1:16:35Website-nya bisa launch dengan cepat, mereka cepat bisa jualan.
1:16:38Dan cepat bisa melakukan bisnis mereka.
1:16:40Jadi gak butuh yang aneh-aneh.
1:16:42Dan itulah fungsinya CMS.
1:16:44CMS ya, gak cuma WordPress ya, apapun CMS-nya.
1:16:47Jadi CMS-nya membantu di sisi itu.
1:16:50Nah, selanjutnya kalau misalnya sudah skalanya meningkat,
1:16:55jadi dari sisi penggunaan, dari sisi perusahaan
1:17:00yang berskala mulai lebih banyak kebutuhannya,
1:17:07itu mulai dari sisi kebutuhan legal lebih terutama.
1:17:11Misalnya butuh banyak customisasi,
1:17:13legal isu-isu-nya soal legal,
1:17:17dan banyak fitur-fitur yang gak ada pernah dibuat sebelumnya,
1:17:24itu namanya custom development.
1:17:29Nah, itulah yang berbeda.
1:17:31Dan dari sisi maintain juga, bayangin aja sebuah situs,
1:17:37misalnya gini, sebuah company yang ada di 180 negara,
1:17:45dan kalau mereka punya untuk membuat sebuah situsnya satu-satu
1:17:51pakai Next.js, ya silahkan aja sih buat 180 situs sih.
1:17:55Kalau di WordPress gak perlu kan,
1:17:57bisa jadi sebuah multisite network di setiap,
1:18:01themes-nya hanya satu, plug-in-nya sama,
1:18:03tapi site-nya dibikin 180.
1:18:05Atau bahkan mungkin lebih dari 180.
1:18:07Terakhir saya pernah menghandle multisite network
1:18:12yang isinya sampai 80.000 sites.
1:18:1480.000 sites itu berbagai jenis kebutuhan.
1:18:20Nah, itu database-nya udah gede banget.
1:18:22Itu untuk menghandle performance,
1:18:24asitektur, infrastruktur, dan sampai updates.
1:18:28Itu juga membutuhkan pengetahuan yang lebih dalam di WordPress.
1:18:34Gak bisa cuma sebagai, "Oh, saya mau install plug-in."
1:18:38Gitu install plug-in, ternyata plug-in-nya buat fatal error.
1:18:42Semua 180.000 situs bisa down.
1:18:45Kita gak boleh juga seperti itu, kan?
1:18:47Jadi sudah ada, semakin skalanya semakin besar,
1:18:51maka butuh rule-rule yang lebih strict.
1:18:55Gak bisa nge-deploy sembarangan,
1:18:57harus ada testing, segala macam.
1:18:59Nah, itu butuh persiapan dan scale yang lebih firm
1:19:05atau workflow-nya juga gak bisa sembarangan di situ.
1:19:08Ya, itu dari sisi environment WordPress.
1:19:14Jadi mau dilihat dari mana.
1:19:16WordPress bisa dibentuk di basic setup, bisa, atau hanya untuk kebutuhan simple site, bisa,
1:19:22sampai yang skalanya enterprise dan complex juga bisa.
1:19:28Ya, itu kayak yang beneran langsung aja.
1:19:33Kadang kan kita lihat tuh di pinggir jalan atau apa yang
1:19:36website bisa langsung jalan 100.000 saja.
1:19:39Nah, itu kan yang cuma pakai WordPress, ya.
1:19:42Udah, langsung diinstall, langsung pakai.
1:19:45Pakai plugin yang udah ada, gak ada customize, macam-macam itu bisa.
1:19:48Nah, sampai yang sekasem, serumit yang tadi dibahas Ivan, juga bisa.
1:19:53Terus kan sampai ada ekosistemnya sendiri kan,
1:19:57yang Elementor dan teman-teman, itu kan, dan sejenisnya,
1:20:01itu kan juga harus butuh buat customize dan connect ke custom field kan.
1:20:07Itu kayaknya udah kayak framework sendiri ya, kayak meta framework sendiri malah.
1:20:14Lucky guess, WordPress.com ada berapa subsitesnya?
1:20:18WordPress.com bisa create site free kan?
1:20:23WordPress.com bisa create website free disitu.
1:20:26Lucky guess, berapa subsites yang ada di WordPress.com?
1:20:31WordPress.com sudah ada 15 tahunan. So, lucky guess.
1:20:35Wah, miliaran pasti.
1:20:38Enggak, gak sampai miliaran.
1:20:40Jutaan.
1:20:41Karena mereka juga ada bersih-bersih, kalau gak aktif atau gak di login berapa kali,
1:20:46di shut down juga kan.
1:20:48500 juta, tuh, Fahri itu jawab, 500 juta.
1:20:51500 juta.
1:20:53Ya, mendekatin.
1:20:57Can you imagine how to handle scale 500 juta subsites?
1:21:08Kayak gak kebayang bayar server-nya sih.
1:21:12Oh, Lucky guess punya server farm sendiri.
1:21:18WordPress.com punya WordPress farm sendiri.
1:21:21Punya data center.
1:21:23Yes.
1:21:24Oke, oke, oke.
1:21:28Lanjut, lanjut, lanjut.
1:21:30Dari Kak Jessica, udah aman audionya, Kak?
1:21:32Udah bisa.
1:21:33Senggeran gak?
1:21:35Yay!
1:21:37Welcome back.
1:21:39Welcome back.
1:21:41Oke, oke.
1:21:45Oke, sebenernya dari, harusnya kalau rundown sih 5 menit lagi ya.
1:21:49Cuman melihat 252 pertanyaan chat yang banyak banget.
1:21:54Jadi, apakah boleh di extend 15 menit dari...
1:21:58Pak, boleh ya?
1:22:01Ya, boleh.
1:22:02Biar penonton tidak kecewa ini.
1:22:04Saya masih stand by, sampe sekarang pun masih full ya.
1:22:07Discord-nya dan gak tau di Youtube kayaknya juga banyak.
1:22:11Jadi, izin melanjutkan pertanyaan.
1:22:15Mungkin ini ada interesting question sih.
1:22:17Kayak izin bertanya dalam sebuah project, siapa yang harus mengikuti siapa?
1:22:22Apakah back-end mengikuti front-end atau front-end yang mengikuti back-end?
1:22:26Wah, kontroversial.
1:22:28Kontroversial sih pertanyaannya.
1:22:32Berantung, oh ini ada yang ketiganya.
1:22:36PM, ya, front-end, back-end, 15 PM.
1:22:41Wah, itu lebih runyum lagi ya, Kak.
1:22:45Tapi mungkin boleh explanation dari project-project yang pernah...
1:22:51Back-end, maksudnya back-end mengikuti front-end atau front-end mengikuti back-end, maksudnya gimana sih?
1:22:55Maksudnya...
1:22:57Maksudnya apakah dari back-end kan nge-lebar data ke front-end, apakah front-end itu...
1:23:03...mengikuti berdasarkan dari back-end atau sebaliknya back-end yang nyampe data sesuai itu.
1:23:09Yang benar adalah, keduanya mengikuti bisnis logic dan bisnis requirement.
1:23:21Tapi kalau secara data-dataan itu...
1:23:29...kalau dari saya, bukannya harus mendesainnya sama-sama ya?
1:23:35Karena skema nya dibuat bareng.
1:23:37Iya. Kenapa harus dipisah-pisah?
1:23:40Iya.
1:23:41Ya.
1:23:44Tapi keadaannya API-nya sudah jadi duluan.
1:23:51Oh, mungkin ini kayak apa ya?
1:23:52Kalau dari dulu, ya diikuti.
1:23:54Iya.
1:23:56Kan biasanya kan...
1:23:57Dan kita request, "ini dong tolong diubah."
1:23:59Karena nanti kalau ini nggak diubah, nanti nggak bisa ini loh.
1:24:01Itu kan jadi tiket baru lagi, ya kan?
1:24:04Iya sih.
1:24:06Iya.
1:24:07Terus, bilangnya API-nya sudah jadi duluan.
1:24:10Tapi kalau misalkan mau dibikin API yang sesuai request...
1:24:14...wah ini kayaknya harus rombak strukturnya.
1:24:16Nah, oh kok jadi keler hati.
1:24:18Tapi gini, teman-teman.
1:24:22Kalau misalnya kita disuruh bikin solo gitu ya, aplikasi full stack.
1:24:29Teman-teman apa dulu?
1:24:31Sendiri? Nggak tim?
1:24:32Iya, benar.
1:24:34Bikin apa dulu? DB dulu?
1:24:36Kalau saya lebih ke itu, bisnis model kan dari bisnis model ke mock up.
1:24:41Jadi front end dulu.
1:24:43Baru ketahuan.
1:24:45Table yang dibutuhin apa, field-field yang dibutuhin apa.
1:24:48Itu kalau saya.
1:24:50Benar, benar. Sama.
1:24:52Jadi bisnis logic dulu ya?
1:24:56Bisnis logic dulu, terus larinya ke screen.
1:24:58Screen-nya ada berapa, dari mana ke mana.
1:25:01Marahin dari login ya, login nggak usah lah ya. Dari halaman utama, di-click ke mana, isi form dan lain-lain.
1:25:07Itu kan semuanya, datanya dapat dari sana.
1:25:09Kalau dari database duluan, biasanya kita ngerawang-rawang tak kebayang.
1:25:17Jadi dari UX dulu.
1:25:19Nama user story.
1:25:21User story dulu pengen apa ini?
1:25:24Nah, terus habis itu ya sisanya kayak Mas Risa tadi sih.
1:25:31Ya, cuma ya itu sih yang kadang mungkin nggak ideal, kadang-kadang.
1:25:35Ya, mungkin kalau tim besar lah.
1:25:37Wah, wah, wah.
1:25:39Itu kan kalau kita sendiri.
1:25:41Ini idealisnya.
1:25:43Kalau ada politiknya, nah ini beda.
1:25:45Nah, kalau ada politik.
1:25:47Terus jujur aja nih.
1:25:51Ya, ya.
1:25:53Ya, yang kadang jadi tricky kan karena back-end-nya udah jadi duluan.
1:25:59Baru terus mau dibikin interface-nya, front-end-nya.
1:26:02Nah, terus kalau gitu kan akhirnya jadi kita mau mintain ke back-end-nya,
1:26:06si back-end-nya ngomong lah, "Ah, lu yang baru mau jadi.
1:26:09Tapi ini udah ada dari kapan?
1:26:11Ya, lu yang ngikutin kita lah."
1:26:13Nah, itu akhirnya jadi biasanya emang konfliknya kan di situ.
1:26:16Padahal, walaupun PM-nya, PM sama front-end misalkan udah satu pendapat,
1:26:22udah pengen bikinnya kayak gimana.
1:26:24Tapi tadik lagi, dengan keadaan sistemnya back-end-nya udah kayak gimana, akhirnya apa boleh buat?
1:26:30Akhirnya kadang-kadang kan jadi suka ada bisnis logik di front-end.
1:26:36Solusinya tim front-end bikin middleware sendiri supaya bisa nge-fetching data dari back-end itu,
1:26:42dari API back-end, bikin fetchingnya sendiri jadi middleware,
1:26:45dan nanti mereka bikin data yang mereka mau.
1:26:48Jadi lah, GraphQL.
1:26:52Nah, betul.
1:26:54Belum pernah bikin kayak gitu sih.
1:26:56Karena lebih ke constraint kayak, mungkin beda banget ya,
1:27:00kalau Jessica kan kerja di perusahaan yang besar banget.
1:27:04Nah, aku kayak kebalikannya, kecil banget, yang nge-oding itu literalnya cuma tiga orang.
1:27:10In a way sih enak karena jadi simple, kayak maksudnya kalau bikin fitur baru,
1:27:14ya beneran bisa diskusi semua, bisa ada kesepakatan karena orangnya dikit.
1:27:19Tapi ada constraint-nya juga karena resource terbatas,
1:27:23semua orang yang bisa bikin API lagi opi-opain ngerjain yang lain,
1:27:27sementara ada fitur yang API-nya kayak nggak terlalu kompatibel,
1:27:32sebenarnya agak mirip, lucunya malah nggak mirip sama yang dibilang Jessica tadi,
1:27:37dalam hal jadi duluan dan ternyata nggak bisa memenuhi kebutuhan.
1:27:42Tapi kan sisa dua orang ini masih nggak bisa diburu-buru sekarang harus bikin
1:27:46karena ngerjain hal lain yang juga urgent.
1:27:49Ya udah, akhirnya sementara kebutuhan data kayak gimana,
1:27:52sebagian malah ada yang di-hardcode kayaknya,
1:27:56beneran buat apa sementara di monkey page staff bikin sendiri kayak API-API-an,
1:28:03pakai JSON data, sambil membeli waktu, sambil request API-nya ditambahin.
1:28:11Dan akhirnya nanti diintegrate kalau memungkinkan.
1:28:15Jadi intinya kalau siapa menurut siapa, idealnya kerja sama,
1:28:20mengikuti kalau yang diseparatin.
1:28:23Tapi kalau kepepet, ya udah, yang pernah kita ngejadiin tasnya kita kan.
1:28:30Cara agak-agak, ya udah, kalau misalkan kayak gitu bagiannya misalkan maksa,
1:28:37ya udah, kita business logic query di front-end,
1:28:40tinggal nanti kalau slow, user-nya ngomel,
1:28:43otomatis kan tergantung ke back-end.
1:28:47- Ya kan harus ini dulu kan, kalau nggak ada yang pakai, ya ngapain jawab timas dulu?
1:28:53- Bener. - Buat apa?
1:28:59Sedih sekali, nggak ada yang pakai.
1:29:03- Oke, kita coba lanjut lagi ya, Mas Bapak.
1:29:12- Oke, ini ada pertanyaan lagi, mungkin nih dia pengen bertanya apakah ada yang,
1:29:18apakah di industri ada yang pernah mengalami permintaan untuk mengintegrasikan project dengan Web3?
1:29:25Ada yang pernah? - Enggak.
1:29:28- Belum ya, oke.
1:29:30- Ini kan sebelumnya kita ngobrolin Web3, sama orang lain yang ngerti.
1:29:36- Yang ngerti, kita nggak ngerti juga soalnya.
1:29:39Yang ngerti, kita belum sampai ke arah sana.
1:29:43- Oke. - Kita masih web 2.0.
1:29:49- Oke, oke, wah ini mencoba mencari pertanyaan di selip-selip diskusi di chat ya.
1:29:59- Nggak bisa dipin ya di sini ya, kalau bisa dipin kan asik ya.
1:30:03- Iya, benar-benar, oh ada, ada, ada, gimana sih Pak caranya mengevaluasi sebuah fitur
1:30:10atau modul dalam kode yang lama yang masih relevan atau sebaiknya itu dihapus untuk meningkatkan
1:30:16keterbacaan dan keberlanjutan terkait code refactoring?
1:30:20- Wah kata-katanya keren banget ya, meningkatkan keterbacaan dan keberlanjutan.
1:30:26- Saya punya jawaban yang cepat untuk legacy code. - Yang penas?
1:30:33- Oh yang penas. - Nggak, nggak, legacy code.
1:30:36If it is still relevan dan masih working jangan diapa-apai.
1:30:40- Iya, kalau masih working dan masih relevan jangan diapa-apai, biarin aja.
1:30:54- Iya, tapi yang paling sial, sesial-sialnya, terus tiba-tiba disitu disuruh nabain fitur major,
1:31:01disuruh bongkar, terus nge-buck, crash, ah udah.
1:31:06- Curhat lagi. - Nah, saya pernah ada pengalaman untuk membongkar sebuah plugin legacy yang mana
1:31:20itu kompleks dan tetapi itu mau tambahin fitur dan ada beberapa bug yang cukup meng-annoying,
1:31:31tetapi akhirnya ada work aroundnya, tetapi akhirnya di-decide ok, saatnya untuk di-rewrite.
1:31:40Pertama bikin ininya dulu, testnya. Paling awal bikin.
1:31:45Jadi kalau yang plugin itu, plugin legacy, nggak ada testnya atau apa.
1:31:51- Testingnya? - Bukan unit test maksud saya.
1:31:54- Oh yang unit test, yang lama ya? - Iya, yang lama.
1:31:57Jadi buat testnya, apapun test scenario-nya, apapun itu ya, mau manual kah, mau automated, up to you.
1:32:05Yang penting ada list of test, fiturnya apa, testnya begini sampai mendalam.
1:32:10Ada baganya, ada spreadsheet-nya, saat itu saya pake simple aja, pake spreadsheet.
1:32:15Ada scenario-nya, nah saat rewrite, itu sesuai dengan scenario itu dan rewrite semuanya dan waktu di-test
1:32:25sama client itu sesuai dengan scenario dari yang sudah kita setujui bersama.
1:32:31Itu baru di-rewrite setelah dan itu legacy code.
1:32:35Dan setelah berhasil semua tinggal di-replace, jadi sebagai drop-in replacement,
1:32:40yang lama dibuang, tinggal yang baru dipakai.
1:32:44Oke, ada tambahan lagi dari Kak Jessica, atau Pak Sandika, atau Kak Eka, Mas Riza, cukup?
1:32:54- Cukup, cukup. - Oke.
1:32:56Kalau harus bikin fitur baru.
1:32:59Kalau harus bikin fitur baru.
1:33:05- Berdoa dulu. - Jangan disentuh,
1:33:07tapi kalau harus bikin fitur baru, milah dulu aja, terus siap-siap git revert.
1:33:11- Siap-siap git revert. - Siap-siap git revert.
1:33:14Oke, berhubung waktunya sisa 5 menit lagi, jadi aku mau reminder ke temen-temen,
1:33:21jadi nanti buat yang mau foto bareng, silahkan prepare dulu kameranya,
1:33:25nanti kita bantu ap naik ke podium, podium online kita,
1:33:32nanti prepare dulu, biar bisa bareng foto bersama JDI,
1:33:36kalau 268 orang mau naik semua, bisa sih dapet info dari tim,
1:33:42nanti kalau itu silahkan siap-siap temen-temen on-cam, nanti kita foto bareng-bareng.
1:33:48Oke, ini pertanyaan terakhir, sembari menunggu temen-temen juga yang bakal on-cam,
1:33:53pendapat soal HTMX Pro and Cons-nya, cocok digunakan dalam kasus seperti apa?
1:34:00- Kita pernah bahaskan ya HTMX ya? - Pernah bahas sekilas,
1:34:03mungkin akan dibahas lagi di episode-episode berikutnya.
1:34:06- Karena belum pakai di production. - Belum pernah ada yang pakai, iya.
1:34:12- Dan ini, cuma ini tren yang menarik ya, kalau tentang HTMX-nya sendiri,
1:34:16ya itu nggak bisa ngasih pendapat di dalam karena belum pakai,
1:34:19tapi tren menarik gitu karena dia bisa server-side ya,
1:34:23server-side kapa bu Witi tanpa lewat framework-framework yang established.
1:34:30Ya sebetulnya in a way ini kan behave-nya kayak seperti framework juga kan.
1:34:35Kayak React pun sekarang ada Server Components, HTML pakai pendekatan HTMX.
1:34:42Jadi semua kayak full-cycle server-side lagi.
1:34:46- Kembali lagi, kita udah pernah bahas juga ya dari awal,
1:34:50client-server, SBA, SSR, balik lagi ke client-server.
1:34:55Jadi ini tren ya, tren baru.
1:34:58Tren baru yang muncul untuk mengantisipasi karena orang sudah mulai lelah dengan SBA,
1:35:06SBA itu mungkin agak jengky, lambat dan lain-lain karena tergantung si kliennya kan.
1:35:12Akhirnya muncul solusi untuk kayak semacam SBA tapi melalui Websocket.
1:35:19Koneksi datanya. Jadi bukan data, sorry, dia ngirimin HTML-nya.
1:35:25Dia ngirimin HTML-nya dari server, streaming ke client menggunakan Websocket.
1:35:32Ini juga yang dilakukan oleh Phoenix Live View, kemudian LiveWire,
1:35:44Ruby on Rails, HotWire. Jadi namanya kebalik-balik.
1:35:52Tapi trennya dimulai dari si Elixir Phoenix ya.
1:35:55Dan terakhir, HTMX yang lebih agnostik karena semua bahasa dia support.
1:36:01- Karena bisa on HTML direkli, nggak lewat Rails, nggak lewat Laraksana.
1:36:06- Selama web server-nya bisa Websocket.
1:36:11- Oh iya. Kayaknya udah umum sekarang ya Websocket.
1:36:15- CloudFront belum tentu bisa. Itu harus...
1:36:20- CloudFront itu produk mana ya?
1:36:23- Sebelah lah. - Oh sebelah.
1:36:26- Oke, oke, oke. Sudah cukup?
1:36:32- Iya, pertanyaan selawnya. Itu kayak gitu bisa offline nggak?
1:36:36- Pertanyaan ponyolnya itu bisa offline nggak?
1:36:41- Pake service worker, big cash. Cuma kan nggak bisa streaming baru.
1:36:46Ya nggak bisa yang baru, cuma ada follow back.
1:36:49Tergantung buat apa kan, kalau misalnya berita gitu.
1:36:54- Kalau SPA bisa offline nggak? Tetap nggak bisa kan?
1:36:58Datanya tetap data yang terakhir kan?
1:37:00- Iya sama aja. - Sama aja jadinya kan?
1:37:03- Iya. - Iya.
1:37:07- Iya tetap sama aja ya? - Sama.
1:37:10- Mencapkan bisa kita bikin episode sendiri ini di ngobrolin.
1:37:14- Yes. Nantikan saja, nantikan.
1:37:18- Nantikan. Wah udah di-spill tuh nantikan temen-temen.
1:37:23Oke, berhubung waktu 4 menit lagi kita coba foto bersama dulu.
1:37:28Habis itu baru nanti di-classing.
1:37:30- Nah ini acara utama ini, foto bareng. - Wah ini, foto bareng.
1:37:35- Kalau saya mau pasang busa-busa di belakang kayak Pak Dika gimana caranya?
1:37:39- Beli-beli busa, satu beli busa, dua tempel.
1:37:45- Ada lampunya juga.
1:37:49- Buat temen-temen yang masih bingung caranya buat nanti dinaikin ke stage
1:37:59itu ada request to speak ya.
1:38:01Nanti itu di-click aja nanti dibantu sama Gian buat naik.
1:38:05Nah ini udah wah, udah ada naik. Boleh on-cam, boleh on-cam.
1:38:08- Harus on-cam ya yang naik ya. - Harus on-cam yang naik.
1:38:13- Ramai, ramai, ramai. - Ramai, ramai, ramai.
1:38:18- Dimute aja, dimute. Jangan sampai feedback.
1:38:22- Wah ini screenshotnya gimana? - Anjay, anjay.
1:38:26- Wow, wow, wow. - screenshotnya gimana ini?
1:38:31- Hallo Pak Dika. - Halo, halo, halo.
1:38:36- Ini yang nggak approve 200 kali. 200 kali nggak approve.
1:38:41- Nggak bisa satu layar semua. - Nggak bisa ternyata.
1:38:51- Penuh, penuh. - Ini nggak responsif ini.
1:38:54- Penuh, penuh. Waduh, nggak jadi.
1:39:00- Penuh, penuh ternyata. - Belum menonton...
1:39:04- Oh ini komen minus. - Belum menonton sesi Pak Dika ini.
1:39:09- Komen minus aja biar muat semua. - Oh iya bisa, tapi tambah gede.
1:39:14- Oh iya. - Tambah gede.
1:39:16- Nggak bisa, nggak bisa. - Oke, nggak bisa ya.
1:39:19Ada limit ya ternyata kalau buat naik semua.
1:39:21- Oke, nggak apa-apa ya ternyata. - Scroll aja.
1:39:24- Scroll aja jawabannya. - Scroll.
1:39:27- Oke, mungkin dari kakak-kakak dan moderator boleh bantu untuk di screenshot.
1:39:35Kita mulai fosesi foto bersamanya seperti biasa karena ini di Google Maps ID.
1:39:40Boleh dengan gaya Google-nya.
1:39:43- Head, body, dan putar. - Kayak kita hitung ya.
1:39:46- Head, body, dan putar. - Bener. Oke, kita hitung.
1:39:51Udah stand back kakak moderator? Aman ya, coba aku cek dulu.
1:39:56Oke, gas. Oke, 3, 2, 1.
1:40:02Oke, mungkin ditahan dulu karena ini agak di scroll ke bawah.
1:40:063, 2, 1.
1:40:10Lagi, 3, 2, 1. Oke, aman kakak-kakak? Cukup atau lagi?
1:40:18- Cukup. - Atau belum selesai screenshot-nya?
1:40:21- Bentar, bentar. - Sabar, katanya masih kayak screenshot.
1:40:27Saya screenshot masing-masing kali ya, nanti kita tag gitu.
1:40:33- Oke. - Screen, screen.
1:40:37- Oke. - Bentar, bentar. Saya lagi screenshot.
1:40:41- Lagi screenshot. - Lagi screenshot, bentar.
1:40:43Gak bisa gini. Screenshot harus mencet.
1:40:47- Enggak. Bisa auto scroll. - Auto scroll. Oke, oke.
1:40:53- Ulang lagi, ulang lagi berarti? - Udah, sudah selesai kak.
1:40:56- Udah selesai. - Oke.
1:40:59- Oke. - Ada 2 kali, nanti saya share ya.
1:41:02Oke, siap. Oke, terima kasih.
1:41:08Udah melebihi harus batas waktunya, tapi seru banget.
1:41:11Dan ini teman-teman masih standby sampai akhir.
1:41:14Terima kasih banyak kepada all the GDI expert kita di web yang udah hadir hari ini, teman-teman.
1:41:23Terima kasih. Excited juga lihat teman-teman.
1:41:26Pala-pala ini event perdana kak, mas, pak. Jadi, tapi lihat entusiasi teman-teman.
1:41:32Semoga kita ada ini secara rutin. Dan yang bukan di teknologi web.
1:41:37Pengen ada event-event lainnya, boleh di request ya.
1:41:40Nanti kita bikinin buat speaker-speaker selanjutnya.
1:41:44Tapi bisa jadi nanti balik lagi ke GDI web juga gitu.
1:41:47Jadi, pantengin aja di discord kita, google.com/id. Oke.
1:41:52Dan seru banget seputar website yang udah kita obrolin.
1:41:56Walaupun harus lebih lama, tapi kayaknya kultum hari ini kita tutup dulu.
1:42:00Dan sampai berjumpa di kultum-kultum selanjutnya yang gak kalah seru tentunya.
1:42:04Konten kultum ini hadir sebagai ruang untuk belajar, bertumbuh dan berkarya bersama.
1:42:09Serta berkolaborasi untuk mengahirkan karya-karya dan gerakan baik untuk sesama.
1:42:13Thank you teman-teman udah join di kultum.
1:42:15Maaf jika ada salah kata, padahal saya mau nampun.
1:42:17Sampai jumpa di kultum selanjutnya.
1:42:19Goodbye semuanya. Terima kasih Mas Riza, Mbak Eka, Kak Jess, Alvan, Pak Sandika.
1:42:26Terima kasih, Cyen.
1:42:29Terima kasih, Pak.
1:42:31Ntar ini collab sama WPU ntar.
1:42:41Wah, boleh Pak.
1:42:43Let's go.
1:42:44Next, let's go.
1:42:46Nanti lebih lama lagi, jadi cross nanti.
1:42:49Tapi gantian ke sana, ngisi gitu.
1:42:53Oke, boleh Pak, boleh Pak.
1:42:55Boleh Pak note dari event noted dulu ini.
1:42:58Siap, terima kasih Pak.
1:43:02Ya semoga cepat sembuh, Pak.
1:43:04Terima kasih, Assalamualaikum.
1:43:07Waalaikumsalam.
1:43:09Thank you semuanya.
1:43:11Thank you semuanya.
1:43:15Terima kasih semuanya.
1:43:17Semuanya belajar.
1:43:45Terima kasih.
Suka episode ini?
Langganan untuk update episode terbaru setiap Selasa malam!
Episode Terkait
19 Mei 2026
Alat Desain AI - Ngobrolin WEB
🕸️ Selasa malam waktunya #ngobrolinweb Semenjak era AI, developer yang tadinya punya desiign skill issue mendadak bis...
12 Mei 2026
Bedah Web - Ngobrolin WEB
Berhubung banyak yang submit, malam ini kita akan kembali membedah beberapa situs. Penasaran gimana pendapat para pakar ...
5 Mei 2026
Zona Waktu - Ngobrolin WEB
Salah satu topik yang sebagian besar dari kita banyak tergocek nih. Pernah tergocek dengan urusan timezone, dan daylight...